Berpisah dengan Mindy dari kafe kafe Dinolatte setelah diusir, Aisu mengantar Mindy sampai halte kampus dan menunggu jemputan rumah Mindy tiba.
Sekitar lima belas menit kemudian, Mindy pamit dengan mobil hitam mahal. Tadinya Mindy mengajak Aisu untuk pulang bersama dan akan diantar oleh supir rumahnya, tetapi Aisu menggeleng dan berkata ingin mampir dulu ke tempat lain.
Mindy tak bertanya lebih jauh, kemudian dia sungguhan pergi setelah berpesan lagi untuk tidak bergadang terus pada Aisu. Aisu, tentu hanya menyengir dan melambai, tidak berjanji.
Setelah Mindy pergi, Aisu menghela napas berat. Tatapannya tunduk ke tanah, Aisu berubah pundung lagi. Hari baru di awal malam, Aisu pun melangkah pelan-pelan dengan harapan beban yang dirasanya akan berangsur rontok di sepanjang jalan menuju rumah.
Hatinya berat, kepalanya berkabut, perasaannya kalut. Aisu tidak baik-baik saja. Tak ada orang pula yang bisa dia bagikan perasaannya saat itu. Mindy, Aisu rasa tak boleh sampai tahu tentang apa yang terjadi waktu itu. Kejadian semester lalu yang melibatkan Aisu dan seorang b4jingan bernama Blu.
Di sebuah minimarket, Aisu mampir untuk membeli sekotak 5usu stoberi yang kadang-kadang cocok dengan seleranya, dan tentu saja sekotak rokok untuk dibawa pulang.
Aisu duduk sebentar di bangku dekat minimarket. Dia menyalakan lighter berukir nama "Ice Cream" yang disarankan oleh Mindy. Saat ditanya mengapa harus ice Cream, Mindy tersenyum saja dan berkata bahwa nama itu cocok untuk Aisu. Sedang si pemilik lighter, menurut dengan kernyitan di dahi.
Bara di ujung batang menjadi titik cahaya yang Aisu pandangi. Bibir menjepit filter, Aisu mengembuskan asap nikotin ke udara. Lantas melihat bagaimana kepulan asap itu lenyap menjadi satu dengan keheningan malam.
Mengisap rokok, membuang asap, terbengong. Aisu menghabiskan lima belas menit dan dua batang rokok hanya untuk melakukan ketiga hal tak berguna itu. Namun, pikirannya mampu teralihkan dengan hal lain. Baginya, batang nikotin memang mujarab mengalihkan pikiran.
Aisu sampai rumah sepuluh menit kemudian, diantar ojek online dari sebuah aplikasi di ponsel. Sepi. Bahkan lampu-lampu teras dan dalam rumahnya mati. Aisu segera menyalakannya satu-satu.
Pintu rumah yang terkunci membuat Aisu heran. Ke mana semua orang? Aisu mengambil kunci cadangan di bawah pot bunga. Setelah masuk dan menyalakan lampu, keheningan melanda. Tak ada siapa pun di dalam rumah.
"Ami?" panggilnya, pergi ke kamar Ami yang ternyata kosong.
"Pa? Ma?" Kamar Papa dan Mama pun sama, kosong tak ada orang.
Aisu pergi ke dapur, mencari babysitter Ami, tetapi Mbak Ris tidak ada di sana. Kesunyian selain suaranya barusan membuat Aisu percaya, bahwa Aisu hanya sendirian di rumah.
Dia segera menelepon Mama, hendak menanyakan ke mana pergi Mama ataupun Ami, karena tadi pagi Mama sudah berjanji akan menjemput Ami di sekolahnya. Namun, telepon tidak diangkat meski Aisu sudah mencoba menelepon Mama sebanyak lima kali. Akhirnya Aisu hanya mengirim pesan singkar untuk segera mengabarkan.
Telepon pada Papa tersambung, Papa menjawab dengan singkat, "Papa sebentar lagi sampai di rumah, sedang di jalan dan menyetir. Tunggu sebentar, Kak." Lantas telepon ditutup sebelum Aisu sempat menyambar.
Meski tak ada orang di rumah, Aisu agaknya merasa lega setelah tahu Papa akan pulang. Untuk Mama dan Ami, Aisu berpikir, mungkin mereka Mama masih sibuk memanjakan Ami di mal atau tempat makan ramah anak, karena sudah lama Mama terlalu sibuk dengan naskah-naskah milik perusahaan penerbitan.
Walau sudah tahu keadaan keluarganya, tetapi kenapa Aisu merasa seperti melupakan sesuatu? Tapi, siapa, ya? Apa yang Aisu lupakan?
Ami? Bukan.
Papa? Bukan.
Mama? Bukan.
Leo? Ah, untuk apa Aisu memikirkannya?
Putri. Apa kita… tidak bisa memulai kembali?
Arrgh! Aisu menggeleng-geleng, menampar pipinya, agar kalimat Leo tadi pagi segera rontok dari kepalanya. "Ngapain juga memikirkan dia?! Stop, Aisu! Gak guna!"
Ketika sedang menjambak-jambak rambut panjang nan kusutnya, Aisu mendadak menoleh ke arah dapur, membelalak. "Mbak Ris! Ya ampun! Aku lupa Mbak Ris pengin bicara sama Papa! Mana belum aku kasih tahu Papa lagi!"
Aisu membuat satu panggilan lagi ke nomor Mbak Ris. Tapi sayangnya, nomor Mbak Ris tidak aktif. Aisu menganggap enteng. Dia mengangkat kedua bahu dan tak mencoba menelepon lagi, berasumsi bahwa Mbak Ris masih sibuk bekerja di rumah orang lain.
Aisu menyeret tas beratnya naik ke lantai dua. Punggungnya sudah pegal menopang berat laptop dan majalah-majalah tebal milik Papa. Setelah menaruh tas di kamar, Aisu masuk ke kamar mandi. Dia menghabiskan sedikit waktu di dalam. Dan saat Aisu selesai dibaju, suara gemuruh terdengar dari lantai satu—gerbang dibuka, Papa sudah tiba.
Aisu tidak beranjak ke lantai satu. Tahu Papa datang sudah cukup baginya. Bukan berarti hubungan mereka buruk. Hanya saja, Aisu sudah berada di depan komputernya, itu berarti tak ada yang bisa membuyarkan konsentrasinya.
Jam sudah menunjuk pukul sembilan lewat, tapi Aisu tak bersiap tidur. Kamarnya masih tetap berantakan—sangat berantakan. Bekas piring dan gelas kopi masih saja mendiami kamarnya. Baju-baju bekas juga masih duduk manis berserakan di mana-mana. Tetapi Aisu tak berniat ingin membersihkan dan merapikan segala.
Aisu lebih fokus mengerjakan desain-desain dan ilustrasi yang klien-klien lokal maupun luar negerinya pesan secara daring di sebuah situs. Rencananya, setelah merampungkan pesanan para klien, Aisu baru akan mengerjakan tugas desain dan mengurus makalah serta tugas kelompok yang tadi didiskusikannya dengan Mindy.
Satu jam berkutat, Aisu merasa ada yang kurang. Ah, kopi. Pantas saja fokusnya tidak maksimal. Segeralah Aisu bangkit dan keluar kamar. Tetapi, baru melangkah di anak tangga, Aisu mendengar sebuah petikan gitar. Ketika kepalanya mendongak, Aisu melihat pintu ruang kerja Papa yang sedikit terbuka.
Aisu naik lagi, melangkah mendekat ke ruang kerja papanya. Sungguh, apa yang Papa kerjakan berkali lipat lebih menarik ketimbang secangkir es kopi instan.
Aisu mengintip dari celah pintu—yang sepertinya sudah menjadi kebiasaannya setiap Papa berada di ruang kerja di sebelah kamarnya.
Di dalam sana, di sofa di sudut ruangan yang mengarah pada lemari buku, Papa sedang memetik gitar. Saat Aisu sedang mendengarkan lebih seksama alunan musik yang papanya mainkan, tiba-tiba Papa menoleh ke celah pintu. Aisu tertangkap basah.
Dia pun membuka pintu, memutuskan masuk ke ruang kerja. "Papa bisa main gitar? Aisu gak tahu, lho, kalau Papa punya gitar dan bisa main gitar. Sejak kapan, Pa?"
Air muka papanya sejenak termenung sebelum kembali tersenyum seperti biasa. "Ini gitar Papa waktu SMA. Mahal pada masanya. Sekarang cuma sekadar gitar tua."
"Wah, gitar klasik, dong?" Aisu menyemangati Papa, membuatnya tersenyum lebih lebar.
"Iya. Papa juga tidak sadar sudah lama memilikinya. Tahu-tahu berdebu dan tidak sebaik dulu." Papa menunjuk tisu basah dan sebuah kain di dekat tumpukan buku di meja sofa. "Sekarang sedang Papa coba bersihkan dan rawat lagi. Sayang kalau sampai rusak karena diabaikan."
Aisu terdiam lalu mengangguk. "Memang barang tua itu membutuhkan perhatian lebih, Pa, supaya tidak cepat rusak."
Papa tersenyum ganjil. "Gitar ini perlu disetem ulang dan diganti beberapa senarnya. Nadanya mulai ngebass dan melengking, tidak seindah dulu."
"Memang, sudah dari kapan Papa punya gitar itu?" Aisu duduk di sofa depan Papa.
"Papa sudah dari SMA bisa main gitar. Dulu papa jago main gitar, ya, walau cuma satu lagu saja." Papa lantas tertawa, menggeleng maklum.
Aisu ikut tertawa. "Kok, bisa cuma satu lagi? Memang lagu apa, Pa?"
Papa menatap gitarnya untuk beberapa waktu dengan mata sendu. "Wonderwall, Oasis. Lagu lama yang sangat terkenal pada zamannya. Lagu kesukaan mamamu."