40. Vizena’s Pride

1664 Words
"Rupanya anda suka sekali bergaul dengan orang yang baru dikenal, Yang Mulia." Vizena menoleh ke belakang, mendapati Gard sedang berdiri tak jauh darinya. Vizena hanya mengangkat alisnya ke arah Gard untuk sesaat lalu ia kembali menghadap ke arah Liyan. Malam ini Vizena hendak pergi ke ruangan Kaisar untuk melaporkan hasil pelatihan yang baru saja di mulai. Dalam perjalanannya ia tak sengaja bertemu dengan Liyan yang sedang berdiri di pinggir teras sembari menatap ke arah kolam. Mereka berbincang sebentar sampai Gard tiba dan menyela pembicaraan mereka. Hanya sekilaa saja, Liyan mengenali Gard sebagai jenderal perang. Meski tidak pernah berada dalam pasukan Gard, tapi ia mengetahuinya. "Salam kepada Jenderal." Gard mengangkat alisnya, dia merasa tak mengenal Liyan sama sekali. Ini pertama kalinya dia bertemu. "Apakah kita pernah bertemu?" Tanya Gard. "Tuan Liyan, aku harus pergi. Sampai jumpa." Vizena menyela, ia kemudian beranjak pergi dari tempat itu. "Tunggu." Gard juga beranjak mengejar Vizena, ia menarik bahu Vizena hingga tubuhnya berputar dan menghadapnya. "Ada apa?!" Tanya Vizena dengan nada datar. Dari tempatnya Liyan menyaksikan interaksi kedua insan itu. Bukan rahasia lagi jika Jenderal besae itu adalah suami sang Puteri. Namun ada satu hal yang membuat Liyan bertanya-tanya, mengapa sikap Vizena langsung berubah ketika Gard datang, begitu dingin. Apalagi tatapannya kepada sang suami, tanpa emosi. Sebaliknya, Gard terhadap Vizena seperti ada penyesalan yang tak berujung. "Apakah mereka benar-benar suami isteri?" Akan tetapi, Liyan tak ingin memikirkannya terlalu jauh. Dia beranjak pergi meninggalkan dua insan yang siap saling menerkam dibelakangnya itu. "Anda akan kemana?" Tanya Gard pada Vizena. "Apa urusannya denganmu?" Vizena mengangkat alisnya. Selama ini Gard tidak pernah peduki kemana dan dengan siapa dia akan pergi. Mengapa sekarang? Gard menelan ludahnya dengan susah payah. Ini pertama kali dalam hidupnya menyesali perkataan yang dia lontarkan kepada Vizena. Tidak! Tidak hanya itu, dia menyesal tidak pernah memperlakukan Vizena selayaknya dan terus menyakiti gadis itu hingga kini Vizena menjadi sosok yang sangat dingin padanya. Masih teringat jelas dalam ingatan Gard, senyum indah Vizena tiap kali ia merasa senang, tawa renyahnya yang membuat matanya menyipit menjadi hanya satu garis tipis tiap kali mendengarkan lelucon. Vizena gadis yang hangat dan ceria, tapi saat ini yang berdiri di hadapannya sama sekali berbeda. Waktu yang begitu pendek, tapi mampu membuat Vizena berubah. "Aku akan mengantar anda." Kata Gard. "Tidak perlu." Balas Vizena sembari berbalik kemudian berlalu pergi. Rupanya Gard tidak menyerah, dia berlari lalu menghadang jalan Vizena. Terkejut tiba-tiba Gard ada di hadapannya, langkah Vizena terhuyung tapi tidak membuatnya hilang keseimbangan. Mata Vizena menatap tajam pada Gard, dia menahan amarahnya. "Kau bukan lagi pengawalku, jadi pergilah." Satu kalimat dan itu menghancurkan Gard. Dia terdiam ketika Vizena mendorong minggir tubuhnya dan berjalan begitu saja melewatinya. "Sebenarnya mengapa kau selalu mendorongku menjauh darimu?!" Teriak Gard ketika Vizena sudah beberapa langkah di depannya. Dia terlalu emosional dan melupakan tata kramanya. Langkah Vizena terhenti, ia hanya menoleh dan melirik Gard melalui bahunya. Gard terlihat menyedihkan, tapi tak cukup untuk melelehkan bongkahan es yang terlanjur membekukan hatinya. 'Apa dia tak punya cermin untuk berkaca?' batin Vizena. °°°°° Sebuah bintang jatuh melintasi langit Luxorth, pemandangan yang cukup jarang terjadi. Dari halaman terasnya, Kaisar Mouszac memandangi langit dengan tatapan sendu. Beban berat di pundaknya semakin berat, sementara usianya pun tak lagi muda. "Langit selalu sangat indah di Luxorth, itu sebabnya ayahanda selalu menyukainya?" Suara lembut Vizena menyadarkan Kaisar dari angan semunya. Dia menoleh pada Vizena yang telah berdiri dekat di sampingnya. "Tapi Puteriku jauh lebih indah." Kata Kaisar. Ia menjulurkan tangannya, meraih bahu Vizena lalu memeluknya. "Tentu saja, aku ini kan permata Luxorth!" "Kau ini." Kaisar terkekeh lalu dia mencubit hidung Vizena. Kaisar melonggarkan pelukannya. Ia lalu berjalan ke arah paviliunnya. Meminta Vizena untuk duduk di seberangnya karena ia tahu pasti Vizena sedang ingin melaporkan sesuatu. "Hari ini tempat pelatihan itu sangat ramai, aku sangat yakin mereka akan berhasil suatu hari ini." Ujar Vizena, Kaisar menepuk pelan kepala Vizena dan tersenyum bangga. "Kau melakukannya dengan baik." "Melihat senyum mereka yang mengikuti pelatihan itu, sangat menenangkan Ayah. Sungguh aku berharap mereka akan berhasil." "Hatimu sangat tulus, aku akan tenang meninggalkan negara ini ke tanganmu jika suatu hari nanti aku tiada." Kata-kata Kaisar sungguh mengusik Vizena. "Apa yang ayahanda katakan! Ayah akan hidup seratus tahun lagi untuk memimpin Luxorth." Kaisar terkekeh pelan, mana mungkin ada yang hidup selama itu saat ini. Tapi ucapan Vizena mampu menghibur Kaisar. "Baiklah, baiklah, aku akan hidup yang lama. Apa kau puas?" Vizena mengangguk dengan antusias. Dia tidak bisa lagi membayangkan untuk kehilangan lagi dalam hidupnya. Kehilangan Ibu dan Kakaknya merupakan mimpi buruk yang membelenggu hidupnya. "Tapi ayah, bagaimana caranya ayah mampu memimpin negara ini, maksudku, Luxorth adalah negara yang sangat besar, rakyatnya tidak sedikit, bagaimana mengatasinya?" Kaisar agak tercengang, Vizena jarang sekali bersikap dewasa sebelumnya. Namun beberapa waktu ini ia menunjukkan dirinya yang mampu bersikap seperti seharusnya, berpikir luas, dan bijaksana. Agak lama Kaisar termenung memikirkan jawabannya. Itu karena dia sendiri tak pernah memikirkan apakah dirinya mampu atau tidak. Menjadi kaisar adalah hal yang diturunkan secara garis keturusan di Luxorth. Sejak usia dini Kaisar telah mendapatkan pendidikan sebagai calon Kaisar, menjadi seorang pemimpin sebuah kerajaan dan negara sebesar ini adalah tujuan hidupnya selama ini. Jadi, dia tidak pernah berkecil hati dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai Kaisar. Dia bertindak telah sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tentu saja menggunakan hati nuraninya. "Leoxard pernah mengatakan padaku, menjadi Kaisar adalah sebuah beban." Ujar Kaisar Mouszac memecah keheningan, "dia sempat mengeluh saat belajar." Lanjutnya sambil mengenang kebersamaannya dengan mendiang puteranya itu. "Lalu?" "Aku mengajaknya berkeliling ke kota, dia sangat antusias dan senang sekali, aku masih ingat sepanjang jalan dia terus memamerkan giginya." Kaisar tersenyum, "tapi senyum itu menghilang ketika ia melihat kenyataan yang sesungguhnya." "Kenyataan?" Vizena semakin tertarik. "Tidak semua rakyat kita memiliki kehidupan yang layak, orang tua banyak menjadi gelandangan, anak kecil mencuri di pasar karena tak mampu makan, dan banyak hal menyedihkan lainnya." Ungkap Kaisar, "dia pulang dan menangis." Kaisar hampir tertawa saat bayangan Leoxard kecil menangis di pangkuan ibunya. "Aku mengatakan padanya, bahwa seorang Kaisar tidak mungkin bisa mensejahterakan semua rakyatnya secara sama, tapi setidaknya kita bisa ikut merasakan penderitaan mereka dengan berusaha menjadi Kaisar yang adil dan bijaksana." Vizena menghela nafas yang sejak lama tertahan. Begitu sulitnya menjadi seorang pemimpin. Lalu bagaimana dia nanti bisa melakukannya? "Sejak saat itu, Leoxard memilih hidup sederhana. Ia menyisihkan uang dari istana dan digunakan sebagai amal dan membangun sekolah bagi rakyat tidak mampu." "Lalu, apa yang bisa kulakukan? Aku hanya tahu bermain-main." Sambar Vizena dengan cepat. "Kau? Percayalah pada nalurimu, lakukan yang terbaik." °°°°°° Dalam temaramnya kamar yang hanya bercahayakan lampu putar itu Vizena terbaring dengan menatap langit-langit kamarnya. Dia masih memikirkan apa yang diucapkan oleh Kaisar. Baru sekarang dia menyadari mengapa kakaknya tidak hidup serba mewah, dia tahu pakaiannya di jahir dengan kain sutera dari pasar, sepatunya di buat dari kulit yang dijual di pasar, tidak memiliki perhiasan, semuanya bukan berasal dari pembuat khusus. Vizena masih merenungkannya, kini satu tangannya dia letakkan diatas kepala. Bayangan yang berputar-putar dari lampu putar itu membuatnya mengantuk, perlahan matanya mulai tertutup. Brrakk! Pintu kamar Vizena terbanting dengan sangat keras, sehingga kantuk yang hampir membuat Vizena tenggelam dalam mimpinya pun lenyap seketika. Mata lembayung itu terbuka dengan sangat lebar, ia langsung menegakkan tubuhnya dan melihat ke sekeliling. Sosok tinggi besar berjalan dengan terseok-seok ke arahnya. Vizena menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas siapa gerangan yang menerobos masuk ke dalam kamarnya, dan bagaimana bisa itu terjadi? Apakah penjaganya tidak menjaga pintu masuk tempat tinggalnya? "Siapa kau?! Berani-beraninya menerobos masuk ke kamarku?" Hardik Vizena. "Apakah sebagai suamimu aku juga tidak boleh masuk ke kamarmu?" Vizena mengenali suara ini, tentu saja lagipula suaminya hanya Gard seorang saja. Dia segera turun dari ranjang dan merapatkan pakaiannya. "Untuk apa kemari, ini sudah larut." Kata Vizena. Gard tidak menjawab, dengan langkah gontainya ia berjalan lebih cepat. Vizena menyadari ada sesuatu yang aneh, semakin dekat Gard dengannya ia bisa mencium aroma arak yang sangat kuat. "Kau mabuk?" Tanya Vizena. Langkah Gard terhenti hanya beberapa langkah dari Vizena. "Tidak, aku tidak mabuk." Jawab Gard. "Kau sangat mabuk, sekarang keluarlah dari kamarku!" Vizena bergerak maju lalu mendorong perlahan tubuh Gard. Tangan Kuat Gard merengkuh kedua bahu Vizena, cengkramannya sangat kuat. Kini berganti Gard mendorong tubuh Vizena hingga terhuyung ke belakang dan menabrak nakas hingga lampu terjatuh ke lantai. "Apa yang kau lakukan!" Gard tidak memberi jawaban, ia mendesak tubuh Vizena, mencengkram kepala Vizena dan memaksanya untuk menerima ciumannya. Vizena meronta, ia memukul d**a Gard dengan sangat keras, namun arak sudah menguasai pikiran jernihnya hingga ia kehilangan akalnya. "Gard hentikan!" Vizena terus meronta, sementara Gard terus berusaha untuk menciumi leher Vizena, ia juga merobek pakaian tidur Vizena hingga menampilkan sebagian dadanya. Ia sudah gelap mata. Sebutir air mata menetes dari sudut mata Vizena, terakhir kalinya ia mengumpulkan tenaganya lalu mendorong tubuh Gard dengan sangat kuat. Akibat dorongannya, Gard terdorong ke belakang tapi ia masih tidak sadar dan berusaha untuk menubruk Vizena lagi. PLAAAAKK!! Sebuah tamparan keras dari tangan mungil Vizena mendarat tepat di wajah tampan sang jenderal. Tamparan keras itu pun berhasil mengembalikan kesadaran Gard. Ia menggelengkan kepalanya keras-keras lalu menatap Vizena yang gemetar sembari merapatkan pakaiannya yang sobek. "Tuan Puteri...." Gard hendak melangkah mendekati Vizena. "Keluar!" Bentak Vizena tanpa menatap Gard sama sekali. "Saya, Tuan Puteri, saya." Gard kehabisa kata-katanya setelah melihat jejak basah di mata Vizena yang tak sudi untuk menatapnya lagi. "KELUAR!!" Teriak Vizena dengan sangat kencang. Gard tak berkutik, ia langsung berbalik dan beranjak pergi meninggalkan Vizena. Tubuh Vizena roboh seketika setelah dirinya ditinggal sendirian oleh Gard. Tatapan matanya terarah pada lampu putar yang masih menyala di lantai. Tak ada lagi air mata yang bisa di keluarkan oleh Vizena, dirinya terlalu terkejut dan tak bisa menerima apa yang baru saja terjadi. Harga diri Vizena telah hancur, suaminya adalah satu-satunya orang yang bisa melakukan perbuatan kejam seperti ini padanya. Berbagai macam pikiran buruk menggelayuti benak Vizena. Dia merasa sangat tidak berharga karena diperlakukan tidak senonoh oleh suaminya sendiri. Kini, hanya dalam kegelapan yang panjang dan dingin Vizena tinggal berdiam diri. . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD