bc

EMPRESS

book_age16+
152
FOLLOW
1K
READ
princess
royalty/noble
king
queen
drama
tragedy
sweet
mystery
royal
ancient
like
intro-logo
Blurb

"Aku akan membalas mereka!" Sebuah janji yang terucap dari bibir indah dan bercokol pada hati yang tak berpalung. Karena penghianatan telah memusnahkan suka, dan menghancurkan kepercayaan. Membuka mata bahwa dunia yang ditinggali olehnya adalah sebuah dunia yang penuh rintangan. Dia harus berjuang melawan dunia untuk mendapatkan tahtanya, dan merebut semua kebahagiaan yang sudah direnggut dari jiwanya"

Cover by: Arakim Design

chap-preview
Free preview
1. Vizena and The Oath
EMPRESS 1. Vizena and The Oath Anak panah melesat dari busur yang dipegang oleh Vizena, sayangnya anak panah itu tidak pernah sampai pada sasaranya. Tangannya terkulai, darah segar mengucur dari sela antara jempol tangan dengan telunjuknya. Dayang pengikutnya merasa khawatir melihat darah mengalir. "Yang Mulia Puteri, tangan anda berdarah," serunya dengan cemas, "saya akan ambilkan obat!" Ia beranjak pergi, namun Vizena melarangnya. "Ini bukan masalah besar, Ariah." Gumamnya. Lalu ia mengangkat telapak tangan kanannya. Ia menghela nafasnya lagi. Seharusnya, Vizena adalah pemanah yang hebat. Gurunya adalah Kaisar Mouzsac, ayahnya sendiri. Vizena adalah satu-satunya wanita bangsawan di Negeri Luxorth yang kemampuan memanahnya sama dengan pemanah ahli, bahkan pengawal pribadi raja pun kesulitan mengalahkan kemampuan memanah Vizena. Akan tetapi, sesuatu yang buruk terjadi dan mengubah kehidupan Vizena yang baik. Hari itu begitu terang, akhir musim semi, semua orang menyambut musim panas dengan suka cita. Kerajaan pun mengadakan festival untuk menutup musim semi dan menyambut datangnya musim panas. Vizena, seorang Puteri kerajaan dari Negeri Luxorth masih berusia 14 tahun begitu antusias dengan festival itu. Diam-diam ia keluar dari istana untuk menikmati festival di pasar raya bersama dengan Ariah, dayangnya. Senyum yang mengembang diwajah Vizena tidak pudar sepanjang langkahnya berjalan. Ia melihat berbagai penjual, membeli banyak barang dan merepotkan Ariah untuk membawa semua barang-barang yang dibelinya itu. "Ariah ayo kesana! Ada ramai-ramai disana! Kudengar ada seorang pendekar ahli pedang dari Negeri Thymur sedang melakukan pertunjukkan!" Vizena menarik lengan pakaian Ariah untuk menembus kerumunan yang penuh sesak dengan orang-orang yang penasaran. "Darimana dia mendapatkan informasi seperti itu," gumam Ariah dengan menghela nafas, tapi ia tetap mengikuti langkah tuannya. "Lihat! Lihat!" Seru Vizena, matanya berbinar saat ia melihat ada seorang pria dengan rambut panjang dan pakaian serba putih sedang memainkan pedangnya. Semua orang termasuk Vizena sangat takjub dengan kemampuan berpedang pria itu yang seperti sedang menari. Gerakannya begitu indah, tapi sangat tegas disetiap langkahnya. Semua orang bertepuk tangan dengan keras saat pertunjukkan selesai, tampaknya Vizena yang bertepuk tangan paling keras. Saat seorang berkeliling meminta bayaran atas pertunjukkannya Vizena memberikan semua yang baru saja ia beli dipasar raya kepada pendekar itu. "Apakah anda sudah kehilangan akal, Yang Mulia?" Bisik Ariah. "Kenapa? Pertunjukannya sangat bagus!" Seru Vizena sambil berjalan. Mereka hendak kembali ke Istana karena hari sudah malam dengan melewati pasar raya lagi. Jalanan masih begitu ramai, anak-anak bermain sesuka hati dengan tawa yang riang. Terkadang Vizena ikut menari dengan anak-anak itu, membuat Ariah menutup mukanya karena tingkah Vizena yang jauh dari kata bermartabat sebagai keluarga kerajaan. Jika diingatkan, Vizena hanya akan tertawa lebih keras. "Adik!" Sebuah suara menghentikan langkah Vizena dan Ariah. Mereka menoleh ke arah suaranya. Melihat seorang gadis dengan gaun mewah berjalan kearah mereka. "Untuk apa Puteri Eyster kemari?" Bisik Ariah pada Vizena yang terpaku ditempatnya. "Apa kau pikir aku mengerti?" Balas Vizena dengan berbisik pula. Eyster adalah kakak tertuanya, anak ayahnya dengan seorang selir. Tidak bisa dibilang jika Eyster adalah anggota kerajaan, karena peraturan mengatakan bahwa anak selir tidak akan diakui sebagai anggota keluarga kerajaan. Akan tetapi, Eyster tetaplah seorang bangsawan. Dia begitu anggun, rambutnya yang cokelat begitu panjang menutup punggungnya, wajahnya dianugerahi dengan kecantikan yang luar biasa, hidungnya mancung, wajahnya kecil dengan mata cokelat yang lebar dan berkilau indah, bibirnya penuh dan semerah mawar, sangat cantik. Akan tetapi, sayangnya kecantikan itu selalu dibandingkan dengan Vizena yang lahir dari rahim Permaisuri. Bagi semua orang Vizena adalah permata terindah bagi Luxorth. Ia sangat cantik, dengan kulit seputih salju, dipadukan dengan rambutnya yang sehitam malam, wajahnya bulat telur, bibirnya tidak lebar, tidak tebal, tidak tipis, merona alami, selain itu yang menjadi primadona dari kecantikannya adalah matanya yang memiliki warna gradasi lembayung, keunguan, tapi memiliki bintik perak ditengahnya. Kecantikannya sangat unik dan mampu menyihir siapapun yang melihatnya. "Adik, kebetulan sekali kita bertemu disini!" Suara Eyster begitu lembut terdengar ditelinga. Ia tersenyum dengan sangat anggun. Vizena tersenyum lebar membalas senyuman kakaknya itu. "Apa kakak juga sedang melihat pasar raya?" Vizena cukup terkesan karena Eyster yang anggun juga melihat pasar raya dan keluar dari istana. Yanh Vizena tahu, Eyster tidak akan repot-repot pergi ke pasar raya apalagi berkumpul dengan rakyat biasa. "Tentu saja, ohya kudengar sebentar lagi akan ada kembang api. Bagaimana kalau kita melihat bersama?" Mata Vizena langsung berbinar mendengarnya. Tentu saja ia sangat menyukai kembang api, segala hal yang bisa membuatnya senang dia pasti suka. "Boleh! Ayo kak!" "Sebentar, Lyse tolong belikan barang-barang yang sudah aku catat tadi, ajak Ariah bersamamu." Kata Eyster. "Yang Mulia?" Ariah sedikit cemas, ia tidak ingin meninggalkan Vizena. "Kau pergi saja dengan Lyse, aku akan pergi bersama Kakak. Jadi nanti Ayahanda tidak akan marah besar padaku," ujarnya dengan senyum yang lebar. Ariah menurut pada Vizena dengan hati cemas. Sebaliknya, Vizena cukup senang bisa pergi melihat kembang api bersama dengan Eyster. Mereka berdua pergi ke bukit yang tidak jauh berada dari pasar raya untuk melihat kembang api agar lebih jelas terlihat dari atas bukit. Sesampainya diatas bukit tepat ketika kembang api mulai dinyalakan. Langit Ibukota penuh gemerlap dengan berbagai macam kembang api yang dinyalakan. Vizena begitu menikmati nyala kembang api yang beragam warna dan jenisnya itu. Tapi sayangnya kebahagiaan itu musnah ketika tiba-tiba ada beberapa orang yang datang lalu menarik Eyster dan Vizena. "Kakak!" Eyster dibelenggu tangannya oleh seorang yang mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah. "Vizena!" "Lepaskan kakakku!!" Vizena memberontak dengan kuat, akan tetapi seseorang memukul leher bagian belakangnya hingga ia tidak sadarkan diri. Berita menghilangnya Vizena dan Eyster pun sampai pada telinga Raja Mouzsac. Dengan segera dia memerintahkan semua prajurit penjaga untuk mencari keberadaan kedua puterinya. Malam itu, Eyster ditemukan dibukit dalam keadaan pingsan. Akan tetapi Vizena tidak ditemukan dimana pun. Mereka terus mencari, sampai sepuluh hari kemudian Vizena ditemukan di sebuah gubuk tua didalam hutan dalam keadaan yang sangat buruk. Tangan kirinya patah dan telapaknya hancur, wajah bagian kirinya tergores mulai dari kening hingga ke dagu, membelah alis, mata dan pipinya. "Yang Mulia, Puteri?" Suara Ariah menggugah Vizena yang sedang melamunkan masa lalunya yang menyakitkan. "Ya?" Vizena menoleh pada Ariah, luka diwajahnya telah tertutupi oleh topeng emas. "Yang Mulia Kaisar memanggil anda, sepertinya Putera Mahkota sudah kembali dari medan perang." "Kakak kembali?" Tanya Vizena, lalu Ariah mengangguk untuk memberi jawaban.Wajah Vizena yang muram berubah cerah kembali. Segera ia meletakkan busurnya dan beranjak untuk segera menemui kakaknya. Tepat setelah ia berbalik dan bersiap untuk berlari, seorang pria tampan berdiri dihadapan Vizena masih mengenakan baju zirahnya. Ia begitu mirip dengan Vizena, hingga warna matanya pun sama. Senyumnya begitu menawan dan menular pada Vizena. "Kakak!!" Seru Vizena, ia pun berlari kearah kakaknya, kemudian melompat. Leoxard langsung meregangkan tangannya untuk menangkap adiknya yang berlari kearahnya. "Ohoo! Kau semakin berat sekarang ya!" Kata Leoxard. "Lihat dirimu, berapa lama aku tidak melihatmu, wajahmu sudah muram saja." "Itu karena aku tidak memiliki teman bermain," balas Vizena kemudian turun dari pelukan Leoxard. "Sekarang aku sudah pulang, apa kau masih bosan?" Tanya Leoxard dengan sayang, ia mengusap puncak kepala Vizena. "Tentu tidak, bagaimana aku bisa bosan jika kakak kembali?" "Baiklah-baiklah, ayo kita temui ayahanda, tapi aku harus berganti pakaian terlebih dahulu." Selagi kakaknya mengganti pakaian, Vizena menunggu dihalaman depan kediaman kakaknya. Ia bermain-main dengan ikan di kolam milik kakaknya. Awalnya, ia senang bermain dengan ikan tetapi kemudian saat melihat pantulan wajahnya di cermin, kesenangannya hilang. Separuh wajahnya harus ditutupi oleh topeng untuk menutupi lukanya. Jika topeng itu dibuka maka wajahnya yang buruk akan terlihat. "Bagaimana pun keadaanya, kau adalah gadis tercantik di Luxorth." Suara Leoxard mengusik lamunan Vizena. "Tentu saja, aku kan adik Leoxard!" Seru Vizena. Leoxard mengulurkan tangan kepada adiknya, kemudian mereka menemui ayah mereka di ruang pribadinya. Ketika mereka berdua masuk, Kaisar Mouzsac sedang ditemani oleh sekertarisnya untuk membaca sejumlah dokumen kerajaan. Saat melihat kedatangan kedua anaknya, ia langsung berhenti dan meminta sekertaris istana untuk pergi. "Kau sudah kembali!!" Mouzsac berdiri menyambut putera semata wayangnya itu. Ia memeluk Loexard dan menepuk punggungnya. "Salam kepada Ayahanda, Saya kembali dengan membawa berita baik." "Pasti, kau pasti membawa berita baik. Tapi aku cemburu, mengapa kau malah pergi menemui si pengacau kecil ini daripada aku ayahmu?" Kata Mouzsac sembari mengusap kepala Vizena. Mereka kemudian duduk dimeja makan yang sudah tersedia banyak sekali makanan diatasnya. "Jadi kabar apa yang ingin kau sampaikan padaku?" Tanya Mouzsac ketika para pelayan mulai menghidangkan makanan diatas piring mereka. "Negeri Narth menyerah, mereka telah memberikan pernyataan akan setia kepada Luxorth dan tidak akan mengusik jalur utara lagi." Leoxard menjelaskan sembari menyuapkan kaviar ke mulutnya. "Bagus! Bagus sekali, mereka harusnya bersumpah setia pada Luxorth sejak dulu, sekarang mereka sadar siapa yang mereka hadapi." Ujar Mouzsac. "Tetapi kita harus tetap berhati-hati, bukankah Narth bersahabat dengan Sholaire," suara Vizena menyahut ucapan ayahnya. "Wah wah, adikku rupanya juga tertarik dengan urusan kenegaraan, kau memang pintar!" Sembari menyuapkan makanan, Leoxard juga mengusap kepala Vizena. "Benar yang dikatakan oleh adikmu, kita harus tetap waspada. Sholaire bukan musuh yang bisa dihadapi secara langsung," "Ayahanda benar, saya akan memastikan bahwa Narth tidak akan mengusik perbatasan lagi!" "Ya, aku mempercayakannya padamu." ===== Rambut Vizena begitu lebat, hitam dan lembut bagaikan sutera. Ariah membantu Vizena menyisir rambutnya yang sangat panjang hingga menutup punggungnya. Selagi Ariah menyisir rambut, Vizena masih memegang sebuah benda seperti lencana kecil ditangannya. Lencana itu memiliki simbol ukiran berbentuk kepala singa. Vizena menemukan lencana itu sesaat setelah ia tersadar. Ia tidak ingat apapun, kecuali memegang lencana tersebut yang ia yakini itu adalah dari orang yang menolongnya. "Apakah Yang Mulia Puteri sudah mengetahui siapa pemilik benda itu?" Vizena hanya tersenyum simpul pada Ariah. "Tidak, aku belum menemukannya." Balas Vizena. Sesaat kemudian terdengar suara penjaga kediaman Vizena mengumumkan kedatangan Putera Mahkota. Senyum indah langsung merekah diwajah Vizena, ia langsung berdiri untuk menyambut kakaknya. "Aku pikir kau sudah tidur," Ujar Leoxard, ia masuk ke kamar Vizena lalu duduk di salah satu kursi. "Belum, aku tahu kakak pasti kemari." Jawab Vizena. "Mau bermain apa denganku, malam ini?" "Haha," Leoxard tertawa, kemudian ia melambai meminta Vizena untuk duduk di sampingnya. Vizena menuruti kakaknya, tidak biasanya Leoxard bersikap serius kecuali ada sesuatu yang penting untuk di bicarakan. "Apa aku akan dapat hadiah atau semacamnya?" "Bisa jadi ini adalah sebuah hadiah," "Apakah berperang tidak membuatmu takut, sampai bisa membawakan hadiah untukku?" Mendengar celotehan adiknya, Leoxard hanya tersenyum. "Untuk adikku, aku tidak akan merasa takut sama sekali." "Benarkah? Lalu mana hadiahku?" Tuntut Vizena sembari mengulurkan tangannya. Leoxard meraih tangan adiknya, ia menatap telapak tangan kiri Vizena yang penuh dengan bekas luka. Rasa bersalah kembali menyergap batin Leoxard, ia tahu bahwa Vizena sangat gemar melakukan memanah, dan sekarang tangan itu tak berdaya. Leoxard menyesali dirinya sendiri, seandainya ia selalu berada disisi adiknya, hal semacam ini tidak mungkin terjadi pada adiknya. "Kakak?" "Ah ya? Maafkan aku," Leoxard terkesiap, "Mana hadiahnya?" "Kau ini, dengarkan aku, kau masih ingat dengan lencana yang pernah kau tunjukkan padaku dan ayahanda?" Tanya Leoxard, dan Vizena mengangguk. "Kau yakin jika itu milik seseorang yang menyelamatkanmu?" Tanya Leoxard lagi. "Bukan orang yang mencelakaimu?" Vizena mendesah, bagaimana ia bisa mengingatnya dengan jelas. Saat itu, ketika ia mulai tersadar ia melihat seorang pria, tampak samar karena pandangannya cukup terganggu. Pria itu yang menolongnya, kemudian merawatnya untuk beberapa hari. Hanya saja Vizena tidak tahu dan tidak ingat detail nama atau pun wajah pria itu. Hanya saja, ia menemukan lencana tersebut di bajunya, ia ingat pria yang menolongnya itu menyelipkan lencana tersebut di bajunya. Entah apa maksudnya. "Ya, pemilik lencana itu pasti pria yang menolongku." "Aku menemukan pria itu setelah sekian lama mencarinya, rupanya dia begitu dekat dengan kita selama ini." Jelas Leoxard, alis Vizena saling tertaut. "Siapa dia?" "Dia adalah putera mendiang menteri urusan militer, Gard Meridiam." "Gard???" Vizena hampir tidak percaya setelah mendengar siapa pria yang menolongnya tahun lalu. Gard Meridiam adalah putera mendiang Menteri urusan militer namun telah diangkat menjadi putera oleh Menteri Pertahanan saat ini sekaligus paman dari Gard, yaitu Louth Meridiam. Ia sering bertemu dengan Gard di istana karena pria itu dan kakaknya adalah teman sejawat. Saat terjadi perang, Gard juga menemani Leoxard sebagai jenderal prajuritnya. Selain itu, Gard memiliki reputasi yang sangat bagus. Dia memiliki pengetahuan luas tentang militer, dan juga ia memiliki wajah tampan yang banyak dikagumi semua wanita bangsawan yang ada di Luxorth. "Gard yang itu?" "Iya Gard yang itu, kenapa? Apa hatimu sekarang berbunga-bunga?" Seharusnya Vizena senang, Gard pahlawannya. Tapi mengapa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Tidak dipungkiri ia juga menyukai Gard yang rupawan, tapi fakta jika Gard-lah yang menyelamatkannya terasa sangat janggal. Itu pasti karena ingatannya yang samar-samar. "Apa kakak yakin?" "Seribu persen yakin, lencana itu adalah simbol tentara pribadi dari keluarga Meridiam, aku baru mengetahuinya kemarin saat berperang." Vizena terdiam lagi, benaknya masih bertanya-tanya apakah benar jika itu Gard? Lalu bagaimana nanti ia harus menghadapi Gard, ia malu dengan kondisi wajahnya yang cacat. Tanpa sadar Vizena menyentuh wajahnya yang ditutupi oleh topeng. "Vizena, tidak perlu risau dengan wajahmu. Kecantikan itu tidak hanya berasal dari wajah, tapi juga dari hati kita." Leoxard menarik tubuh kecil Vizena kedalam pelukannya. ===== Telah diumumkan bahwa Gard Meridiam adalah seseorang yang meyelamatkan nyawa Puteri Vizena dari maut. Kaisar Mouzsac pun memberikan titah untuk mengangkat Gard sebagai pengawal pribadi Puteri dan diberikan akses terhadap prajurit penjaga untuk kepentingan melindungi Puteri dari segala macam bahaya. Segera setelah mendengarkan kabar berita tersebut, Vizena berlari ke istana ayahnya. Perasaanya begitu campur aduk, antara gelisah, senang, dan takut menjadi satu. Setelah sampai di istana ayahnya, Vizena diantarkan ke tempat pertemuan. Di tempat pertemuan itu, Vizena melihat kakaknya, ayahnya dan seorang pria lagi yang dia kenal sebagai Gard berkumpul dan berbincang santai. Keraguan menghentikan langkah Vizena. Ia hendak berbalik, tapi keberadaannya sudah ditangkap mata oleh Leoxard kakaknya. "Adik kemarilah!" Pinta Leoxard. Vizena menggigit bibirnya, jika Leoxard tidak melihatnya sudah pasti dia kabur. Ia memaksakan senyumannya kemudian melangkah untuk menghampiri mereka. "Saya memberi salam kepada ayahanda dan kakak," "Sudah-sudah, sejak kapan kau mementingkan formalitas, kemari duduk disampingku." Ujar Mouzsac sembari menepuk tempat duduk disebelahnya. Wajah Vizena memerah karenanya. Pelan-pelan ia melangkah kesamping ayahnya, tak lupa ia melirik ke arah Gard duduk. "Lihat dia, biasanya dia sangat riang, hari ini melihatmu dia menjadi pemalu begitu." Ujar Leoxard. "Siapa yang pemalu?" Sambar Vizena. "Lihat dia menjadi salah tingkah kan," Leoxard terus menggoda adiknya, alhasil wajah Vizena semakin merah dan ia meringsut dibelakang punggung ayahnya. "Sudah sudah Leoxard, jangan ganggu adikmu." Kaisar Mouzsac menengahi. "Seperti yang sudah aku umumkan, karena Gard menjadi penyelamat puteri maka aku memintanya untuk menjadi pengawal Puteri sejak hari ini. Gard, kau bisa bersumpah setia pada Puteri." Pinta Kaisar Mouzsac. Vizena memandang kearah Gard, ia tersenyum ketika Gard melihat kearahnya. Pria itu memang tampan seperti rumornya. Ia memiliki rambut yang kecokelatan, dengan mata berwarna biru seperti lautan yang misterius dan menghanyutkan. "Mengapa ayah meminta Gard menjadi pengawalku? Ayahanda hanya akan menghambat karir militernya," Kata Vizena yang cukup membuat semua pria di meja itu terkejut. "Kau belajar tentang militer juga?" Tanya Leoxard. "Tidak!" Balas Vizena cepat, "Bukankah kemarin malam kakak bilang jika dia salah satu jenderal perang terbaik di medan perang? Jika dia tinggal di istana bagaimana dia akan berperang?" "Hamba tidak keberatan meninggalkan semua itu, jika hamba bisa melindungi Yang Mulia Puteri." Ujar Gard dengan cepat, seraya dia berlutut dihadapan Vizena sembari mengangkat pedangnya. Vizena terpana melihat sikap Gard yang saat ini sedang berlutut di bawahnya. Ini pertama kalinya Vizena mendapatkan sumpah setia bahkan dari seorang ksatria. Ragu-ragu Vizena memandangi Leoxard, kakaknya itu mengangguk. "Hamba, Gard Meridiam bersumpah setia akan melindungi Tuan Puteri, Kaisar dan Putera Mahkota menjadi saksi hamba, sampai akhir hayat akan selalu berada disi Yang Mulia Tuan Puteri." "Aku..." Vizena ragu-ragu, "Ehm," Ia berdeham. Di tempat duduknya, Leoxard menahan tawa melihat tingkah Vizena. "Aku menerima sumpahmu, Gard Meridiam."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.1K
bc

TERNODA

read
200.8K
bc

Kali kedua

read
220.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook