2. The Matchmaking

2318 Words
EMPRESS: 2. The Matchmaking "Apa?!" Suara bariton milik pemuda tampan yang sedang memancing membuat air beriak karena ikan yang seharusnya tertangkap melarikan diri lagi. Ia berdecak melihat ikannya kabur, usahanya sia-sia setelah menunggu lama tapi tidak mendapatkan ikan. "Benar Pangeran, Ibu Suri Agung mengadakan pesta dansa untuk mengumpulkan semua wanita bangsawan agar Yang Mulia Raja bisa memilih sendiri pasangannya." Ujar seorang pemuda lagi dengan cemas. "Apa kakakku tahu?" "Yang Mulia Raja mengetahuinya, sekarang sedang berada di istana Ibu Suri Agung." "Kacau! Ini kacau Dranis!" Pangeran muda itu berdiri, pancingnya terjatuh di kolam ikan. Ia hendak pergi, akan tetapi Dranis sang pelayan menghadangnya. Alisnya terangkat kearah sang pelayan itu, mengapa dia harus menghadang langkahnya? "Pangeran Moscha akan melakukan apa?" Tanya Dranis lagi yang khawatir bahwa sang pangeran mungkin akan berbuat onar di kediaman Ibu Suri Agung. "Setidaknya aku harus ada diantara Ibuku dan kakakku, jika tidak bisa terjadi perang dunia! Itu mengerikan." Kata Moscha dengan bergidik. "Aku punya tugas untukmu, Dranis." Lanjutnya sembari menatap serius pada Dranis. "Tugas apa pangeran?" "Panggil semua kakakku, minta mereka untuk berkumpuk di depan istana Ibu, aku menunggu disana." Pintanya, pelayan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju untuk melakukan tugasnya. Dranis dan Moscha berpisah jalan. Moscha pergi ke Istana Ibu suri berada sedangkan Dranis melaksanakan perintah Moscha. Moscha berjalan dengan tergesa-gesa ke Istana Ibu Suri Agung. Ia berjalan tanpa memperhatikan apapun, bahkan ketika beberapa pejabat istana yang menyapanya di jalan diabaikan begitu saja oleh Moscha. Perasaan Moscha sangat gelisah, ia khawatir jika Kakaknya akan membuat keonaran di istana Ibu Suri. Melihat tabiat kakaknya yang sesuka hatinya, maka tidak mungkin jika hal itu tidak terjadi sesuatu. Di depan Istana Ibu Suri Agung, Moscha menunggu saudara-saudaranya yang lain. Dirinya mondar-mandir dengan gelisah di depan prajurit penjaga. Hingga setelah beberapa saat, segerombolan pria berjalan kearahnya. "Kakak-kakak!" Moscha berseru. Ia segera menghampiri ketiga kakaknya yang lain. "Apa kau sudah masuk kedalam?" Tanya Vein, Pangeran kedua dari Kerajaan Sholaire. Memiliki perawakan tubuh tinggi, wajah yang dingin tidak berekspresi tapi sangat tampan. Moscha menggelengkan kepalanya, "jika aku sudah masuk, mengapa aku disini?" Moscha adalah Pangeran kelima, ia yang paling muda diantara yang lainnya. Hidupnya begitu bebas, tingkahnya paling usil diantara semua pangeran. "Apa Kakak sangat marah dengan rencana Ibu?" Tanya Tarda, Pangeran Ketiga. Tubuhnya sedikit tambun, ia suka sekali makan banyak hal, dia juga sangat mahir memasak. Meski begitu ia tetap tampan. "Tentu saja, Dia paling tidak menyukai perjodohan semacam ini." Sahut Remeus sembari mengusap-usap jambangnya. Remeus adalah pangeran keempat, seorang jenius astronomi yang hidupnya hampir selalu di ruang astrologi istana. Hal itulah yang membuat banyak wanita di istana yang menyukai Tarda karena sifat misteriusnya. "Lebih baik kita masuk saja, bagaimana?" Usul Moscha. Ia beranjak pergi memimpin jalan lalu disusul oleh semua saudaranya. Mereka diarahkan oleh seorang dayang ke tempat dimana Ibu Suri Agung dan Raja berbincang. Itu adalah sebuah taman yang besar di samping kediaman Ibu Suri Agung. Di tengah kolah terdapat sebuah serambi berbentuk segi lima, tampak seorang wanita yang terlihat sangat anggun diusianya yang tidak lagi mudah, dihadapannya duduk dengan penuh wibawa seorang pemuda dengan ketampanan yang luar biasa unik. Dialah Raja Zaviest dari Sholaire, keturunan ke 15 keluarga De'Laire yang memimpin negeri Sholaire. Ia pemuda yang tampan, dengan tubuh tinggi, tegap, ideal, memiliki wajah dengan bentuk rahang yang tegas, alisnya tebal membentuk wajahnya sehingga tampak lebih berwibawa, matanya dengan iris keemasan begitu tajam seperti elang, ia memiliki bibir indah dengan belahan ditengahnya, yang membuat dirinya semakin unik adalah rambut panjangnya berwarna perak dan dibiarkan panjang terurai menutupi punggungnya. Melihat adik-adiknya bergerombol datang kepadanya seperti itu, Zaviest tidak terkejut sama sekali. Persaudaraan mereka memang erat, semua pangeran saling mendukung, jadi ketika Zaviest memutuskan untuk tidak mencari seorang ratu, mereka pun mendukungnya. "Wah, bemimpi apa aku semalam sehingga semua anakku berkumpul hari ini?" Ujar Ibu Suri dengan senyumannya yang indah. "Salam kepada Ibunda, Salam Yang Mulia Raja," Kata keempat pangeran bersamaan memberi hormat. "Kemari, duduklah biar Siria membuatkan makanan kesukaan kalian," Kata Ibu Suri. Lalu Ibu Suri meminta pelayannya untuk membuatkan makanan kesukaan para pangeran. Keempat pangeran kemudian duduk melingkar di meja. Mereka mengamati Ibu Suri dan Zaviest secara bergantian dan cukup heran karena tidak ada tanda-tanda Zaviest sedang marah. "Ibunda, aku mendengar dari Dranis bahwa ibunda akan membuat pesta dansa?" Moscha tidak sungkan bicara pada ibunya secara langsung. Dia adalah anak yang paling dimanjakan oleh Ibu Suri. "Kenapa? Apa kau mau membantu persiapannya?" Tanya Ibu Suri sembari menyesap tehnya. "Adik Kelima? Melakukannya? Semua pestanya akan jadi taman bermain nanti," timpal Tarda lalu semuanya tergelak dalam tawa kecuali Zaviest yang hanya tersenyum simpul. "Kan ada Kakak Pertama, bukankah pesta ini untuknya?" Tanya Moscha, dia sengaja menyinggung Zaviest. "Aku mengadakan pesta ini untuk kalian berlima," sahut Ibu Suri, "Kelima anakku sampai sekarang tidak ada satu pun yang menikah, ck ck ck." Decak Ibu Suri. "Lalu bagaimana pendapat Kakak?" Tanya Vein sembari menatap Zaviest yang masih tenang di tempat duduknya. Karena sudah dua kali namanya disebutkan, Zaviest akhirnya memandangi semua adiknya yang menunggu jawaban. Sedangkan Ibunya tetap menikmati teh dengan begitu anggun. "Karena pesta ini bukan hanya tentangku, maka aku sepakat dengan Ibunda." Jawabnya dengan tenang. "Jadi kalian bisa bersenang-senang, kudengar puteri bangsawan cantik-cantik." Imbuh Zaviest dengan setengah berbisik. "Kenapa aku dianugerahi dengan putera-putera yang aneh seperti kalian ini," Gerutu Ibu Suri. "Memangnya kami kenapa Ibunda? Apa kami kurang tampan?" Tanya Tarda yang sedari tadi asik memakan kue kacangnya. "Kau itu banyak makan, seorang pangeran harusnya bertubuh ideal." Timpal Zaviest sembari menahan tawanya ketika melihat Tarda cemberut. Tapi Pangeran lain malah tertawa dengan keras. "Moscha!" Tarda memperingati Moscha hingga ia tak berani tertawa. "Lihatlah, bahkan yang jadi raja pun begitu konyol, mengapa suka sekali mengganggu adiknya?" Ibu Suri Agung tidak habis pikir mengapa semua anaknya tidak ada yang bertingkah normal, bahkan yang menjadi raja begitu suka sekali menggoda adiknya. "Ya benar Ibunda, kami seperti ini itu karena Kakak Pertama." Moscha mengadu pada Ibundanya. "Teruslah mengadu, awas saja kau nanti! Aku tidak akan membiarkanmu meminjam teropongku lagi." Ancam Zaviest. "Ibunda lihat kan? Dia yang-" Zaviest melotot pada Moscha sehingga ia langsung menutup mulutnya. "Aku senang jika kalian akur," ujar Ibu Suri Agung. "Untuk apa kami tidak akur? Kami hanya punya satu ibu, jika kami tidak akur maka kami akan menyakiti hati Ibunda." Sahut Vein yang bijaksana. Raja terdahulu memang memiliki banyak selir, karena Sholaire memiliki Istana Harem. Tapi sayangnya, tidak ada satupun selir raja terdahulu yang memiliki putera. Hanya permaisuri yang sekarang menjadi ibu suri di anugerahi dengan lima putera. Itulah sebabnya, tidak pernah terdengar perselisihan antar pangeran demi merebutkan tahta. Mereka berasal dari satu rahim yang sama. ????? Keringat membanjiri kening Vizena, ia mengusapnya dengan lengan baju tangan kanannya lalu meletakkan pedang di tempatnya kembali. Seseorang menepuk punggung Vizena, lalu ia pun menoleh. "Perkembanganmu sangat bagus, Vizena. Tangan kirimu sudah berfungsi dengan baik sekarang." Seorang pria seumuran dengan Leoxard tampak bangga dengan pencapaian Si Tuan Puteri. Pria itu pernah dilihat Vizena saat pertunjukan di pasar raya empat tahun lalu, tepatbsebelum ia diculik. Dia adalah seniman pedang yang mendapatkan tepuk tangan paling meriah dari Vizena. Setelah mendapati dirinya tidak bisa menggunakan lagi tangan kirinya untuk beraktifitas, Vizena sangat frustasi. Ia hidup tapi seolah tidak memiliki jiwa karena selama ini dia selalu menggunakan tangan kirinya untuk beraktifitas. Sampai suatu hari, Ariah mengajaknya berjalan-jalan ke pasar lagi, dan kebetulan pria itu melakukan pertunjukkan lagi. Saat itu sebuah percikan kehidupan muncul dimata Vizena. Ia memohon pada pria tersebut dan ditolak, tapi Vizena tidak menyerah. Setiap hari ia kembali kepasar untuk memohon, hingga akhirnya pria itu bersedia. Sejak itulah, secara diam-diam Vizena berlatih seni bela diri diajarkan oleh guru barunya itu, dan belajar memanah dan berpedang dengan menggunakan tangan kanannya. Bahkan pengawal pribadinya sendiri tidak pernah tahu jika Vizena diam-diam berlatih. "Terimakasih Guru Khan," Ujar Vizena dengan sungguh-sungguh. "Kau adalah satu-satunya muridku yang terbaik dan pantang menyerah, aku bangga padamu." "Guru, kau lupa jika hanya memiliki satu murid?" Ucap Vizena sedikit menggoda gurunya dengan senyum jahil diwajahnya. "Sekarang kau berani ya dengan gurumu!" Khan memukul kepala Vizena, sehingga Vizena meringis kesakitan. "Ampun guru, aku tidak berani." Kata Vizena. Sesaat kemudian, Khan merogoh sakunya. Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya, saat ia mengeluarkannya terdapat sebuah lencana yang berbentuk lonjong, dengan batu giok diatasnya dan berukiran nama gurunya diatasnya. "Itu apa guru?" Tanya Vizena penasaran. "Seperti yang sudah aku katakan padamu, aku harus kembali ke Negeri Thymur jika kau sudah menguasai pelajaran yang kuberikan, jadi lencana ini untukmu." Raut wajah Vizena berubah sedih. Dia sudah mempersiapkan diri untuk berpisah dengan gurunya, akan tetapi dia tidak tahu bahwa perpisahannya akan datang secepat ini. Dirinya belum siap untuk berpisah dengan gurunya, ada banyak yang ingin dia pelajari selain hanya seni bela diri saja. "Dengar, Aku memesankan senjata untukmu. Akan datang enam bulan lagi, saat kau harus datang ke toko obat yang ada di ujung pasar, dan tunjukkan lencana ini, kau akan mendapatkan senjatanya." Vizena menatap gurunya penuh tanya. Mengapa tidak gurunya sendiri yang memberikan senjata itu padanya? Khan merengkuh kedua bahu Vizena lalu menatap mata lembayung Vizena yang indah, ia menatapnya beberapa detik hingga tanpa disadari olehnya dia telah terperangkap dalam keindahan mata Vizena itu. Namun dengan cepat ia segera menyadarkan dirinya, mata indah itu bukan untuknya. "Kau adalah seorang Tuan Puteri, Vizena. Kau harus hidup seperti Tuan Puteri, jangan tunjukkan jati dirimu kepada siapapun, jangan percaya kepada siapapun, mengerti?" Vizena mengangguk, lalu Khan mengusap kepala Vizena dengan lembut, "gadis pintar." Katanya sambil tersenyum. Sesaat kemudian Ariah masih kelapangan latihan dengan terburu-buru. Ia sangat panik dan gelisah sampai keringatnya bercucuran. "Yang Mulia! Anda harus kembali ke Istana sekarang juga!" Teriak Ariah. "Ada apa?" Tanya Vizena yang kebingungan. "Yang Mulia Kaisar mencari anda, saat ini Tuan Gard masih di lapangan latihan militer, jika dia tahu anda tidak dikamar, gawat! Ayo!" Ariah tak pikir panjang langsung menarik Vizena begitu saja. Sembari ditarik Ariah, Vizena menoleh kepada gurunya. Ia melambaikan tangan tanda perpisahan dengan Khan, dan Khan membalasnya sambil tersenyum. Itu bukan cara berpisah yang diinginkan oleh Khan, ia hanya menghela nafas sembari melihat Vizena dan Ariah pergi dari tempatnya. Ariah dan Vizena berlarian untuk bisa pergi ke istana. Mereka memasuki istana melalui pintu rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Pintu tersebut terhubung dengan lorong bawah tanah yang langsung terhubung dengan kamar Vizena. Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai di kamar Vizena. Lekas Ariah meminta Vizena untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Sementara dirinya mengawasi situasi diluar kamar sang puteri. "Saya akan membereskan yang lain, jika Tuan Gard kemari dia tidak akan curiga." Kata Ariah dan Vizena menurut saja. Usai membersihkan dirinya dan memastikan tidak ada satupun kotoran yang menempel ditubuhnya, Vizena mengenakan gaun kerajaannya, di bantu oleh Ariah dan dayang yang lain untuk menata rambut dan menghias wajahnya, lebih tepatnya hanya separuh wajahnya karena topeng di wajah bagian kirinya tidak pernah dilepaskan sama sekali. Vizena melangkahkan kaki ke luar kamarnya, hendak pergi ke istana kaisar. Kebetulan sekali, Gard baru saja tiba dan mereka bertemu di luar kamar Vizena. "Yang Mulia Puteri," Gard memberi salam dengan sedikit membungkuk pada Vizena. "Sudah selesai berlatih? Aku harus pergi ke istana kaisar," jawab Vizena senormal mungkin agar Gard tidak curiga bahwa dirinya baru saja pergi. "Kaisar juga memanggil saya," "Kebetulan sekali!" Seru Vizena, "kalau begitu kita pergi saja bersama?" Mereka berdua pergi ke istana kaisar . Sepanjang jalan, Vizena terus saja bertanya-tanya mengapa ayahnya memanggil mereka berdua, dan mengapa mendadak sekali. Kaisar Mouzsac juga jarang sekali memanggil puterinya. Mereka telah memiliki jadwal untuk makan bersama dua kali dalam seminggu. Panggilannya kali ini diluar jadwal yang sudah ditentukan. "Apa ayah tahu kalau aku sering menyelinap keluar?" gumamnya dengam nada serendah mungkin. Kebiasaan Vizena selalu bicara sendiri, tanpa dia sadari Gard mendengarnya. "Jadi, Puteri masih sering keluar?!" Gard terkejut mendengar pengakuan Vizena yang tidak disengaja itu. "Anda berjanji padaku, akan menghentikan kebiasaan itu dulu, jadi?!" Langkah Gard terhenti, dan membuat Vizena berhenti pula. Wajah Gard terlihat seperti seseorang yang sedang marah karena telah dibohongi. Vizena yang merasa bersalah, kemudian meringis sembari meminta maaf. "Aku bosan di istana," ia mengakuinya, memangnya siapa yang bisa menghentikan Vizena jika bukan dirinya sendiri. "Baiklah, lain kali jika ingin keluar istana beritahu saya, jika tidak ingin saya temani, setidaknya saya bisa mengawasi Puteri dari kejauhan." Katanya lagi. "Baiklah, baiklah," jawab Vizena, "sebaiknya kita segera masuk kedalam." Rupanya Kaisar Mouzsac tidak sendiri, ada Leoxard disampingnya. Ketika melihat kedatangan Vizena dan Gard, keduanya langsung tersenyum sumringah. "Vizena memberi hormat pada Ayahanda dan kakak," Vizena sedikit membungkuk. Gard juga memberi salam, lalu Vizena duduk disamping kakaknya. "Apa yang kau lakukan seharian ini, Adik?" Tanya Leoxard, tanpa sengaja ia melihat kearah tangan Vizena. Tangan adiknya yang biasanya terlihat lembut, menjadi terlihat lebih kasar. "Hari ini sangat membosankan! Ariah terus memaksaku belajar, katanya aku tidak boleh mengecawakan guru Daxtern." Jawab Vizena berbohong, seharian ini ia berlatih dengan Khan, bukannya membaca buku. "Aaah membaca buku?" Leoxard memainkan nada suaranya untuk menggoda Vizena. "Sungguh, tanya saja pada Ariah." Jawabnya dengan gugup. Vizena jaranh sekalo berhasil membohongi Leoxard. Apapun itu dia selalu membaginya dengan sang kakak. "Kalau Ariah sudah pasti akan membelamu, biar kutanya pada Gard saja," Leoxard menoleh hendak bertanya pada Gard, tapi Vizena menahan tangannya. "Apa pentingnya yang kulakukan hari ini," Ujarnya dengan memasang wajah memelas. Dan Leoxard tersenyum jahil, kemudian menyentil kening Vizena. "Aduh! Sakit!" Erang Vizena sembari mengusap-usap keningnya. "Dasar bocah nakal!" "Sudah, sudah, jangan ganggu adikmu terus Leoxard, kau tahu sendiri dia tidak bisa diatur. Bahkan setelah menempatkan Gard disisinya, dia tetap tidak bisa diam." Kata Mouzsac yang tampaknya telah putus asa dengan tingkah puterinya. "Ayah betul, bahkan setelah ada Gard dia tetap saja nakal." Vizena cemberut mendengarnya, dia tidak senakal itu. Dirinya hanya suka bermain, dia akan sangat bosan jika harus duduk manis di istananya. Ia lebih memilih untuk berkuda sepanjang siang dan malam daripada harus mendengarkan Patrive sang pengajar etika kerajaan berbicara selama satu jam. "Kalau begitu Vizena harus segera menikah, dengan begitu akan ada seseorang yang bisa membuatnya menurut." Ujar Kaisar Mouzsac. "Apa?!! Menikah!!" Vizena terkejut sampai-sampai berteriak. Semua orang menatapnya dengan heran, sementara Leoxard menahan tawanya. "Aku tidak mau menikah!" ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD