3. THE PARTY

3124 Words
EMPRESS: 3. THE PARTY Pengumuman pesta ulang tahun Putri Vizena sudah diumumkan keseluruh pelosok negeri dan negeri tetangga. Mengundang semua bangsawan yang terendah hingga yang paling tinggi. Untuk menghibur rakyat biasa, Kaisar Mouzsac mengadakan perayaan kembang api di Ibukota. Sementara semua orang begitu semarak dan bahagia menyiapkan ulang tahun Puteri Vizena dan membuat Istana begitu ramai, Sang Puteri sendiri malah tampak murung ditaman utama Istana. Ia tidak sendiri, ditemani oleh beberapa puteri bangsawan yang telah menjadi teman Puteri Vizena sejak ia kecil. "Mengapa wajah anda sangat murung sekali, lusa adalah hari ulang tahun anda, Yang Mulia Puteri?" Tanya seorang gadis dengan gaun berwarna biru laut, ia adalah Puteri Jenderal Perang, Haila. "Lihatlah, warna wajahnya begitu pucat seperti tidak ada darah yang mengalir disana," timpal Gadis berambut merah menyala seperti api. Dia adalah Puteri Menteri Keuangan, Soirze. "Benarkan? Aku pikir hanya aku saja yang merasakan bahwa Puteri tidak bersemengat dengan ulang tahunnya." Ariah menggerutu. Semenjak pertemuannya beberapa hari yang lalu dengan Kaisar Mouzsac selaku ayahnya sendiri rasanya jiwa Puteri Vizena melayang entah kemana. Dia sering melamun, terkadang Ariah tidak sengaja melihat Puteri Vizena diam-diam memerhatikan Gard. Tapi apa yang sebenarnya membuat Puteri Vizena yang ceria dan riang menjadi pemurung tidak diketahui oleh Ariah. Terakhir kali sang puteri tampak begitu murung adalah setelah insiden penculikannya. Hal ini sungguh membuat Ariah frustasi, karena menghilangnya semangat Vizena juga menghilangkan nafsu makan gadis itu. Seberapa keras Ariah membujuk Vizena untuk makan, gadis itu tidak menyentuh makanannya. "Kalian pikir, dengan siapa nanti aku akan menikah?" mendengar pertanyaan Vizena semua orang menoleh karena terkejut. "Si... Siapa yang akan menikah?" Pekik Soirze. "Apa Yang Mulia Kaisar sudah menetapkan pernikahanmu?" Tanya Haila. Vizena menghela nafas berat, ia seolah memanggul beban yang teramat besar dan hampir merobohkan tubuhnya. Ia menghela nafas berat lagi, kemudian menoleh kearah lain. Dalam pandangannya tertangkap sosok Gard yang sedang berjalan dengan sangat gagahnya. "Bolehkah aku memilih suamiku sendiri?" Gumamnya cukup keras hingga didengar oleh teman-temannya. "Memangnya anda ingin menikah dengan siapa?" Tanya Haila. "Jika Kaisar sudah menetapkan anda tidak bisa menolak, Yang Mulia." Soirze menambahkan. "Tapi memangnya, Anda sudah memiliki tambatan hati?" "Mengapa Gard sangat tampan?" Gumamnya lagi. Kini Haila, Soirze dan Ariah mengikuti arah pandang Vizena dan menemukan bahwa Sang Puteri sedang memandangi Gard dengan tatapan penuh kasih sayang. "Anda menyukai Tuan Muda Meridiam?" Tanya Soirze. "Sepertinya Tuan Puteri tergila-gila dengan Tuan Meridiam," sahut Ariah. Tidak ada yang lebih mengenal Vizena daripada Ariah. Sekali lihat saja Ariah tahu, sejak pertama kali Gard ditempatkan disisi Vizena, kebahagiaan benar-benar datang menghampiri Vizena. Setiap hari, Vizena selalu banyak akal agar bisa memanfaatkan waktu dengan baik bersama Gard. Tatapan mata Vizena pun begitu tulus penuh dengan cinta yang besar untuk Gard. Lagipula siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan pria yang tampan dan berwibawa seperti Gard? Tapi cinta Vizena tumbuh setelah mengetahui bahwa Gard adalah penyelamatnya dulu. Seandainya saja dia tidak ditemukan oleh Gard, maka kemungkinan besar Vizena tidak akan hidup lagi. Terkadang Ariah berpikir mungkin saja perasaan yang timbul dalam hati Vizena bukanlah cinta, melainkan rasa syukur. Tapi dia tidak bisa berspekulasi tentang perasaan Vizena. "Apakah aku bisa menikah dengan lelaki pilihanku?" Tanya Vizena dengan suara yang lirih, ia juga menyentuh topeng yang menutupi seluruh wajahnya. "Siapa yang akan menikah dengan orang yang cacat sepertiku?" "Yang Mulia!" Seru Ariah, "Yang Mulia tidak boleh berkata seperti itu, Yang Mulia tidaklah cacat!" "Itu hanya bekas luka saja Yang Mulia, tidak memengaruhi kecantikan alami Yang Mulia miliki." Haila mencoba menghibur temannya itu. "Benar sekali! kecantikan anda tidak ada bandingannya di dunia ini." Imbuh Soirze. "Ssssstt, Tuan Meridiam sudah dekat." Bisik Ariah. Mereka kemudian tidak membicarakan lagi soal pernikahan, hanya menyesap tehnya sembari membicarakan gosip yang ada di luar istana. "Hormat kepada Yang Mulia Puteri," Ujar Gard, kemudian memberi salam kepada semua gadis yang ada disana. "Apakah ada hal penting?" Tanya Vizena dengan gugup. "Nona Eyster meminta untuk bertemu dengan Anda, Yang Mulia." Jawab Gard. "Nona Eyster?" Pekik Haila dan Soirze secara bersamaan. "Apa dia tidak punya muka lagi? Dia masih berani bertemu dengan Yang Mulia Vizena?" Lanjut Soirze yang kesal. "Sudah, Soirze. Mungkin Kakakku memiliki kepentingan. Kau tahu, bahwa semua urusan istana diurus oleh Nyonya Miriam dan Puterinya sejak Ibuku tiada." Tutur Vizena menenangkan sahabatnya itu. "Tidakkah seharusnya dia yang datang kepadamu? Mengapa meminta Tuan Meridiam untuk menyampaikannya?" Imbuh Haila. "Entahlah, baiklah aku akan pergi dulu, nikmati hari kalian." "Ngomong-ngomong," Soirze menahan Vizena agar tidak segera pergi. "Tuan Meridiam, boleh aku bertanya sesuatu?" Vizena curiga dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh Soirze. Ia tahu, bahwa Soirze adalah orang yang berterus terang dan sangat blak-blakkan. "Tidak!" Pekik Vizena sembari melotot pada Soirze. "Kau jangan dengarkan dia! Ayo kita pergi!" Vizena menarik tangan Gard, hal itu tidak mengejutkan semua orang karena Vizena hampir tidak pernah mematuhi peraturan istana. Dia tidak pernah bersikap selayaknha seorang Puteri Kaisar diluar Aula Utama. "Mengapa? Kita Tunggu dulu Lady Soirze untuk bicara?" Gard menahan langkah Vizena. "Tentu Anda harus mendengarkanku, Tuan Meridiam, apa kau sudah punya kekasih?" Tanya Soirze tanpa berbasa-basi. Gard terkejut mendengar pertanyaan itu, ia berdeham sekali kemudian menatap beberapa gadis yang ada dihadapannya itu. "Itu," Gard tampak bingung harus menjawab seperti apa. Sedangkan Vizena tanpa sadar menunggu jawaban dari Gard. Hatinya berdebar-debar menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Gard. "Ah, sudahlah! Jangan dengarkan mereka, mari kita ketempat Kakakku." Vizena hendak menarik lagi lengan Gard. "Sebenarnya, ada gadis yang kusukai." Katanya sembari menatap kearah Vizena. "Wah, benarkah?" Haila pintar melihat situasi. Ia berasumsi bahwa gadis yang disukai oleh Gard adalah Vizena. Bisa siapa lagi, selain Sang Puteri? Selama beberapa tahun, Gard hanya mendampingi Vizena selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tentu Gard tidak bisa melihat kepada wanita lain. "Ayo kita pergi saja!" Ujar Vizena dengan wajah yang bersemu. Sepanjang perjalanan ke istana selir, Vizena tidak berbicara sama sekali. Ia begitu pendiam karena merasa malu dengan pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya untuk Gard. Ia juga mengira bahwa dialah gadis yang dimaksud oleh Gard, hatinya berbunga-bunga jika memingat momen Gard mengatakan ada gadis yang disukainya. Tapi disisi yang lain, hatinya merasa ragu, benarkah Gard menyukai gadis yang tidak sempurna seperti dirinya? "Tuan Puteri," Suara Gard samar tapi mampu mengusik ketenangan lamunan Vizena. Rupanya mereka telah sampai di istana selir. "Kita sudah sampai rupanya, terimakasih banyak." Kata Vizena. "Baiklah, saya akan menunggu di sini." Vizena mulai memasuki istana selir. Istana itu tidak semewah miliknya yang hanya seorang puteri. Memang dalam peraturan kerajaan tidak pernah diatur mengenai istana selir sebelumnya. Hanya saja, ini karena ayahnya yang menyukai salah satu anak gadis bangsawan, dan kemudian membawanya ke Istana. Entah itu memang kesalahan ayahnya atau bagaimana, sepengetahuan Vizena, ayahnya sama sekali tidak pernah menyebutkan tentang selir atau pun kakaknya Eyster di hadapannya. "Adik!" Suara yang merdu memanggil Vizena. Gadis berambut cokelat yang indah itu segera menghampiri Vizena, ia segera menggandeng tangan Vizena dan tersenyum cerah. "Aku dengar dari Gard, Kakak memanggilku?" "Ya, aku hanya ingin meminta pendapatmu tentang dekorasi aula istana, bagaimana?" "Apakah Puteri Vizena disini?" Suara lain menggema di seluruh ruangan. Vizena menoleh, dan melihat seorang wanita paruh baya, begitu cantik dan anggun menggunakan gaun berwarna hijau cemara sedang berjalan kearahnya. Diam-diam Vizena mengagumi kecantikan wanita itu, Nyonya Miriam. Pantas saja ayahnya menyukai Nyonya Miriam. Vizena teringat akan potrait ibunya yang telah tiada. Ibunya adalah permaisuri dari Luxorth, Puteri dari Perdana Menteri yang sekarang masih menjabat. Ibunya sangat cantik dengan kulit seputih s**u, dengan rambut hitam dan matanya yang seindah lembayung. Di mata Vizena, Ibunya sangatlah cantik, tapi sepertinya kecantikan itu tidak sepadan dengan Nyonya Miriam di mata ayahnya. "Vizena memberi salam pada Nyonya Miriam." "Jangan begitu, Anda adalah Tuan Puteri, tidak sepantasnya membungkuk di depan orang seperti saya." Kata Nyonya Miriam. "Anda adalah bagian dari kerajaan ini, tetap saya harus menghormati Anda." Kata Vizena sungguh-sungguh. Meski dia sedikit nakal, tapi Vizena tetap ingat apa kata Ibunya. Harus tetap menghormati siapapun itu, dengan gelar apapun, manusia harus saling menghormati. "Tentu saja, tapi kita jarang sekali bertemu, sekarang kau sudah jadi gadis yang dewasa." Vizena ingin tertawa tapi ia menahannya. Gadis berusia 17 tahun seperti dirinya apakah pantas dikatakan sudah dewasa? "Saya dengar, Pesta ulang tahun saya akan di bantu oleh Nyonya Miriam dan Kakak?" Sebenarnya Vizena sama sekali tidak peduli siapa yang mengurus pesta ulang tahunnya. Dia sendiri tidak tertarik dengan pesta ulang tahunnya kali ini. "Kebetulan sekali, karena Dayang Tua sedang sakit, aku menggantikan dia mengurus pesta di Istana, bagaimana apa kau ingin membantu?" Mata Vizena melebar, dia terkejut karena Nyonya Miriam ingin melibatkannya dalam urusan ini. Ia menoleh pada Eyster yang tersenyum kearahnya. "Jika kau membantu, setidaknya kami tahu apa yang kau sukai atau tidak."Eyster menyahut. "Aku-" "Ibu! Kakak!" Seru sebuah suara. Mereka terkejut kemudian menoleh kearah pintu masuk. Seorang pemuda dengan pakaian yang indah, memiliki rambut cokelat yang sama dengan milik Eyster hanya saja ia bermata cokelat seperti kaisar Mouzsac tiba-tiba muncul. Pemuda itu tersenyum begitu lebarnya kearah Nyonya Miriam dan Nona Eyster. Akan tetapi, saat melihat Vizena, senyumnya seolah lenyap, dan ia langsung berlutut di hadapan Vizena. "Hormat kepada Yang Mulia Puteri, maafkan hamba karena tidak tahu jika Yang Mulia ada di istana Ibu saya." Vizena menaikkan alisnya, meski ragu-ragu ia mendekati pemuda tersebut, kemudian meraih bahunya dan membantunya untuk berdiri. "Kakak Jovach?" Terakhir kali Vizena bertemu dengan Jovach adalah sebelum insiden penculikan dirinya, setelah itu ia dengar bahwa Jovach sedang pergi untuk menjalani akademi kemiliteran. Dan kini Jovach tiba-tiba muncul dihadapannya dengan begitu gagahnya sampai Vizena lupa jika pemuda yang ada dihadapanya adalah Kakak ketiganya, Jovach. Jovach sendiri, lahir satu tahun setelah Leoxard lahir. Ketika masih berusia anak-anak, Jovach dan Leoxard sering bermain bersama. Hanya saja lambat laun mereka tidak lagi bersama, seolah ada persaingan dan kebencian yang timbul di antara Leoxard dan Jovach. "Iya ini saya, Yang Mulia." Jovach menjawab pertanyaan itu ragu-ragu. "Sudah lama tidak bertemu, kakak jadi setampan ini?" Jovach tersenyum mendengar pujian dari Vizena akan tetapi pandangan matanya sesekali melirik kearah Eyster dan Ibunya. Sementara Ibunya dan Eyster hanya mengangkat bahu mereka. "Sesekali kau harus bermain denganku, kakak!" ????? Aula istana Sholaire mulai dipadati oleh tamu undangan. Banyak sekali gadis-gadis yang berpakaian dengan anggun dan cantik disana. Mereka berdandan sebaik mungkin karena mendengar kabar bahwa pesta dansa yang diadakan oleh Kerajaan Sholaire merupakan sarana Raja memilih calon Ratunya. Sementara Remeus sibuk memilah gadis mana saja yang akan dikenalkan dengan kakaknya, dan Vein sibuk menyapa setiap tamu yang hadir, dan Tarda tidak lepas dari kue-kue manis dihadapannya, Moscha terus saja mondar-mandir dengan gelisah. Acara hampir dimulai, akan tetapi kakaknya yang seharusnya membuka acara pesta dansa ini malah belum terlihat batang hidungnya. Moscha takut jika kakaknya akan kabur entah kemana dan menimbulkan kekacauan nantinya. "Mungkin aku harus pergi untuk mencarinya?" Gumam Moscha yang sangat gelisah. "Tenang saja, dia akan segera datang." Sahut Remeus sembari mengambil gelas minuman. "Bagaimana kalau tidak datang? Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, kau tahu itu." Gerutu Moscha. "Ya, bukan hanya kau yang mengenalnya. Aku juga, lihat itu disana." Remeus menunjuk pada ujung tangga. Raja mereka, Zaviest dengan sangat gagah menuruni setiap anak tangga dengan pandangan menyapu kesemua sudut ruangan. Rambut peraknya yang dibiarkannya tergerai melambai-lambai begitu indahnya. Ia terlihat sangat tampan dengan balutan setelan berwarna kuning gading dengan aksen merah maroon. Semua mata tertuju padanya, semua gadis harus rela mulut mereka kering karena kehabisan liur mereka, hati mereka meleleh tiap kali mendengar suara ketukan sepatu Zaviest tiap kali ia menuruni tangga. Sosok Zaviest benar-benar mampu menyihir seluruh ruangan dan menawan hati setiap mata yang memandangnya. "Mengapa dia harus lahir sebagai pria?" Gumam Remeus. "Sempurna!" Decak Moscha yang begitu girangnya melihat Zaviest hadir dalam pesta itu dan tidak kabur. "Aku rela menjadi dayangnya, yang terpenting aku bisa melihat wajah tampannya setiap hari." Bisik salah seorang gadis. "Dayang tidak bisa melihat wajah sang Raja, apa kau tahu itu?" Timpal salah seorang yang lain. Mendengar itu, Moscha sangat terhibur. Ia dan ketiga saudaranya yang lain kemudian menghampiri Zaviest. Mereka memberi hormat kepada Zaviest. "Berdirilah, tidak perlu formalitas seperti itu." Kata Zaviest. Meski Zaviest terlihat begitu agung, tapi ada yang aneh dari wajah Zaviest malam ini. Suasana hatinya sepertinya sedang memburuk. Zaviest suka dengan pesta, dia cukup menikmati setiap pesta yang diadakan. Tapi kenapa malam ini tampak murung? "Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?" Tanya Vein, tidak hanya Vein keempat adik Zaviest bisa melihat jika kakak pertama mereka sedang berada dalam suasana hati yang buruk. "Kau sudah menemukan pasangan dansamu?" Zaviest mengalihkan pertanyaan. "Saya sudah menyiapkan beberapa gadis untuk dikenalkan dengan anda, sebaiknya anda bersiap sekarang!" Sahut Remeus dengan girang. Ia tahu, Zaviest sedang murung, mungkin dengan mengenalkan gadis-gadis bangsawan bisa menghibur hati Zaviest. "Baiklah," jawab Zaviest tak bertenaga. Ia kemudian berjalan ke singgasananya. Dirinya lupa harus membuka acara pesta dansa itu. "Ada apa dengannya?" Gumam Moscha. "Mungkin dia mendapat kabar dari Feiry?" Tanya Vein. "Coba kita tanya Dranis, ah dimana dia?" Usul Tarda sembari celingukan mencari sosok Dranis. Namun ia tidak menemukan Dranis dimana pun. "Feiry sudah beberapa bulan ini tidak kembali, mungkin karena itu." Imbuh Moscha. Feiry adalah burung sihir pengintai. Sudah beberapa Tahun ini Zaviest memberikan Feiry tugas untuk mengintai. Biasanya jika Feiry kembali, maka suasana hati Zaviest akan lebih baik. "Kau beritahu kakak untuk memulai pesta ini." Moscha kemudian mendekati singgasana kakaknya. Ia pun berbisik pada Zaviest untuk segera memulai pesta dansa ini. "Yang Mulia, pesta ini akan bertahan selamanya jika anda tidak segera memulai pestanya." Sesaat kemudian Zaviest berdiri sembari mengangkat satu gelas anggur merah. Ia berpidato singkat, kemudian memulai acaranya yang disambut meriah oleh para tamu undangan. "Kira-kira siapa yang akan diajak dansa pertama oleh, Yang Mulia?" Seorang gadis bertanya sembari melirik kearah Zaviest berkali-kali. "Dia akan jadi gadis yang paling beruntung, jika Yang Mulia melihatnya." "Benar sekali, kemungkinannya akan menjadi Ratu dikemudian hari pun besar." Timpal yang lain. Sementara itu, Remeus membawa barisan gadis kehadapan Zaviest. Ada sekitar 15 gadis bangsawan yang telah ia pilah sejak pertama ia memasuki aula pesta. Remeus kemudian meminta Zaviest untuk memilih salah satu gadis yang akan diajaknya dansa pertama. "Aku sedang tidak ingin berdansa," ucapan itu begitu tidak bersemangat. Zaviest bahkan tidak melihat kearah gadis-gadis yang berbaris dihadapannya. "Maaf Yang Mulia," tiba-tiba saja seorang gadis melangkah kedepan, gadis itu cukup menawan, rambutnya berwarna seperti madu, kulitnya berkilau seperti kristal tanpa cela sedikit pun, matanya berbentuk seperti almond dengan iris biru bagaikan lautan yang dalam, dan bibirnya merona indah. "Bukankah jika Yang Mulia tidak berdansa, kami tidak bisa memulai untuk berdansa?" Katanya lagi, "jika Yang Mulia sedang dalam suasana hati yang buruk, akan sangat memengaruhi kami sebagai rakyat Anda, Yang Mulia." "Sebagai seorang raja, anda harus mampu untuk mengendalikan emosi anda dihadapan semua rakyat, dengan begitu kami akan menjadikan Anda sebagai teladan." Imbuhnya. Zaviest meliriknya sekilas, dia tidak suka diceramahi tentang apa yang harus dia lakukan dan tidak. "Siapa namamu?" Tanya Zaviest. "Yaesha, Yang Mulia." "Aku akan berdansa denganmu," Semua orang tampak terkejut, mereka mengira Zaviest akan murka jika diceramahi oleh orang asing. Tidak disangka ia malah berdansa dengan gadis itu dan membuat gadis yang lain begitu iri. Zaviest berdiri kemudian mendekati gadis yang begitu berani bicara terhadapnya tanpa basa-basi itu. Ia mengulurkan tangan pada gadis itu, decak kagum dan bisik-bisik terdengar di seluruh sudut aula pesta. Tanpa keraguan, Yaesha tersenyum kearah Zaviest kemudian meraih uluran tangan Sang Raja. Meski begitu, Zaviest tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya datar cenderung kaku. Ketika mereka telah sampai ditengah aula pesta, satu tangan Zaviest memegang pinggang gadis itu dengan erat dan satunya menggenggam tangan Yaesha. Gadis itu cukup tinggi, karena Zaviest tidak perlu menunduk untuk memandang gadis itu. "Apakah hatimu gembira bisa berdansa denganku? bisik Zaviest. Mata Yaesha sedikit terbuka lebar, ia hampir saja berhenti mengikuti gerakan dansa Yaesha, beruntung sekali ia bisa mengendalikan diri. "Bukankah tujuan semua gadis yang datang kemari adalah untuk berdansa dengan, Yang Mulia?" Zaviest menggeram, ia kesal karena gadis itu begitu pintar berbicara. "Kau pasti senang, semua gadis itu iri padamu sekarang." Ujar Zaviest dengan suara yang dingin. "Sungguh ini adalah kehormatan bagi Yaesha, Yang Mulia." Zaviest tersenyum tipis, ia tak berbicara lagi dan terus berdansa. Sedangkan keempat saudaranya yang lain memerhatikan Zaviest dengan khawatir. Zaviest dengan suasana hati yang buruk bisa melakukan segala hal bodoh yang tidak pernah dilakukan oleh raja mana pun. "Aduhh, Lihat wajah kakak, dia sangat tegang, gadis itu pasti tidak nyaman." Gerutu Remeus. "Semoga dia tidak meninggalkan gadis itu dengan tiba-tiba!" Imbuh Moscha. Sesaat kemudian, setelah Moscha mengatakan hal itu sesuatu yang tidak terduga terjadi. Gadis yang berdansa dengan Zaviest terjatuh dilantai dan Zaviest berjalan keluar dari ruangan begitu saja. Melihatnya, Vein, Remeus dan Moscha menepuk dahi mereka. Sedangkan Tarda tersedak makanannya. Keempatnya langsung berbagi tugas untuk mengatasi kekacauan yang ditimbulkan oleh Zaviest. Vein mengambil alih jalannya pesta, kemudian, Remeus menghampiri Yaesha dan meminta maaf atas nama Zaviest, sedangkan Moscha berlari keluar mengejar Zaviest, dan Tarda meminta pelayan untuk memberikan minuman kepada seluruh tamu undangan. Perihal itu pun menarik perhatian tamu undangan. Empat pangeran tersebut menjadi bahan perbincangan diantara para gadis. Mereka yang takut diperlakukan buruk seperti Yaesha, lebih memilih memendam kekagumannya pada Zaviest dan beralih pada keempat pangeran yang membereskan kekacauan Zaviest. Moscha akhirnya menemukan Zaviest di taman istana sedang memegang seekor burung yang berukuran besar dengan bulu-bulunya berwarna perak seperti rambut pemiliknya. Helaan nafas lega keluar dari hidung Moscha, ia kemudian menghampiri Zaviest. Tampak jelas sekali suasana hati Zaviest sudah berubah menjadi lebih baik. Senyum lebar terpasang diwajahnya, tidak ada aura gelap yang menyelimuti Zaviest. "Kakak?" Moscha perlahan mendekat, Zaviest menoleh dan ia masih tersenyum dengan lebar dan membuat dirinya jauh lebih tampan lagi. "Ada kabar baik dari Feiry?" Tanya Moscha dengan was-was. "Ya, sepertinya Feiry membawa kabar baik." Ujarnya sembari mengusap-usap kepala Feiry. "Kau belum melihatnya?" Tanya Moscha lagi, "Belum, melihat Feiry kembali aku sudah bahagia. Kurasa aku tidak akan bisa mengatasinya jika mendengar kabar bahagia lagi." Saat mengatakan itu wajah Zaviest berbinar seperti orang yang sedang jatuh cinta. Sejak beberapa tahun lalu, Moscha telah menjadi saksi raut wajah bahagia Zaviest itu. "Apakah kakak masih memata-matai gadis itu?" Zaviest mengangguk, akan tetapi Moscha malah tampak begitu sedih. Kakaknya seorang Raja, mengapa dia tidak segera membawa gadis yang membuatnya jatuh cinta itu kemari dam menjadikannya Ratu jika dia benar-benar mencintai gadis itu? "Kau tidak ingin melihatnya?" "Baiklah, aku akan melihatnya." Zaviest menutup matanya sembari memegang kepala Feiry. Untuk beberapa saat senyum Zaviest masih mengembang, akan tetapi senyum itu tiba-tiba lenyap. Wajah Zaviest begitu muram, ditambah dengan kerutan didahinya, ia tampak marah, kesal dan kecewa. "Kakak?" Moscha tampak khawatir karena Zaviest terlihat emosional. Sesaat kemudian, Zaviest membuka matanya. Mata keemasannya tertutupi kabut dan menjadi lebih gelap. Nafasnya tersengal-sengal dan ia mengepalkan telapak tangannya. "Aku akan membuat lelaki itu menderita!!" Zaviest menggeram, lalu ia menerbangkan Fiery dan beranjak pergi. "Kakak! Tunggu! Siapa yang kau maksud!" Moscha mengejar Zaviest karena dia sangat penasaran siapa orang yang membuat amarah kakaknya memuncak seperti itu. "Oh Dewa! Kenapa aku harus terjebak dengan kakakku yang seperti itu!" Gerutu Moscha sembari mengekor dibelakang Zaviest yang berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya. ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD