4. Another Side

2787 Words
EMPRESS: 4. Another Side Rembulan malam itu terlihat lebih besar dan lebih terang daripada biasanya. Dari dalam kamar pengantinnya yang sudah dihias dengan begitu cantiknya, Vizenna memandangi bulan dari jendela kamarnya yang membuatnya begitu iri. Cahaya bulan begitu indah dan sempurna tidak seperti dirinya. Perlahan tangan Vizena menyentuh topengnya yang masih belum terlepas meski malam ini adalah malam pengantinnya. Setitik airmata jatuh melalui matanya, ia sudah menunggu semalaman di kamarnya. Akan tetapi, Pria yang di cintainya dengan begitu dalam tidak pernah membuka pintu kamarnya. Ketukan pintu terdengar, Vizena begitu antusias sehingga ia berlari kearah pintu untuk membuka pintu tersebut. Belum sampai diambang pintu, Vizena menginjak gaun pernikahannya yang sangat indah hingga ia terjatuh dengan keras di lantai. Orang yang mengetuk pintu langsung saja masuk kedalam karena merasa begitu khawatir. "Yang Mulia?" Ariah mendekati Vizena yang tersungkur dilantai. Kepala Vizena terangkat, ketika matanya menatap mata cokelat Ariah, ia begitu kecewa. Dia pikir itu adalah suaminya yang baru saja dia nikahi olehnya. "Mengapa anda bisa jatuh begini?" Segera Ariah membantu Vizena untuk berdiri. Ia pun membersihkan telapak tangan Vizena yang kotor. Ariah mengantarkan Vizena ke ranjangnya. Dalam hatinya ia merasa iba melihat Tuan Puterinya menderita seperti ini. Seusai pesta ulang tahun Vizena diumumkan juga pernikahan Sang Puteri dengan Gard Meridiam yang tidak lain adalah pengawal pribadinya. Mendengar pengumuman itu, Vizena begitu senang. Ia bersenandung setiap hari, tersenyum sepanjang waktu, ia begitu bahagia seolah telah hidup di nirwana yang bebas dari rasa duka. Kebahagiaan Vizena itu bertahan hingga hari pernikahannya. Berkali-kali ia bertanya pada Ariah apakah dirinya tampak cantik? Tentu saja Ariah menjawab bahwa Vizena sangat cantik. Kenyataannya, Vizena adalah gadis tercantik di Luxorth, bagi Ariah. Semua senyum dan percikan kebahagiaan yang muncul tiap kali Vizena bergerak seolah lenyap dengan berjalannya waktu. Pasangannya, tidak pernah muncul setelah pesta pernikahan usai. Vizena dibiarkan menunggunya semalaman dan meratapi dirinya sendiri dikamar pengantin yang seharusnya menjadi tempat Vizena mencurahkan segala kebahagiaannya bersama dengan Gard. Keesokan harinya, Vizena menatap kearah jendela dimana Ariah sedang menyibakkan tirai beludrunya yang berwarna merah darah. Sinar matahari yang menerobos masuk langsung menimpa tubuh Vizena, kehangatan mulai menyelimuti tubuh dingin Vizena yang tidak tidur semalaman. "Tuan Puteri, saatnya anda membersihkan diri dan memberikan salam pagi kepada Yang Mulia Kaisar." Kata Ariah mengingatkan. Seperti mayat hidup, Vizena bergerak dan berjalan kearah kamar mandinya. Vizena melihat bak mandinya yang dipenuhi oleh mawar merah. Melihat semua kelopal bunga itu, emosi Vizena kembali memuncak, dadanya naik turun dengan nafas pendek. "AAARRRRRRGGGHHHHHH!!!!!" Vizena berteriak dengan begitu keras, Ia menyobek gaun pengantinnya, lalu melepas topengnya dan membuang semuanya kelantai. "Tuan Puteri! Apa yang terjadi?" Ariah begitu cemas, melihat Vizena yang terpuruk dilantai ia segera menghampiri Vizena dan memeluk Tuan Puterinya. Tangis Vizena pecah didekapan Ariah. "Kenapa! Kenapa aku harus hidup Ariah??" "Tuan Puteri, Anda tidak boleh mengatakan hal semacam itu." Ariah berusaha menenangkan Vizena. Tapi Gadis itu malah menangis semakin kencang. "Apa gunanya?!! Apa gunanya aku hidup, jika aku cacat!" "Tuan Puteri, Tuan Puteri tidaklah cacat, Tuan Puteri adalah gadis paling sempurna yang Ariah ketahui. Tuan Puteri begitu kuat dan tegar menghadapi semua hal selama ini, jadi Tuan Puteri pasti bisa menghadapinya kali ini." "Dia tidak menyukaiku karena wajahku cacat, aku tidak bisa menggunakan tanganku dengan sewajarnya. Dia tidak menyukaiku." Ariah terdiam, dia tidak tahu apa lagi kata yang bisa ia gunakan untuk menenangkan Vizena. Jadi, ia hanya mengusap punggung Vizena sembari memeluknya dan berharap bahwa sang puteri bisa lekas keluar dari kesedihannya. Setelah Vizena sedikit tenang, Ariah membantunya untuk membuka pakaian pengantin Vizena yang sudah rusak. Terpampang jelas tubuh gadis itu, sangat indah dengan lekuknya yang jelas, kulitnya begitu putih seperti salju, hanya saja luka sepanjang bahu, hingga ujung jari kirinya tidak bisa ditutupi. Perlahan Vizena masuk kedalam bak mandi besarnya yang sudah dipenuhi oleh bunga mawar merah. Ia menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam bak mandi. Ia berusaja memikirkan kembali kenangan manis yang mungkin bisa menenangkan hati dan pikirannya. Vizena memejamkan matanya, tampak jelas luka yang membelah wajah bagian kirinya. Bukan kenangan yang indah akan tetapi sesuatu hal yang Vizena baru pahami. Setelah pengumuman pernikahannya dengan Gard, dirinya sendiri cukup terkejut. Dia berfikir ayahnya mungkin akan menjodohkan Vizena dengan pria yang tidak dia kenal. Vizena tidak bisa membohongi hatinya, ia begitu gembira saat mendengar pengumuman itu. Akan tetapi, hanya dirinya yang begitu bahagia. Jika dipikirkan lagi, setelah pengumuman itu, Gard menjadi lebih pendiam, tampak sekali Gard berusaha menghindari Vizena meski itu mustahil, sebisa mungkin Gard meminimalisir kontak dengan Vizena. Kenangan lain terlintas salam benak Vizena. Itu adalah hari-harinya setelah kembali ke Istana pasca penculikan. Tidak sengaja melewati segerombolan pelayan yang sedang membicarakan dirinya. "Kasihan sekali Tuan Puteri, seharusnya dia menjadi gadis tercantik di Luxorth, semua tiba-tiba direnggut darinya." "Kurasa tidak akan ada lelaki yang mau menikahinya secara sukarela, siapa yang betah dengan wanita berwajah mengerikan?" "Aku masih ingat betapa cantiknya dia dulu, sekarang.... Aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya karena takut." "Tuan Puteri?" Mendengar suara Ariah semua kenangan tersebut lenyap. Seketika ia berdiri dari bak mandinya. Tidak tahu jika orang lain selain Ariah ada disana. "Tuan Puteri, Tuan Gard di-" "Aku tahu," Kata Vizena sembari memandang ke pintu masuk dimana Gard sedang berdiri sembari memalingkan wajahnya. Ariah buru-buru memberikan handuk akan tetapi Vizena menolaknya. "Keluarlah, Ariah." Perintah Vizena. "Aku akan keluar," Gard hendak berjalan pergi. "Berhenti!" Vizena menahannya. Sementara Ariah keluar, Gard hanya terpaku ditempatnya. Ia tidak berani menoleh untuk menatap Vizena. Vizena berjalan mendekat pada Gard tanpa menggunakan sehelai benang pun di tubuhnya. "Lihatlah!" Kata Vizena dengan suara lirih dan bergetar. Gard bergeming ditempatnya. Satu inchi pun ia tidak menggerakkan kepalanya. "Aku tahu aku begitu tidak sempurna, jadi aku ingin kau melihat ketidaksempurnaanku dan mengingatnya agar kau tidak menyesal." "Yang Mulia, Aku ingin meminta maaf padamu karena tidak datang padamu, aku sangat mabuk semalam dan sepertinya aku malah kembali ke kediamanku." Vizena menghela nafasnya. Itu adalah kalimat terpanjang yang dikatakan oleh Gard setelah mendengar pengumuman pernikahan mereka. Kalimat yang diucapkan tanpa menatap mata Vizena. "LIHATLAH AKU!!!" Bentak Vizena, "Yang Mulia," Gard masih mematung di tempatnya. Tiba-tiba saja Vizena mengambil pedang dari pinggang Gard dan menghunuskannya ke lehernya sendiri. "Yang Mulia! Apa yang anda lakukan?!" "Jika kau tidak melihatku dalam hitungan ke-tiga aku akan menggorok leherku sendiri." "Yang Mulia!" "Satu....." Vizena menekankan pedang tersebut kelehernya. "Aku tidak bisa melakukannya." "Dua!!" "Untuk apa aku melakukannya, Yang Mulia?" "Ti-" "Baiklah!" Gard akhirnya menoleh kearah Vizena. Sayangnya saat itu pedang tersebut sudah menyayat sedikit kulit leher Vizena sehingga darah pun mengalir perlahan keluar dari luka tersebut. Matanya melebar ketika ia melihat Vizena yang berdiri dihadapannya tanpa sehelai benang pun. Tangan Gard mengepal saat ia melihat wajah Vizena tanpa menggunakan topeng, luka di bagian wajah kiri Vizena cukup buruk, ia membelai dahi, alis, kelopak mata, pipi hingga dagu bawah. Pandangan Gard mulai turun, ia melihat betapa mulus dan putih kulit Vizena hingga ia melihat bekas luka seperti terbakar dan sayatan-sayatan kasar di sepanjang bahu kirinya, turun hingga ke lengan, lalu sampai ke ujung jari, luka bakarnya pun membakas sebagian dadanya dan perut Vizena. Setelah melihat semua itu, tubuh Gard hanya bisa mematung. Akan tetapi kepalan tangan Gard begitu erat hingga tampak jelas buku-buku jarinya memutih. Sebuah perasaan yang coba ia pendam selama ini bergejolak dalam batinnya. Vizena melemparkan pedangnya ke sembarang arah. Lalu memanggil Ariah. "Ariah!! handukku! Astaga dingin sekali!" Vizena keluar sembari menggigil memeluk dirinya sendiri. Ariah langsung menghadap pada Vizena dan memberikannya mantel handuk untuk menutupi seluruh tubuh Vizena. "Astaga, Tuan Puteri leher anda berdarah." "Aku tidak punya waktu mempermasalahkan luka kecil ini, cepat bantu aku dan Tuan Gard bersiap ya?" Vizena tampaknya sudah mendapatkan kembali suasana hatinya yang baik. Cara bicaranya dan tatapannya sudah berubah. Ia juga sudah tidak tampak seperti mayat hidup lagi. Vizena telah siap untuk berangkat, sementara Gard masih mematung di kamar mandi, ia berusaha untuk mencerna segala kejadian yang baru saja dia alami. Vizena begitu cepat berubah, apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu, selama ini selalu ceria dan begitu berjiwa bebas, akan tetapi Vizena yang baru saja dilihat oleh Gard bukanlah Tuan Puteri yang biasa dia kenal, Vizena seolah menjadi orang lain, begitu penuh amarah, dan menyimpan begitu banyak duka. Dengan perintah Vizena, Ariah segera memanggil Gard. Saat ia kesana, Gard masih mematung dengan tangannya yang mengepal, matanya yang memerah dengan setitik airmata yang keluar dari sudut matanya. "Tuan Gard," Ariah memanggil Gard. "Ya?" "Tuan Puteri sudah memanggil anda." "Baiklah," Gard pun keluar dari ruang mandi tersebut. Ia melihat Vizena sudah menunggunya, sewaktu melihat Gard senyuman Vizena melebar sampai kematanya. Membuat Gard sangat bingung, Vizena yang ada dihadapannya ini tidak seperti Vizena yang ia lihat di ruang mandi. Yang didepannya itu, Vizena yang ceria, manis dan penuh aura positif. "Ayo, Ayahanda pasti sudah menunggu." Kata Vizena sembari tersenyum lebar. Ia pun meraih lengan Gard dan menggandengnya. Membuat Gard semakin bingung. Tapi, Vizena sama sekali tidak menghilangkan senyuman manisnya. ????? Pedang perak murni milik Zaviest beradu dengan pedang milik Vein. Mereka sudah beradu pedang sejak pagi hari, sesekali beristirahat, lalu mulai kembali. Vein hendak menghunuskan pedangnya, tiba-tiba Zaviest mengangkat tangannya. Seketika Vein pun menghentikan langkahnya, ia menurunkan pedangnya sembari menatap Zaviest yang tengah melepaskan helm pelindungnya. "Aku lelah! Kita sudahi saja hari ini." Kata Zaviest sembari menaruh kembali pedangnya ditempat yang sudah disiapkan. Lalu ia merobohkan dirinya di pinggir arena latihan. Vein mengikuti Zaviest, ia kemudian duduk disamping sang Raja. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin diajukan oleh Vein kepada kakaknya itu. Sudah beberapa minggu ini berlalu, Zaviest menjadi lebih giat berlatih bela diri. Semua orang tahu jika Zaviest adalah ahli dalam bela diri, menguasai pedang dan panah tapi Sang Raja itu berhenti berlatih semenjak di tunjuk menjadi raja dengan alasan bahwa ia terlalu sibuk untuk mengurusi negara, jadi mana ada waktu untuk berlatih. Akan tetapi, sudah beberapa minggu ini Zaviest berlatih dengan sangat giat. Padahal, setelah pesta dansa Zaviest tidak berbicara kepada siapapun selama tiga hari. Setelah itu sampai sekarang, ia malah jadi giat berlatih. "Gerakanmu jadi lamban," Vein memulai percakapan. Dia tahu, Zaviest sangat kompetitif tapi tidak mudah menerima kritik. Jadi, dia akan mudah tersinggung jika dikritik. "Lihat!" Zaviest mengangkat jemarinya yang ditutupi oleh sarung tangan besi. "Ini berat!!" Keluhnya sembari menggerak-gerakkan jari-jarinya yang panjang. "Apakah itu alasan yang bagus, Yang Mulia?" Vein menurunkan tangan Zaviest. "Aku ingin dengar apa yang sebenarnya mengusik anda, Yang Mulia." Imbuhnya. "Ehm," Zaviest berdeham, ia menatap kearah langit yang bersih tanpa awan. "Tentu saja karena masalah Harem," jawab Zaviest. "Harem??" Pekik Vein yang terkejut. Ini adalah pertama kalinya Zaviest membicarakan perihal Haremnya, Harem yang kosong tentunya. "Kau tidak bicara dengan kami karena persoalan Harem?!" Teriak Vein, dan Zaviest hanya manggut-manggut. "Astaga!" Vein memegangi leher bagian belakang kepalanya. "Haremmu saja masih kosong dan kau memikirkannya sampai tidak bicara dengan siapapun?" Sekali lahi Zaviest menganggukkan kepalanya. "Bagaimana jika aku membubarkan harem?" Usulannya ini seolah keluar begitu saja tanpa dipikirkan dengan matang. "Apa yang mau kau bubarkan? Kau bahkan tidak punya selir! Kau ini perjaka tua!" Vein begitu kesal sampai ia melupakan formalitasnya pada Zaviest. Wajah Zaviest tampak murung. Ia mengangkat tangannya untuk menutupi matanya dari silau matahari. Melihat Zaviest yang murung, Vein merasa tidak enak hati. "Baiklah, coba jelaskan padaku." "Kau lihat apa yang terjadi pada Harem ayah dulu?" Tanya Zaviest, kepala Vein mengangguk. Harem Raja terdahulu memang cukup kacau. Ada 9 Selir, dan seorang permaisuri. Raja terdahulu tidak pernah mencintai selirnya. Ia melakukan itu hanya untuk memperluas kekuasaannya. Karena cintanya terlalu besar kepada permaisuri, itu membuat para selir menjadi iri. Mereka melakukan apapun untuk mencelakai Permaisuri. Mulai dari meracuninya, menculiknya, memberikan obat penggugur kandungan, dan banyak lagi fitnah. Karena itu satu persatu, selir raja terdahulu mati karena hukuman dari raja. "Itu bukan lagi rahasia, tapi itu tidak seharusnya menjadi alasanmu untuk membubarkan harem." Tentu saja Vein yang bijaksana akan mengatakannya. "Aku tidak benar-benar membubarkannya, hanya sedikit memberikan peraturan baru." Lanjut Zaviest. "Sebaiknya bicarakan masalah Harem ini pada Ibunda, karena dia yang memegang kekuasaan di Istana Dalam saat ini." Zaviest menghela nafasnya. Kemungkinan ia akan bertengkar dulu sebelum mendapatkan jawaban dari Ibunya. "Kupikir, kau seperti mayat hidup belakangan ini karena berita yang dibawa oleh Feiry. Tapi ternyata malah masalah Harem." Gerutu Vein. "Memang benar," "Jadi siapa pria yang ingin kau bunuh?" Selidik Vein. Ia mendengar dari Moscha bahwa Zaviest ingin membunuh seorang pria setelah mendapatkan berita dari Feiry. "Mana ada, aku tidak bisa membunuh orang." Kata Zaviest. Vein tertawa sangat keras sekali sampai seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat. Perkataan Zaviest benar-benar menghiburnya. "Benar! Aku tidak bisa membunuh siapapun." "Anda membunuh seribu pasukan musuh sendiri dan menjadikan mereka gunung mayat saat perang dengan Negeri Barat." Suara Dranis menyahut ketika ia memasuki arena untuk membantu Zaviest. "Siapa orang yang akan membuat gunung dari mayat-mayat seperti itu, Aish, mengerikan." Lanjut Dranis lagi. "Siapa yang mengerikan? Katakan lagi!" Zaviest bangkit hendak memukul kepala Dranis. Akan tetapi ia malah tersungkur di tanah. "Yang Mulia!" Dranis menghampiri Zaviest untuk membantunya berdiri. "Kenapa baju zirah ini berat sekali, astaga!" Zaviest menggerutu, ia kemudian berdiri dan membuka baju zirahnya yang langsung di buang begitu saja ditanah. "Dranis, panggilkan pembuat zirah untuk menghadap padaku besok." Zaviest lalu berjalan pergi. Sementara Vein hanya menggelengkan kepalanya prihatin. Sifat Zaviest sama sekali tidak berubah meski sudah diangkat menjadi raja. Usai membersihkan dirinya dan berpakaian santai, Zaviest pergi ke kediaman Ibu Suri Agung. Kebetulan sekali saat ia mengunjungi Ibu Suri, wanita yang sudah terlihat menua itu sedang memberi makan ikan. "Hamba memberi hormat pada Ibu Suri Agung," Melihat anaknya begitu formal Ibu Suri Agung hanya tersenyum simpul. Dia tahu, jika sikap Zaviest selayaknya yang harus dia lakukan pasti ada sesuatu yang diinginkan olehnya. "Tidak ada siapa-siapa disini, mengapa formal sekali." Zaviest kemudian meraih tempat makan ikan yang dipegang oleh Ibu Suri lalu menggantikan Ibu Suri memberi makan ikannya. "Sebenarnya aku membicarakan sesuatu dengan Ibu," "Sudah kuduga pasti ada sesuatu," Gumam Ibu Suri, "Pelayan!" Ibu Suri memanggil seorang pelayan. "Buatkan Teh untuk Yang Mulia Raja, buatkan teh yang di berikan oleh Nyonya Celene." "Nyonya Celene?" Alis Zaviest terangkat, ia seperti tidak asing dengan nama itu. "Iya, Nyonya Celene adalah istri Menteri Keuangan." "Ahhh, pantas saja namanya tidak asing." Jawab Zaviest sembari mengangguk-angguk. "Dia datang kemari untuk membicarakan puterinya, Yaesha." Zaviest mengangkat alisnya lagi, nama itu juga seolah tidak asing ditelinganya. Ia seperti pernah mendengarnya tapi dimana? Mungkin salah satu pangeran pernah menyebutkannya. "Ibu ingin menjodohkannya dengan Pangeran yang mana?" Tanya Zaviest, merasa ikan di kolam ibunya sudah kenyang ia menuntun Ibu Suri ke beranda yang berada ditengah kolam. Tak lama kemudian pelayan yang diminta membuatkan teh pun datang. "Siapa yang cocok menurutmu?" Tanya Ibunya. "Vein? Dia belum menikah." Jawab Zaviest. "Lalu bagaimana denganmu? Kau juga belum memiliki seorang ratu." Zaviest yang menyesap tehnya itu tersedak. Kemudian ia menaruh kembali cangkir tehnya dan menatap ibunya dengan mata yang melebar. "Aku?! Tidak mungkin," "Mengapa tidak mungkin? Aku dengar bahwa kau memilihnya untuk dansa pertama?" Barulah Zaviest ingat gadis itu, yang dia ajak untuk berdansa. Zaviest memandangi ibunya yang tampaknya cukup serius dengan rencana pernikahan. "Ibu tidak dengar bahwa aku menjatuhkannya dan meninggalkan pesta?" "Itulah sebabnya!!" Hardik Ibu Suri, "Kau mempermalukan seorang gadis, tapi tidak pernah meminta maaf padanya!" Zaviest tidak ingin memperpanjang urusannya. Jika ia membantah maka Ibu Suri hanya akan terus mengomelinya dan dia tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan. "Jadi aku harus minta maaf?" "Tentu saja, kau harus meminta maaf padanya." "Aku akan pergi dan menemuinya, dengan satu syarat." Zaviest mulai melancarkan rencananya. Dia harus berhasil membuat kesepakatan dengan Ibu Suri. Diperhatikannya wajah Ibunya yang masih anggun meski dengan keriput di setiap ujung matanya. "Baiklah, apa syaratnya?" Ibu Suri meletakkan cangkir tehnya. "Aku akan mengubah pengaturan Harem," "APA!" Zaviest meletakkan cangkirnya kemudian berusaha menenangkan Ibu Suri. Dia sudah menduga bahwa hal ini pasti akan terjadi. Sebagai pemegang kekuasaan Istana Dalam, Ibu Suri pasti sangat terkejut. Tidak pernah dalam sejarah Negeri Sholarie bahwa seorang raja berusaha mengubah peraturan Harem. "Yang Mulia! Bagaimana bisa mengubah peraturan Harem?" "Ibunda setuju atau tidak setuju?" Mata Ibu Suri tajam kearah putera sulung sekaligus Raja Negeri Sholaire ini. Tidak ada yang bisa menebak isi kepala Zaviest bahkan Ibunya sendiri, sejak mulai bisa mengerti salah dan benar, Zaviest memiliki pandangannya sendiri yang sering berbeda dengan kebanyakan orang. "Bisa kau jelaskan detailnya padaku?" "Aku hanya ingin menjadikan Isteriku kelak satu-satunya wanita yang mendampingiku, tapi tidak mungkin membiarkan Harem kosong, jadi yang terlintas dalam benakku, bagaimana jika semua posisi di Harem di isi oleh wanita bangsawan kerajaan, Isteri-isteri Pangeran misalnya?" Tutur Zaviest yang berusaha menjelaskan keinginannya. "Jadi kau sudah menemukan wanita yang akan mendampingimu?" Mata Zaviest membelalak, tak percaya pada Ibunya yang selalu menyimpang dari topik yang sebenarnya. "Ibunda!" wajah Zaviest memerah, "tentu saja! Belum!" Balasnya sembari memalingkan wajahnya. "Baiklah, baiklah, kita lakukan seperti yang kau minta. Tapi aku ingin segera mendapatkan kabar baik tentang calon Ratu. Mengerti?" Hanya senyuman hampa yang bisa diberikan oleh Zaviest. Sedangkan hatinya serasa seperti dicubit. Pikirannya kembali melayang entah kemana, ia ragu bahwa Ibunya akan segera mendapatkan kabar baik dengan segera. ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD