29. Can’t Help

1404 Words
Kicauan burung rupanya berhasil mengusik tidur lelap Zaviest. Dirinya menggeliat, kemudian membuka matanya. Nafas Zaviest terhenti seketika saat matanya menangkap sosok cantik yang masih menikmati indahnya dunia mimpi itu. Berkali-kali Zaviest mengedipkan matanya, memastikan bahwa apa yang dia lihat bukan ilusi semata. "Mengapa aku bisa melihatnya sepagi ini?" Gumamnya, "dan bagaimana dia bisa ada dikamarku?" Ucapnya tak menyadari apa yang terjadi. Netra emasnya lalu berputar melihat ke sekeliling, semua dekorasi, warna ruangan, dan bentuk ranjangnya tidak sama dengan miliknya, sangat jauh berbeda. Setelah mencerna seluruh informasinya barulah Zaviest menyadari bahwa dirinya tidak berada dalam kamar pribadinya. "Ini," decaknya dengan mata melebar. Tapi hanya sesaat saja, setelah ia melihat Vizena yang masih terlelap di sampingnya rasa kagetnya berubah menjadi berbunga-bunga. Seolah impiannya menjadi kenyataan. Zaviest kemudian berbaring lagi dengan tubuh miring menghadap pada Vizena dan menopang kepala dengan tangannya. "Ternyata terbangun dengan melihat wajahnya ada dihadapanku begitu menakjubkan rasanya." Gumamnya. "Arrghhh!!" Seseorang berteriak dari arah pintu. Zaviest segera menegakkan tubuhnya untuk melihatnya. Rupanya itu adalah Ariah, yang menatap Zaviest dengan mata dan bibir terbuka lebar. "Ssssttt!!" Zaviest menunjukkan pada Ariah bahwa Vizena masih terlelap di sampingnya. "Ada apa ini?" Suara malas Vizena membuat Zaviest dan Ariah membeku ditempatnya. Dia belum sepenuhnya terbangun. "Bukan apa-apa, kembalilah tidur." Kata Zaviest berbisik sembari menepuk-nepuk bahu Vizena agar gadis itu kembali tidur. Begitu bahunya ditepuk, Vizena kembali memejamkan matanya. Namun, sesaat kemudian dengan tiba-tiba ia terbangun lagi kali ini dengan mata terbuka sangat lebar seolah bola matanya hendak keluar dari tempatnya. Nafas Vizena tertahan, tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya. Matanya terarah pada Ariah yang mematung di ambang pintu sembari membawa nampan, Ariah bahkan tidak berkedip sama sekali. Dengan perlahan dan was-was Vizena menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke samping dan memastikan sesuatu. Ketika mata lembayungnya bertemu dengan mata emas Zaviest, ia menghela nafasnya, bibir bawahnya masih digigit olehnya. Namun, Zaviest dengan santai melambaikan tangan sembari tersenyum dalam posisi yang masih sama. 1 detik 2 detik 3 detik "Aaarrrghhhhh!!!" Jerit Vizena, seketika ia menarik selimut ke atas untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Ariah ke, kenapa dia ada disini?" Tanya Vizena yang panik dari balik selimutnya. Ariah hendak melangkah masuk, tapi Zaviest mengangkat tangannya untuk menghentikannya. Ia kemudian mengibaskan tangannya mengisyaratkan Ariah untuk pergi. "Biar ku urus." Bibir Zaviest bergerak menggumamkannya. "Baiklah." Ariah kemudian pergi diam-diam dari tempatnya. Senyum jahil mengembang di wajah Zaviest. Dia tidak menduga bahwa Vizena akan sangat terkejut melihatnya. Dirinya sendiri pun awalnya berniat pergi dengan diam-diam agar Vizena tak melihatnya tertidur disini. Semalam Zaviest terlalu lelah, energinya terkuras untuk menggali tanaman akar merah dan membuat portal sebanyak tiga kali. Dia berpikir mungkin tidur sebentar akan membantu memulihkan tenaganya. Itu sebabnya secara diam-diam ia tidur di samping Vizena. Zaviest memegang selimut yang menutupi tubuh Vizena, ia hendak menyibakkannya tapi pegangan Vizena jauh lebih erat. Dia tak menyerah, kemudian mencoba lagi tapi tetap saja, Vizena dengan kuat mencengkram selimutnya sehingga Zaviest tak bisa membukanya. "Anda tidak ingin tahu apa yang terjadi semalam?" Tanya Zaviest sengaja menggoda Vizena. "Puteri?" "Apa?!" Vizena menyibakkan selimutnya dengan keras, angin menghempas wajah Zaviest tapi itu tak mampu merubah posisinya. Saat ini wajah Vizena tepat berada di depannya. "Bayangkan saja apa yang terjadi pada kita semalam." Ujar Zaviest. Wajah dan telinga Vizena memerah, dia menahan malu karena membayangkan sesuatu yang tidak senonoh. Ia lalu memalingkan wajahnya. Zaviest sangat terhibur, ia lalu berbaring telentang dengan tangannya menjadi tumpuan kepala dan menatap langit-langit kamar Vizena. 'Seandainya memang terjadi sesuatu semalam, aku tidak akan membiarkanmu melupakannya' Batin Zaviest. "Jangan bermain-main Tuan Dranis! Kau tidak memanfaatkanku kan?" Selidik Vizena. "Bagaimana saya harus mengatakannya, Anda terlihat sangat cantik dan menawan, saya tidak bisa menahan diri." Ujar Zaviest yang matanya begitu lurus menatap ke arah langit-langit. "Jangan bergurau!" Tangan Vizena melayang akan memukul Zaviest, tapi tangan Zaviest lebih cepat menangkap tangan Sang Puteri. Lalu dia menarik tubuh Vizena hingga menindih dirinya. Wajah keduanya begitu dekat untuk bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Mata keduanya itu beradu dalam gelombang emosi tak bernama, degup jantung mereka yang seirama bertalu-talu dalam relung d**a mereka. Hanya sesaat, karena Vizena segera bergerak untuk bangkit dan duduk lebih jauh dari Zaviest. Ia mengatur nafasnya sendiri dan berusaha mengatur kembali irama jantungnya yang tidak karuan. "Saya terlalu lelah untuk memanfaatkan anda, Puteri." Ucap Zaviest dengan suara yang lirih. Hembusan nafas lega keluar dari bibir Vizena. Akan tetapi ia masih memiliki pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Zaviest. "Lalu, mengapa kau masih disi...." Vizena menoleh dan melihat bahwa pria yang berbaring di ranjangnya itu telah tertidur pulas, terlihat dari hembusan nafas yang keluar melalui bibirnya yang sedikit terbuka cukup pelan dan teratur. Bibir Vizena melengkung tersenyum melihat betapa wajah itu begitu tampak damai. "Apa sangat melelahkan menggali tanaman itu?" Gumamnya. Vizena kemudian keluar dari kamarnya. Ia mencari keberadaan Ariah, rupanya gadis yang dicari oleh Vizena sedang memberi makan ikan-ikan yang berada di kolam tempat tinggal Sang Puteri. "Yang Mulia!" Pekik Ariah sembari berjalan cepat ke arah Vizena yang sedang berjalan ke arahnya. "Apa air mandiku sudah siap?" Tanya Vizena pada Ariah. "Sudah Yang Mulia, mari saya bantu membersihkan diri." Kata Ariah dengan wajah sumringah. Sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya, itu membuat Vizena merasa janggal. "Ada apa? Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" Tanya Vizena dengan melangkah ke ruang mandinya. "Apakah anda dan Tuan Pengawal....." Ariah ragu mengatakannya, wajahnya bahkan memerah hanya dengan membayangkannya. "Aku dan dia kenapa?" Vizena balik bertanya. "Itu, yang dilakukan oleh pria dan wanita jika mereka sedang jatuh cinta." "Uhuukk uhukk." Vizena terbatuk mendengarnya. Ia bahkan berhenti melangkah karenanya. "Apa maksudmu? Tidak ada hal semacam itu, Ariah." Kata Vizena dengan tegas. "Tapi, kalian." "Ceritanya panjang, sudahlah aku ingin mandi. Hari ini kita akan melakukan banyak pekerjaan." °°°°°° Hari hampir gelap ketika mata emas Zaviest terbuka setelah ia tertidur sepanjang hari. Dirinya kemudian duduk di tepi ranjang dan meregangkan otot-otonya. Melihat keluar jendela, mata Zavies terbelalak dengan lebar karena jika ia tidak salah lihat sebentar lagi matahari berwarna jingga itu akan segera tergantikan oleh gelapnya malam. "Aku tidur selama ini?" Gumamnya, "Entah apa yang terjadi di Sholaire saat aku tidak ada." Katanya lagi. Zaviest teringat pada Dranis yang mudah panik jika melihat dirinya tak ada di dalam kamarnya. Entah keributan apa yang akan dibuat oleh Dranis kali ini. Tempo hari pengikut setianya itu membawa semua adik-adiknya ke dalan kamarnya hanya untuk memastikan bahwa dia tidak ada di kamar. Entah apa lagi sekarang. "Tapi ada Moscha." Guman Zaviest. Kening Zaviest berkerut, Moscha bukan orang yang bisa dipercaya. Mungkin dia malah akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjahili Dranis dan membuatnya panik. "Aku harus segera kembali." Zaviest kemudian bangkit, saat hendak membuat portal ia melihat secarik kertas yang diletakkan di atas meja. Penasaran, Zaviest pun mengambil secarik kertas itu dan membaca isinya. 'Istirahatlah Tuan Dranis, kau pasti sangat lelah. Maaf jika saat kau bangun aku tidak ada di tempat tinggalku, ada beberapa hal yang aku urus untuk membantu Kaisar. Apabila membutuhkan sesuatu kau bisa panggil Ariah! Sampai jumpa. Vizena' Zaviest terkekeh pelan setelah membacanya. Lalu ia memasukkan surat tersebut pada sakunya. "Dia mengira aku selemah itu?" Gumamnya. Sesaat kemudian ia mengucapkan mantra untuk membuka portal teleportasi. Setelah portal tercipta ia kemudian melangkah masuk dan kembali ke Sholaire. Saat langkah pertamanya menginjakkan kaki di tanah Sholaire, seseorang tiba-tiba berlari ke arah Zaviest, menubruknya lalu memeluknya dengan sangat erat. Terdengar oleh Zaviest suara isakan yang tak tertahankan. "Yang Mulia! Anda kembali Yang Muliaaa!!" Pelukan yang erat itu rupanya milik Dranis. Wajah Zaviest terlihat bingung, ia melihat ke sekeliling dan diruang itu sudah berdiri ke empat adiknya. "Ada apa ini? Dranis lepaskan aku!" "Tidak, aku tidak akan melepaskan anda Yang Mulia!!" Isak Dranis dan semakin erat ia memeluk Zaviest. "Apa yang terjadi sebenarnya?!" Zaviest memandangi adiknya satu persatu mencari jawaban. Tapi mereka semua hanya mengendikkan bahunya. "Dranis lepaskan!" Zaviest yang merasa sesak karena di peluk dengan erat lalu mendorong Dranis dengan paksa hingga akhirnya pelukan Dranis terlepas dan pemuda itu mengusap wajahnya yang penuh air mata. "Katakan padaku, apa yang terjadi?!" Zaviest hampir kehilangan kesabarannya. "Pangeran Moscha mengatakan bahwa Anda mungkin tak sadarkan diri di Negara asing karena terlalu banyak menggunakan energi dan kemungkinan tak bisa kembali kemari dalam waktu yang lama." Jelas Dranis sembari berusaha mengusap tangisnya. Benar apa yang dipikirkan oleh Zaviest, dia memang tak bisa percaya pada adik bungsunya itu. Belum genap dua puluh empat jam dia pergi, sudah menipu Dranis dengan mengatakan sesuatu yang buruk. Sementara Moscha yang merasa nyawanya sudah terancam, diam-diam melangkah keluar dari kamar itu. "Moschaaaa! Kemari kau!" . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD