14. Heart’s Desire

2625 Words
Para tamu undangan mulai dari pejabat tinggi hingga bangsawan kecil serta delegasi dari negara tetangga telah silih berganti memasuki aula istana Luxorth yang sangat megah. Hanya tinggal menunggu sang pemilik kekaisaran yang kuat untuk datang dan memulai acara. Di dalam kamarnya, Vizena dibantu oleh Ariah sedang merapikan rambut. Malam ini ia mengenakan gaun mewah dengan banyak hiasan berwarna hitam, warna kesukaan Leoxard. Sekian lama Vizena menatap dirinya di cermin, melihat pantulan dirinya sendiri dengan arah pandangannya yang terfokus pada topeng berwarna emas yang bertengger di wajahnya. Vizena mengambil nafas dalam-dalam, ia masih merasa gugup jika harus berhadapan dengan banyak orang. Kepercayaan dirinya yang dulu sempat terkikis, kini malah tak berbekas setelah hilangnya Leoxard. Seandainya saja, kakaknya itu masih disini dan menemaninya. Tak berapa lama kemudian, melalui cermin dihadapannya Vizena melihat sosok lain sedang berdiri dengan menyandarkan dirinya ke kusen pintu ruangannya. Tidak seperti biasanya, Gard mengenakan pakaian formal dan tidak mengenakan pakaian berlatihnya. Ia bahkan menyisir rambutnya yang gelap sehingga terlihat jauh lebih rapi. Pandangan mata keduanya bertemu melalui cermin, Vizena memberikan senyuman samar kearah Gard kemudian berbalik. "Kau ada disini?" Tanya Vizena dengan suara cerianya yang begitu nyaring. Gard mengangguk pelan, kemudian ia berjalan kearah Vizena. "Sengaja kemari untuk menjemput anda, Yang Mulia." Katanya. Ariah dan Vizena terheran, keduanya saling menatap satu sama lain. Gard memang tidak bisa ditebak, ia bisa bersikap dingin bagaikan bongkahan es yang tak bida dihancurkan, tapi pada detik berikutnya ia bisa menjadi sehangat musim semi. "Apakah terlihat sangat aneh, saat seorang suami ingin pergi dengan isterinya?" Tanya Gard. Vizena tak bisa mengendalikan ekspresinya kali ini, matanya melebar dan mulutnya sediki terbuka. Ini pertama kalinya Gard menganggap hubungan mereka, dan menyebutkan status sebagai suami-isteri. 'Apakah dia kehabisan obat?' gumam hati Vizena yang masih sulit untuk mempercayai sikap Gard. "Tuan Puteri, Tuan Gard menunggu anda," Ujar Ariah membuyarkan lamunan Vizena. Ketika ia mengerjap untuk mengembalikan diri pada kenyataan, Vizena melihat tangan Gard terulur padanya, menunggu Vizena untuk meraihnya. Meski ia ragu-ragu, tapi ia tetap menerima uluran tangan itu. Rasanya begitu hangat serperti saat terakhir Gard menggenggam tangannya setelah ia tersadar saat pingsan. Senyuman Gard merekah, sesuatu yang sangat jarang akan ditemukan ketika hari-hari biasa. Gard sangat tidak murah senyum, dia memiliki kepribadian yang keras. Tapi malam ini, dihadapan Vizena ia tersenyum begitu lebar dan senyuman itu pun menular pada Vizena dan menambah kecantikan gadis itu. "Aku pikir Yang Mulia akan menggunakan kain pemberianku untuk dijadikan gaun," Kata Gard ketika mereka sedang berjalan menuju ke Aula Istana. "Ah, itu," Vizena menunduk sembari menatap bagian bawah gaunnya yang berwarna hitam, "ini adalah warna kesukaan Kakak." Jawabnya jujur. "Begitu rupanya," "Iya, begitulah." Ketika mereka memasuki Aula Istana, semua pasang mata tertuju kearah mereka. Pasangan Gard dan Vizena memang terlihat serasi sekali malam ini. Selain itu, kedatangan mereka secara bersama seolah mematahkan rumor yang beredar di masyarakat bahwa mereka tidak rukun. Buktinya, mereka malah tampak serasi sekali. Vizena cukup merasa terganggu dengan perhatian yang dia dapatkan. Tanpa sadar ia menyentuh topeng emasnya. Memastikan bahwa topeng tersebut masih bertengger diwajahnya. 'Tidak ada yang salah, lalu kenapa semua orang menatapku?' batin Vizena. "Mereka iri karena Yang Mulia begitu mencolok." Bisik Gard seolah ia sedang menjawab pertanyaan Vizena yang tak terucapkan itu. 'Dia sedang memujiku?' Gumam hati Vizena. Ia benar-benar bingung dengan sikap Gard. Beberapa orang memberikan salam mereka kepada Vizena, lalu berbincang sebentar. Kebanyakan dari mereka adalah bangsawan yang sangat setia kepada ayahnya. Sedangkan Gard berbincang dengan para tuan muda dari kalangan bangsawan. "Tuan Puteri!!!" Seru sebuah suara, Vizena menoleh untuk melihatnya. Rupanya itu adalah teman-temannya yang dulu sering menemaninya bermain, Soirze dan Haila. "Soirze! Haila!" Senyum merekah lebar diwajah Vizena. Ia tak bisa menyembunyikan rasa rindunya kepada teman-temannya itu. Kedua gadis bangsawan itu memberikan hormatnya pada Vizena. Kemudian mereka saling bercengkrama. "Kami sangat merindukan anda, Yang Mulia!" Ungkap Soirze. "Aku terus memikirkan anda karena rumor yang beredar! Tapi melihat anda bersama Tuan Gard hari ini, sepertinya rumor itu tidak benar." Vizena hanya menyeringai, hanya dia yang tahu bahwa rumor itu sedikit benar. Tapi ia tak bisa mengungkapkannya. Keburukan keluarganya hanya akan dirinya simpan sendiri. "Saya turut berduka karena kepergian Putera Mahkota." Ujar Haila lagi, "Anda pasti sangat sedih, kalian berdua begitu dekat." Imbuh Soirze. "Terimakasih, aku masih tidak percaya jika Kakak meninggalkanku begitu cepat." Kata Vizena dengan nada sendu. "YANG MULIA KAISAR TELAH TIBA!" Pengumuman itu membuat semua orang berhenti berbincang-bincang. Mereka berbaris di tempatnya masing-masing, menanti kedatangan Kaisar Mouszac. Aula yang tadinya begitu riuh, menjadi hening seketika. Ketika Kaisar mulai menginjakkan kakinya, hanya terdengar suara gemerisik dari jubah kekaisarannya yang menyapu lantai terdengar. Semua orang tidak terkecuali lelaki atau perempuan berutut, kecuali delegasi dari negara tetangga yang memberikan hormat sesuai dengan kebudayaan mereka. Kaisar dengan sangat gagah membuka Pesta sekaligus membuka pertemuan Lima Negara yang akan segera dilaksanakan. Diumumkan juga, bahwa pertemuan itu diadakan sekitar dua hari lagi dan memohon semua delegasi untuk bersiap. Setelah pengumuman itu, adalah acara dansa untuk putaran pertama para pria harus mengajak pasangan mereka ke lantai dansa. Sementara itu Vizena sudah lebih dulu kehilangan harapan. Dia sama sekali tidak berpikir akan ada yang mengajaknya berdansa karena sudah bersuami dan tidam berharap Gard akan mengajaknya berdansa. Itu sebabnya Vizena hanya menikmati minumannya sembari mengamati acara tersebut. "Anda tidak ingin berdansa denganku, Yang Mulia?" Suara itu mengejutkan Vizena, ia segera berbalik dan melihat Gard sedang berdiri dibelakangnya. "Kau mengejutkanku!" Gard hanya tersenyum sembari menjulurkan tangannya menanti Vizena menerima ajakannya. Mata Vizena menatap tangan itu dengan ragu-ragu, tapi jika ia menolak hanya akan ada gosip yang beredar, jika ia menerima pun tidak ada ruginya, toh Gard adalah suaminya. Akhirnya tangannya pun berakhir dalam genggaman Vizena. "Kakak, matamu hampir keluar!" Bisik Moscha tepat di telinga Zaviest. Kedua orang itu masih berada ditempatnya. Sejak pertama kali Vizena memasuki Aula Istana, mata emas Zaviest tidak lepas dari sosok Si Tuan Puteri. Ia terus mengamati Vizena tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali Moscha tentunya. "Pangeran, sebaiknya anda mencari pasangan untuk berdansa!" Suara Zaviest menggeram karena kesal diganggu oleh Moscha. "Kita senasib, ada gadis yang ingin ku ajak berdansa tapi dia tidak berada disini." Balasnya dengan sedih. "Mengapa menanti yang tidak ada, jika Pangeran berkenan saya bisa menjadi partner dansa." Sebuah suara mengusik Zaviest dan Moscha, keduanya langsung berbalik dan mendapati sosok menawan itu sedang berdiri dihadapan mereka. "Tuan Puteri Kheiraz," Moscha sangat terkejut, begitu juga dengan Zaviest. Jantung keduanya berdebar dengan sangat kencang, takut jika Kheiraz akan mengenali wajah Zaviest. "Hormat saya pada Tuan Puteri," buru-buru Moscha dan Zaviest memberikan hormatnya. "Statusku dan statusmu itu sama Pangeran Moscha, berhenti memberi hormat padaku seolah-olah aku ini Kaisar!" Kata-kata yang keluar dari bibir indah Kheiraz cukup tajam. "Maafkan saya, tapi Tuan Puteri lebih unggul dari saya ini, jadi-" belum sempat Moscha menyelesaikan ucapannya telah dipotong oleh Kheiraz. "Sudahlah, bagaimana jika kita bicara sambil berdansa?" Diam-diam disisi adiknya, Zaviest menghela nafas lega. Sikap Kheiraz menunjukkan bahwa Sang Puteri tidak mengenalinya sama sekali. Setelah Moscha menerima ajakan Kheiraz, tinggallah Zaviest sendirian. Lagi-lagi ia terus memandangi Vizena yang kini begitu dekat tubuhnya dengan Gard karena sedang berdansa. Padahal, sedari tadi banyak sekali gadis-gadis bangsawan yang mencoba mendekatinya tapi melihat wajah garang yang dipasang Zaviest membuat mereka ciut nyalinya. Dansa pada putaran pertama telah selesai, para tamu undangan beristirahat. Zaviest melihat Vizena pergi ke arah tempat minuman berada. Ia pun segera pergi kesana. "Puteri," Suara Zaviest terdengar lebih parau daripada biasanya. Vizena terlonjak sedikit karena terkejut. Ia mengusap dadanya sembari mengambil nafas, malam ini mengapa ia jadi mudah terkejut? "Tuan Dranis, kau disini rupanya. Aku mencarimu dari tadi." Kata Vizena lalu ia mengambil sebuah gelas yang berisi minuman berwarna keemasan kemudian menenggaknya. "Anda mencari saya?" Zaviest tampak tak percaya, "kelihatannya tak seperti itu." Vizena tersedak oleh minumannya, ia menatap Zaviest yang berdiri tegang di sampingnya. Ia mengamati wajah pria itu, semakin diamatinya wajah Zaviest terlihat semakin tampan, Vizena menggelengkan kepalanya. Ia kembali fokus pada tujuannya, pria itu tampak cemberut, keningnya berkerut dalam dan bibirnya sedikit mengerucut. "Apa kau sudah menungguku begitu lama? Sampai cemberut seperti itu?" Zaviest menghela nafas berat, pundaknya merosot. Tapi tidak masalah, toh saat ini dirinya sedang menyamar. "Sedari tadi aku mengamatinya, mengapa belum bereaksi?" Tanya Vizena lagi sembari mencari sosok lain. "Seharusnya sebentar lagi, kita tunggu dan lihat saja." Jawab Zaviest. Sesaat kemudian, dansa putaran kedua dimulai. Zaviest tidak membuang waktu dan tidak ingin melewatkan kesempatannya. Meski hanya sekali ia sangat ingin berdansa dengan Vizena dan berada dekat dengannya. "Tuan Puteri, apakah akan sangat memalukan jika berdansa denganku?" Tanya Zaviest padanya sembari menekuk satu lutut dan mengulurkan tangan pada Sang Puteri. Vizena melebarkan matanya, ini pertama kali baginya seorang pria 'lain' berlutut dihadapannya. Bahkan Gard saja hanya berlutut ketika mengucapkan sumpah setia untuk melindunginya dulu. "Tentu saja tidak," Ujar Vizena sembari meraih tangan Zaviest. Apa yang dilakukan oleh Zaviest rupanya menarik perhatian bagi semua orang. Bahkan Moscha yang berdiri disamping Kheiraz pun tertegun melihat keberanian kakaknya. 'Dia benar-benar gila!' Gumam Moscha di dalam hatinya. Sementara itu pasangan Gard dan Eyster juga ikut memandangi Vizena dan Zaviest yang entah bagaimana terlihay cukup serasi. Zaviest pria yang gagah, ketamapanannya pun tak bisa dipungkiri, bersanding dengan Vizena dengan tubuhnya yang terlihat rapuh, tapi keduanya memancarkan aura yang agung, dan membuat siapa saja yang melihat akan merasa takjub dan penuh hormat. "Siapa pemuda itu?" Tanya Eyster penuh selidik sembari mengikuti gerakan Gard. "Seorang delegasi, dilihat dari pakaiannya," Gard ikut menyelidiki, "dia berasal dari Sholaire." "Bukankah mereka sangat serasi? Vizena dan seorang pengawal dari negara asing?" Tubuh Gard menegang ketika mendengarnya sehingga membuat gerakan dansanya menjadi kaku dan memengaruhi gerakan Eyster juga. "Ada apa? Apa kau cemburu melihatnya?" Tanya Eyster dengan suara yang hampir seperti bisikan dan seringaian di wajahnya yang tampak sedikit merusak pesonanya. "Aku tida-" Gard hendak membalas, tapi kata-katanya menguap ketika Eyster dengan tiba-tib berhenti bergerak dengan raut wajah yang kesakitan. "Aw! Perutku!" Dengan tangannya Eyster memegangi perutnya, ia merasa bahwa ada remasan di sepanjang ususnya sehingga membuat perutnya serasa sepertj dililit, "aw!" BBBRRUUUUUUTTTTTTT Suara itu begitu keras terdengar ke seluruh ruangan hingga beberapa orang seketika menatap kearah Eyster yang tampak memegangi perutnya. "Astaga, mengapa nona Eyster buang angin sekeras itu? Sungguh memalukan!" Seorang bangsawan wanita dengan penutup kepala mencibir Eyster. "Dia seorang bangsawan, tapi perilakunya seperti rakyat rendahan! Menjijikkan sekali!" Timpal salah seorang lain. "Sangat tidak punya tata krama, di acara pesta? Benar-benar rendahan!" Mendengar cibiran yang terus dihujamkan kearahnya membuat wajah Eyster menjadi merah padam. Ia melepaskan rangkulannya dari Gard, ia merasa sangat malu. Bagaimana dia bisa buang angin di depan banyak orang terutama Gard. Tiba-tiba perutnya kembali sakit, ia menggunakan kesempatan ini untuk segera lari dari Aula Istana. Ini adalah hari terburuknya, tak pernah terbayangkan bahwa dia akan mempermalukan dirinya sendiri. "Bagaimana?" Suara Zaviest menyapu telinga Vizena, gadis itu masih menatap kearah Eyster, "bukankah hasilnya lumayan?" Apa yang terjadi pada Eyster adalah ulah Vizena dan Zaviest. Mereka bersekongkol untuk mengerjai Eyster, jadi Zaviest memberikan sebuah pil pencahar yang sangat ampuh di makanan Eyster. Ia melakukannya di siang hari, dengan diam-diam memasuki dapur kediaman selir berada dan memasukannya disana. "..." Pertanyaan itu tak terjawab karena Vizena masih memandangi ke tempat Eyster dan Gard tadi berada. Zaviest lalu ikut menoleh, saat itu ia melihat Gard menyusul Eyster. Setelahnya ia kembali memandangi Vizena, ia tahu dengan sekali lihat ada kesedihan terpancar di mata lembayung milik Vizena. Hati Zaviest serasa panas, bukan karena perasaan Vizena untuk Gard yang terpancar jelas, melainkan karena ia ingin sekali mengenyahkan kesedihan yang merusak keindahan mata Vizena itu. Zaviest sungguh tidak tahan melihat Vizena menanggung semua kesedihannya. "Puteri sangat mencintainya?" Suara Zaviest kali ini berhasil menarik Vizena kembali pada kesadarannya. Ia menoleh pada Zaviest dan mengangkat alisnya. "Dia suamiku, tentu aku mencintainya." Balas Vizena dengan suara yang tenang dan tegas. Sebuah pukulan telak tepat mengenai hati Zaviest. Tapi ia berusaha mengontrol raut wajahnya agar tidak ketahuan oleh Vizena bahwa dia sangat tidak suka dengan gagasan yang baru saja diungkap oleh Vizena. "Suami macam apa yang mengejar wanita lain." Tapi Zaviest gagal, suaranya begitu kasar dan tersirat dalam setiap kata yang terlontar dari bibirnya. Lekas dia menyesali semua kata-katanya setelah Vizena melepaskan tangannya. Vizena berbalik hendak pergi, Zaviest menahannya dengan menghadang jalannya. Ia pasti sudah sangat menyakiti perasaan Vizena dengan mengatakan semua itu. "Maafkan saya Tuan Puteri, lidah ini memang selalu lebih tajam dari yang lain." Ujar Zaviest. "Aku ingin mencari udara segar." Kata Vizena tak bersemangat. "Bolehkah aku ikut denganmu?" Vizena mendongak untuk sesaat. Biasanya dia selalu sendiri untuk merenungkan semua perasaannya akan tetapi tidak pernah membaik. Dan semalam saat ia ingin menghabiskan waktu sendirian, tidak sengaja pria di hadapannya itu muncul dan membuat perasaannya cukup baik. Mungkin jika dia tidak sendirian, ia bisa mengendalikan perasaannya agar tidak terlalu emosional. Vizena hanya mengangguk pelan, ia berjalan lebih dulu lalu disusul oleh Zaviest keluar dari Aula Istana. Mereka berjalan pelan di lorong, malam itu cahaya bulan begitu benderang jadi lorong yang mereka lewati pun menjadi sangat terang. Vizena tidak mengatakan sepatah kata pun, begitu juga dengan Zaviest. Zaviest hanya ingin menemani Vizena dan tidak akan memaksakan Tuan Puteri-nya untuk meluapkan segala emosi yang dirasakannya kini, pasti Vizena juga ingin menjaga martabatnya sebagai Puteri dari sebuah Kekaisaran Besar di hadapan orang asing dari negara asing yang berpotensi menjadi musuh terbesarnya. Akan tetapi disisi lainnya, dalam keheningan itu pikiran Vizena sangatlah ricuh. Banyak sekali pertanyaan, ada begitu banyak benang merah yang ingin ia kaitkan tapi tak kunjung tersambung. Tidak bisa lagi ia abaikan semua kecurigaannya selama ini. 'Mengapa Gard menikahinya?' 'Apa hubungan Gard dengan Eyster?' 'Apakah mereka dan Louth bekerja sama?' 'Mengapa sikap Gard berubah-ubah setiap waktu?' 'Mengapa Gard memandang Eyster dengan cara yang penuh kasih?' Mengapa, mengapa, mengapa?! Semua pertanyaan itu "Tuan Puteri?" Zaviest sudah mencoba memanggil Zaviest berkali-kali sejak Vizena tiba-tiba berhenti melangkah. Tapi yang dipanggil tidak menyahut seolah-olah telinganya tersumpal oleh batu. Karena geram, Zaviest akhirnya menyentuh pundak Vizena. Gadis itu tersentak, dan menoleh kearahnya. Zaviest terkejut, bukan karena Vizena tiba-tiba menoleh akan tetapi tatapan mata Vizena begitu berbeda. Mata keunguan itu sangatlah gelap meski di selimuti oleh airmata yang siap tumpah. Kegelapan dalam mata itu membuat aura Vizena juga berubah, seolah gadis yang ada dihadapan Zaviest sekarang bukan Vizena yang ia kenal. Bukan gadis ceria yang selalu ditampilkan Feiry setelah selesai mengamati. Pandangan mata ini dipenuhi oleh duka, luka dan amarah. "Apa kau sangat mengasihaniku sampai bersedia mengikutiku?!" Suara Vizena sangat tajam meski serak karena ia menahan tangisnya. "Bukan, bukan karena kasihan." Ujar Zaviest, ia menghela nafasnya kemudian menatap Vizena intens, "karena ini adalah keinginan hati saya untuk menemani, Puteri." Katanya tanpa rasa takut. Setitik airmata yang berdesakan di mata Vizena akhirnya bergulir melewati pipi kemerahan Vizena dan terjatuh dilantai marmer Istana Luxorth, "Aku hanya Puteri yang cacat, tidak ada yang menginginkanku!" "Hanya karena dia tidak mencintai anda, bukan berarti anda tidak berharga, Yang Mulia Puteri." Batin Zaviest bergejolak, ia ingin menghapus airmata dari wajah Vizena. Kedua tangannya terkepal disamping tubuhnya, ia menahan keinginannya itu. "Puteri, Anda adalah permata dari Kekaisaran Luxorth, Kaisar, Dayang anda yang setia, mereka begitu mencintai anda." Tutur Zaviest lagi. 'Begitu juga denganku' Hati Vizena perlahan luluh, ia mendongak untuk menatap Zaviest yang wajahnya terkena pancaran sinar rembulan. "Jangan lemah, Anda sangat istimewa dengan semua ketidak sempurnaan ini." "Terimakasih, Tuan Dranis. Kata-katamu begitu manis," "Puteri, bolehkah aku memelukmu?" Permintaan berani Zaviest membuat Vizena terheran. Apakah semua ksatria dari Sholaire sangat pemberani dan terang-terangan? Vizena mengangguk pelan, saat itu juga Zaviest meraih bahu Vizena. Memeluknya dengan begitu erat, mencoba menyalurkan kehangatan dan kekuatan untuk Vizena. Sementara itu, Sang Puteri awalnya berpikir pelukan itu mungkin akan terasa canggung. Tapi ia jelas salah! Ketika tubuh rapuhnya didekap oleh Zaviest, ia merasa sangat nyaman, ia seolah menemukan kembali jiwanya yang telah lama hilang, dengan menghirup aroma tubuh Zaviest yang berbau sandalwood yang tidak asing itu membuatnya tenang. Setelah kakak dan ayahnya, pria yang kini sedang memeluknya dengan erat itu adalah pria yang memeluknya dengan penuh kehangatan. Ia merasa kekuatannya benar-benar kembali. "Terimakasih, terimakasih banyak." ::To Be Continued::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD