12. Caught in The Act
Cuaca begitu cerah, langit yang biru tak berawan membuat siang hari itu cukup terik. Di pinggir sebuah kolam kecil, di taman istana yang tempatnya cukup tersembunyi Vizena mengistirahatkan dirinya setelah seharian ini ia memeriksa kembali daftar tamu, kemudian memastikan persiapan pestanya sudah selesai dengan baik dan menghantarkan pakaian baru untuk beberapa delegasi.
Dengan lengannya ia menutup separuh wajahnya karena silau matahari yang menusuk matanya cukup menyakitkan. Angin yang berhembus cukup sejuk, sehingga sayup-sayup Vizena terlena dan menutup matanya.
Sayangnya, ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika ia mendengar sebuah pembicaraan yang dia yakini adalah obrolan para pelayan. Vizena yang hampir terlelap pun melebarkan kembali pandangannya dan menajamkan pendengarannya. Biasanya dia tidak pernah peduli dengan obrolan gosip seperti ini, akan tetapi karena namanya disebutkan ia pun menjadi ingin tahu.
"Kudengar, Tuan Puteri lah yang mengirimkan makanan-makanan itu." Kata sebuah suara samar.
"Tuan Puteri sangat baik, dia bersedia untuk membuatkan makanan untuk pasukan yang sedang berlatih." Timpal yang lain. Kening Vizena pun berkerut, karena dia merasa tidak pernah melakukan hal semacam itu.
"Makanan itu sebenarnya hanya dibuat untuk Tuan Gard, akan tetapi katanya makanan tersebut tidak selezat makanan Nona Eyster, jadi Tuan Gard memberikan makanan itu pada pasukannya, dan dia sendiri memakan makanan yang dibawakan oleh Nona Eyster."
Mendengarnya Vizena merasakan dadanya seolah sedang diikat dengan kencang. Ia tidak pernah memercayai rumor, namun mendengarnya sendiri seperti ini cukup membuat dirinya kesal.
"Mengapa Nona Eyster terus mengunjungi Tuan Gard, apakah mereka-" Suara itu terpotong karena seseorang mengejutkan Vizena.
"Apa Anda memiliki hobi menguping, Puteri?" Suara itu begitu berat, karena terkejut Vizena pun spontan menoleh kebelakang lalu terperanjat saat wajah pria itu tepat berada di hadapannya dan hampir saja mereka saling bersentuhan.
"Hati-hati, Yang Mulia!" Pria itu meraih pinggang Vizena agar gadis itu tidak terjatuh.
Untuk sesaat pandangan mata indah Vizena beradu dengan tatapan hangat milik pria itu. Merasa gugup, Vizena pun segera bangkit, ia membetulkan letak gaunnya.
"Si, siapa kau!" Tanya Vizena sembari memalingkan mukanya yang memerah karena malu. Sesaat Vizena menghirup aroma wangi sandalwood yang tidak asing, "kau adalah si pria bayangan itu!" Tunjuk Vizena, ia pun menoleh dan menatap pria yang masih memandanginya dengan senyum lebar diwajahnya.
Saat mereka saling menatap, kali ini lebih lama karena Vizena tertegun setelah melihat bahwa prja dihadapannya itu sangat tampan, memiliki garis wajah yang tegas akan tetapi matanya tampak seolah ia sedang tersenyum tapi juga sangat tajam apalagi iris matanya yang keemasan sungguh menawan, hidungnya yang mancung dan ramping, wajahnya semakin tampan karena terbingkai dengan alis yang panjang dan tebal, begitu juga bentuk bibirnya yang atas tipis dan bagian bawahnya sedang dan berwarna kemerahan. Vizena bahkan tidak mengerjap, ia bertanya-tanya dalam benaknya bagaimana ada seorang pria yang sangat cantik seperti itu.
"Saya memang tampan Yang Mulia, tidak perlu menatap saya seperti itu." Katanya dengan penuh kebanggaam dan seketika itu juga Vizena tersadar.
"Ka, kau sangat percaya diri sekali!" Kata Vizena yang tergagap, ia sangat malu karena ketahuan mengagumi makhluk indah dihadapannya itu. Pria itu masih tersenyum hangat pada Vizena dan menimbulkan perasaan aneh muncul di dalam d**a Vizena. Rasanya, hatinya yang tadi begitu panas mendengar rumor dari pelayan-pelayan itu kini menjadi dingin hanya karena melihat pesona senyuman dari pria yang tidak ia kenali ini.
"Saya memang diciptakan dengan keindahan ini," ujarnya lagi dan membuat Vizena memutar matanya kesal. Pria dihadapannya memang tampan, tapi terlalu percaya diri dan membuatnya kesal.
"Sebenarnya kau ini siapa?!"
Pria itu tiba-tiba saja berlutut dihadapan Vizena sembari meraih tangan Vizena dan mengecup punggung telapak tangan Vizena dengan lembut.
"Saya hanyalah seorang hamba yang sangat mengagumi Yang Mulia Tuan puteri," Katanya sembari mendongak pada Vizena dan tersenyum lagi. Vizena tertegun karena sikap pria itu yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya., "Tuan Puteri bisa memanggil saya Dranis." Ucapnya kemudian ia berdiri.
Vizena melepaskan tangannya dari tangan pria yang mengaku sebagai Dranis itu. Ia kemudian tersenyum samar kearah pria itu.
"Darima kau berasal, Dranis? Jika kulihat kau bukan berasal dari Luxorth?"
"Hamba adalah pengawal Pangeran Moscha dari Sholaire, Yang Mulia." Mata Vizena melebar mendengarnya. Pantas saja aroma wewangian yang digunakan oleh pria itu tidak akan bisa ditemukan di Luxorth.
"Jadi kau adalah pengawal pangeran, tidak heran." Ujar Vizena lagi.
"Tidak heran?" Tanyanya pada Vizena.
"Gerakanmu sangat cepat saat menolongku tadi malam," ujar Vizena lirih karena ia merasa malu telah dua kali ketahuan tidak sengaja menguping.
"Jadi benar, anda sangat hobi menguping pembicaraan orang lain?" Tanyanya.
"Tidak! Tentu saja tidak!" balas Vizena panik dan pria itu tertawa geli mendengarnya membiarkan Vizena menatapnya kesal dan heran, "aku tidak sengaja!" jawab Vizena dengan murung. Melihat Si Tuan Puteri tampak cemberut, ia pun berhenti tertawa dan memasang wajah seriusnya.
"Jika ingin menguping, carilah orang yang tidak akan membicarakan anda, jika mendengar nama anda dalam sebuah gosip kemungkinan besar anda hanya akan menjadi sedih." Tuturnya.
Vizena terdiam, semua pembicaraan yang ia tidak sengaja dengar memang cukup membuatnya tertekan. Tapi ia tahu bahwa beberapa hal belum ia ketahui dengan pasti, apalagi sebuah rumor yang beredar belum juga terbukti.
"Semua itu belum terbukti, jadi aku seperti hanya mendengar sebuah rumor." Kata Vizena meski dirinya sendiri tidak yakin.
"Kalau begitu, biarkan saja itu menjadi rumor." Balasnya. Vizena terdiam kembali, ia berpikir bagaimana jika rupanya semua yang dia dengar bukanlah rumor, atau hal yang belum pasti, tapi merupakan sebuah kebenaran?
"Ahh, ngomong-ngomong Istana ini begitu indah. Bagaimana kalau Yang Mulia menemani saya berkeliling, sekaligus untuk melupakan rumor yang tidak penting itu?"
"Ada banyak dayang di Istana, mereka bisa menemanimu." Kata Vizena lagi, "aku akan meminta mereka untuk mengantarkanmu." Imbuhnya sembari beranjak pergi. Namun, Pria itu malah menghadang jalan Vizena dengan berdiri didepannya.
"Tidak ada yang lebih mengenal istana ini daripada Puteri,"
"Baiklah, karena kau seorang tamu dari jauh. Aku akan menemanimu." Ujar Vizena.
Keduanya beranjak dari sana kemudian berjalan kearah selatan dimana letak Istana Ratu seharusnya berada.
"Sudah beberapa hari disini, kau pasti sudah berkeliling istana." Tanya Vizena ketika melihat pria disampingnya tampak mengagumi bangunan istana Ratu yang sudah lama kosong.
"Tidak sempat, saya hanya mengikuti Tuan Puteri," Ia mengatakan itu secara tidak sadar. Vizena menghentikan langkahnya begitu juga dengan Dranis palsu.
"Apa maksudmu mengikutiku? Kau menguntit?!" Pekik Vizena.
"Bukan, bukan seperti itu Puteri!"
"Lantas apa??"
Wajahnya seketika memerah ketika memikirkan jawaban yang ingin ia katakan pada Vizena.
"Bolehkah kita melanjutkan perjalanan? Sepertinya banyak sekali tempat indah di Istana ini." Dia mengalihkan topik.
Apa baru saja dia tersipu? Manis sekali.
_____
Di dalam kamarnya, disamping jendela besar yang mengarah ke taman. Moscha menggigit kuku ibu jarinya sembari berjalan mondar mandir. Ia menunggu Zaviest yang entah pergi kemana.
Suara pintu tiba-tiba terbuka membuat Moscha terperanjat, seketika ia menghambur kearah pintu setelah melihat sosok Zaviest muncul dari balik pintu tersebut. Melihat betapa sumringahnya wajah sang kakak, kecurigaan pun muncul di benak Moscha.
"Darimana kakak?!" Tanya Moscha sedikit cemas.
"Hanya berkeliling istana, ada apa dengan wajahmu?" Zaviest berbalik bertanya pada adiknya yang tampak tidak senang sekali.
"Apakah anda pergi menemui Tuan Puteri itu lagi?" Selidik Moscha. Tuduhan itu pu. Tidak sepenuhnya salah. Siang ini, Zaviest memang pergi dengan niat berkeliling melihat kemegahan Istana Luxor. Kebetulan saja, saat ditengah perjalanan ia kembali melihat Tuan Puteri yang sedang asik menguping pembicaraan orang lain dengan raut wajah sedih. Zaviest tidak tega jika harus meninggalkan Puteri itu sendirian dengan suasana hati yang buruk seperti itu.
"Benar kan?"
"Tidak seperti itu," Zaviest berniat menjelaskan akan tetapi Moscha memotong pembicaraannya.
"Anda harus lebih berhati-hati lagi, anda tahu siapa utusan dari Narth?" Tanya Moscha.
Zaviest mengangkat alisnya, bagaimana ia bisa tahu siapa utusan dari Narth. Dia juga tidak ingin mengetahuinya sama sekali, itu bukan urusannya, yang perlu ia lakukan adalah memantau pertemuan ini sampai akhir.
"Puteri Kheiraz!" Pekik Moscha sembari bergidik. Sedangkan Zaviest berusaha mengingat kembali nama itu.
"Apa?!" Barulah Zaviest menyadari siapa itu Puteri Kheiraz dari Narth.
Puteri Kheiraz adalah adik bungsu Raja Karrazam, sangat mengagumi Zaviest sejak dia kecil karena dulunya Kheiraz sering berkunjung ke Sholaire. Dimata Kheiraz sejak dahulu hingga mungkin saat ini, Zaviest adalah pria yang paling sempurna. Ia tergila-gila dengan Zaviest dan hampir meninggalkan Narth hanya untuk tinggal disisi Zaviest.
"Ya, Itu dia Puteri Kheiraz. Jika dia melihat anda. Aku tidak yakin dia akan diam saja," kata Moscha.
"Kau lupa bahwa aku sedang menyamar, jangan khawatir. Gadis itu tidak akan pernah mengenaliku." Sahut Zaviest kemudian ia berlalu dengan senyuman diwajahnya.
Moscha menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah laku sang kakak. Jika dilihat-lihat dari cara Zaviest tersenyum sepanjang hari, dengan suasana hati yang selalu bagus, sering melamun dengan senyuman lebar bisa dipastikan Zaviest tengah dimabuk asmara.
Hanya saja hal itu membuat Moscha semakin khawatir. Meski dirinya suka bermain-main dia selalu khawatir jika kakaknya menimbulkan masalah di Negeri orang. Mencintai seorang wanita bukanlah hal yang salah, mencintai wanita yang sudah menjadi isteri dari pria lain itu adalah hal yang paling memalukan. Apa yang akan ditulis sejarah jika Raja mereka memiliki skandal dengan isteri pria lain?
Jika pria itu adalah rakyat biasa mungkin masalah yang timbul dan skandal yang muncul tidak akan diperhitungkan. Tapi ini dengan isteri seorang jenderal, Moscha hanya bisa berdecak sembari mengusap dadanya yang sesak. Seandainya saja dia tidak membujuk Vein untuk menggantikannya pergi ke Luxorth mungkin dia tidak harus menyaksikan kakaknya yang kasmaran dengan seorang Tuan Puteri sekaligus isteri jenderal itu. Jika Vein yang ada disini, keadaannya mungkin akan lebih baik.
Daripada menyaksikan Zaviest yang terus tersenyum sembari menatap keluar jendela seperti pecinta yang kurang waras itu, Moscha memilih untuk pergi dari kamarnya mencari udara segar. Ini memang bukan kerajaannya, tapi dia masih bisa bermain-main disini.
Moscha berjalan melewati beranda istana tamu. Dia sangat bosan disini karena tidak seperti di Sholaire dimana dirinya bisa bermain sepuas hatinya, di Luxorth ia hanya bisa menjaga sikapnya atau Zaviest akan memukul kepalanya. Selain itu, tidak ada orang yang bisa ia ajak bermain, tidak seorang pun mengenalnya. Dia benar-benar sedang terjebak di megara asing bersama kakaknya yang sedang kasmaran.
Setelah berjalan beberapa saat, langkah Moscha terhenti ketika ia melihat dari kejauhan sebuah rombongan berjalan kearahnya. Dengan menyipitkan matanya ia berusaha melihat siapakah pemimpin dari rombongan itu, apakah keluarga kerajaan Luxorth atau....
"Astaga!" pekiknya kemudian ia kebingungan menoleh kekanan lalu kekiri mencari tempat untuk bersembunyi.
Terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh rombongan itu, kebanyakan dari beberapa orang yang diyakini Moscha sebagai pengawal tidak semuanya hampir bertelanjang d**a, dan seorang gadis berambut panjang dengan pakaian sutera sewarna gading itu Moscha tahu bahwa rombongan itu berasal dari Narth. Gadis yang ada ditengah itu adalah Puteri Kheiraz.
"Sialan!" Umpat Moscha, tanpa berpikir lagi ia segera bersembunyi di sebuah lorong yang berada disebelah kirinya.
Dari balik lorong tersebut Moscha mengintip rombongan Puteri Kheiraz yang terus berjalan kearahnya. Dia mengamati rombongan tersebut, kening Moscha sedikit berkerut setelahnya.
"Apa dia ketakutan kemari sampai membawa banyak sekali pengawal," gumamnya, "tidak heran, kakaknya mengalahkan Putera Mahkota Luxord, pantas jika dia takut jika sesuatu terjadi." Imbuhnya lagi.
Rombongan tersebut semakin dekat, dan Moscha semakin bisa melihat sosok Puteri Kheiraz. Semua pangeran dari Sholaire mengenalnya, karena selama beberapa tahun dia sempat tinggal di Sholaire menemani bibinya. Sekali saja Kheiraz melihat Moscha pasti akan langsung mengenalinya karena Moscha selalu mengerjai Kheiraz ketika masih tinggal di Sholaire.
Untuk sesaat Moscha tertegun melihat kecantikan Kheiraz yang terpancar dari seluruh tubuhnya yang kecokelatan itu. Wajahnya semakin cantik setelah beberapa tahun tidak berjumpa, tubuhnya menjadi ramping dan jenjang, pahanya begitu mulus terlihat tiap kali ia berjalan dan menyibakkan suteranya, rambutnya panjang hitam berkilau mengalun-alun tiap kali sang Puteri itu bergerak.
"Kenapa dia terus berjalan kemari." Moscha tersadar dan panik seketika. Dia tidak ingin Kheiraz melihatnya disana. Akan sangat merepotkan sekali mengingat Kheiraz pasti sangat dendam padanya.
Dalam kepanikannya Moscha segera berbalik hendak berlari agar tidak tertangkap karena ketahuan sengaja menghindari Kheiraz. Sayangnya, ketika ia berbalik tubuhnya menabrak sesuatu dan keduanya terjatuh dengan posisi tubuh Moscha menindih diatas seseorang yang ia tubruk.
"Argh, sakit!" Rintih Ariah sembari meringis kesakitan. Langsung saja Moscha membekap bibir Ariah karena terlalu panik dan takut jika rombongan Kheiraz mendengarnya.
"Siapa disana?!"
Sial!
Moscha menarik tangannya, ia membantu Ariah berdiri. Ia begitu waspada dengan sesekali melirik kesamping bahunya mencoba menelisik seberapa dekat rombongan itu dengannya.
Sementara itu Ariah terpaku setelah mendongak sembari menatap wajah tampan yang ada dihadapannya ini. Pertama kali dalam hidup Ariah ia berada begitu dekat dengan seorang pria tampan, hal itu membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
"Jangan bersuara, tetaplah berada dibelakangku." Moscha berbisik.
"Siapa kau! Balikkan badanmu!" Suara bariton itu menggema, Moscha hanya bisa berdecak lirih. Dia tidak bisa kabur sekarang, maka harus menghadapinya secara jantan.
Perlahan ia pun berbalik sembari tetap melindungi Ariah dibelakangnya. Dia tidak ingin melibatkan siapapun dalam hal ini meskipun sebenarnya ini bukan masalah yang besar sampai bisa menimbulkan perpecahan antar negara.
Senyuman melebar diwajah Moscha, ia menunjukkannya pada Kheriaz yang langsung mengenali Moscha ketika pertama kali melihatnya.
"Rupanya Pangeran Kelima, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu diwaktu yang salah." Ujar Kheiraz dengan ketus. Senyum di wajah Moscha menjadi kaku, ia sudah menduga bahwa Kheiraz tidak akan bersikap baik padanya.
"Moscha memberi hormat pada Tuan Puteri Kheiraz, sangat kebetulan sekali bertemu Yang Mulia disini, wajah itu juga semakin cantik." Ujar Moscha dengan gugup.
Ariah begitu bimbang berada disituasi yang sangat canggung ini. Dia tidak menyangka bahwa pria tampan itu seorang pangeran. Ariah berpikir untuk diam-diam pergi, tapi tangannya ditahan oleh Moscha.
"Sepertinya aku mengganggu Pangeran bersenang-senang, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa." Kata Kheiraz, ia beranjak pergi namun setelah beberapa langkah ia berhenti dan berbalik lagi.
"Apakah Yang Mulia Zaviest juga disini?" Tanya Kheiraz.
"Ti, tidak. Saya adalah utusan resmi dari Yang Mulia Raja,"
Kheiraz tidak merasa curiga setelah ia memandangi Moscha dan gadis yang ada dibelakangnya untuk terakhir kali ia pun kembali pergi dengan senyum samar diwajahnya.
Hembusan nafas lega lolos dari pernafasan Moscha. Paru-parunya hampir meledak karena ia menahan nafasnya terlalu lama. Kheiraz sungguh bukan gadis yang mudah dihadapi. Untung saja Moscha tidak harus berlama-lama berurusan dengan gadis dingin dan galak itu.
"Yang Mulia," suara halus dan lembut itu membuat Moscha tersadar. Segera ia berbalik dan melihat seorang gadis dengan pakaian biasa sedang menatapnya, menunggu Moscha melepaskan genggam tangannya dilengan gadis itu. Dengan pelan, Moscha pun melepaskan lengan gadis itu dan menyeringai kearahnya.
"Maafkan aku, apa kau terluka?" tanya Moscha yang teringat dia telah mebabrak gadis tersebut hingga terjatuh.
"Hah? Ti, tidak Yang Mulia." Entah mengapa Ariah tiba-tiba menjadi gagap.
"Ah syukurlah," balas Moscha sembari manggut-manggut, "kalau begitu aku pergi dulu! Jaga dirimu baik-baik jangan sampai seseorang menabrakmu lagi." Katanya, kali ini dengan senyum tulus yang menawan dan lambaian tangan ketika ia pergi yang membuat hati Ariah membuncah karena kebahagiaan telah bertemu pangeran yang sangat tampan.
::To Be Continued::