Enggak!

1065 Words
Suara tamparan nyaring terdengar di ruangan. Tentu saja itu adalah tangan Tya yang mendarat dengan mantap di wajah atasannya. Tya bahkan juga terkejut sendiri karena ia dengan berani menampar Yuga. Gadis itu menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya juga membesar saking terkejutnya. Padahal dia sendiri yang melakukan itu. Bukankah seharusnya ia tak perlu terkejut? Yang dilakukan Tya selanjutnya adalah, membungkukkan tubuhnya beberapa kali seraya meminta maaf. "Maafin saya Pak," ucap Tya. Dalam hati Yuga jelas ia memaki gadis di hadapannya kini. Mana bisa dengan seenaknya menampar wajah di depan umum? Yuga agaknya lupa bahwa ia juga bertindak semena-mena terhadap Tya. Yuga coba tahan emosi terlanjur berakting sebagai kekasih yang meminta maaf. Harga dirinya akan hancur kalau ia ketahuan berbohong. Tya lalu memilih untuk berjalan pergi meninggalkan pria itu. Yuga hanya menatap Tya yang pergi berlalu meninggalkannya kemudian hilang setelah ke luar dari ruangan dan berjalan menuju. Yuga merapikan jasnya lalu hendak berjalan kembali masuk ke dalam ruangannya. Namun, langkahnya terhenti dan kini menatap pada para karyawan. "Lanjutkan pekerja kalian." Yuga memerintahkan lalu menatap jam di tangannya. "Jam makan siang udah habis kan?" Pria itu lah segera kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. "Pak Yuga pacaran sama cewek itu?" Orang karyawan perempuan bertanya pada Sarah. Sarah gelengkan kepala, tentu saja ia tak percaya karena selama ini Yuga bahkan terkenal dingin padanya. Padahal secara fisik dan wajah Sarah jauh dibandingkan dengan Tya. "Enggak mungkin, masa pak Yuga mau sama perempuan model begitu?" Kata Sarah lagi coba menepis apa ia lihat barusan. "Tapi tadi lo lihat sendiri kan? Pak Yuga cium perempuan itu? Bukan ceweknya yang nyosor lho," kata karyawan lain mengingat kejadian tadi. Sementara itu kini Tya jadi kesal sekali, air matanya malah menetes beberapa kali karena merasa sudah dilecehkan oleh atasannya. Tya memang biasa seperti itu, ketika ia tak bisa melakukan amarahnya biasanya memang akan menangis karena terlalu kesal. Gadis itu lalu masuk ke ruangan diikuti tatapan Gilang dan Arin rekan satu timnya. Gilang melirik pada Arin yang menganggukkan kepalanya. Keduanya terlihat julid sekali. "Gimana sama ayank?" tanya Gilang. Tya menatap Gilang dengan tatapan kesal, buat Gilang telan salivanya. "Diem ya Mas Gilang!" kesal Tya. Gilang melirik pada Arin, karena memang mereka tau kalau rekan kerja mereka yang satu itu jarang sekali marah. Jadi melihat dia marah seperti ini membuat keduanya jadi ketakutan sendiri. Sementara rekan yang lain tengah saling tatap dan penasaran dengan apa yang terjadi tadi, kini Tya sibuk melihat jadwal kerja Gilang. Tya bukan hanya mengurusi segala perihal pekerjaan Gilang di Karuna tetapi juga yang lain. "Hari ini ada rapat dengan Laurensia, mas Gilang mau jadi salah satu desainer butik baru musim besok." Tya memberitahu sambil membaca catatan miliknya. Gilang mengangguk, dia hampir lupa kalau hari ini akan ada rapat dan pekerjaan lain di luar Karuna. "Tolongin gue buat ngehubungin Lauren. Bilang kalau kita bakal ketemu jam empat sore di tempat biasa. Di butiknya yang ada di daerah Kemang." Tya anggukan kepalanya kemudian menatap kepada Gilang. "Mas Gilang yakin mau ikut event-nya Lauren? Soalnya lihat event yang sebelumnya juga nggak terlalu rame. Soalnya kayaknya Lauren Itu kagak ideali dan punya pemikiran sendiri." Gilang ngapain dikatakan oleh bawahannya sambil sibuk menatap pada laptop miliknya. "Bukan karena event mereka sih. Gue dengar lauren itu akan ikut Indonesia fashion week di Paris. Lo bisa bayangkan bagaimana kita bisa mengiklankan desain gue tanpa mengeluarkan biaya? Berapa banyak pengeluaran yang kita hemat untuk promosi gratis ini?" Gilang menatap Tya lalu mengetuk jari telunjuknya ke kepala. Tya jelas mengerti, gadis itu mengangguk lalu kembali membacakan jadwal hari ini. Atasannya terlihat tak memerhatikan, tengah sibuk mendesain lalu biasanya membaca majalah fashion. Meski terlihat tak memerhatikan, Gilang bisa mengingat semua dengan baik. Tya menjalani hari ini seperti biasanya. Meskipun perasaannya masih kesal dan berantakan akibat apa yang dilakukan oleh Yuga tadi. Hari ini waktu terasa lama sekali padahal Tya ingin segera pulang dan kembali ke rumah. Ingin tidur dan melupakan apa yang terjadi. Ketika jam pulang kerja, ia segera berlari untuk segera melepaskan diri dari tatapan para karyawan. Sepertinya hari ini gosip mengenai dirinya yang tadi dicium oleh Yuga, sudah beredar dengan luas di kalangan karyawan lain. Sepertinya hal ini yang menyebabkan dirinya menjadi perhatian. "Tya!" Sebuah teriakan terdengar. Tya menoleh ke belakang dan itu adalah Yuga, apa yang akan dilakukan oleh pria itu lagi kepada Tya. Yang dilakukan gadis itu sekarang adalah berjalan sekencang-kencangnya untuk menghindari pria itu. Tadi siang Yuga sudah membuat dirinya menjadi kacau dan kini tak akan ia biarkan Yuga melakukan itu lagi. Yuga berlari, lalu menggenggam pergelangan tangan Tya. Membuat langkah gadis gemuk itu terhenti. Tya jelas napas lalu menunduk lemas. "Apalagi sih Pak?" Tya bertanya yang terdengar seperti sebuah rengekan. "Mau ke masa sayang? Kita pulang sama-sama." Yuga berujar. Tya menggerak-gerakkan tangannya berusaha meminta Yuga melepaskan. Namun, genggaman tangan Yuga semakin kencang. Yuga kemudian mengajak Tya menuju mobilnya. "Kakak saya jemput ih!" kesal Tya. Karyawan semua memerhatikan interaksi itu. Tya tersenyum, seolah mengatakan kalau hal itu biasa terjadi..mereka berdua memang sering bertengkar. "Sebentar," pinta Yuga. "Enggak! Enggak, enggak, enggak!!!" Teriak Tya kemudian melepaskan tangan Yuga dan berlari meninggalkan atasannya itu. Yuga hela napas lagu, sebenarnya ingin marah juga. Hanya saja masih menjaga image ingin terlihat seperti laki-laki sabar dan pengertian dan akan membuat Tya terlihat seperti antagonisnya. Tya berlari ke arah luar kantor biasanya sudah ada Bumi. Tapi, kali ini sang Kaka tak ada. Belum datang juga padahal sudah cukup sore. Tya mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Bumi. Tak lama sampai panggilan itu diterima. "Mas di mana?" "Masih di kampus, tunggu sebentar ya. Ada urusan sebentar lagi," ucap Bumi. "Mas ak—" ucapan Tya terhenti saat seseorang mengambil ponselnya. "Halo ini Yuga kakaknya Vhi, biar saya yang antar Tya." Tya berusaha mengambil ponsel miliknya. Hanya saja posisi Yuga yang lebih tinggi membuatnya sulit menggapai ponsel miliknya "Yuga?" "Iya ini kakaknya Vhi. Atasannya Tya. Nanti saya antar adik kamu dengan selamat sampai tujuan enggak usah cemas." "Oke kalau gitu terima kasih," ucap Bumi. Yuga lalu mematikan ponselnya, dan memberikan pada Tya. "Hape kamu jelek," kata Yuga dingin. "Ayo pulang." "Enggak!" "Saya bilang kakak kamu kalau saya yang akan antar." Yuga berkata lagi lalu menggenggam tangan Tya. Dan berusaha menariknya agar mau ikut ke mobil. Tya bergerak dengan terpaksa. Dengan wajah yang memerah karena menahan tangis. Ia lalu berjalan masuk ke dalam mobil Yuga. Yuga dengan sangat manis membukakan pintu untuk Tya yang segera masuk dan duduk. Setelah Yuga masuk ke dalam. Mobil itu segera melaju.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD