Shine keluar dari lobbi dengan helaan napas panjang. Rasanya hari ini berlalu dengan lambat sekali. Digenggamnya tali tas tangannya yang berisi beberapa berkas dan juga amplop akomodasinya untuk berangkat besok pagi ke Riau bersama dengan Pak Williem. Bersyukur kalau bos setannya itu tidak akan ikut dan dia bisa menikmati pameran dengan hati senang. Shine memutuskan berjalan ke arah halte bus yang berada di perimpangan jalan agak jauh dari area perusahaannya dengan berjalan kaki. Mencoba memikirkan bagaimana caranya dia bisa mendapatkan pisau kesayangannya kembali saat tiba-tiba dia berhenti karena teringat sesuatu. "Astaga, Shine i***t!" ujarnya seraya menepuk jidatnya. "Kenapa bisa lupa sama kalung matahari itu!!" Shine melanjutkan langkah kakinya di sepanjang trotoar dengan gelengan

