11. Another Suprise

1634 Words
Gaster Technology menjadi salah satu perusahaan yang bergerak di layanan penyedia perangkat lunak untuk berbagai macam kebutuhan teknologi di luaran sana. Menjual produknya dalam bentuk aplikasi-aplikasi canggih yang dibutuhkan sebuah jaringan besar untuk  mendukung sektor perkantoran, sektor industri dan sosial media juga beberapa video games. Selain itu juga menjual jasa berupa tenaga profesional untuk melakukan pemeliharaan perangkat keras dan lunak jaringan skala besar lengkap dengan sistem keamanan tercanggih untuk menghindari masuknya penyusup berupa siluman dunia maya yang hobinya meretas demi mendapatkan data penting sebuah perusahaan untuk kepentingan tertentu. Shine baru menyadari kalau ternyata pengetahuannya tentang perusahaan teknologi hanya sebatas Microsoft, Intel, google, f*******:, Oricale, apple yang berasal dari luaran sana. Ternyata Produk aplikasi yang ditawarkan Gaster juga beragam tergantung kebutuhan. Shine yakin, dia bisa betah dan belajar banyak selama bekerja di sini. Di hari pertama saja meskipun dia harus lembur dan sekarang waktu sudah menunjukkan hampir lewat jam 9 malam tapi dia tidak merasa tertekan. Bagaimana bisa dia tertekan kalau di dalam divisinya yang ruangannya serba transparan tersedia berbagai macam fasilitas berteknologi canggih. Shine tidak akan mengkhawatirkan  lagi paket datanya akan terkuras habis untuk streaming film-film romantis untuk di tonton bersama Minnie atau Sasha karena sekarang dia difasilitasi dengan internet berkecepatan turbo. Download film hanya dalam kedipan mata doang. "Aku lembur tapi berasa kayak di rumah sendiri, Sha." Shine tersenyum lebar. "Di sini suasanya santai banget tapi kalau sudah melihat mereka bekerja, kamu akan takjub. Memang benar ya, kalau seseorang bekerja dengan perasaan bahagia pasti hasil yang akan di dapat juga maksimal. Pekerja bahagia itu ya dengan memberinya kesejahteraan dan perusahaan akan mendapatkan timbal balik dari mereka." Shine masih harus menyelesaikan sedikit lagi pekerjaannya dan dia bisa pulang dengan tenang setelah meletakkan laporannya di meja sekretaris sang CEO di lantai 15 seperti yang tadi dititahkan sang bos duren. "Baguslah. Di sana hidupmu pasti terjamin. Mendingan juga  kamu nggak usah pulang ke rumah sekalian dan nginap aja di situ. Kan praktis." "Sialan!!! Ya nggak mungkinlah walaupun kayaknya enak juga tidur di kantor yang punya sofa panjang empuk dengan bantal-batal lucu di dekat pantry sana untuk rebahan cantik." Shine menyendokkan es krim strawberry yang diletakkan tidak jauh dari keyboardnya ke dalam mulut. Di dalam kulkas kantor, ada banyak jenis es krim yang boleh dinikmati oleh siapapun. "Badanku bisa naik berkilo-kilo kalau dicekokin es krim terus modelan begini, Sha."  Tangannya bergerak lincah di atas keyboard sementara ponselnya nangkring cantik di samping layar yang suaranya dia loadspeaker. Ruangannya memang sepi hanya menyisakan dia seorang tapi di sebrang ruangannya ada game center tempat di mana para karyawan terutama yang lelaki kalau lagi jenuh di rumah bisa menikmati fasilitas game online gratis yang memang disediakan dan jam segini tuh tempat masih rame seperti warnet. "Jangan gendut lah, kurus aja kamu susah dapat pacar apalagi kalau gendut." Kadang ya memang ngobrol sama Sasha itu menguras emosi tapi hanya dia tempat curhat Shine selain Arsen. "Eh tapi ya--" dan Shine sama sekali tidak mau berhenti ngoceh melaporkan banyak hal. "Selama beberapa jam tadi aku sudah ketemu sama sepuluh orang lelaki yang good looking dengan jabatan yang keren-keren." Shine terkekeh mengingatnya. "Pokoknya ya, doakan aku supaya cepat dapat jodoh salah satu dari pegawai di sini. Kan lumayan." "Amin amin deh. Terus Arsen mau kamu ke manakan?" Senyuman di wajah Shine perlahan memudar mendengarnya, menghela napas panjang dan berkata lirih. "Kamu kan sudah tahu jawabannya, Sha." "Yeaah, dan aku akan terus mengataimu dongo." Shine diam tidak menjawab dan melanjutkan pekerjaannya. "Penyesalan itu selalu muncul di belakang, sayang." "I know," lirih Shine lalu menghembuskan napasnya dan dalam sekali tekan di keyboradnya, printer laser di sampingnya bergerak dan berbunyi. Akhirnya pekerjaannya selesai. "Aku sudah selesai. Makasih ya sudah nemanin aku lembur walaupun omonganmu nggak ada yang bener." "Cuma makasih doang?" Dengus Sasha. Shine memutar bola matanya. "Steak di akhir pekan?" "Deal. Pulangnya naik taksi aja dan hati-hati ya." "Ayeyeyey captain, muah." Balas Shine bahagia. "Euhhhh," Sasha membalasnya dengan suara jijik. Shine tertawa lalu memutuskan sambungannya. Setelah semua laporannya selesai tercetak, dia letakkan di dalam map dan segera membawanya ke lantai lima belas untuk besok menjadi bahan meeting pagi yang perlu ditandatangani pimpinan. "Huft, saatnya menjelajah ke lantai di mana kantor CEO berada." Shine tersenyum. "Dengar-dengar dari Mbak Astrid kalau Pak Gaster lagi ada perjalanan pribadi ke luar negeri." Shine berdecak. "Jadi penasaran gimana orangnya." Shine memeluk map itu dan berjalan mengarah ke lift yang membawanya ke lantai atas yang saat dia sampai di sana sangat sepi dan gelap. Shine celingukan memandangi ornamen yang ada di sekelilingnya dengan takjub. Setelah meletakkan map itu di meja Bu Freya, Shine menghela napas dan melipat lengannya di d**a memperhatikan sekitar. "Siapapun pemilik perusahaan ini punya selera yang tinggi dalam hal seni." Setelah puas mengagumi desain interior di sana, Shine berniat kembali ke ruangannya, memanggil taksi dan pulang ke rumah. Minnie pasti kesal ditinggal kelamaan. PRAAAANKKK!!! Shine berhenti melangkah, suara seperti ada barang yang pecah dari arah belakangnya membuat Shine langsung berbalik. Suara itu berasal dari ruangan CEO yang pintunya terbuka sedikit. Shine penasaran karena itu dia nekat mendekat dan mengintip tapi gelap. Shine menggidikan bahunya dan berbalik. BRUUKK!!! Shine kembali balik badan ketika mendengar suara mencurigakan itu lagi dan dengan mantap memegang pegangan pintu lalu membukanya dengan perlahan. Ruangannya luas tapi gelap. Shine mengedarkan pandangan mencari sumber suara tapi yang ada hanya keheningan. "Siapa di sana?" Ucapnya seraya melangkah pelan. "Apa ada orang?" Shine berdiri di tengah ruangan dan tidak melihat siapapun sampai merasakan ada tangan yang memegang bahunya. Shine tersentak kaget, reflek memegang tangan itu dan membanting siapapun orang itu ke depan. Bukkk!!!! "Arrghh. s**t!!!!" Suara lelaki yang tubuhnya langsung tergeletak dengan punggung yang menghantam kerasnya lantai marmer dengan erangan tertahannya. Shine merunduk untuk membuka hoodienya tapi orang itu langsung menarik tangannya dan menggulingkannya ke samping membalik posisinya. Bukk!!! "Awwww," erang Shine saat merasakan punggungnya yang bersentuhan dengan dinginnya lantai marmer dengan kerasnya lalu tangannya dicekal di atas kepalanya sedangkan orang yang dihajarnya tadi berada di atas tubuhnya. Tapi dengan kerasnya, Shine melayangkan tendangan kakinya ke punggungnya yang langsung terhempas ke depan dan tergeletak lagi. "Damn it!!!" Umpat lelaki itu. Shine tersenyum smirk, berdiri dan dengan cepat mendekat dan merunduk lalu menekankan lengannya ke leher lelaki berhoodie itu di tengah ruangan. Cahaya yang masuk hanya berasal dari cahaya bulan yang terang di luar menembus dindung kaca. "Siapa kamu?" Desis Shine. Naik ke atas tubuh lelaki itu mengapit kakinya dan masih sambil menekan lehernya, Shine berhasil menyingkap hoodie itu dan tertegun menatap mata biru muda yang juga terbelalak melihatnya. Sama-sama terkejut dalam diam dan Shine tidak berkutik saat lelaki itu melepas cekalannya dan membalik posisi mereka dengan tangan lelaki itu menahan belakang kepalanya agar tidak terbentur lantai. Shine masih cengok, napasnya naik turun. "Kamu--" ucap lelaki diatasnya dengan ekspresi geli, takjub, senyuman miring di wajahnya membuat Shine-- "AAAAAAAAKHHHH SETAAAAAAANNN!!!" Jeritnya membuat Lelaki itu menutup telinganya dengan tangan lalu terhempas begitu saja ke samping ketika Shine mendorongnya keras. Dilihatnya Shine secepat kilat berdiri dan berlari keluar dari ruangannya. Zafier ternganga takjub dengan apa yang di lihatnya barusan. Wanita itu tadi yang berkelahi dengannya dan ada di dalam kantornya. Zafier bergegas mengambil ponselnya di atas meja bar dan masuk ke server kantor untuk melihat data karyawan dan menemukan-- Zaf terbahak bahagia. "HAHHAHAHAHAA!!" Lalu berdecak dan bergumam. "Shine Aurora, karyawan baru dengan jabatan Asisten Manager Marketing." Zafier menyunggingkan senyuman lebarnya. "Ah, sialan Williem!!!" Zaf berlari keluar ruangan dan tidak menemukan siapapun di sana. Shine sudah menghilang. "Jadi benar namanya Shine," decaknya seraya tersenyum geli. "Hebat. Dia yang datang sendiri ke hadapanku." Senyuman akal bulusnya muncul di wajahnya seraya melipat lengannya di d**a. "Tapi kenapa setelah dua tahun, dia masih memanggilku dengan sebutan setan!!!!" Zaf mengacak rambutnya. Matanya pasti bermasalah !!! *** "Arsen." Arsen mengalihkan tatapannya dari ramainya jalanan di luar cafe ke lelaki yang berjalan mendekat ke arah mejanya, tersenyum dan menaruh rokoknya di asbak lalu berdiri. "Hai bro." Mereka lalu berpelukan singkat dan sama-sama duduk di kursi, berhadapan. "Maaf ya, aku memintamu datang malam-malam begini. Aku harap kamu sedang tidak sibuk." "Santai saja kok. Sekalian kita bisa ngobrol sebelum kamu kembali ke Inggris." Arsen mengangguk, memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka lalu berlalu pergi. Arsen mengambil rokoknya dan menghisapnya sebelum berbicara. "Gam, aku mau minta tolong." Agam menaikkan alisnya. "Pertolongan seperti apa? Kalau memang aku bisa bantu maka aku akan mengusahakannya." Arsen mengangguk. "Aku gak bisa minta bantuan sama Om untuk masalah ini karena beliau sudah memiliki banyak kesibukan. Selama beberapa tahun ini aku sudah mencoba sebisaku tapi aku mulai menyerah tapi aku juga tidak mau menyerah. Aku stuck. Ini berhubungan dengan Shine." "Aku tahu Arsen. Hidupmu lebih banyak dihabiskan untuk seorang Shine." Arsen tertawa.  "Jadi bantuan yang seperti apa?" "Aku ingin kamu membantuku mencari seseorang. Aku sudah mencoba mencarinya sendiri tapi nihil. Dia seperti menghilang ditelan bumi tapi aku yakin dia masih hidup di suatu tempat. Kepergiannya membawa banyak tanda tanya. Kamu kan punya banyak koneksi jadi aku minta tolong untuk membantuku mencari informasi. Sisanya aku yang akan melakukannya. Aku hanya membutuhkan informasi." Agam mengangguk, memajukan tubuhnya. "Siapa dia?" Arsen menegakkan punggung, meletakkan rokoknya dan mengambil dompetnya mengeluarkan selembar foto dan meletakkannya di depan Agam yang terkesima. "Ini?" Agam mengerjapkan matanya. "Bantu aku mencari Abigail Rosalina Friza. Kakak perempuannya Shine yang menghilang beberapa tahun lalu di London." "Kakak Shine?" Arsen mengangguk, menyandarkan punggungnya di kursi dan menghela napas. "Kami berusaha mencarinya dan Shine berharap bisa menemukan Abi." Agam mengangkat foto itu. Dua orang wanita yang saling berangkulan dan tersenyum lebar. Lalu meletakkannya lagi di meja dan tersenyum ke Arsen. "Aku akan membantumu tapi kamu harus bersabar. Mencari orang itu bukan perkara mudah." Arsen tersenyum dan mengangguk. "Tentu. Terimakasih banyak. Aku percaya padamu tapi tolong jangan beritahukan ke Om ya." "Beres." Arsen dam Agam sama-sama tersenyum lalu makanan pesanan mereka datang dan menikmatinya sambil mengobrol. Diam-diam Arsen mendesah lega. Shine Aurora Friza dan Abigail Rosalina Friza. Dua wanita penting dalam hidupnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD