Zafier sudah lama tidak merasakan perasaan se-excited ini dalam menyambut pergantian hari.
Entah apa yang terjadi, sejak kembali bertemu dengan Shine, dia senyum-senyum sendiri seperti orang gila kala mengingat perkelahian mereka kemarin malam. Berdecak kagum dengan kemampuan bela diri wanita itu. Zaf jadi membayangkan beberapa skenario yang mungkin akan terjadi saat nanti mereka berada di kantor bahkan bertemu dalam satu ruangan yang sama karena jelas terlihat kalau Shine tidak menyukainya sama seperti satu tahun lalu saat mereka pertama kali bertemu. Zaf jadi gatel ingin mengisengi Shine yang disenggol sedikit langsung ngegas.
Heran aja, memangnya wanita itu tidak doyan lelaki tampan yang punya badan six pack juga pesawat jet malah dengan seenaknya mengatainya setan.
Setan dia bilang? Bahak, mana ada setan yang seperti dirinya. Padahal kena bibirnya sedikit aja mendesah juga. Zaf tersenyum penuh kemenangan.
Pagi ini Zaf bangun dalam keadaan berbeda, bersenandung di bawah guyuran air shower, sesekali tersenyum tanpa alasan lalu bersiap dengan jas rapinya untuk pergi ke kantor padahal waktu masih menunjukkan jam setengah enam pagi. Biasanya, dia akan pergi ke kantor di atas jam 10 siang. Wong, owner ya bebaaass.
Entah jejadian apa yang merasukinya pagi ini.
Zaf bersenandung lagi di dalam mobil sport hitamnya yang tidak terlalu mencolok dan meliuk-liuk dengan indahnya di jalanan kota Jakarta. Menoleh ke kursi samping tempat di mana dia meletakkan plastik berisi sekotak Cheescake buatan chef pastry terkenal yang khusus dipesannya semalam untuk seseorang yang pagi ini akan dijumpainya.
Mengikuti petunjuk navigasi mobilnya, akhirnya Zaf menepikannya di depan rumah seseorang.
Pagi ini, entah mimpi apa semalam, Bu Anah dapat rezeki nomplok didatangin lelaki bule ganteng yang menaiki mobil Lamborghini mewah yang seumur-umur belum pernah dilihatnya dengan setelan jas rapi membawa sesuatu di tangan. Sesaat setelah Zaf keluar dari dalam mobil, Bu Anah berdiri terkesima dengan tampang cengok tanpa berkedip sekalipun dengan tangan yang memegang selang yang airnya menyala membasahi tanaman bunganya di satu titik.
Walaupun sudah tua tapi Bu Anah tetap wanita yang tidak akan berkutik melihat pesona lelaki ganteng, bule pula, yang memiliki mata seperti langit, biru muda. Jadi jangan salahkan beliau kalau hayalannya yang terbentuk saat ini indah-indah. Andaikan saja mereka bertemu bertahun-tahun sebelumnya.
Jadi ini kenikmatan yang dikatakan anak gadisnya yang kuliah di Bandung yang doyannya melototin hape mandangin lelaki tampan di luar sana yang foto-fotonya rata-rata ada tatakan roti manisnya di perut dan dia beruntung bisa langsung bertemu dengan salah satunya yang semakin mendekati tempat di mana dia berdiri. Maaf ya Nak, Mama selangkah lebih beruntung daripada kamu.
Seketika Bu Anah lupa umur, lupa sama suaminya yang lagi sarapan di dalam rumah pakai pisang goreng, lupa sudah punya anak tiga, lupa sama lemak di perut, lupa sama tanah kuburan yang sudah di-booking-nya.
Zaf berdiri di balik pagar rendah rumah Bu Anah dengan seulas senyuman macho, tidak menyadari kalau hal itu bisa saja membuat wanita paruh baya itu sesak napas bahkan pingsan tergeletak begitu saja.
"Selamat pagi Bu--" Zaf terdiam kerena belum tahu nama si Ibu.
"Anah Cantikariningrum Sekar Tanjung. Panggil aja Bu Anah." Bu Anah mengulurkan tangan untuk bersalaman yang langsung disambut Zafier dengan sopan.
"Namanya panjang banget ya Bu--" Kekeh Zaf. "tapi pasti artinya bagus." Bu Anah blushing dan hampir sesak napas. OMG. Buru-buru di tarik tangannya. Takut khilaf.
"Ah bisa aja deh Mas--" gantian Bu Anah yang diam, berpikir. Siapa ya namanya?
"Zafier Bu."
"Hah? Japier? Oh Mas Japier ya?"
"Zafier Bu," Zaf mengusap sekilas pelipisnya. Membenarkan cara pelafalan namanya.
"Duh, namanya orang bule itu susah-susah ya. Kadang suka bikin lidah kepelilit trus kegigit eh jadinya sariawan. Kalau gitu boleh nggak kalau manggilnya Mas Japier aja supaya nih lidah yang udah tua nggak kegigit."
Ingin hati Zaf menolak karena namanya kok kedengarannya jadi aneh gitu tapi nanti takut kualat sama orang tua apalagi Bu Anah, orang yang bisa membantunya saat ini. Terserah lah Bu terserah, batin Zaf frustasi.
"Iya sudah kalau begitu." Bu Anah tersenyum lebar.
Zaf mendekat sedikit, hanya berjarak beberapa senti dari pagar dan Bu Anah di baliknya lalu mengulurkan plastik berisi sekotak kue yang ada di tangannya. Bu Anah langsung bengong. Tadi malam dia mimpi apa ya. Seingatnya sih mimpi nontonin mentok berenang di kali.
"Buat Ibu?" Tanyanya memastikan.
"Iya lah Bu." Zaf tersenyum. "Buat di makan sekeluarga."
"Aduh dalam rangka apa ini, kok jadi nggak enak?" Bu Anah mematikan dulu air dan meletakkanya selangnya di tanah lalu mengambil alih plastik dari Zafier dan mengintip sedikit isinya. "Pasti ada apa-apanya nih." Katanya dengan curiga dan melihat Zaf mesem-mesem.
"Iya Bu. Saya mau tanya rumahnya Shine."
Oke Anah, back to the earth.
"Oalah, jadi wanita yang Mas Japier cari kemarin memang Shine?"
"Iya Bu." Zaf tersenyum. "Nama gang apa terus nomor rumahnya berapa ya?"
Bu Anah memasukkan lengannya ke lubang plastik, maju sedikit ke depan. Zaf diam menunggu. "Mas Japier cari aja Blok Matahari I No. 44."
"Blok Matahari I No. 44," Zaf mengulang lalu mengangguk dan tersenyum. "Makasih banyak ya Bu informasinya."
"Sama-sama. Makasih juga loh kuenya. Padahal cuma nanya gituan doang."
"Nggak apa-apa Bu."
"Mau jemput Shine kerja?" Tanya Bu Anah penasaran.
"Iya. Ya sudah, saya permisi dulu ya Bu."
Bu Anah mengangguk dengan senyuman geli, Zafier berbalik seraya mengingat blok dan nomor rumah Shine. Di depan pintu mobil yang sudah dia buka, Zaf merasa ada yang janggal. Blok Matahari I? Bukannya dia memang sedang berada di dalam blok itu. Zaf balik badan lagi mendekati pagar Bu Anah yang terlihat kembali nyiramin kembangnya.
"Bu, bukannya ini Blok Matahari I ya?" Lalu melihat ke nomor rumah Bu Anah yang tertulis di pagar nomor 45. Zafier melotot.
"Ya khan Mas Japier tadi nanya nama gang sama nomor rumahnya--" kata Bu Anah tanpa dosa. "Nggak langsung nanya rumahnya yang mana."
Zaf mengusap tengkuknya. Bener juga sih. "Berarti rumahnya Shine?"
Bu Anah cengengesan. Zaf mengedarkan pandangannya dan mengarahkan telunjuknya ke arah kanan dan kiri rumahnya Bu Anah yang langsung menunjuk ke rumah biru di sampingnya membuat Zaf berdecak.
"Bu Anah gitu ya. Nggak lucu ah jahilnya," kekeh Zaf tepat saat pintu rumah biru yang pintu pagarnya tepat berada di sampingnya terbuka dan teriakan cempreng itu terdengar.
"MORNIIINGG BUUUU ANAAAAAH CAAANTIIIKK."
Shine yang berbalik setelah menutup dan mengunci pintu rumahnya menenteng sepatu heelsnya di tangan langsung melotot melihat Zafier yang melambaikan tangan sok cool di depan pagar disertai senyuman. Sesaat berdiri cegok dan menjatuhkan heel-nya membuatnya memekik karena ujung haknya mengenai kedua punggung kakinya dengan keras.
"ADUH, SETAANN!!!" Teriaknya seraya loncat-loncat. Kakinya ngilu. Sialan memang si setan pagi-pagi sudah nongol.
"Mana ada setan pagi-pagi, Shine--" tegur Bu Anah. "Yang ada nih bule tampan yang mau jemput kamu ke kantor," ucapnya lagi. "Coba lihat mobilnya, pintunya cuma dua kayak kulkas. Keren ya."
"Ihh biasa aja kali bu. Aku nggak tertarik naik begituan. Mending naik metromini," ujar Shine acuh.
"Bu, kayaknya matanya Shine sudah rabun dan perlu diperiksakan deh," kekeh Zaf seraya berbisik.
"Iya, betul itu." Bu Anak manggut-manggut. Shine memutar bola matanya.
Zaf berusaha keras menahan tawanya menyembur keluar saat melihat Shine yang memakai heelnya sambil ngomel-ngomel. "Nggak peduli malam kek, pagi kek, siang bolong kek, sore-sore kek, tetap aja setan banyak di mana-mana. Apalagi setan yang hobinya nebar benih di mana-mana. Euuhhh." Shine jijik sendiri.
Shine menaikkan tali tasnya ke bahu dan berjalan mendekat sambil bersungut-sungut mencoba mengabaikan keberadaan Zaf dan berdiri di depan Bu Anah di balik pagarnya sendiri.
"Morning Sunshine," sapa Zaf dengan intonasi super lembut, tatapan intens dan senyuman menawan.
Shine sontak melotot, Bu Anah yang mesem-mesem dengan wajah merah.
Shine mengabaikan sapaan manis itu, memajukan kepalanya ke depan, melirik sinis ke Zaf yang berdiri dengan tangan menyandar di pagar, mendengus dan fokus berbicara dengan Bu Anah.
"Bu Anah mau pergi ke mana?"
"Hah? Siapa yang mau pergi?" Bu Anah bingung.
"Kok pagi-pagi sudah manggil abang Grab," ucapnya seraya menunjuk Zaf dengan dagunya.
Bu Anah melihat ke arah penampilan Zaf yang berdiri tegak dan ikut melihat ke arah pakaian formalnya sendiri yang berwarna biru lalu ke belakang ke arah mobil kerennya yang entah sejak kapan di kerumunin sama anak-anak kecil kira-kira umur 5 tahunan.
Sialan, sudah ganteng maksimal gini dikatain supir Grab.
Bu Anah yang paham langsung menarik telinga Shine. "Kalau ngomong jangan asal. Dia sudah datang dari pagi cuma buat nungguin kamu Shine. Buruan sana ngantor."
"Ih, nggak mau Bu. Siapa dia? Shine nggak kenal!!!" Shine menggelengkan kepalanya kencang.
"Shine--" Zaf bersuara, tetap dengan gaya cool tapi tatapan berkilat jahil. "Tadi malam kepala kamu kebenturnya keras banget ya padahal aku sudah pelan-pelan loh baringkannya."
Shine ternganga, Bu Anah melototin Shine. Sangat ambigu.
"Nggak Bu. Bukan apa-apa kok. Tidak seperti yang ibu pikirkan," sergah Shine seraya menggeleng saat melihat Bu Anah menyimpitkan matanya.
"Memangnya Ibu mikir apa kok kamu panik gitu." Mata Bu Anah semakin menyimpit curiga.
"Dia nggak mau ngaku aja Bu," sela Zaf santai.
Shine mengepalkan tangannya ke arah Zaf dengan wajah sangar. "Diem lo, setan!!!!"
Zaf harus menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawanya.
Shine memang belum tahu kalau Zafier adalah Owner di perusahaanya sendiri. Dia memang bertanya-tanya kenapa lelaki yang ditemuinya satu tahun yang lalu yang dadanya menjadi alasnya untuk tidur di pesawat dan digamparnya ada di dalam ruangan CEO dengan pakaian mencurigakan. Shine tidak mau mengambil kesimpulan terlalu cepat jadi rencananya nanti di kantor dia mau bertanya langsung ke Pak Williem. Eh, setannya malah nongol lagi dan merusak mood-nya yang memang sudah berantakan sejak semalam setelah mereka banting-bantingan di lantai.
"Kok Mas Japiernya yang ganteng begitu dikatain setan sih?!" Sepertinya Bu Anah yang tidak terima Zaf dipanggil setan padahal orangnya sendiri terlihat santai.
"Habisnya Bu--" Shine terdiam, mengerjapkan matanya dan memajukan kepalanya melewati pagar, bertanya pelan. "Ibu manggil dia apa tadi?"
Zaf mendengus, melipat lengannya di d**a. Sejak tadi tatapannya tidak beralih dari sosok Shine yang cantik dalam balutan baju kerjanya. Rambutnya di atur rapi ke atas. Siapa yang menduga kalau wanita feminim dan terlihat anggun di depannya ini bisa membantingnya ke lantai dalam satu kali percobaan. Kalau tidak merasakan bantingannya langsung, Zaf tidak akan percaya.
"Japier?"
"Japier?" Ulang Shine. Bu Anah mengangguk.
"BUAAHAHAHHAHAHAHAAHAHHAAH!!!" Shine tertawa ngakak dengan sangat tidak anggunnya, berjongkok seraya memegangi perutnya. Benar-benar mengejek. Zaf mengembang-kempiskan hidungnya kesal. Sialan memang. "Oh ya ampun, Japier." Lalu tertawa lagi dengan sadisnya. Bu Anah menggelengkan kepala melihat tingkah Shine.
Zaf merunduk, mengambil bebatuan krikil kecil di bawah kakinya, memungutnya beberapa lalu melemparkannya satu-satu ke punggung Shine yang masih merunduk ketawa memegangi perutnya. Gregetan sendiri.
"Aduh apaan sih?!" Shine mendongak sambil mendelik dan menangkis batu-batu kecil itu kemudian berdiri dan berdeham dengan tatapan tajam.
"Pak Japier yang terhormat--" Zaf melotot. "Aku nggak mau pergi sama kamu ya jadi lebih baik sana pulang aja. Aku sudah terlambat kerja. Kita itu nggak saling kenal dan nggak sedekat itu sampai aku mau ikut sama kamu."
Bu Anah menghela napas melihat tingkah Shine. Setelah membersihkan dedaunan kotor sambil melihat tingkah keduanya, kembali menyiram bunganya yang menempel di pagarnya Shine.
Zaf maju, membuka pintu pagar Shine dan membukanya lebar. Berdiri dengan gentle di sana. "Aku datang buat jemput kamu jadi nggak ada alasan menolak. Naik sekarang ke dalam mobil!!" Tujuknya ke arah mobilnya. Shine hanya melirik sesaat dan mendengus.
"Kalau aku nggak mau?" Shine mengangkat dagunya.
Zaf berdiri di jalan masuk, menghalangi dengan senyuman smirk. "Tinggal pilih, kamu mau di gendong seperti beras di bahu atau ala ala bridal style atau di punggung?"
"Ala bridal style aja, Shine," Bu Anah menyela sambil cengengesan.
Shine memutar bola matanya, "Nanti bajunya jadi kusut loh Pak Japier!"
"Aku punya banyak yang seperti ini jadi kamu nggak perlu khawtirkan hal itu. Sekarang, ayo kita pergi."
Shine berdecak, bersungut kesal, Zaf tersenyum dan berbalik diikuti oleh Shine tapi baru dua langkah berjalan, Shine memanggil.
"Woi, setan!!" Zaf menoleh dan melihat senyuman iblis Shine. "Aku sama sekali nggak sudi ikut sama setan kayak kamu!!!"
Lalu dengan cepat tangannya merampas selang air Bu Anah dan mengarahkannya ke Zaf dan menyemprotkan airnya dengan deras. BRUSSSTTT!!
"Shittt!!!" Zaf yang tidak menduga hanya bisa menahan air yang membasahi jas kerjanya dengan tangan.
"RASAKAN!!! SOK BANGET SIH LOOO!!!!"
"ADUUUHH SHINEEEEE,, IKU PIYEEE BASAAH MAS JAPIERNYAAA?!" Teriak Bu Anah membuat beberapa tetangga keluar juga suaminya dari rumah. Shine tertawa membahana, Zaf mencoba bertahan saat semprotannya bertambah kencang selama beberapa detik lalu mengembalikan selangnya dengan cengiran.
"Maap ya Bu. Shine pergi dulu. Dadah."
Bu Anah melotot. Shine lari melewati Zaf yang sibuk sendiri dengan pakaiannya yang basah dari atas sampai bawah.
"Ah sialan!!!" Umpatnya saat di lihatnya Shine sudah berlari menjauh masih sambil tertawa dan menghilang di ujung gang. "Awas aja kamu di kantor, Shine," gerutu Zaf yang basah kuyup.
"Tidak akan ada ampun!"
Di dalam mobil yang membawanya kembali ke apartemen dalam keadaan basah,untuk pertama kalinya Zaf tertawa terbahak-bahak mengingat kelakuannya Shine. Tawa lepasnya karena kelakuan satu orang wanita.
Shine Aurora.
***