Not Gonna Work

1348 Words
Tak ada yang sama lagi setelah ayah dan Laras meninggal. Kini Gaya lah yang mengambil alih usaha keluarga, ia menyambi semua dengan kesibukannya menyelesaikan skripsi dan merawat ibunya, yang sejak ditinggal ayah dan Laras berubah menjadi pemurung dan kesehatan beliau menurun drastis. Berdua dengan Hari, mereka mulai menapakkan kaki lagi ketanah, tegar dan memompa semangat untuk terus hidup. Uang harus mereka dapatkan untuk kelangsungan hidup dan biaya berobat ibu yang harus rutin ke dokter. Awalnya, Gaya menyarankan Hari untuk menikah lagi, karena pria itu sudah tak punya tanggung jawab lagi kepada keluarganya, namun ia menolak dengan halus. Gaya boleh mengusirnya dari rumah jika kakak iparnya itu sudah menikah, biar ada laki-laki yang menjaga Gaya dan ibunya. Dan saat itu terjadi Hari akan rela keluar bahkan akan memberikan usaha fotocopy-nya, karena ia tak pernah menganggap itu miliknya tapi warisan almarhum pamannya untuk Gaya. Gaya hanya bisa mendesah, dan tak memaksa lagi, ia membiarkan Hari membantunya dan bergantian menjaga ibu. Sudah enam bulan, tapi tak ada angsuran berarti dari kesehatan ibunda Gaya, semakin lama, beliau semakin lemah. Malamnya sehabis menyuapi ibunya yang berbaring ditempat tidur, Gaya melanjutkannya dengan memijat tubuh ringkih sang ibunda. Kulit Wahyuni semakin keriput, matanya cekung dan bobot tubuhnya jauh dari ideal. "Gaya?" "Mmm." "Maafkan ibu ya, karena membiarkanmu sendirian menanggung semuanya, ibu masih belum sanggup menerimanya." perempuan itu terisak pelan, dari kedua ujung matanya mengalir air mata yang jatuh membasahi bantal. Gaya tidak menjawab, dihapusnya air mata sang bunda dengan lembut, ia berusaha tak menangis, yang ada ia malah tersenyum menenangkan. "Gaya.?" "Ya, Ibu." "Bisakah kau panggilkan Hari, ibu ingin bicara dengan kalian berdua." Gaya menatap ibunya sebentar, menerka-nerka apa yang diinginkan wanita itu dari dirinya dan Hari, lalu ia keluar dari kamar dan memanggil adik iparnya. "Ada apa, Bu?" Hari duduk di kaki tempat tidur, ibu bersandar lemas di kepala ranjang, Gaya di sebelahnya. "Ibu rasa, umur ibu takkan lama lagi. Banyak yang ibu khawatirkan sepeninggal ibu nanti, terutama kamu Gaya." Gaya menggenggam tangan ibunya "Ibu takkan kemana-mana, ibu akan tetap disini bersama aku, selamanya." "Jangan remehkan Tuhan nak, kita tak tahu keinginan-Nya, saat itu datang ibu harus pergi dengan tenang meninggalkanmu dan untuk itu..." ibunya menatap Hari dan Gaya bergantian "bisakah kalian menikah?" September 2006. Baru seminggu yang lalu Gaya di wisuda, tapi tak ada yang mendampinginya. Setelah ayah dan Laras meninggal dunia, ibu menyusul keduanya sebulan yang lalu, sang bunda menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Gaya, diiringi suara Hari yang sedang mengumandangkan adzan subuh dari mesjid di dekat rumah mereka. Rasanya berat sekali menggerakkan kakinya ketika mengantarkan jasad sang ibu ke pembaringan terakhir, tepat disamping makam Laras. Tiga orang yang dicintainya di kuburkan berdampingan. Hari keluar dari rumah, setelah melewati tiga malam tahlilan, kini mantan adik iparnya itu tinggal di kios fotocopy miliknya. Tak mungkin bagi Hari untuk terus tinggal di rumah keluarga Laras, selain karena tidak pantas tinggal serumah dengan Gaya yang  masih gadis, juga karena ia takkan tahan tinggal ditempat yang menyimpan kenangan indah bersama almarhumah istrinya. Sebelum ibu meninggal, Hari dan Gaya mengabulkan permintaan beliau mengenai pernikahan. Gaya meyakinkan sang ibu untuk tak khawatir, ia berjanji untuk hidup bahagia dan takkan mencoba hidup selibat dan sendirian sampai ia tua. Gaya sebenarnya punya pilihan banyak, ia tak harus menikah dengan Hari. Ia punya ijazah sarjana yang bisa digunakan untuk mencari kerja, ia punya rumah peninggalan orangtuanya, ia bisa mandiri, bahkan kalau perlu ia takkan menikah. Tapi janji adalah janji, sesuatu yang harus kau tepati, dan itu yang membuatnya takkan pernah mengecewakan sang ibunda walaupun beliau telah tiada. Menikah dengan Hari adalah pilihannya, ia tak mau repot-repot memikirkan cinta. Rencana sudah tersusun rapi di benaknya, menikah, punya anak, meneruskan usaha keluarga, membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya, hidup di hari tua dan mati. Hidup akan segampang itu, jangan berharap apakah ia bisa mencintai Hari atau tidak, toh ibunya bisa menikah dengan ayahnya yang duda, Gaya yakin ia bisa berbuat hal yang sama. ******************************************Sekarang ia disini, bersembunyi di balik konter penjual minuman milik mbak Sumi yang terletak didalam kafe gedung A. Sudah menjadi kebiasaannya sejak tahun pertama kuliah untuk mampir dulu ke kafe yang terletak di bawah gedung Biro Administrasi fakultasnya. Gaya menjual berbagai macam kue-kue tradisional untuk menunjang biaya pendidikannya. Pagi diantar, nanti setelah pulang baru diambil lagi. Sudah empat tahun dijalaninya, walaupun untung tak seberapa, tapi paling tidak ia tak perlu lagi meminta uang kepada orangtuanya untuk jajan dan keperluan kuliah. Hari ini ia akan menyelesaikan semua administrasi terakhir, legalisir ijazah, mengantarkan sumbangan buku dan lainnya. Ia mendesah, dari balik kaca konter, di bangku kafe paling ujung ia bisa melihat Sky sedang duduk merapat dengan seorang perempuan cantik dan berwajah ayu. Gaya tahu siapa dia, Karenina, putri dosen sastra inggris dari fakultas tetangga, Karenina cantik dan bertubuh indah dan katanya juga lumayan pintar. Cantik, bertubuh bagus dan berpenampilan menarik, perempuan seperti itulah yang digemari Sky. Standar pria itu cukup tinggi, ia tak mau yang "asal" seperti Gaya, mungkin pria itu takut ketularan penyakit atau apa. Gaya tahu semua mantan pacar pemuda itu, oke, anggap saja ia stalker atau secret admirer atau apapun istilahnya, seorang Skylar juga tak mempan ditolaknya begitu saja, ia juga sama dengan semua perempuan di kampus ini, mengidolakan lelaki itu, tapi bedanya ia tak dikenal Sky yang konon katanya sudah meniduri hampir separo populasi mahasiswi di seantero kampus, jadi jika pemuda itu tak peduli dengan gadis sepertinya, takkan menjadi masalah besar buat seorang Skylar. Gaya menarik nafasnya yang berat, ia berbalik dan menatap pintu kaca dibelakangnya, ada bayangan seorang gadis gendut, pendek, rambutnya yang kusam dikuncir sembarangan, wajahnya bulat, hidungnya kecil, bibirnya tipis dan mungil. "Apa yang gue punya?" Tanpa sadar ia mengucapkan satu kata yang begitu sering diucapkan setiap kali ia memandang dirinya di kaca atau apapun yang memantulkan bayangan. Karena semakin ia bertanya semakin tak menemukan jawaban. Apa yang ia punya? Nothing. Cantik? Cantik dari Hongkong! Satu-satunya manusia yang pernah mengatakan Gaya cantik adalah almarhum ibunya. Tubuh ideal? Ideal dari Arab! Gaya selalu tersinggung jika didalam angkot yang ditumpanginya ada stiker "geser dikit dong", padahal pantatnya hanya setengah diatas tempat duduk, yang setengahnya lagi mengambang diudara. "Geser buk, itu bangku lima soalnya." Pak supir memberitahu Gaya tentang kapasitas mobilnya. Sebelum Gaya sempat menangkis, ada saja orang yang akan menjawab untuknya. "Kan sudah lima bang, satu, dua, tiga, empatlima." Orang itu akan mengatakan angka empat dan lima untuk Gaya sendiri. Fuck them! Pintar? Hmm mungkin Gaya pintar memang pintar beerhitung, tapi ak bisa juga dikatakan jenius. Ia hanya mewarisi sedikit kecerdasan yang dimiliki ibu kandungnya selain itu, ia tak memiliki banyak prestasi akademis yang cukup membanggakan. Tapi, pastinya ia tidaklah bodoh. Kaya? Kaya dari empang! Seumur hidupnya, baru sekali Gaya menginjakkan kaki di Plaza Indonesia, itupun hanya mengitari seluruh lantainya, dan menempelkan hidungnya yang berminyak ke kaca toko-toko yang menjual barang-barang mewah. Setelah keluar dari Mall, Gaya yang menumpang duduk di tangga lobby utama akan diusir satpam yang galak. Gaul, modern? Palamu di Garut! Sekali-kalinya Gaya kerumah mewah temannya, ia malah disangka pembantu oleh satpam yang menagih iuran kompleks. "Bilang sama majikannya ya, besok kartunya saya ambil lagi." What the f**k man! Setiap kali memesan makanan di sebuah kafe pasti pesanannya baru datang pas tahun baru, padahal yang memesan setelahnya tak perlu menunggu lama. Entah kenapa ia gampang sekali dilupakan seseorang, padahal ia cukup besar untuk dilihat siapapun. Cerah, ceria, percaya diri, lucu? Emang ada onta di Cisarua? Gaya selalu menyembunyikan wajahnya dengan topi bertuliskan Not Gonna Work. Tidak pernah mengangkat wajahnya jika memang tak perlu. Gaya selalu menatap tanah, makanya ia sering menabrak dan tersandung. Satu-satunya hal yang berasal dari dirinya dan membuat orang-orang tertawa adalah, cara tubuh besarnya yang berayun lucu sewaktu gadis itu berjalan. Menurut Lala, sahabatnya, Gaya sama "lucu"nya dengan badut pembunuh di Friday the 13th The Series yang pernah tayang di TVRI pada dekade 90-an, karena setiap kali gadis itu tersenyum, yang terlihat adalah seringai. She has nothing, tak punya kelebihan, tak punya bakat dan tak punya sesuatu yang dibanggakan. Gaya hanya punya orangtua yang sayang kepadanya, dan adik yang baik hati, tapi sekarang itupun sudah tak dimilikinya lagi. Tak ada alasan Sky untuk tertarik kepadanya, sama sekali tak ada. *********************************************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD