One Thing Leads to Another

1436 Words
"Woi!!" Gaya terperanjat kaget ketika sebuah tepukan keras menghantam bahunya. Persis di belakangnya ada Lala, teman, kawan dan satu-satunya sahabat yang ia punya Cowok itu cengar-cengir dan mengedipkan matanya yang seperti panda karena terlalu banyak mascara. "Kira-kira dong La, lu kan dalemnya tetap aja cowok, sakit nih!" Lala tertawa melihat cewek gendut berwajah muram itu. "Jangan mengeluh anak muda, jangankan tepokan ike, jab Mike Tyson aja nggak bakalan mempan juga ke lengan lo yang segede molen ntu." "Najis!" "Hahaha. Oh my, lo udah mulai stalking sendirian, nggak ngajak-ngajak gue ya?" Lala menatap Gaya dengan pandangan menuduh sebelum melihat ke arah Sky yang kini sudah beradu kepala dengan Karenina. "Siapa yang stalking? yeee..." "Mak Ijah. Yee...elu dong say." Lala mencibirnya. Hari ini, laki-laki yang mengaku tiga kali disunat itu memakai baju kaus murah meriah berwarna kuning terang dan ketat sekali. Dua putingnya yang mungil tercetak jelas dan bisa dijadikan alternatif untuk anak kucing yang kehausan. "Ngomong-ngomong soal Skylar, lu bener nggak mau dekat dengan doi, ini detik-detik penghabisan lho?" "Emang lo pikir midnight sale lebaran. Iya bener, gue nggak mau." "Yakin?" Rambut Lala yang bermode mangkok membuat wajahnya yang kecil tampak seperti ditutupi tenda. "Seyakin gue Hitler masih hidup." "Ya sudah, berati gue pergi sendiri dong ke party-nya?" Gaya menoleh dengan cepat, ia baru saja memakan umpannya. "Party apa?" Lala mencibir. "Ye..katanya nggak mau?" "Kan tadi lo nggak menyinggung soal itu." Gaya ngeles. "Emang pesta apaan?" dan dirinya tetap penasaran. "After graduation party. Anak-anak komunikasi semuanya diundang, baik yang udah lulus ataupun yang tak berniat lulus" "Masa? perlu nyewa GBK tuh, kita kan banyak." Ada tiga konsentrasi ilmu di jurusan mereka. "Nggak tahu juga, tapi partynya di rumah Hannah, bayangin aja segede apa rumahnya?" "Pastinya nggak segede wc umum" kata gaya pelan. Hannah itu bapaknya pejabat, ibunya penjahat eh, pejabat yang korupsi maksudnya. "So, lo ikut nggak? ini kesempatan terakhir lho, mana tahu Skylar ngeh juga ama lo." Gaya mengangkat bahunya "kalaupun akhirnya dia kenal gue juga nggak ada gunanya, kita kan udah lulus." "Lulus dari status mahasiswa, tapi kan belom lulus jadi manusia, ayolah last chance nih." "Nggak deh. Gue nggka mood party party-an, pasca..." Ibunya baru satu bulan yang lalu meninggal dunia, tak pantas rasanya Gaya berhura-hura. "Oke, gue ngerti deh. Kalau gitu gue mesti nyari temen nih, siapa ya?" Lala lebih beruntung dari Gaya, masih ada yang mau berteman dengannya, jadi pria setengah zakar itu masih bisa memilih kawan. Lala yang humoris dan humble banyak disukai anak-anak di kampus mereka dan ketika mereka tak senagja menjalin pertemanan sejak di hari pertama Ospek, Gaya sudah yakin kalau hanya Lala yang hanya dimilikinya sepanjang ia menimba ilmu di universitas. "Duh,, badan gue sakit-sakit nih?" Lala ngulet-ngulet seperti lele di penggorengan, Lala si lele. "Kenapa?" "Kemaren gue dibekam, pake sapu lidi." "Lo kasur apa, digebuk sapu lidi?" "Sialan lo! gue capcus yah say, bye..." Lala berpamitan dengan dramatis, pantatnya yang tepos digoyang-goyangkan, bawahannya yang skinny, berwarna kecebong yang diblender. Kalau dijadikan judul sinetron, celana Lala akan bertitel "Ratapan Katak Tiri". ******************************************** Sesampainya dirumah, Hari sudah menunggunya diteras depan. Ada sebuah bungkusan di atas meja. "Ri, ada apa?" "Nggak, aku cuma mampir sebentar, mau nganterin ini," ia menunjuk bungkusan plastik itu, dari baunya Gaya bisa menebak bahwa itu adalah gulai kikil kesukaannya. "Oh, thanks ya." Hari tersenyum, entah sejak kapan, Hari tidak lagi memanggilnyanya dengan sebutan kakak. "Apa benar kamu nggak mau beli gaun untuk akad nikah nanti?" Gaya mengangguk. "Kita kan harus berhemat, Ri." "Oke." Lalu keduanya terdiam. Gaya belum terbiasa berdua saja dengan Hari walaupun mereka bisa dikatakan tumbuh bersama. Baginya, Hari tetaplah bagian dari Laras, Gaya akan sedikit kesusahan untuk menyatu dengannya. Entah apa yang akan terjadi pada malam pertama nanti. "Kau mau kita mengadakan syukuran?" "Nggak usah Ri, nikah di KUA cukup." "Tapi..." "Hari, ini hanya pernikahan. Nggak ada yang perlu dirayakan." Wajah Hari tak terbaca, lalu suaranya berubah pelan dan bernada rendah, "tidak buatku, pernikahan itu adalah sesuatu yang suci, dan pantas untuk disyukuri." "Aku tak ingin membicarakannya lagi, terimakasih untuk makanannya" Gaya letih, dan ia ingin beristirahat. "Aku menyukaimu Gaya, dari dulu, sejak kita pertama kali bertemu." Langkah Gaya terhenti, kunci rumah digenggamannya terkepal kuat, ia tak mempercayai pendengarannya barusan. "Apa?" Hari membalas tatapannya, mata itu tampak yakin, jujur dan tulus. Gaya muak. "Aku menyukaimu, Gayatri." Plak! Pipi Hari yang putih berubah berwarna merah, ada cap jari Gaya disana. "Jangan kau sebut itu lagi, aku tak ingin Laras menangis di dalam kuburnya." *************************************************** Suasana pestanya benar-benar semarak, mirip tempat dugem. Penerangannya dibuat temaram dan lampu disko warna-warni membuat Gaya pusing, belum lagi suara berisik musik dan orang-orang, membuat perutnya jungkir balik. Gaya duduk sendiri di pojokan, ada minuman aneh ditangannya, bewarna  biru dan Gaya merasa sedang meneguk ribuan semut. Orang-orang disekitarnya bersenang-senang dan tidak menyadari ada sebuah drum besar setengah mabuk oleh minuman yang berasa seperti air seni jerapah. Lala sudah tak dilihatnya lagi, mungkin ia sibuk mencari pria yang berpakaian lebih ketat dari dirinya. Sore hari, ia menelepon Lala dan menyatakan keinginannya untuk bergabung di pesta di rumah Hannah. Kejadian di depan rumahnya tadi membuatnya marah, sedih dan menyesal sekaligus. Setelah adegan penamparan tadi, Hari pergi dengan kepala tertekuk, Gaya bahkan tak sempat meminta maaf kepada calon suaminya itu. Emosi menguasainya, ia tak habis pikir dengan Hari yang dengan tak berperasaan menyampaikan perasaannya kepada Gaya, padahal Laras belum genap setahun meninggal. Sial! Gaya meneguk minumannya sampai habis dan efeknya luar biasa, kepalanya terasa enteng, perasaannya tiba-tiba menjadi senang, dan Gaya happy sekali. Gadis itu bergabung dengan teman-temannya yang sedang berdansa. Gaya masuk ke tengah-tengah dan menggoyangkan badannya asal-asalan dan tertawa-tawa. Setelah puas, gadis itu dengan keadaan setengah sadar bergerak ke lantai atas. ketika menemui pintu pertama ia langsung masuk dan membaringkan tubuhnya. "Hei, kau sudah datang?" Ada sebuah suara, dan sesosok tubuh mendekatinya, Gaya tidak tahu itu siapa, karena kamar gelap gulita. "Ya, aku disini," Gaya menjawabnya. Suara pria itu berat dan serak, semua bulunya merinding. "Wow" "What?" "You got big t**s baby." Kemudian, satu tangan menangkup sebelah payudaranya yang masih tertutup kaus lalu meremasnya pelan. Gaya semakin merinding. "Do you like it?" Otak Gaya berubah c***l, mungkin karena kebanyakan nonton film porno. "Hell yeah." Lelaki itu tertawa kecil. Tak terasa kaus Gaya sudah melayang, lalu branya dan sebuah kepala sudah menyeruduk begitu saja kebelahan dadanya yang empuk, Gaya mendesah keras karena ia merasakan sensasi luar biasa ketika rambut ikal sang pria menggelitik kulitnya. Putingnya dihisap, dijilat dan disentil, dan ketika isakannya semakin keras, daging itupun digigit. "s**t, that's good." Laki-laki itu tertawa seksi sekali, pemujaannya terhadap kedua p******a Gaya semakin intens. Gaya sudah tak tahu lagi apa yang sudah diperbuatnya, ia tak ingat apapun, yang ada hanyalah ia dan si pria yang kini setengah telanjang. Apa yang paling kauharapkan dari ciuman pertamamu? lembut, manis, pelan, malu-malu atau pas-pasan? Gaya juga punya kriteria yang sama, tapi pada kenyataannya, bukan seperti itulah first kiss untuknya, ciuman pria itu kasar, menggebu, panas, berair dan lidah yang sembrono. Tapi Gaya sungguh menyukainya, ia menuntut lebih dan merengek jika sedikit saja bibir menggoda itu menjauh dari bibirnya. Dipikirannya itu adalah bunyi musik gila yang berasal dari lantai bawah, tapi bukan, bunyi gedebuk itu berasal dari jantungnya dan jantung si pria ketika permainan mereka semakin menanjak naik. Bagian bawah tubuhnya sudah tak berpakaian lagi, tubuhnya sekarang ditutupi sebuah karya yang maha agung, keras, jantan dan what's the thing on my v****a? is that a baseball bat? "Kau semanis madu, sayang?" Alasan Gaya tidak pernah nonton sinetron adalah, karena ia tak suka pria yang lihai dengan kata-katanya, termasuk sembarangan mengucapkan, sayang, honey, ataupun darling kepada semua wanita. Gaya tak suka lelaki romantis, namun ketika pria itu memanggilnya "sayang" Gaya ingin mentato seluruh tubuhnya dengan kata tersebut. Tubuh-tubuh saling membelit, basah, lengket dan berbau seks. Gaya dan si pria berdansa dengan musik percintaan yang panas, cepat dan memabukkan. "Oghh...kau sempit sekali." "Apa kau bisa?" "Hahahaha..jangan kau remehkan kemampuanku, sayang." Dan.. "Aaaaaaa!!!!" Sakitnya hanya sebentar, ada yang mengalir ke paha bagian dalamnya. Setelah proses itu terlewati, selanjutnya yang dirasakan Gaya adalah candu dan ia melayang ke langit Tuhan yang tak terbatas, bermain-main di padang lavender berbau jeruk, ada banyak bunga disana dan tidak ada yang menggigit. Gayatri terus terbang bersama dewa seks berambut ikal dan terasa sangat jantan di indra pengecapnya. Mereka bermain-main, berlarian dan bergantian melompat-lompat di atas trampolin yang terbuat dari kembang gula dengan banyak gelembung-gelembung perak disekeliling mereka dan dalam masa transnya, Gaya bisa melihat wajah pria itu. "Skylar!!!" nama itu terlontar begitu saja dari mulutnya ketika o*****e menghantam kuat. Ia terengah, tubuhnya basah, wajahnya lengket oleh keringat dan air mata, jantungnya memacu cepat. Gayatri bahagia sekali. ****************************************        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD