Chapter 11 - Realita

1621 Words
“Aku tidak tahu kalau orang-orang kota besar sangat menyebalkan.” Di sini, Mika hanya bisa termenung di kursi taman yang ia duduki tadi. Di samping pemuda itu, masih ada tas ransel hitam yang berisikan pakaian dan keperluannya. Awalnya Mika senang karena melihat tasnya yang masih aman di kursi itu. Akan tetapi, keanehan mulai terasa ketika pemuda bersurai hitam ini tak bisa menemukan dompetnya untuk membeli sesuap nasi. Mika yang panik bahkan tanpa sadar mengobrak-abrik isi tasnya dan mengeluarkan baju-baju di hadapan banyak orang yang berjalan di sepanjang trotoar. Sudah empat jam sejak kejadian itu dan pemuda ini masih tak tahu harus apa sekarang. Ia melihat ponselnya lagi dan sekarang sudah menunjukkan jam 1 malam. Kalau tahu dompetnya akan ikut dicuri, harusnya Mika makan sejak tiba di stasiun tadi saja. Di sinilah ia berada, merana dalam kondisi perut kosong sejak pagi. Orang-orang yang semula banyak berjalan di trotoar sudah tak tampak lagi. Hanya pemuda itu saja yang ada di pinggir jalan sekarang. Kendaraan pun juga jadi jarang lewat karena ini sudah tengah malam. Tanpa sadar, Mika menghela nafas. Sepertinya keputusan pemuda ini untuk pergi ke kota adalah masalah besar. Namun kalau ia tak pergi mengambil artefak di rumah lama Putri, maka bisa saja alat teleportasinya untuk pulang ke Kerajaan Mimika tak bisa diselesaikan. Meskipun Mika putus asa sekarang, namun seharusnya ia tak boleh begini terus. “Ini menyebalkan. Ini memuakkan. Ini menjengkelkan,” ujar Mika dengan nada lelah. “Kalau memang Jakarta Timur masih sangat jauh dari lokasi ini, apa yang harus kulakukan? Uangku sudah tidak ada. Mungkinkah aku harus berjalan sejauh itu? Apakah masih ratusan kilometer lagi?” racau pemuda itu dengan nada lemah. Dulu saat menjadi Pangeran Mahkota saja, Mika tak pernah berjalan kaki jauh seperti rakyat biasa. Ke mana pun ia pergi, selalu ada kereta kuda yang disediakan kerajaan. Awalnya ia bahagia ketika melihat kendaraan di zaman ini begitu canggih dan cepat, akan tetapi di saat dirinya tak punya uang seperti sekarang, mana mungkin Mika bisa naik kendaraan itu? Pemuda itu terlihat menggosok wajahnya dengan frustrasi. Ia menghela nafas untuk yang ke sekian kali seraya kepalanya menengadah ke atas. Di tatapnya langit-langit penuh bintang itu seraya berharap kalau semua ini hanyalah mimpi. Beberapa saat kemudian, senyum remeh muncul di bibir Mika. “Bodohnya harapanku tadi. Kalau memang ini hanya mimpi, kenapa aku masih belum kembali juga ke duniaku setelah satu minggu lebih? Ini memuakkan!” Dengan berat, Mika pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kursi taman yang menjadi tempatnya duduk sejak tadi. Entah ke mana kakinya ini membawa ia melangkah. Pemuda bersurai hitam ini hanya merasa tak ingin lama-lama di kursi tadi karena mengingatkannya dengan segala kesialan ini. Ia harus pergi. Mika pun meraih tas ranselnya dan mencangklongnya kembali di pundak. Ia berjalan gontai ke arah barat seraya berharap kalau hari esok akan lebih baik. Besok pagi, ia harus menghubungi Riko untuk membahas pandangan masa depannya itu. Misi hari pertamanya di Jakarta gagal total. *** Suara burung yang saling bertautan mulai memasuki indra pendengaran Mika. Cahaya yang menusuk dari matahari membuat matanya menyipit dan membangunkannya dari tidur. Pemuda itu tampak mengucek-ngucek matanya seraya menguap lebar. “Pelayan, tolong ambilkan handukku! Kenapa kalian tak membangunkanku sejak tadi padahal aku ada jam pagi di Akademi hah?” ujar pemuda itu marah meskipun nadanya mengantuk. Bukannya handuk yang diserahkan padanya, ia justru dilempar dengan tas ransel berat berwarna hitam. Mika yang semula masih mengantuk itu pun langsung terperanjat kaget. Ia memelototkan mata marah untuk mengamuk pada pelayan kurang ajar tadi. Akan tetapi, sosok yang berdiri di hadapannya kini justru seorang pria tua berpakaian kumel yang menatapnya dengan ekspresi siap untuk mengamuk. “Apa?! Kau mau marah padaku hah?!” teriak pria tadi dengan garang. Untuk sesaat, Mika teringat dengan sosok Panglima Perang Kerajaan Mimika yang sama galaknya dengan orang ini. Pemuda itu terlihat meneguk ludah kasar dan mengalihkan pandangan karena gugup. “Siapa juga yang akan marah coba?” sahutnya dengan enteng. Mendengar itu, pria tua yang merupakan seorang pemulung tadi pun hanya bisa menatap Mika dengan kesal. Posisi mereka berdua yang berada di kolong jembatan membuat pria tadi merasa marah saat melihat pemuda seperti Mika masih bisa tidur di jam sembilan pagi seperti sekarang. “Berapa usiamu?” tanya pria tua itu secara tiba-tiba. Mika sendiri yang sejujurnya jijik dengan pria jorok ini hanya bisa tampak tak peduli. Padahal orang-orang yang ada di desanya Putri memiliki baju-baju bersih, tapi kenapa pria tua yang notabenenya tinggal di kota ini justru kotor seperti ini? Melihat pandangan pemuda itu yang seperti jijik dengannya, pria tua tadi pun menghela nafas panjang. Dilihat dari pakaian anak ini, ia bukan dari keluarga miskin yang tiap harinya harus memulung sampah untuk makan. Orang-orang sepertinya tak pernah mengerti bagaimana cara menghormati waktu dan orang yang lebih tua. Pria itu menghela nafas panjang. Ia malas meladeni bocah itu. “Kalau kau sudah tak ada urusan lagi di tempat ini, tolong pergi. Aku ingin bekerja dan kau menghalangi jalanku mencari uang.” Mika yang tersentak dengan ucapan pria itu langsung sadar jika ia memang tidur di pelataran toko semalam. Lokasinya berada di bawah jembatan besar yang melayang. Sepertinya di belakang kawasan toko ini ada tempat yang dimaksudkan untuk mencari uang oleh pria tua itu. “Kau tadi bilang uang?” tanya Mika dengan nada tak percaya. Ia tak kunjung pindah dari posisinya sehingga pria itu masih belum bisa lewat. “Iya, kenapa memangnya?” jawab pria itu dengan nada kesal. Mata Mika langsung berbinar. Ia sontak saja berdiri dan mencangklong tas ranselnya yang dilempar oleh pria tua dengan baju kumel ini. “A-aku butuh uang!” Untuk sesaat, pria tadi kaget. “Kau butuh uang? Orang sepertimu butuh uang?” “Eh? Apakah salah kalau orang sepertiku butuh uang, Pak Tua?” tanya Mika tak paham. Pria tua itu tampak merenung dalam-dalam. Setelah ia terdiam lama, pria itu bertanya dengan nada heran, “Di mana kau tinggal?” “Aku? Aku tidak punya rumah di sini. Tujuanku datang ke kota untuk mencari rumah kakakku. Tapi, sepertinya aku tersesat dan kemarin dompetku tercuri. Dompetku dicuri karena aku harus mengejar pencuri yang merampas ponselku. Benar-benar sial.” “Di mana rumah kakakmu?” “Itu di Jakarta Utara katanya. Kakakku pindah ke desa dan aku harus mengambil suatu barangnya yang tertinggal.” Pria tua itu rasanya mulai mengerti. Pemuda yang ia pikir awalnya sebagai anak mabuk yang tak sengaja tidur di pelataran toko sampai siang ini ternyata sedang kesusahan. Setelah ia tahu alamat yang dicari anak ini, pria tua itu mengerti kalau tempat yang dicari olehnya masih sangat jauh. Sejujurnya ia bisa membantu anak ini, tapi apakah ia mau diajak memulung sampah? “Nak, mencari uang di kota itu bukanlah suatu perkara mudah.” Mendengarkan ucapan itu muncul dari mulut pria tua ini, Mika tiba-tiba teringat dengan para tetua kerajaan yang suka berceramah soal tata krama. Sepertinya kali ini ia harus mendengarkan nasihat panjang lebar dari orang kucel ini. “Apakah kau yakin ingin ikut mencari uang dengan memulung bersamaku?” tanya pria itu dengan sorot mata serius. Mika yang masih belum mengerti apa arti memulung itu pun hanya bisa memandang bingung ke arah pria tua ini. Di desa dulu, tak pernah ada seseorang yang menyebutkan kata ini. Ia baru pertama kali mendengarnya. Meskipun begitu, Mika tanpa ragu langsung mengangguk setuju demi uang. “Aku akan ikut bersamamu karena butuh uang untuk naik kendaraan ke rumah kakakku. Jadi, iya! Aku sangat yakin dengan keputusanku!” jawab Mika dengan nada menggebu. Untuk sesaat, pria tua itu tertegun. Ia seakan merasakan ada aura terhormat yang memancar dari pemuda ini. Dirinya memiliki citra tak biasa untuk anak zaman sekarang di usia ini. Tanpa sadar, senyum pria tua itu pun terukir. “Kau berbeda ya?” “Eh? Apa maksudmu?” Mika tak paham dengan omongan pria ini. “Biasanya anak seusiamu hanya mengandalkan ego dan emosi yang menggebu-gebu. Kalian bisanya hanya tahu cara meminta dan menghabiskan uang, tapi kau berbeda. Kau punya kemauan untuk mencari uang demi tercapainya tujuanmu. Kalau begitu aku akan menunjukkan cara mencari uang padamu!” Mika tanpa sadar tersenyum simpul saat mendengarkan ucapan itu. Sejujurnya pria itu sama sekali tak salah. Ia juga sama dengan anak-anak yang dimaksudkan oleh pria ini. Dulu saat tinggal di kerajaan, dirinya juga hanya tahu cara meminta dan menghabiskan uang. Mika sama sekali tak pernah mengerti cara untuk menghasilkan uang. Yang ia tahu, dirinya selalu mendapatkan uang dari para rakyat yang membayar pajak dan upeti. Uang itu sangat banyak untuk foya-foya dan Mika selalu menghabiskan uangnya untuk membeli barang-barang. Namun, situasi berubah 180 derajat sekarang. Ia tak punya apa-apa di dunia ini. Kalau tidak mencari uang, bagaimana mungkin Mika bisa membeli dan menggunakan uang untuk bertahan hidup? “Kau terlalu berlebihan, Pak Tua. Aku ... tak sebaik itu.” Mata Mika tampak sayu saat berkata demikian. Pria tua tadi pun hanya bisa tersenyum saat melihat Mika yang merendah ini. Ia lalu mengulurkan tangan ke arah anak yang ada di depannya ini. “Namaku Agus. Senang bertemu denganmu. Sekarang, ayo ikut denganku.” Dengan senyum semringah, Mika membalas uluran tangan tadi dan mereka saling berjabat tangan. “Aku Mika Jonathan. Kau bisa memanggilku Mika.” Saat itu Mika mulai sadar jika apa yang selama ini ia banggakan di Kerajaan Mimika adalah suatu hal yang begitu berharga bagi sebagian orang. Mika selalu bangga dengan harta dan kehormatannya, tapi ia sering tak peduli dengan rakyat biasa. Meskipun Mika sering dicap sebagai orang yang memiliki rasa peduli tinggi, namun kepedulian itu hanya berlaku bagi sebagian orang saja. Ia hanya peduli pada sahabat dan keluarga. Mika masih sering abai dengan para pelayan, guru, teman lainnya di sekolah, atau pun rakyat biasa yang tak pernah berhubungan dengannya. Mulai sekarang, sepertinya ia harus bisa lebih memperhatikan orang lain saat kembali ke Kerajaan Mimika nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD