Berlari, melompat, hingga menyusur rela Mika lakukan. Degup jantungnya terus berderu sejak tadi ketika ia susah payah mengejar pencuri berkaos hitam yang telah ditanyainya seputar alamat beberapa saat lalu.
Kalau tahu akan begini, maka Mika pasti tak akan meminta bantuan pada orang b******n itu.
Pangeran Kerajaan Mimika yang memiliki rambut hitam ini tampak bersyukur karena kemampuan fisiknya masih bagus seperti dulu. Kalau bukan karena itu, pasti pemuda berusia 17 tahun itu tak bisa menyusul pencuri yang punya kekuatan lari seperti kuda ini. Ia sangat gesit bagai belut dan cepat bak kuda. Kenapa bisa ada manusia normal di zaman ini yang seperti itu?
“Sialan, aku benar-benar tak tahu ke mana lagi orang itu akan pergi!” umpat Mika dengan kesal.
Pemuda ini telah rela menyusuri trotoar sepanjang dua kilometer untuk menyusul pencuri tadi, ia bahkan nekat melompati pagar-pagar tinggi untuk mempersingkat jaraknya dengan pria tersbeut.
Akan tetapi, medan yang dilalui oleh kedua orang itu kini berganti menjadi hutan. Mereka telah pergi dari kawasan kota yang dipenuhi oleh orang. Pencuri itu tampaknya memang sengaja mencari tempat yang sepi. Cukup baik juga akalnya.
“Aku tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi!” gumam Mika dengan kesal. “Aku tak bisa terus lari. Bagaimana pun juga, harus ada cara untuk menghadang orang itu!”
Mika pun kemudian berbelok ke kanan. Ia nekat melakukan ini untuk mencari arah berputar agar bisa menghadang pria tadi. Di lain sisi, tujuannya berbelok itu adalah untuk memanipulasi lawan agar ia berpikir jika Mika tak lagi mengejarnya dan otomatis ia akan menurunkan kecepatan lari.
Dugaan Mika terbukti benar ketika pria berkaos hitam tadi mulai menurunkan kecepatan larinya. Sepertinya, orang yang merampas ponsel Mika itu berpikir jika pemuda bersurai hitam tadi sudah kelelahan mengejarnya dan membiarkan ponsel itu tercuri.
‘Mulai dari sini kecepatanku berlari harus dua kali lipat, tidak, empat kali lipat! Aku harus mengejar orang itu dan mengejutkannya dengan serangan dadakan!’
Mika membatin seraya meningkatkan kecepatan larinya lebih daripada yang tadi.
Menurut prediksi pangeran mahkota dari Kerajaan Mimika itu, jarak antara dia dan pria berkaos tersebut adalah seratus meter. Jika dirinya bisa membuat kecepatan lari sebesar empat meter per detik, maka sudah dapat dipastikan jika Mika bisa menghadang pencuri itu dalam waktu 20 detik.
Sementara itu, pencuri tadi langsung menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Ia berhenti berlari dan mencoba untuk mengobservasi sekitar.
“Dugaanku benar. Orang bodoh dari desa itu pasti sudah kelelahan mengejarku,” ujarnya seraya menatap ponsel yang ada di tangannya. “Aku tak mengira dia akan setangguh itu untuk mengejarku sejauh ini, bahkan hingga ke hutan.”
Dada pria itu terus kembang kepis karena nafasnya masih tak beraturan. Ia menghirup udara dalam-dalam untuk menetralkan jantungnya yang terus berpacu. Setelah memastikan kondisi cukup aman, pria itu pun berbalik ke arah yang dilaluinya tadi.
“Aku harus pulang lalu—“
Suara tendangan yang begitu keras langsung menggema di area hutan yang sepi ini. Pria berkaos hitam yang mulanya berdiri itu kini tersungkur ke tanah sambil menahan perutnya yang berdenyut kesakitan oleh tendangan tadi.
Di depan pria itu, ada sosok pemuda berusia 17 tahun yang telah ia curi ponselnya tadi. Sontak saja, pria itu meringis tak percaya. “B-bagaimana bisa?”
“Apa yang tak bisa, hah?! Kembalikan benda itu sekarang juga sialan!” Mika berseru marah seraya mencoba untuk meraih ponselnya di tangan pria tadi.
Namun, pria berkaos hitam ini dengan gesit berguling ke sisi yang lain sehingga ponsel Mika tak bisa raib dari tangannya. Melihat itu pun, pemuda ini langsung mendecap kesal. Ia benar-benar sudah tak bisa sabar dengan orang ini.
Pria tadi bangkit dari posisi bergulingnya dan berdiri. Ia menatap Mika dengan tatapan menantang. “Apa kau ingin benda ini?”
“Tentu saja, b******k! Apakah kau berpikir aku mengejarmu ke sini hanya untuk mengutarakan cinta padamu?” jawab pemuda itu dengan mulutnya yang tajam.
Untuk sesaat pria itu tertawa. Ia sama sekali tak mengira jika orang desa ini akan begitu berani mengejarnya dan berkata hinaan seperti tadi. Untuk sesaat, orang ini menganggap Mika sebagai suatu hal yang menarik.
Secara harfiah, tempat mereka berada sekarang bukanlah hutan asli. Tempat ini merupakan hutan kota. Hanya karena sudah malam, tidak ada pengunjung yang datang ke sini. Baik pria berkaos hitam itu atau pun Mika, mereka sama-sama melompati pagar pembatas untuk tiba di sini. Kalau sampai ada petugas yang tahu, maka urusan mereka pasti akan semakin rumit.
Pria itu pun mendecih. “Aku akan menyelesaikanmu terlebih dahulu sebelum para penjaga datang. Kau benar-benar orang menyusahkan!”
Pria itu langsung berlari secepat mungkin ke arah Mika berada sekarang untuk meninju area perutnya yang terbuka. Dengan cepat, serangan tadi langsung Mika tepis dengan kedua tangannya. Ia kemudian memelintir tangan pria berkaos hitam ini dan membanting tubuhnya ke tanah.
Pria itu meringis tak percaya untuk yang kedua akalinya. “B-bagaimana mungkin kau bisa membantingku seperti tadi? Perbedaan berat badan kita terlalu jauh!”
Senyum seringai pun langsung terukir di wajah Mika. Dia menjadi siswa terbaik di Akademi Kerajaan Mimika bukan tanpa alasan. Kemampuan otak dan fisiknya cukup unggul dibanding orang pada umunya. Jadi, kenapa pangeran mahkota ini tak bisa membereskan lalat seperti dia? Pria berkaos hitam ini sangat mudah untuk ditaklukkan.
Mika mencoba untuk meraih ponselnya kembali dan segera pergi dari sini. Akan tetapi, pria itu masih kuat menangkis tangan Mika dan berdiri kembali. Karena sudah hilang kesabaran, Mika pun ganti menyerang pria itu terlebih dahulu.
Mereka memukul dan menangkis secara bergantian dalam waktu lama. Sepertinya pria berkaos hitam yang awalnya meremehkan Mika tadi pun kini mulai waspada dengannya setelah terkena pukulan dua kali.
Mika menggemeletukkan gigi kesal. Dia dengan mudah menghadang serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh pria itu. Namun prioritasnya sekarang adalah ponsel yang dimiliknya. Pemuda itu berusaha meraihnya. Namun karena kesal melihat perhatian Mika yang terus terarah ke ponsel tadi, pria itu pun melemparkannya ke tanah. Ponsel itu kini terletak beberapa meter dari mereka berdua.
“Kau! Apa maksudmu melakukan itu hah?!” tanya Mika tak terima.
Ia mencoba berlari mengambil ponselnya, namun karena punggung Mika kini terbuka lebar, pria tadi pun memukul telak pemuda itu hingga ia jatuh tersungkur. Kini posisi mereka berbalik. Mika tersudut. Pria itu menginjaknya dengan sekuat tenaga secara berulang-ulang. Tentui saja rasanya begitu menyakitkan.
Mika berulang kali terbatuk-batuk karena merasakan tulang rusuknya seakan remuk.
“Rasakan ini sialan! Rasakan ini!” ujar pria itu dengan nada bahagia karena bisa membelaskan serangan-serangan Mika tadi.
Mika terpojok karena ia tak bisa keluar dari posisi tengkurap ini. Ditambah kaki pria berkaos hitam yang terus menginjaknya ini membuat pemuda itu tak berdaya. Perbedaan berat badan mereka terlalu jauh. Pemuda ini bisa memprediksi jika pria itu memiliki berat di atas 70 kilogram. Badannya sangat remuk karena terus diinjak sejak tadi.
Satu injakan terakhir dari pria itu sontak membuat Mika tertohok dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Untuk sesaat, kepala pemuda bersurai hitam ini berdenyut dan pandangannya mulai samar.
“Ahahaha! Rasakan itu bocah! Berani sekali anak kecil sepertimu menyerangku! Ini adalah pelajaran bagimu untuk tidak berani berurusan denganku lagi!” ujar pria tadi dengan nada bahagia.
Karena ia miris dengan kondisi Mika yang batuk berdarah itu, pria tadi pun berniat pergi dari sini. Membunuh anak muda tadi terlalu berisiko untuk dilakukan di wilayah hutan kota. Lagi pula, ini hanya perkara ponsel saja. Kalau sampai ia membunuh Mika karena benda itu, maka keterlaluan.
Pria itu pun pergi meninggalkan Mika. Tak lupa, ia mengambil lagi ponsel yang dilemparkannya tadi. Sebelum pria berkaos hitam itu pergi, ia melirik sebentar ke arah Mika yang tak berdaya dengan senyum seringai.
“Sampai jumpa, Bocah. Lain kali, jangan sombong jika kau tak ingin seperti ini. Ponselmu ini sekarang menjadi milikku ahahaha!”
Pria itu pada akhirnya mulai berjalan menjauh dari Mika Jonathan. Pemuda itu terus memperhatikan pria tadi dengan tatapan kosong yang menyiratkan rasa marah dan kesal di saat yang bersamaan. Dengan tangan bergetar, Mika mengulurkan tangannya ke arah pria itu.
Pemuda itu meratap dalam batinnya. ‘Aku tak ingin kehilangan ponselku. Kumohon! Kumohon kembalikan benda itu! Aku harus menghubungi Putri dan keluarganya di desa! Aku juga harus menghubungi Riko! Kumohon, sialan! Kembalikan!’
Mika merasa kondisinya saat ini begitu menyedihkan. Ia bahkan tak punya tenaga untuk berteriak dan menyuruh pria b******k itu untuk berhenti. Yang bisa dilakukan pemuda itu hanya meratap dalam batin.
‘Andai saja aku bisa menggunakan sihir telekinesisku, aku ingin ... sangat ingin ... untuk meraih ponselku dari tangannya! Kumohon kemarilah ponselku!’
Tanpa Mika duga, keajaiban terjadi. Ponsel yang berada dalam genggaman pria berkaos hitam itu tiba-tiba terlepas dari tangannya. Benda itu tertarik ke arah Mika dan tiba-tiba sudah ada di hadapannya yang masih tersungkur sejak tadi. Pria yang sudah berjarak 20 meter dari posisi Mika itu pun langsung membelalakkan mata tak percaya.
Ia menoleh ke belakang dan menemukan ponsel tadi tiba-tiba sudah ada di hadapan Mika. “B-bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Trik apa yang kau lakukan itu hah?!”
Pria tadi memandang Mika dengan tatapan tak percaya. Mika bisa melihat bagaimana orang itu kini kembali menuju ke arahnya dengan secepat mungkin. Sejujurnya, ia tak tahu alasan kenapa sihirnya tiba-tiba bekerja seperti tadi. Padahal saat tiba di dunia ini dulu, ia bahkan tak bisa menggerakkan kerikil kecil.
Dengan menahan rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya, pemuda bersurai hitam itu langsung berusaha bangkit dari posisi tersungkurnya tadi. Ia meraih ponselnya dan memasukkan benda itu ke dalam saku jaket.
Meskipun ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kekuatannya, namun ini adalah kesempatan bagi Mika untuk membalaskan serangan-serangan tadi. Pemuda yang kini telah berdiri itu pun kembali dihadapkan oleh pria berkaos hitam itu.
“Ini mustahil! Aku bisa melihat bagaimana ponsel itu tiba-tiba ditarik dari tanganku dan sudah ada di hadapanmu! Trik apa yang sebenarnya kau gunakan itu, Bocah?!”
“Apakah aku punya kewajiban untuk memberitahumu soal itu?” tanya Mika dengan nada suaranya yang begitu pelan. Pria tadi pun sontak mengernyit heran.
Ada yang tak beres di sini. Untuk sesaat, pria tadi bisa merasakan kalau suhu di hutan kota ini seakan turun drastis. Atmosfernya begitu berbeda sekarang.
“Sialan, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya pria itu tak mengerti. Ia kemudian dikejutkan dengan serangan Mika yang tiba-tiba.
“Mustahil! Bagaimana mungkin kau masih kuat menyerangku setelah yang kulakukan tadi?!” tanyanya tak mengerti.
Mika justru menyunggingkan senyum miring. “Ini bukanlah serangan. Aku hanya menyentuh beberapa bagian dari kulitmu.”
Meskipun apa yang dikatakan oleh Mika tadi benar, pria ini masih tak mengerti apa maksud perkataannya. Anak itu tak memukulnya dan ia hanya sekedar menyentuh pria berkaos hitam ini. Astaga, pria itu sungguh kebingungan dengan segala hal yang terjadi sekarang.
“Apa yang sebenarnya kau maksudkan, hah?” Pria berkaos hitam ini sudah tak memiliki kesabaran lagi. Ia benar-benar bingung.
Saat Mika telah menghentikan aksinya, pemuda itu pun hanya bisa memandang remeh pria tersebut dengan senyum seringai. Ia terbatuk pelan dan mengeluarkan darah. Meskipun tahu kalau kondisi Mika saat ini buruk, tampaknya pria itu tak berniat untuk menyerangnya setelah Mika melakukan hal-hal aneh tadi. Orang itu tampak waspada.
“Kau tahu, ini adalah hadiah khusus untukmu,” ucap Mika secara tiba-tiba.
Pria itu pun mengerutkan keningnya tak mengerti. “Apa yang sebenarnya kau maksud sejak tadi?”
Bukannya menjawab, Mika justru menjentikkan jarinya. Senyum seringai terpampang nyata di wajah pemuda itu. “Robek-robek kulitnya! Biarkan dia merasakan sensasi sakit!!”
Saat itu, Mika langsung menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk membuat kulit pria di hadapannya ini ditarik hingga terkelupas. Ia sengaja menyentuh beberapa bagian tubuh pria berkaos hitam itu untuk merobek kulitnya dari luar menggunakan kekuatan telekinesis.
Di sisi lain, pria itu tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia melolong kesakitan seperti serigala dan jatuh tersungkur. Sensasi kulitnya yang ditarik perlahan ini begitu menyakitkan. Ini terasa begitu pedih. Rasa lecet dari kulit terkelupas saat ini terasa seperti 100 kali lipat lebih menyakitkan. Ia berteriak minta tolong dan memohon ampun.
Namun, saat ia mencoba untuk mendongakkan kepala ke arah Mika, pemuda bersurai hitam tadi sudah tak ada di sana. Ia menghilang dan pergi dari area hutan kota ini.
“Arghhh! Sialan! Ini menyakitkan! Kenapa justru aku yang merasakan sensasi sakit ini?! Arghhhhhh!” Pria itu berteriak seraya merasakan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Ia tak bisa menggambarkan rasa sakit ini dengan kata-lata. Ini terlalu menyakitkan.
“Kau tenang saja, itu tak akan membunuhmu. Tapi, akan menyiksamu dalam dua pulut menit ke depan.”
Suara dingin yang ia kenal berasal dari bocah bersurai hitam tadi tiba-tiba memenuhi area pendengarannya. Ternyata anak itu masih berada di sini. Ketika pria berkaos hitam itu berusaha melirik ke belakang, dirinya bisa menemukan Mika yang menatapnya dengan tatapan menyedihkan.
“Rasakan sensasi sakit itu. Selamat tinggal.”
Mata pria berkaos hitam ini pun melebar. “Tidak, kumohon jangan tinggalkan aku dalam kondisi tersiksa! Kumohon hentikan semua ini! Aku meminta ampun padamu! Kumohon!”
Malam itu, di area hutan kota yang gelap ini, terdengar suara teriakan kesakitan yang begitu hebat dari seseorang yang telah salah dalam mencari musuh. Sesaat kemudian, para penjaga hutan segera tiba dan menolong pria itu. Ia berhasil selamat, namun menyisakan perasaan trauma yang mendalam.
Berita terkait penyerangan aneh ini langsung beredar di seluruh penjuru negeri melalui media. Tanpa disadari oleh Mika, kehadirannya di kota bernama Jakarta ini telah menarik perhatian seluruh orang.