Chapter 14 - Diskusi

2251 Words
“LARI!!” “LARI SECEPAT MUNGKIN!” “KITA HARUS LARI DARI SINI!” Suasana ini terasa sangat tidak asing bagi Mika Jonathan. Ia pernah berada dalam situasi serupa beberapa tahun silam saat Akademi Sihir Mimika mengirimkan dirinya sebagai salah satu regu pertolongan saat ada pembantaian klan di perbatasan kerajaan. Suasana di sana begitu kacau, ricuh, dan tegang. Sangat mirip dengan situasi yang dihadapinya sekarang. “Mika, kenapa kau justru melamun di saat seperti ini?! Ayo cepat lari!” teriak Farel seraya menggeret tangan Mika yang sejak tadi bengong melihat para Satpol PP memorak-porandakan rumah-rumah warga. Mereka bahkan tak segan menendang rumah-rumah ringkih itu dengan kaki. Karena tiba-tiba digeret oleh Farel, Mika pun tersentak dan kini ikut berlari bersama Farel dan beberapa warga lainnya. Ada banyak orang yang tinggal di kawasan liar bawah jembatan ini, bahkan kalau dihitung jumlahnya hampir 100 lebih. “A-apakah para Satpol PP yang kau maksud itu adalah orang-orang dengan pakaian hijau gelap di belakang?!” tanya Mika tak mengerti. Farel mengangguk. Ia memaklumi kalau Mika tak tahu apa itu Satpol PP karena pemuda yang sudah dianggapnya adik ini terkena amnesia. “Pokoknya, kita harus lari! Mereka akan menangkap dan menghukum kita sebesar-besarnya!” Mata Mika melebar tak percaya. “Tapi apa salah kita? Kita bahkan tak mengganggu orang lain! Bagaimana mungkin orang-orang itu menangkap dan menghukum kita tanpa suatu alasan?!” “Aku akan menjelaskannya nanti! Untuk sekarang, kita lari dari sini!” teriak Farel seraya berusaha secepat mungkin lari meskipun nafasnya tersengal-sengal. Mika tahu betul kalau kemampuan fisik pemuda yang ada di depannya ini memang lemah. Ia pasti tak terbiasa lari seperti ini sehingga jantungnya terasa seperti akan meledak. Saat menoleh ke belakang, sosok pangeran dari Kerajaan Mimika itu dapat melihat kalau para Satpol PP semakin dekat dengan posisinya. Ini tak bisa dibiarkan. Kalau para Satpol PP itu berhasil menangkap mereka, maka bahaya. Dan semuanya menjadi kacau ketika Farel tiba-tiba tersandung dan jatuh. Mika yang kaget pun tak sengaja menubruknya lalu terjatuh bersama. Beberapa orang tampak berlari secepat mungkin meninggalkan mereka berdua yang jatuh. Mika yang langsung bangkit dari posisi jatuhnya pun menyadari kalau ia dan Farel kini adalah orang yang paling dekat jaraknya dengan para anggota Satpol PP. Ini tak bisa dibiarkan. Dengan wajah panik, pemuda itu berusaha menggoyangkan tubuh Farel. “Woi Farel! Ini gawat! Ayo cepat berdiri! Posisi kita sangat dekat dengan para orang-orang Satpol PP itu!” Nafas Farel seolah langsung tertahan. Ia memandang ngeri ke arah belakang, di mana belasan Satpol PP kini berlari menuju ke arahnya. Dengan tertatih-tatih, pemuda berusia 22 tahun itu bangun dibantu Mika. “Ayo, kita harus cepat lari!” ujar Mika yang langsung dibalas anggukan oleh Farel. Namun saat kedua orang itu mulai menjangkahkan kaki beberapa langkah, para Satpol PP itu melempari keduanya dengan batu kecil. Wajah para petugas itu tampak memerah karena rasa kesal dan emosi. “Sialan! Berhenti kalian berdua!” Mika langsung menggemeletukkan gigi emosi. Ada darah yang merembes di bagian keningnya, begitu juga dengan Farel. Meskipun begitu, orang-orang tua tadi tak menghentikan aksi pelemparan batu mereka. “Bukankah aku sudah bilang berulang kali untuk tidak membangun tempat-tempat kumuh di lokasi ini?! Kenapa kalian masih bandel hah?!” teriak salah satu anggota Satpol PP. Karena sudah tak tahan dengan aksi mereka, Mika pun langsung menghentikan langkahnya. Meskipun ia dan Farel terus berlari, keduanya akan tetap terkena batu dari para Satpol PP itu. Ini menyebalkan. Ia tak bisa tinggal diam saja jika terlibat dalam hal ini. “Mika?!” teriak Farel dengan muka syok. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berhenti?!” Farel sendiri juga langsung berhenti berlari. Ia memandang Mika dengan tatapan tak percaya. Namun anehnya, saat dua pemuda ini berhenti berlari, para Satpol PP itu berhenti melempari mereka dengan batu. Belasan aparat itu justru semakin mempercepat langkah kaki mereka. Wajah Farel semakin menunjukkan ekspresi ngeri. “Mika, kalau kita tetap diam di sini, maka orang-orang itu akan dengan mudah menangkap kita berdua!” “Aku tak peduli!” “A-apa?” Tentu saja Farel terperangah. Apa yang salah dengan otak anak ini? “Aku tak peduli kalau mereka menangkapku, tapi bukankah ini sudah keterlaluan?!” tanya Mika pada Farel dengan wajah marah. “Mereka memperlakukan kita seolah kita ini penjahat, bahkan orang-orang itu tak segan menyerang kita berdua! Aku yakin beberapa dari penduduk kawasan ini tadi juga terkena lemparan batu!” “T-tapi, bukan berarti kita harus berhenti dan berdiri di sini seolah menentang orang-orang itu kan?! Paling tidak, ayo sembunyi!” ujar Farel dengan ekspresi peduli. Saat itu Mika yang memandang penuh emosi kepada para Satpol PP yang menghampirinya hanya bisa menghela nafas panjang. Dengan senyum tulus, ia menoleh ke arah Farel yang berada di belakangnya. “Terima kasih atas bantuanmu selama beberapa hari ini. Tapi, kurasa ini sudah cukup. Kau punya hak untuk lari dari tempat ini sekarang juga mumpung masih sempat. Aku tidak akan pergi dari sini!” Farel semakin keheranan. Mengabaikan rasa sakit dari darah yang mengalir di pelipisnya, pemuda ini memandang Mika dengan wajah tak percaya. “Apa kau bercanda?! Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dan ditangkap oleh orang-orang itu?!” Senyum seringai terukir di wajah pemuda berusia 17 tahun ini. “Jadi, kau akan tetap di sini bersamaku?” Muka Farel tampak menunjukkan keraguan. Namun sebelum ia sempat mengucapkan satu patah kata, para Satpol PP kini telah menyergap mereka berdua. Ada sebelas orang berseragam hijau tua yang kini mengepung Farel dan Mika. Dengan kata lain, dua pemuda itu tak punya jalan untuk kabur sekarang. “Kalian tak bisa lari lagi!” ujar salah satu Satpol PP. “Aku tak tahu alasan kenapa kalian masih bisa berdebat tadi, tapi sekarang, kalian harus kami bawa ke kantor!” sambung Satpol PP lain sembari berjalan mendekati Mika. Senyum remeh justru tersungging di wajah Mika Jonathan. “Sebelum itu, bisakah aku mengajukan beberapa pertanyaan?” Wajah sebelas orang Satpol PP yang ada di sini tampak kebingungan. Melihat tak ada respons berarti yang mereka tunjukkan, Mika pun berasumsi kalau pertanyaannya tadi diizinkan. “Pertama, apa alasan kalian menangkap kami padahal kami tak melakukan kesalahan apa pun?” Pertanyaan pertama dari Mika itu langsung dibalas oleh gelak tawa. “Kenapa kau masih menanyakan hal itu, Nak? Bukankah sudah jelas jika kesalahanmu adalah mendirikan rumah tanpa izin di tanah negara yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk taman dan sebagainya?” Saat dijawab seperti itu, Mika tampak merenung. Apa yang dikatakan oleh Satpol PP ini benar juga. Saat di Kerajaan Mimika dulu, ayahnya juga pasti akan memerintahkan para pengawal untuk membongkar rumah penduduk yang didirikan tanpa izin di tanah kerajaan. Dia tampak menghela nafas. “Aku ingin mengajukan pertanyaan kedua. Apa maksud kalian menyerang kami seperti tadi? Kenapa kalian tak memberitahukan kami baik-baik dan justru memberitahu lewat cara kekerasan?” Seketika, senyum seringai langsung terpampang nyata di wajah mereka. “Apa maksud pertanyaanmu itu? Bukankah cara kekerasan adalah cara terbaik untuk memberitahu orang-orang bodoh seperti kalian yang bahkan tak izin mendirikan rumah di tanah pemerintah?” Farel mulai merasakan kalau situasi di sini semakin terasa panas. Wajahnya dengan panik memandang para petugas. “T-tuan, tuan! Mohon maafkan pertanyaan aneh dari teman saya. Dia adalah korban kecelakaan yang mengalami amnesia sehingga tak mengerti beberapa peraturan dan istilah. Dia benar-benar tak tahu apa-apa!” Melihat Farel yang ikut campur, Mika pun langsung memandang tajam ke arahnya. Saat itu juga, para Satpol PP justru tertawa keras. Salah satu dari mereka, tampak maju lebih dekat ke arah Mika dan mengobservasi pemuda berusia 17 tahun ini. “Pantas saja aku merasa dirimu sangat aneh.” Perhatian Mika kini teralih menuju Satpol PP yang berdiri di hadapannya. “Apa maksudmu?” “Kau terlalu arogan untuk menjadi salah satu dari kelompok gembel ini. Dirimu juga terlihat lebih cerdik dan berani menanyai kami seperti tadi,” ujar petugas dengan nama Bagus di bajunya itu. “Lalu, ada masalah dengan itu semua?” “Tidak, tidak ada masalah,” jawab pria bernama Bagus ini dengan santai. “Pada akhirnya kau juga akan tetap kutangkap dan diberi hukuman.” “Aku menolak untuk kalian tangkap!” ucap Mika dengan lantang dan berani. “Ini sangat tidak adil. Kalian bahkan tidak memberitahu kami secara baik-baik untuk meninggalkan wilayah ini dan justru melakukan cara kekerasan!” Pria bernama Bagus ini tampak emosi. Farel yang memperhatikan itu semua hanya memandang cemas. Ia takut dengan apa yang terjadi selanjutnya. “Sejak tadi aku sudah bersabar menghadapimu, tapi kenapa sikapmu semakin menjadi-jadi hah?!” teriak Bagus dengan nada tak terima. “Kenapa memangnya? Kenapa kalian marah hanya karena hal ini? Apakah kalian tersinggung dengan ucapanku? Lagi pula, setelah kalian menghukum kami lalu apa? Apakah kalian akan memberikan kami rumah dan uang? Tidak kan?” Mika mengajukan pertanyaan bertubi-tubi yang tak bisa dijawab oleh para Satpol PP ini. Pemuda berusia 17 tahun itu langsung memandang mereka semua dengan tatapan tajam. Ia melanjutkan, “Pada akhirnya, bukankah ini akan menjadi lingkaran setan? Kalian menangkap kami, kami dihukum, setelah itu dibebaskan, karena tak bisa apa-apa maka kami pun kembali mendirikan rumah di tanah pemerintah, dan kalian akan kembali menangkap kami. Ini semua tak berguna. Kenapa kalian menghabiskan waktu untuk mengurus orang miskin seperti kami?!” Dan saat itu juga, suara tinju langsung terdengar. Farel membulatkan mata tak percaya ketika melihat petugas Satpol PP yang berdiri di hadapan Mika tadi langsung meninju perut pemuda itu. “Mika!!” teriak Farel dengan spontan. Sialnya bagi Mika karena ia tak bisa memprediksi gerakan pria bernama Bagus ini. Pemuda itu tak mengira ia akan ditinju sekuat tenaga seperti tadi. Dirinya yang kini jatuh tersungkur di tanah pun hanya bisa meringis menahan sakit. ‘Bagaimana mungkin kemampuan bertarungku yang dikenal hebat di Kerajaan Mimika seperti tak berguna di negara ini?! Lagian, kenapa bisa tinju petugas Satpol PP ini tadi terasa begitu kuat? Apa yang salah dengan orang-orang di zaman sekarang?!’ Batin Mika menjerit frustrasi. Ia berpikir kalau dirinya tampak menyedihkan saat ini. “Cepat tangkap mereka berdua! Robohkan seluruh tempat yang ada di sini lalu kita kembali ke kantor!” teriak Bagus dengan emosi. Para Satpol PP lain pun dengan kompak menjawab, “Siap, Kapten!” Pada akhirnya Mika dan Farel tertangkap. Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika digiring menuju mobil Satpol PP. Mobil yang belakangnya dibentuk seperti sel tahanan ini langsung dikunci dari luar. Saat para petugas Satpol PP itu kembali menuju lokasi pemukiman kumuh untuk membongkar paksa bangunan-bangunan tadi, Mika pun tak kehabisan akal. Ia menoleh ke arah orang-orang yang berada dalam mobil ini. Total ada sekitar 20 orang yang ditangkap. Mika memperhatikan mereka dengan saksama. “Aku punya cara agar kita bisa kabur dari sini!” Ucapan Mika itu langsung membuat perhatian seluruh orang tertuju padanya. Farel yang berada di samping pemuda itu langsung memandang Mika dengan kaget. “Apa yang kau rencanakan? Mustahil untuk pergi dari sini! Lihat, pintu itu digembok dan dikunci dari luar!” ucap pemuda itu sambil menunjukkan gembok kunci. Belasan orang lain langsung mengangguk setuju dengan perkataan Farel. Mika berencana akan menggunakan kemampuan sihirnya untuk menghancurkan gembok itu. Ia akan berusaha agar para Satpol PP maupun orang-orang di sini tak melihatnya saat menggunakan sihir. Bisa makin gawat kalau ia ketahuan punya kemampuan seperti ini. “Kalian tak perlu khawatir, aku akan menghancurkan gembok ini! Ini adalah masalah waktu, jika aku makin cepat menghancurkan benda ini, maka kalian bisa kabur tanpa diketahui oleh para Satpol PP!” Mika mengatakan hal tadi dengan serius. Farel tampak memandangnya ragu. “Apa kau yakin bisa melakukannya?” “Ya!” ujar Mika dengan mengangguk pasti. “Tapi, kalian semua harus berjanji padaku tentang satu hal.” “Apa itu?” “Ya, Nak, janji apa itu?” “Katakan pada kami secepatnya!” Saat itu juga, senyum Mika langsung mengembang lebar. Ia menatap mereka dengan ramah. “Berjanjilah padaku agar kalian bisa hidup lebih baik daripada saat ini. Usahakan sebisa mungkin tak melakukan kegiatan ilegal yang bisa berurusan lagi dengan para Satpol PP. Apa kalian bisa berjanji dengan hal itu?” Untuk sesaat, semua orang terlihat ragu. Mika yang melihat ini pun hanya bisa menghela nafas panjang. Akan tetapi, daripada memikirkan hukuman apa yang akan didapatkan mereka nanti dari para Satpol PP, dua puluh orang yang berada di dalam mobil ini pun mengangguk setuju termasuk Farel. Saat itu juga senyum Mika semakin lebar. “Bagus!” Dengan secepat yang ia bisa, Mika langsung berganti posisi dengan Farel yang duduk di pinggir pintu. Ia tampak mengulurkan tangan ke luar dan menyentuh gembok ini. Mika pun memejamkan mata seraya membatin, ‘Kumohon! Kumohon! Aku sangat terdesak. Aku tak ingin Satpol PP gila itu menangkap kami semua! Jadi, kumohon agar sihirku bisa menghancurkan gembok ini!’ Saat Mika membuka mata, ia langsung tersenyum bahagia ketika gembok ini berhasil terbuka. Orang-orang lain pun juga langsung bahagia. Mereka dengan cepat turun dan pergi dari tempat ini. Mika dan Farel adalah orang yang terakhir turun. Sebelum melangkahkan kaki, Mika memanggil Farel. “Berjanjilah untuk melaksanakan janji yang kau ucapkan tadi!” Dengan semangat, Farel mengangguk. “Aku berjanji. Jadi, ayo kita pergi dari sini!” Melihat Farel yang mulai berlari, Mika pun ikut tersenyum. Ia senang karena kekuatan sihirnya ternyata bisa berguna. Dengan semangat, Mika pun mulai berlari dari sana. Namun, saat pemuda itu mulai melangkahkan kaki, ia tertembak dengan senapan gas. Pemuda itu tersungkur di tanah. Mata Mika melebar tak percaya karena rasa kaget. Ia mendengar ada langkah kaki yang berlari cepat ke arahnya. Saat pemuda itu mendongakkan kepala, petugas Satpol PP bernama Bagus yang menangkapnya tadi telah berdiri di hadapannya dengan senyum arogan. “Jangan harap kau bisa lari, Bocah.” Sial, kenapa jadi seperti ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD