Chapter 15 - Bantuan

1439 Words
Jika ada orang yang bertanya tentang hidup, maka ada beragam jawaban yang akan muncul. Hidup ini pada dasarnya punya dua sisi. Sisi depan dan belakang. Selama Mika Jonathan berada di dunia baru ini, ia telah mempelajari apa arti hidup lebih banyak daripada siapa pun. Selama lima hari ia ditahan di salah satu kantor Satpol PP daerah Jakarta Pusat, dirinya mulai belajar banyak hal dalam memandang suatu kejadian dari dua sudut pandang. Ia memperhatikan segala hal selama berada di sini. Pada dasarnya, orang-orang berseragam hijau tua yang menyebut mereka sebagai seorang petugas ini hanya melaksanakan kewajiban dalam pekerjaannya. Mereka menghancurkan rumah, bersikap kasar, dan lainnya semata untuk memberikan efek jera bagi para masyarakat agar tak mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Meskipun aksi Satpol PP dirasa begitu spontan dan suka mengedepankan otot daripada pikiran untuk membicarakan masalah baik-baik dengan para warga, tapi segala tindakan mereka murni karena pekerjaan saja. Mereka tidak sejahat apa yang ada di pikiran Mika sebelumnya. Kalau Farel ada di sini, mungkin pemuda itu juga berpikir demikian. Membicarakan soal Farel, malam itu ia benar-benar berpisah dengannya. Pemuda berusia 22 tahun itu lari terlebih dahulu dan memang tak tahu kalau ia tertembak oleh senapan gas Satpol PP. Dari 20 orang yang ia tolong untuk bebas dari mobil Satpol PP, semuanya tak ada yang tahu kalau Mika berakhir seperti sekarang. Ini menyebalkan. Ia berhasil menolong orang, tapi ia juga yang harus menerima getahnya. Kalau ini adalah Mika yang dulu, maka sudah pasti dia akan mengamuk dan menemui orang-orang yang ia bebaskan tadi lalu mengancamnya dengan kekuatan sihir agar mereka memohon ampun. Yah, Mika hanya berharap jika 20 orang itu bisa menepati janji yang mereka buat dengannya. Pagi ini Mika tampak mengelap kaca-kaca yang ada di kantor Satpol PP. Di luar tampak hujan gerimis terus membasahi Jakarta sejak pukul dua pagi tadi. Hawa dingin ini entah kenapa terasa begitu menyejukkan bagi Mika. Selama ada di sini Mika belajar mencermati sistem kerja para Satpol PP itu. Ketika mereka menangkap orang, biasanya orang itu akan diberi kesempatan untuk menghubungi sanak keluarga. Kemudian, keluarga mereka akan datang untuk menebusnya. Pada dasarnya ini adalah politik uang. Tapi, untungnya para Satpol PP hanya memberlakukan aturan itu untuk kasus penangkapan anak-anak orang kaya yang membuat kegaduhan di masyarakat, seperti mabuk, tawuran, atau pun balapan liar. Pemuda berusia 17 tahun ini pun menghela nafas. “Karena aku tak punya tempat untuk pulang dan tak ada yang menebusku, akhirnya aku ditahan di tempat ini selama lima hari lamanya. Astaga, segala rencanaku di kota ini pada akhirnya hancur.” Mika merenung dengan putus asa. Ia tiba-tiba kehilangan semangat. Setelah mengelap kaca terakhir yang ada di kantor ini, pemuda itu bersusah payah menggotong ember berisikan air untuk dibuang. Ia memandang sendu ke orang-orang yang ditebus oleh keluarganya untuk dibawa pulang. Setelah membuang air tadi, Mika duduk seorang diri di kursi tunggu yang ada di bagian dalam kantor ini. Ia melamun dengan pandangan kosong. Melihat keluarga-keluarga yang memarahi anak mereka karena tertangkap oleh Satpol PP ini mengingatkan Mika dengan sosok ayah dan ibunya yang senantiasa marah saat ia mengacau. Kalau boleh dibilang, Mika sangat rindu dengan mereka meskipun keluarganya selalu memarahi pemuda ini. Ini menyebalkan. Melihat pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak. Ia ingin segera kembali ke Kerajaan Mimika dan menemui keluarganya. “Kenapa dirimu terlihat sangat menyedihkan, Bocah?” Suara itu membuat Mika terperanjat kaget. Ia mendongak dan melihat bagaimana petugas bernama Bagus yang membuatnya kesulitan tempo hari telah berdiri di hadapannya. Orang itu lalu mendudukkan diri di samping Mika. “Tidak, aku tidak apa-apa, Pak Bagus,” elak Mika seraya menggeleng pelan. Ia menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya. “Kau sendiri? Tak bertugas?” “Tidak, hari ini aku tidak mendapatkan tugas apa-apa dari pusat. Mungkin nanti malam, aku juga tak tahu. Biasanya ada kegiatan mendadak yang berasal dari panggilan masyarakat juga.” “Oh, begitu.” Suasana di antara mereka berdua menjadi hening. Mika masih melamun dan menatap kosong lantai di bawahnya. Bagus yang menyadari kalau anak ini begitu menyedihkan pun hanya bisa menatapnya prihatin. Ia punya anak yang beberapa tahun lebih muda dari Mika. Melihat anak berusia 17 tahun yang lontang-lantung tak tahu harus ke mana ini membuatnya trenyuh. Dari pakaian Mika yang dikenakannya sekarang, ia tampaknya bukan berasal dari keluarga miskin. Pemuda ini memulung karena terpaksa dan tak tahu harus apa. Seingatnya Mika juga pergi bekerja sebagai kuli bangunan setiap malamnya. Anak ini sungguh pekerja keras. Saat melihatnya memakai baju kucel seperti kemarin, aura milik anak ini tidak begitu menguar. Namun Bagus langsung menyuruhnya mandi dan mencuci baju setelah diinterogasi beberapa hari lalu. Begitu Mika mandi dan memakai baju bersihnya yang lain, pemuda ini semakin menampilkan aura orang berada alias kaya. Apalagi setelah Bagus melihat ada merek ternama di kerah baju anak ini, dugaannya yang mengira kalau Mika berasal dari golongan orang kaya semakin kuat. “Bocah, kemarin kau bilang kakakmu adalah seorang dokter kan?” tanya Bagus secara tiba-tiba. Mika yang ditanyai begitu pun langsung mengangguk. Saat diinterogasi kemarin, ia memang bilang kalau kakaknya adalah seorang dokter ternama sedesa. “Apakah dia kaya?” “Ehm, entahlah. Aku tidak tahu kekayaannya berapa. Kenapa juga kau peduli dengan kekayaan orang lain? Kau iri?” tanya Mika dengan matanya yang menatap heran ke arah Bagus. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut tajam Mika, Bagus pun sontak tersenyum canggung. Anak ini memang sering kali tak menunjukkan adanya sopan santun dalam segala perilakunya. Ini semakin mempertegas prasangka Bagus kalau Mika adalah orang kaya. Bicara soal Mika yang berkata tidak tahu tadi, ia jadi teringat kalau teman bocah ini pernah berkata jika Mika mengalami amnesia dan tak ingat beberapa hal. Ini jelas sekali sih. Perilaku anak ini aneh. Ia sering bertanya beberapa arti kata yang terasa baru dan suka mencermati perilaku orang agar dia bisa menirunya dan belajar dari sana. “Kalau soal amnesiamu, apakah kau mulai mengingat hal-hal penting lainnya?” Mika pun tersentak. Ia baru ingat kalau semua orang yang ada di sini mengiranya amnesia. Meskipun awalnya ia enggan mengakui perkataan bodoh yang keluar dari mulut Farel itu, dirinya terpaksa mengaku amnesia agar tak dibuat repot oleh para Satpol PP ini. Ketika ditanyai seperti tadi oleh Bagus, Mika pun menggeleng pelan dengan ekspresi putus asa yang dibuat-buat. Bagus pun mengangguk paham. Ia kemudian berdiri dan mengulurkan tangan ke arah pemuda ini. “Begini saja, kau sudah berperilaku baik selama 5 hari di tempat ini. Aku kasihan melihatmu yang lontang-lantung tanpa arah seperti tadi. Karena itu, aku akan membebaskanmu,” ujar Bagus dengan tersenyum lebar. Mika terperangah kaget mendengar itu semua. “Kau tidak bercanda?!” “Tentu saja tidak. Sebagai bonus karena membersihkan kantor setiap hari, bagaimana jika aku mengantarkanmu ke rumah lama kakakmu yang ada di Jakarta Utara? Tujuanmu ada di kota ini untuk pergi ke sana kan?” Mika benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Astaga, apakah ia bermimpi? Dia bisa pergi ke lokasi rumah lama Putri tanpa mengeluarkan sepeser uang pun. Akhirnya ada juga imbalan yang ia dapatkan sebagai babu di tempat ini. Padahal saat merenung tadi, Mika ingin kabur diam-diam nanti malam. Siapa yang akan mengira kalau Bagus akan memberinya tumpangan seperti ini? Dengan semangat, Mika pun mengangguk. “Ya! Ya! Aku mau! Kapan kita berangkat?” “Karena pagi ini aku tak mendapat tugas, kita akan berangkat saat ini juga. Lebih cepat lebih baik kan? Meskipun di luar hujan, kita bisa gunakan mobil nanti.” Mika benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia sontak berdiri dan mengentakkan kaki kanannya ke tanah dengan begitu keras karena semangat. Saat itu juga, sensasi seperti tersetrum langsung menghunjam tubuh Mika. Astaga, ia lupa kalau betis kanannya masih sakit karena terkena tembakan senapan dari Satpol PP ini. Segala sumpah serapah pun dengan indah keluar dari mulut pemuda ini. “Argh sialan. Aku lupa kalau kakiku masih sakit. b******n. Tidak jadi bahagia kan? Aduh, aduh!” keluh pemuda itu seraya duduk kembali ke kursi tadi. Ia mengelus kakinya yang ngilu. Bagus yang melihat semua kejadian tadi pun hanya bisa menghela nafas. Ia sedikit bersalah juga karena telah menembaknya tempo hari. Tapi, apa boleh buat kan? Itu ia lakukan agar Mika tak kabur. Pria berseragam Satpol PP ini hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sumpah serapah yang keluar dari mulut pemuda yang duduk di depannya. Bagus pun mendengus. “Sudahlah, jalan lebih hati-hati! Kemasi barang-barangmu dan kita pergi sekarang!” “Siap, Kapten!” Hari ini Mika kembali tak tahu harus bersyukur seperti apa lagi. Ia kembali dipertemukan dengan orang baik yang menolongnya meskipun ada saja rintangan yang dilalui pemuda ini. Pangeran dari Kerajaan Mimika itu hanya bisa berharap kalau selama di Jakarta Utara nanti ia bisa hidup normal, mencari artefak di rumah Putri, lalu pulang. Semoga saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD