Chapter 18 - Sandiwara

1942 Words
Beberapa hari yang lalu, saat Pak Agus mentraktir Mika makanan. “Ini adalah tempat makan yang kumaksud tadi. Ayo masuk dan kau akan kubelikan semangkok bakso!” ujar Pak Agus, si pemulung baik hati. Mika yang memang sejak awal sudah bahagia karena mendapat makanan gratis pun langsung semringah. Ia dengan semangat berjalan mengikuti pria tua di depannya yang berjalan memasuki tenda terpal. Di sebelah tenda ini ada gerobak berwarna coklat yang bertuliskan ‘Bakso Udin’. Saat dua orang itu masuk ke dalam, ada seorang pria dengan rambut dibelah tengah yang sibuk menelepon seseorang sambil mencincang kubis. Dia duduk di kursi paling pojok. Pria bermata sipit ini tampak menautkan alis tajam. Samar-samar, Mika yang masih berjalan di belakang Pak Agus bisa mendengar suara orang itu. Dia berujar, “Aku mengerti. Lakukan sesuai misi. Kita akan menangkap manusia kanibal itu sebelum dia melakukan hal-hal aneh. Kalau perlu cincang dia!” Wajah Mika memucat. Tadi ia tak salah dengar kan? Kenapa orang yang sibuk mengiris kubis ini berbicara soal kanibal dan cincang-mencincang di warung makan? “Duduk sini, Nak,” ujar Pak Agus yang langsung membuat Mika tersentak kaget. Dia yang bengong pun langsung terduduk kaku di depan pria itu. Pria tua yang telah menolong Mika ini pun memanggil orang yang sibuk mengiris kubis tadi. Reaksinya yang terkejut semakin membuat dugaan Mika menjadi beraneka ragam. Orang itu berjalan menghampiri mereka berdua sambil membawa pisau besar. Warung bakso dadakan yang sepi ini semakin membuat degup jantung Mika tak karuan. Beragam spekulasi liar muncul di pikirannya. Ia yang ketakutan kalau orang ini adalah seorang pembunuh pun hanya bisa menatapnya diam-diam dengan tatapan ngeri. Pemuda itu pura-pura tak tahu soal yang didengarnya tadi daripada hal buruk terjadi. “Pak Udin, aku pesan bakso spesial dua ya! Esnya es teh saja.” Pria aneh itu tersenyum mendengar perkataan Pak Agus. “Baik, aku akan segera buatkan.” Setelah mengucapkan hal tadi, pria yang rambutnya dibelah tengah itu pergi meninggalkan Mika dan Pak Agus. Pemuda berusia 17 tahun itu justru asyik mengobservasi orang mencurigakan tadi daripada mendengar perkataan Pak Agus yang ada di depannya. “Mika, apa yang kau lamunkan?” Pemuda ini langsung gelagapan. Ia menatap pria tua itu sambil mengibas-kibaskan tangan ke arah Pak Agus. “Ah, bukan apa-apa. Bukan hal yang penting kok.” “Benarkah? Kalau ada hal yang mengganjal, beritahu saja padaku.” Mendengar penuturan dari pria tua yang murah hati ini pun, Mika langsung tersenyum simpul. Dia tiba-tiba terpikirkan suatu hal. “Ngomong-ngomong, bakso itu apa?” “Kau belum pernah makan?” tanya Agus kebingungan. “Serius?” “Ya, kenapa pula aku harus berbohong?” Pak Agus tampak kebingungan. “Pada dasarnya, bakso itu adalah gumpalan daging.” Wajah Mika semakin pucat. Ia tiba-tiba teringat dengan perkataan aneh pria bernama Udin tadi di telepon. Dengan gagap, Mika bertanya pada Agus. “K-kau bilang gumpalan daging?” “Iya, itu adalah perpaduan gumpalan daging dan tepung yang dibentuk bulat-bulat lalu disiram menggunakan kaldu panas. Kita bisa memberi makanan itu dengan bumbu saus, kecap, dan sambal yang ada di meja ini. Untuk lebih jelasnya, nanti kau bisa lihat saat makanan itu datang.” Degup jantung Mika semakin tak karuan. Ia melirik ke arah pria bernama Udin tadi yang tampak berjalan ke sini. Wajah pemuda berusia 17 tahun ini pun semakin memucat ketakutan. Udin memberikan semangkok bakso di hadapan Mika. Saat itu, mata pemuda ini langsung membulat tak percaya. “Ini dia baksonya. Silakan dinikmati.” Hari itu Mika merasakan mual untuk yang pertama kalinya dalam seumur hidup. Aroma daging yang menusuk hidungnya langsung membuat pemuda itu menutup wajah. Ia berlari gontai ke luar tenda dan memuntahkan isi perutnya yang memang kosong sejak tadi pagi. Mika Jonathan yang awalnya bahagia karena bisa mendapat makan gratis hari itu harus menerima fakta kalau nafsu makannya langsung hilang seketika. Sangat menyebalkan. Kilas balik itu pun berakhir. Ingatan yang tiba-tiba muncul di pikiran Mika tadi membuatnya diam merenung. Pemuda itu memandang ke arah Pak Udin asli yang kini berada di hadapannya. Pria ini tampak berusia 30 tahunan dengan tatapan datarnya yang mirip dengan prajurit-prajurit kerajaan. Dua laki-laki itu kini telah berada di dalam tempat yang dikira Mika sebagai toko tadi. Mereka tidak lagi mengobrol di luar melainkan di dalam warung karena Pak Udin bilang tak mau ada orang yang mendengarkan percakapannya. Mereka telah menghabiskan waktu sejam lamanya untuk saling berbincang. “Jadi, kau benar-benar bukan pembunuh atau pun penyihir karena berteleportasi ke tempat ini?” Udin yang mendengar itu langsung menghela nafas. “Bukankah aku sudah berulang kali bilang jika aku manusia normal?” Mika hanya bisa merenung. “Lantas kenapa kau bisa ada di Jakarta Utara juga? Bagaimana warungmu di daerah Pusat?” “Hm, kalau kau bertanya kenapa aku bisa ada di sini maka jawabannya sama denganmu. Apa kau akan menyebut dirimu sebagai seorang penyihir ketika kau sama-sama pindah ke sini?” tanya Udin dengan sarkasme. Lidah Mika kelu. Apa yang dikatakan orang ini benar juga. Ia juga sama-sama di sini tapi bukan berarti dia penyihir yang bisa menggunakan teleportasi. Meskipun pada dasarnya pemuda ini memang penyihir. Tak mau kalah, Mika langsung menanyakan hal lain. “Lalu saat itu kenapa aku mendengar kau berkata soal manusia kanibal dan cincang-mencincang saat aku datang ke warungmu di Jakarta Pusat?” Mendengar perkataan Mika tadi, pria bernama Udin ini langsung membulatkan matanya kaget. “K-kau mendengar aku berkata seperti itu?” “Ya! Rasanya aneh kalau kau masih mempertahankan egomu dan membohongiku kalau kau hanyalah pedagang bakso biasa!” cerca Mika dengan wajah angkuhnya. Udin mulai kebingungan mencari alasan. Akan tetapi, dia telah menjadi seorang agen intel dalam waktu yang lama. Dirinya tak akan membiarkan bocah bau kencur seperti Mika tahu identitas aslinya. Bisa gawat nanti. Lagi pula, keberadaannya di Jakarta Timur masih panjang. Ia harus menangkap bandar narkoba yang sembunyi di sekitar kawasan ini. Mendengar pertanyaan Mika tadi, pria ini tiba-tiba teringat dengan penangkapan pelaku manusia kanibal yang melakukan ritual sesat di Jakarta Pusat beberapa minggu yang lalu. Ia sama sekali tak mengira jika Mika akan mencurigainya karena hal itu. Pantas saja anak ini selalu memandangnya dengan tatapan ngeri. Dia pasti telah salah paham. Untuk memperkuat sandiwaranya, Udin pun membuat ekspresi serius. Ia memandang dalam-dalam ke arah pemuda yang ada di hadapannya. “Aku ingin mengucapkan suatu rahasia padamu.” “R-rahasia?!” Tentu saja Mika kaget mendengar itu. “Rahasia apa yang kau maksud? Mungkinkah kau membuat bola-bola daging yang kumakan tadi dari daging manusia?” Senyum tak percaya langsung muncul di bawah Udin. “Bukan itu, Bodoh. Ini lebih penting dari semuanya.” “Apa itu?” “Sebenarnya aku adalah pemimpin organisasi rahasia. Hari itu aku ditugaskan oleh pemerintah untuk menangkap manusia pemakan manusia yang menjadi dalang pembunuhan banyak nyawa. Aku sama sekali tak mengira kalau kau akan mendengar percakapanku hari itu.” Dalam hati, Udin merasa jijik dengan perkataannya tadi. Ia takut kalau bocah berwajah angkuh di hadapannya ini akan mengatainya sebagai seseorang yang terlalu banyak melihat film fiksi. Pria ini sadar penuh kalau apa yang dikatakannya tadi terdengar seperti bualan. Semoga saja dia tak akan dicap sebagai orang bodoh. Karena merasa cringe sendiri, Udin pun berinisiatif untuk memperbaiki alasannya. “Sebenarnya—“ “Astaga, aku mengerti sekarang! Aku sama sekali tak mengira kalau kau adalah orang keren seperti itu!” Pria dengan rambut yang dibelah tengah itu menatap Mika dengan tatapan syok. Ia mengedipkan mata berulang kali untuk meyakinkan diri jika apa yang didengarnya baru saja tidaklah salah. Kenapa anak ini justru malah terlihat mengaguminya? “Aku pernah mendengar organisasi rahasia sepertimu dulu! Kalian pasti adalah orang-orang terkuat yang terpilih untuk menegakkan keadilan kan? Kalian adalah pasukan rahasia yang dibentuk oleh Raja dan melaksanakan tugas apa pun yang diberikan olehnya dari balik layar, benar?!” Udin benar-benar tak tahu harus apa. Daripada dirinya, ia rasa anak inilah yang terlalu banyak mengonsumsi tayangan fiksi. Apakah dia tak bisa membedakan dunia nyata dan dunia fiksi? Meskipun ini memudahkannya, Udin masih tak mengira kalau Mika menelan mentah-mentah hal yang dikatakannya tadi. “Ahahaha.” Tukang bakso gadungan ini tertawa renyah. “Iya, kau benar sekali. Itu adalah aku. Tapi, jangan pernah membiarkan orang lain tahu akan hal ini.” “Siap, laksanakan!” Mika menganggukkan kepala dengan semangat. “Aku tak akan membocorkan apa pun. Lagi pula, aku selalu mengagumi orang-orang di balik layar sepertimu.” Udin kembali tertawa garing. Ia tak tahu siapa yang gila di sini. Baik dirinya atau anak muda bernama Mika ini pasti sama-sama gilanya. Di lain sisi, alasan kenapa Mika memandang kagum ke arah Udin saat ini karena di kerajaannya dulu juga ada pasukan rahasia di bawah perintah raja yang begitu dikaguminya. Pasukan itu bernama Dark Shadow. Hanya orang-orang kuat yang bisa masuk ke sana. Mika yang sama sekali tak mengira jika di Indonesia ada organisasi serupa pun langsung memandang Udin dengan kagum. Secara tak langsung, ia juga ikut mengagumi pria ini. Tak disangka dirinya akan bertemu orang seperti Udin. Mereka berdua pun langsung berbincang banyak hal, meskipun perbincangannya didominasi oleh pertanyaan Mika seputar organisasi rahasia milik Udin. Dengan acuh tak acuh, Udin terus menjawab pertanyaan pemuda di depannya. Tak terasa waktu telah berlalu dan sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. “Kau akan tidur di mana hari ini? Tadi kau bilang soal mencari rumah kakakmu yang hilang kan? Itu berarti kau tidak punya tempat untuk tidur.” Mika tersenyum simpul. “Ah, kau benar. Kalau dirimu tak keberatan, nanti aku menumpang tidur di emper warungmu ya?” Mendengar perkataan itu, Udin pun sebenarnya tak tega kalau dia harus melihat Mika tidur seperti gelandangan di emper toko. Pria ini berpikir lalu berujar, “Bagaimana kalau kau tidur di dalam sini saja?” “Hah? Kau serius mengizinkanku tidur di dalam?” Rasa kaget dan heran langsung menyelimuti Mika. “Ya, kenapa tidak?” Udin pun tersenyum simpul. “Sebagai gantinya, besok kau harus membantuku membuat bakso.” “Siap, siap. Maafkan aku yang mengira kalau baksomu terbuat dari daging manusia.” Udin tertawa hambar. “Santai saja. Baksoku dari daging sapi kok. Aku saja mual membayangkan makan daging manusia. Pantas saja hari itu kau muntah-muntah saat melihat bakso.” Mereka berdua pun tertawa bersama. Udin melihat Mika membuka tasnya. Ketika ia melihat ada ponsel di sana, pria itu keheranan. “Tunggu, kau punya ponsel. Kenapa dirimu tidak menghubungi kakakmu?” “Ah, soal ponsel ini?” tanya Mika seraya mengambil ponselnya yang mati. “Sejujurnya aku tak tahu kenapa benda ini mati. Berapa kali aku coba menghidupkannya, hasilnya nihil. Dia tetap mati.” Karena penasaran, Udin pun meminta Mika memberikan ponsel itu padanya. Setelah ia selidiki, ternyata baterai telepon ini habis. Udin menjelaskan pada Mika kalau ponsel itu perlu diisi dayanya. Pemuda berusia 17 tahun itu hanya bengong mendengarkan semua penjelasan Udin. “Pantas saja aku tak bisa membukanya. Kalau tahu begini, aku pasti sudah menghubungi kakakku dari kemarin.” Saat itu, senyum canggung langsung muncul di wajah Udin. Astaga, kenapa anak ini perangainya angkuh sekali padahal ia tak mengetahui soal hal sepele seperti mengisi baterai ponsel? Apakah Udin sudah salah mengira jika Mika adalah seorang anak jenius karena curiga padanya tadi? Pada akhirnya, ia tahu kalau bocah ini tak mengerti apa-apa. Sejujurnya, Mika baru sadar kalau Udin memandangnya dengan aneh. Pria ini pasti mengiranya sebagai seseorang yang bodoh atau semacamnya. Ego Mika pun keluar. Ia yang tak mau dicap sebagai orang bodoh langsung memasang wajah sendu. “Sejujurnya, aku mengalami amnesia. Saat ke sini aku mengalami kecelakaan dan berakhir lontang-lantung seperti sekarang.” Mata Udin langsung membelalak kaget. Ia tak tahu kalau anak ini mengalami amnesia. Kalau tahu begini, dia tak akan menghina bocah bernama Mika ini. Pada akhirnya, mereka sama-sama menjadi orang bodoh karena saling membohongi satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD