Chapter 19 - Kesaman Nasib

1573 Words
“Aku sangat yakin jika alamat yang kuberikan padamu hari itu benar! Jadi, bagaimana mungkin rumahku bisa menghilang dari jalan itu?!” Pagi ini Mika telah berhasil menghubungi Putri yang ada di desa. Meskipun awalnya ia kena omel karena menghilang hampir dua minggu lamanya dan tak menghubungi keluarga wanita tersebut. Ia yang saat ini berada di emperan warung hanya bisa menghela nafas. “Aku juga tidak berbohong padamu. Ada banyak hal yang kualami di tempat ini. Terlebih dari itu, apa kau tahu aku sudah mencari rumah itu hampir delapan jam lamanya, hah? Kau kira aku berjalan luntang-lantung mencari rumahmu itu mudah?! Dasar bodoh!” Dalam ruangan, Udin yang sedang menyapu warung hanya bisa terkaget-kaget saat mendengar ucapan Mika yang begitu kasar pada kakaknya. Anak ini memang temperamental sekali. Ia butuh dijinakkan secara militer untuk sopan pada orang tua. Mika sendiri saat ini heran. Setelah beberapa saat yang lalu Putri mengomel panjang lebar, kini suaranya tiba-tiba tak terdengar. Ada keheningan di seberang telepon. “Hei, apa kau mendengarku?” tanya Mika untuk memastikan. “Aku tahu sekarang!” Ucapan yang tiba-tiba muncul dari telepon itu membuat Mika terperanjat kaget dan tanpa sadar agar menjauhkan ponsel dari telinganya. “Apa yang kau ketahui?” “Kalau tidak salah, area perumahan di sana memang berada di atas tanah sengketa. Kau tahu, sejujurnya aku itu mantan orang kaya.” Mika tersenyum tak percaya. “Sejujurnya kau memang sudah menjadi orang kaya meskipun ada di desa. Akan tetapi, apa maksudmu dengan mantan orang kaya?” Udin langsung mengalihkan fokusnya ke arah Mika saat mendengar ucapan itu. Sejujurnya perilaku menguping adalah suatu hal yang buruk. Akan tetapi, adanya kata kunci ‘mantan orang kaya’ yang dikatakan oleh pemuda itu menarik perhatian Udin. Ia tak tahu pasti, tapi sepertinya anak ini bisa membantun untuk penanganan misinya kali ini. “Ceritanya sangat panjang. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang karena hari ini sedang bertugas di puskesmas.” Saat itu pemuda berusia 17 tahun ini langsung teringat kalau wanita yang diajaknya mengobrol sekarang punya dua dunia. Saat pagi dia bekerja sebagai dokter di puskesmas kecamatan dan saat malam dia jadi tabib dadakan di pasar malam desa. “Intinya, kita akan menyambung percakapan ini nanti malam saja. Aku akan menjelaskan padamu saat berada di pasar malam jadi tak ada orang yang bisa mendengar.” “Terus rumahnya bagaimana?” “Rumah yang kau cari itu pasti sudah diratakan oleh pemerintah. Nanti kau fotokan padaku tempatnya ya? Aku ingin melihat bagaimana wujud rumahku sekarang. Untuk sekarang, aku akan coba menghubungi Dinas Pembangunan atau Lingkungan Hidup di sana untuk meminta keterangan.” Mika membelalak kaget. “K-kau bilang rumah itu diratakan?! Lalu artefaknya bagaimana?!” Sialan, Mika ingin mengumpat sekarang. Putri tak akan mengerti penderitaan macam apa yang telah dilaluinya selama dua minggu berada di Jakarta. Bagaimana mungkin wanita itu mengatakan fakta memilukan seperti rumahnya yang dicari Mika sejak awal justru rata menjadi tanah? “Tenang saja. Kita pasti akan menemukan jalan keluarnya sebentar lagi. Aku akan menghubungimu nanti. Sekarang ada pasien jadi kututup dulu teleponnya.” Mika kaget bukan main. “T-tunggu! Jangan matikan teleponnya! Aku masih ingin tahu apakah aku bisa pulang atau tidak!” Raut sendu pun kini menghiasi wajah Mika ketika ia mendengar bunyi tut tut secara berulang. Ketika pemuda itu memandang ponselnya, ia jadi tahu kalau Putri benar-benar telah mematikan sambungan telepon tadi. “Sepertinya, masalahmu cukup pelik juga ya?” Pemuda yang duduk santai di emperan warung itu terperanjat kaget. “Pak Udin?!” Pria dengan rambut yang terbelah tengah itu berjalan mendekati Mika. Sejujurnya ada banyak hal yang ia ingin tanyakan pada pemuda ini. Ia tak begitu mengerti soal artefak yang dikatakan oleh Mika tadi, tapi sepertinya itu bisa dibahas nanti saja. Sekarang ia ingin menanyakan suatu hal pada bocah yang duduk ini. “Jadi, rumah yang kau cari itu berada di kawasan yang sudah dirobohkan itu ya? Ada di Jalan Melati?” tanya Udin seraya mendudukkan diri di samping Mika. Pemuda ini pun hanya bisa mengangguk pelan. Ia mulai menceritakan semuanya dengan sedikit bumbu sandiwara soal amnesia. Udin mendengarkan semua hal itu dengan saksama. “Tadi aku kaget karena tiba-tiba ditelepon oleh seseorang bernama Putri. Dia bilang kalau dirinya adalah kakakku. Dia menjelaskan kembali tujuanku datang ke Jakarta untuk apa dan sedikit demi sedikit aku menjadi teringat dengan memoriku yang hilang,” bohong Mika dengan begitu sempurna. Dari sisi mana pun, Udin yang memandang Mika datar ini tampak percaya dengan apa yang dikatakannya tadi. Jujur saja, pria ini sedikit menyesal karena ia datang terlambat untuk menguping perbincangan Mika dan kakaknya di telepon. “Tadi aku sempat dengar kau bicara soal artefak. Apakah tujuanmu datang ke sini untuk mencari itu?” Meskipun Mika ingin meninju Udin karena pria itu mengupingnya, tapi ia tak punya alasan lain untuk berbohong kali ini. “Ya, kakakku bilang jika tujuanku datang ke Jakarta untuk mencari artefak yang ada di rumah lama kami.” Melihat Udin yang hanya diam memandangnya, Mika pun melanjutkan omongannya tadi. “Artefak itu adalah benda berharga peninggalan keluarga besarku. Kakakku ingin aku mencarinya untuk dijual agar kebutuhan ekonomi kami di desa jadi tercukupi.” “Aku mengerti sekarang.” Udin mengucapkan hal tadi sambil merenung. “Kau pasti kesusahan karena tidak tahu keberadaan artefak itu karena rumah kalian dihancurkan bersama rumah-rumah elite lain di sana. Bagaimana pun juga, kawasan di Jalan Melati dulu dipenuhi oleh orang-orang kaya namun kebanyakan bangkrut dan rumahnya terbengkalai.” “A-apa katamu? Bangkrut dan rumahnya terbengkalai?” Tentunya Mika kaget dengan fakta ini. Ia tidak tahu apa pun karena Putri tak menjelaskan soal ini tadi di telepon. “Ah, aku baru ingat kalau kau amnesia. Ada kemungkinan kau lupa soal hal ini. Dulu pemerintah membongkar semua rumah di sana untuk dijadikan lahan terbuka hijau. Kapan ya lamanya, kira-kira sudah lima tahun yang lalu,” ujar Udin dengan terus terang. Mika kaget. Ini berarti perobohan itu telah dilakukan lama sekali. Sangat aneh jika Putri baru mengetahui hal ini dari ucapannya tadi. Di lain sisi, ia jadi ragu apakah artefak itu masih ada atau tidak sekarang. Mika benar-benar tak tahu bagaimana nasibnya sekarang. Pemuda yang sedang putus asa itu pun tak membalas ucapan Udin tadi. Di lain sisi, Udin hanya meliriknya dengar datar. “Apa kakakmu memang sejahat itu?” “Hah?” Mika yang mendengar pertanyaan aneh tadi langsung mendongak dan memandang aneh ke arah pria di sampingnya. “Saat kau memintanya untuk tidak mematikan telepon tadi, bukankah dirimu bilang ‘aku masih ingin tahu apakah aku bisa pulang atau tidak’? Apakah kakakmu sejahat itu hingga ia tak memperbolehkanmu pulang hanya karena dirimu tak bisa menemukan artefak?” Astaga, Mika sama sekali tak mengira jika Udin akan salah sangka sampai sejauh itu. Ia yang tak punya alasan lain untuk berbohong pun hanya bisa mengangguk lemas. Dirinya terlalu malas untuk cari-cari alasan yang akan dikatakannya pada Udin dan akhirnya kembali terdiam dengan wajah putus asa. Di lain sisi, Udin hanya bisa menatap Mika dengan prihatin. Untuk kasus ini, ia bersimpati dengan Mika. Agen intel ini menduga jika Mika Jonathan pasti adalah anak tiri dalam keluarganya sehingga sang kakak bertindak semena-mena pada anak ini. Kenangan menyedihkan itu pun mengingatkan Udin tentang kisah hidupnya yang sama persis. Pria ini dulunya juga mendapat perlakuan kasar dari keluarga tirinya, sama seperti Mika. Ia tak tega melihat ada orang lain yang juga menderita karena hal yang sama. Melihat Mika yang lontang-lantung seorang diri di Jakarta dalam kondisi amnesia dan diperlakukan buruk oleh kakaknya membuat Udin kasihan. Terlebih dari itu, anak ini juga tak diizinkan untuk pulang sebelum membawa kembali artefak itu. Ia pasti akan mengalami banyak kesusahan di kondisinya sekarang. “Bagaimana kalau aku menolongmu?” Karena misi Udin kali ini berhubungan dengan orang-orang yang dulunya menjadi penghuni kawasan elite di Jalan Melati itu, sepertinya ia bisa membantu Mika. Mendengar perkataan yang tiba-tiba ini, Mika pun kembali memandang Udin dengan heran. “Apa yang kau maksud?” “Sederhananya, apa kau ingat soal perkataanku semalam soal organisasi rahasia?” Ada cahaya penuh semangat yang muncul di mata Mika saat Udin bertanya demikian. “Ya! Aku tidak mungkin melupakannya!” Udin pun tanpa sadar tersenyum. Berbicara omong kosong dengan anak ini rupanya menyenangkan juga. “Sebenarnya, aku pindah ke sini karena ingin melakukan misi rahasia bersama organisasiku untuk menyelidiki area di Jalan Melati alias di sekitar tempat tinggalmu yang sekarang hancur itu.” Mika tertegun dengan perkataan Udin tadi. “Mungkinkah kau ... akan membantuku?” “Ya, aku berjanji akan mencari artefak itu setelah misi ini selesai. Tapi imbal jasanya, kau harus membantuku mencari informasi dan berpura-pura menjadi asistenku di warung ini. Kita akan berdagang bakso di siang sampai malam hari. Paginya kau bisa bekerja apa pun itu lalu tengah malam hingga pagi kau akan membantuku mencari informasi. Apa kau setuju?” Ini adalah tawaran yang sangat menarik. Sejak lama Mika telah mengidam-idamkan untuk menjadi anggota organisasi rahasia seperti ini. Dulu saat di Kerajaan Mimika, ia harus mengubur mimpi itu karena diwajibkan menjadi penerus takhta. Mendengar tawaran Udin tadi, pemuda ini langsung merasa senang. Meskipun menjadi asistennya, tapi Mika sudah sangat bahagia mendengar semua itu. Dengan anggukan penuh semangat, Mika pun akhirnya setuju. “Aku bersedia! Aku akan menjadi asistenmu dan akan selalu membantumu serta bersumpah menjaga seluruh rahasia soal misi dan organisasi rahasia ini! Apa pun akan kulakukan demi mendapat artefak itu!” Senyuman seringai langsung muncul di wajah Udin. “Bagus, Bocah. Aku suka dengan semangatmu.” Mulai saat itu, Mika dan Udin terlibat dalam suatu kontrak kerja rahasia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD