Enam puluh

1737 Words

Pukul enam pagi Irza sudah diperbolehkan pindah ke ruang rawat inap. Jerome bisa bernapas lega setelah melihat Irza dalam kondisi sehat saat memasuki kamar rawat inap. Namun Jerome menyadari suatu hal, Irza tampak mulai membuat jarak di antara mereka. Sejak pengakuan besar Irza kemarin, mereka belum berbicara secara baik-baik lagi. Dan di saat hanya mereka berdua yang tinggal di dalam ruangan ini, suasana menjadi terasa begitu canggung.  “Mau makan atau minum sesuatu?” tanya Jerome canggung.  Irza menggeleng. “Aku mau lihat anakku,” jawabnya.  “Sabar ya. Kata perawatnya tadi mau dimandikan dulu baru diantar ke kamar.” Irza mengangguk paham lalu dia memejamkan matanya kembali. Dia masih mudah sekali mengantuk. Mungkin efek obat bius masih bekerja dalam tubuhnya.  “Makan ya. Kamu belum

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD