Empat puluh empat

2007 Words

Hari ini semuanya berjalan normal lagi. Irza sudah mulai masuk kerja seperti biasanya. Kali ini saja dia menggunakan nama Jinan sebagai dewi penolongnya dari amukan atasannya. Lima hari kerja itu bukan waktu yang sebentar. Irza tahu kalau kali ini dia sudah kelewatan mempermainkan pekerjaannya. Namun mau bagaimana lagi, situasi dan kondisinya tidak memungkinkan dia untuk mengajukan izin apalagi cuti. Semuanya terjadi secara mendadak dan di luar kuasanya. “Dipanggil Pak Aries lo,” ucap Bram di depan bilik kerja Irza sambil mengarahkan jemari di depan leher lalu melakukan gerakan memotong leher dengan jemarinya itu. “Habis lo!” ucap Bram menakut-nakuti Irza. “Lo mau taruhan nggak?” balas Irza sebelum melangkah menuju ruangan atasannya. “Taruhan apa?” sambut Bram dengan senang hati. “K

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD