Hari yang paling ditakuti oleh Irza akhirnya tiba. Jantungnya tidak berhenti bergemuruh saat perias pengantin mulai mendandaninya. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan masuk ke kamar hotel yang disewa khusus untuk dijadikan ruang rias pengantin. Irza hanya ditemani oleh Sita saat ini. Sita bisa melihat dengan jelas raut wajah tegang Irza yang tercetak jelas di pantulan cermin. Sita hanya tersenyum setiap kali tatapan mereka bertemu di satu titik. Setelah selesai dengan riasan dan memakai gaun pengantinnya, Irza mondar mandir sambil meremas buket mawar merah yang sangat kontras dengan gaun pengantinnya. Gugup, tegang, takut. Semua perasaan itu seolah melebur jadi satu tanpa alasan yang jelas. Segala keraguan yang sempat hilang perlahan muncul kembali di permukaan. Ingatan tentang awal

