Dendam & Wanita

1288 Words
Rumah Sakit Bhayangkara Sespimma Polri siang itu tampak dipenuhi awak wartawan. Hampir seluruh wartawan membanjiri area depan rumah sakit dan tampak sedang sibuk mewawancarai siapa pun pejabat yang baru saja keluar dari sana untuk melayat jenazah Brigjen Restu Pringgono, Wakabareskrim Polri yang baru saja tewas. Albert memberikan isyarat mata ke arah Devia yang sibuk melirik ke kiri dan ke kanan karena bingung bagaimana harus melewati rombongan wartawan yang membuat sesak bagian lobi. Ia menggerakkan kepalanya ke arah samping untuk mengajak Devia mengikuti langkahnya. Dengan perlahan, gadis itu pun kemudian melipir ke pinggiran lobi dan berusaha menembus keramaian di sana. Setelah berhasil melewati bagian depan pintu rumah sakit, ia kemudian berlari kecil mengikuti langkah cepat Albert. Keduanya kemudian melihat ke arah kerumunan petugas kepolisian yang ada di sana. Albert bertanya ke arah salah satu rekan sesama polisinya di sana dan kemudian mengangguk sekilas, sebelum kemudian berjalan lagi ke arah tangga. "Di lantai dua, Capt?" tanya Devia ikut menaiki tangga dengan napas tersengal-sengal. "Kata mereka begitu," jawab Albert dengan langkahnya yang lebar tersebut. Pria itu kemudian tampak mengerutkan dahinya dan mengeluarkan umpatan tertahan akibat hampir menabrak seorang wartawan yang baru saja diusir petugas keamanan dari lantai dua. Albert sendiri langsung menunjukkan lencananya ke petugas keamanan lantai dua sebelum ikut diusir. "Ah, menyebalkan! Ini pasti akan ramai sekali!" ucapnya terlihat kesal. Begitu membuka pintu penghubung ke lantai dua, Albert tampak berhenti sebentar dan melongo. Ia sudah membalikkan badannya ke arah tangga dan sudah hampir akan terlihat mencoba kabur, tetapi mendadak suara Kompespol Muktar Lubis --- atasan langsung mereka --- tampak memanggilnya dari arah dalam lorong. "Albert!" Albert menghentikan langkahnya untuk kabur lagi, dan kini melirik ke arah Devia dengan wajah frustasi. "Habislah nasibku! Di dalam semua ada semua petinggi Polri," bisik Albert ke arah Devia. Ia kemudian melangkah ke dalam lagi dengan pasrah dan langsung mendekati Pak Muktar yang berada di deret belakang rombongan Kapolri dan yang lain-lainnya. "Siap perintah, Komandan!" ucap Albert begitu berhadapan dengan Pak Muktar. Pria tua dengan rambut setengah memutih karena uban tersebut melirik penampilan Albert dari atas ke bawah dan kemudian menghela napas dengan kasar. "Sampai kapan aku akan terus melihatmu selalu muncul tanpa seragam seperti ini dan selalu berpenampilan serabutan?! Kau membuatku malu!" desis Pak Muktar jengkel. "Maaf, Bos, saya belum pulang selama beberapa hari dari kantor untuk menangani kasus para anggota DPR," jawab Albert menggaruk-garuk kepalanya dengan kikuk. "Aku memang menyuruhmu menyelesaikan kasus high profile dengan cepat, bukan memintamu untuk menjadikan ruang kantor kita sebagai rumah keduamu!" Albert tertawa sambil membungkukkan badannya ke arah Pak Muktar. "Maaf, Bos. Ini tidak akan terulang lagi." "Tidak akan terulang lagi gundulmu!" Pak Muktar memukul pelan kepala Albert --- anak emasnya --- dengan kertas di tangannya dan kemudian melirik ke arah Kapolri yang tampak sedang berbicara dengan para pejabat negara di sana. "Big boss menyuruh kita menangani ini lebih cepat di atas segalanya. Kau harus bekerja bersama tim forensik kita. Sebagian besar dari mereka sudah langsung melakukan autopsi karena besok pagi jenazah Pak Restu sudah akan langsung dikuburkan." "Dia sedang diautopsi?" tanya Albert dengan suara berbisik. Pria itu lalu membalikkan badannya ke arah Devia dan menyuruh Devia untuk terlebih dahulu bergabung bersama tim forensik. Devia terlihat bengong sebentar, namun kemudian mengangguk mengikuti perintah Albert dan berlalu. "Kematiannya mencurigakan," kata Pak Muktar setelah Devia pergi. "Dia tidak pernah punya penyakit jantung sebelumnya sama seperti para anggota DPR tersebut. Dua jam sebelum kematiannya dia mengeluh pusing-pusing. Staf Pak Restu tidak ada yang curiga sama sekali dan hanya mengira Pak Restu sedang kelelahan. "Ternyata, dia kemudian tewas di mobilnya setelah ia mengatakan akan pulang ke rumahnya," lanjut Pak Muktar. "Dia tidak bersama supir pribadinya saat itu dan ditemukan di balik kemudi mobilnya, tepat di area pinggir tol Jagorawi, hanya beberapa kilometer dari Cibubur. Di mobilnya terdapat banyak muntahan. "Sepertinya ia mengalami krisis ketika sedang menyetir dan meminggirkan mobilnya untuk meminta bantuan. Tetapi ketika petugas PJR menemukannya, dia sudah tewas." "Dia tidak menggunakan supir pribadi?" tanya Albert dengan sebelah alis terangkat. "Supir pribadinya baru mengundurkan diri dua minggu lalu. Belakangan ia lebih sering berpergian tanpa supir," jawab Pak Muktar. "Katamu di telepon tadi ... salah satu anggota DPR yang tewas sempat menghubungi almarhum Pak Restu sesaat sebelum tewas?" "Ada kemungkinan kasus kematian mereka semua berhubungan," kata Albert. "Selain data riwayat panggilan yang kita temukan dari Komfor, gejala menjelang kematian dari ketiga orang tersebut terlihat sama. Ini kemungkinan ada kaitannya dengan racun." "Tim forensik kita tidak menemukan jejak racun dalam tubuh jenazah dua anggota DPR sebelumnya," ucap Pak Muktar dengan dahi berkerut. "Benar, tetapi bagaimana kalau mereka diracun dengan menggunakan racun-racun tertentu yang memang susah dideteksi?" Pak Muktar sudah akan berbicara lagi, tetapi kemudian Kapolri memanggilnya untuk bertanya seputar perkembangan kasus karena ada staf kepresidenan yang sedang berada di sana bersamanya. Terpaksa, baik Pak Muktar maupun Albert sama-sama harus memberi penjelasan kepada mereka semua. --- "Kau anak baru Jatanras? Junior Albert?" Seorang wanita dengan kaca mata bening dan diikat dengan kuncir kuda tampak memandang ke arah Devia yang datang dengan malu-malu ke arah rombongan tim forensik. Sebagai anggota baru tim Mabes Polri, Devia belum mengenal banyak orang di sana selain petugas administratif mereka saja yang sudah pernah berhadapan dengannya. Devia mengangguk. Ia kemudian berdiri beberapa meter dari para pentolan tim forensik yang sedang melakukan tugasnya. "Saya Devia, baru dimutasi dari Jakarta Utara." "Di mana Albert?" tanya wanita yang sama pada Devia. "Dia masih bersama rombongan Pak Muktar," jawab Devia mengambil jarak dengannya. "Jangan terlalu mendekat," ucap wanita itu dengan cepat saat melihat posisi Devia. "Kami sedang mengambil sampel lambung dan darahnya." Devia bergerak mundur. Ia kemudian melihat wanita dengan jas putih tersebut mengambil sesuatu dari jenazah Pak Restu dan meletakkannya ke dalam kaca sampel, sebelum kemudian memasukkannya ke dalam sebuah plastik bening. Setelah melakukannya, ia melepaskan sarung tangan karetnya dan menyodorkan tangannya ke arah Devia. "Claudia, dari toksikologi forensik," ucapnya sambil menjabat erat tangan Devia. "Sebentar lagi mereka akan melakukan autopsi. Kau tidak boleh berada di sini ketika mereka melakukannya." "Ba-baik," jawab Devia dengan sikap yang canggung. Claudia tertawa. "Biasanya perempuan yang lain akan memilik masuk TMC Polda Metro Jaya. Kau memilih ada di Reskrim karena kondisi atau memang ini keinginanmu." "Saya memang sejak awal ingin masuk Reskrim," jawab Devia lagi. "Lagi pula, saya tidak cukup cantik untuk bergabung dengan TMC." Claudia manggut-manggut dengan mulut mengerucut. "Ah, TMC! Sebagian besar dari mereka memang perempuan-perempuan sampah yang menjadi polisi hanya berbekal wajah. Mereka ingin menjadi penyiar khusus lalu lintas yang dikenal sebagai para polisi bidadari." "Kalian mengambil sampel untuk toksikologi? Ada dugaan ini kematian karena racun?" tanya Devia kepadanya. "Sebenarnya hasil pemeriksaan kedokteran sudah mengatakan kalau tidak ada indikasi ke arah racun pada jenazah Pak Restu. Tapi dia bersikeras mengatakan kalau ini karena racun." "Dia...? Maksudnya siapa?" tanya Devia dengan bingung. "Profiler baru, superstar kita dari Amerika. Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Claudia dengan cuek. "Belum." "Hmmh, kupikir kalangan polisi wanita kebanyakan sudah tahu soal ini." Claudia kemudian mendekatkan wajahnya ke dekat wajah Devia dan berbisik, "Dia sangat tampan. "Gaya pemikirannya sangat menarik," lanjut Claudia. "Dia baru saja memintaku untuk mengumpulkan dan menelusuri sisa-sisa makanan yang dikonsumsi Pak Restu dalam tujuh jam terakhir. Itu makanya aku harus segera pergi dari sini dan ke tempat Pak Restu terakhir berada." "Makanannya?" "Kalau jejak racun tidak terdeteksi dalam tubuhnya, menurutnya kemungkinan besar jejak racun masih ada dalam makanannya. Apa pun yang terkait pembunuhan dengan racun, katanya hampir selalu berkaitan dengan dendam dan wanita." Devia pun kemudian mengerjapkan matanya sekali dan memandang terkesima Claudia. "Siapa nama profiler kita itu?" "Bayu. Bayu Soedjono," jawab Claudia sambil merapikan isi tasnya. "Dia orang yang tidak banyak bicara tetapi kurasa dia memang sangat pintar. Kau tahu sesuatu? Dia orang yang dulu pernah masuk berita karena dugaan pembunuhan terhadap orang tuanya sendiri dan diduga seorang psikopat. Kasus 2003. Dia profiler kita yang baru."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD