Devia membawa lari satu cangkir kopi Caffe Americano berukuran grande di tangannya sambil berlari kecil ke arah ruangan Jatanras Ditreskrimum Mabes Polri. Seniornya --- AKP Albert Siallagan --- sudah menunggunya di sana sambil memegang beberapa lembar kertas berukuran folio di tangan kirinya.
Pria itu tampak tengah komat-kamit sendiri sambil menggigiti ujung pinsil 2B di tangan kanannya. Begitu melihat Devia datang, mata sipitnya yang tajam langsung berbinar. Ia menyeringai senang sambil berjalan cepat menuju Devia yang membawakan cangkir kopinya.
"Ini pesananku?" tanyanya berbasa-basi, tetapi tangannya sudah mengambil begitu saja cangkir tersebut dari tangan Devia tanpa mendengar jawaban gadis itu sama sekali.
Devia menatap pasrah ke arah pria berusia 30 tahun tersebut. AKP Albert adalah penyidik senior di sana dan biasa dipanggil dengan sebutan 'capt' dari captain. Ia berdarah Batak dan sedikit galak.
Sehari-harinya, ia selalu berpenampilan kurang rapi. Kumis dan jambangnya hanya dicukur tipis-tipis dan rambut ikalnya selalu tampak acak-acakan. Kulitnya berwarna cokelat terang dan ia bertubuh tinggi tegap.
Penampilan pria itu tidak pernah rapi sesuai pangkatnya. Ia hanya selalu mengenakan jeans belel dan kaos biru dongker khas Bareskrim yang bertuliskan 'turn back crime' dengan sepatu kets biru tua yang terlihat besar. Meskipun begitu, ia sebenarnya adalah pria yang cukup tampan dan hangat.
AKP Albert terkenal sangat pintar dan berinsting tajam. Banyak kasus yang telah dipecahkannya dan membuatnya kemudian menjadi anak kesayangan kasubdit mereka, Kombespol Muktar Lubis. Namun tak jarang, gaya kinerjanya juga menimbulkan kontroversi.
Ia cukup emosional hingga membuat propam harus terus mengevaluasi kepemilikan senjata revolver colt kaliber 38 miliknya. Meski sangat ekspresif dan mudah akrab dengan banyak orang, namun tak terlalu banyak orang yang tahu pribadi asli Albert ataupun kehidupannya di luar dunia kerja.
"Dev...," panggil Albert pada Devia setelah menyeruput kopi panasnya. Ia kini duduk di ujung meja kerja dalam ruangan mereka sambil memandangi Devia dari bawah alis matanya yang tebal dan tajam. "Hasil otopsi dua anggota DPR yang tewas hari kamis lalu sudah keluar?"
Devia mengangguk. "Saya baru saja mau kasih tahu, Capt. Tadi dokumen hasil dari patologis Puslabfor sudah saya letakkan di meja Pak Muktar. Hasilnya normal, tidak ada kejanggalan. Sama seperti yang tertera di sertifikat kematian, almarhum dianggap tewas akibat serangan jantung."
"Hmmh, aneh sekali. Bagaimana mungkin keduanya tewas di interval waktu berdekatan akibat sama-sama serangan jantung?" gumam Albert terheran-heran sendiri.
"Dua nama besar dari gedung parlemen Senayan. Dua-duanya petinggi partai-partai besar. Keduanya berada di lokasi yang sama dengan waktu kematian yang hanya terpaut beberapa menit saja --- dan keduanya sama-sama tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Pasti ada benang merah di antara dua orang tersebut, tidak mungkin tidak."
"Tim dari Komfor sudah mengecek arus keluar masuk finansial keduanya. Kalau isi kontak ponselnya seharusnya sudah diantar sebelum jam makan siang tadi. Sebentar, Capt, saya cek di meja saya," kata Devia sambil berjalan menuju mejanya di pojok ruangan.
"Good! Kalau kita menemukan sesuatu yang tidak wajar, maka ini benar-benar akan menjadi kasus besar. Instingku sendiri mengatakan ada yang janggal dengan kasus kematian para pejabat negara ini," kata Albert sambil menyeruput lagi kopinya dan mengamati Devia yang membuka sebuah map tebal.
Gadis rajin itu tampak tengah membaca beberapa halaman teratasnya. Wajahnya yang mungil terlihat sangat serius dan bibirnya mengerucut tanda bahwa ia menemukan sesuatu yang mencurigakan.
"Memang ada yang aneh, Capt," cetus Devia setelah agak lama terlihat seperti merenung membaca rekor riwayat telepon di sana. "Di jam-jam terakhir sebelum kematiannya, Hendra Marsalam --- anggota DPR kedua yang tewas --- tercatat menghubungi Brigjen Restu Pringgono, Wakabareskrim kita sebanyak empat kali."
Albert secepat kilat berjalan menuju meja Devia dan mengambil map tersebut dari tangan Devia. Ia lalu membaca deretan rekor panggilan Hendra Marsalam yang disertai waktu panggilan, nomor panggilan masuk-keluar, nama penerima atau penelpon, dan durasi pembicaraan.
"Aneh, mengapa di jam-jam tepat sebelum kematiannya dia harus menelpon Pak Restu berkali-kali?"
"Normalnya, orang yang sedang mendekati kematiannya memang seharusnya menghubungi orang terdekatnya. Kalau ia menghubungi Pak Restu di saat sekarat, itu artinya memang ada kemungkinan keterkaitan di antara mereka," ucap Devia dengan hati-hati dan setengah berbisik. "Apa sebaiknya kita tanya langsung kepada Pak Restu saja?"
Albert menggeleng. "Kalau kita tanya langsung, kita akan terdengar lancang. Kita diskusikan saja dulu masalah ini dengan Pak Muktar untuk menentukan tindakan lebih lanjut kita.
"Devia coba cek dari dokumen komfor ini, ada berapa total catatan panggilan anggota DPR itu kepada Pak Restu dalam satu bulan terakhir dan coba cek panggilan mencurigakan lainnya." sambungnya sambil mengambil ponsel dari saku jeans-nya.
"Siap, Capt!" jawab Devia lantang sambil mengambil kembali dokumen dari tangan Albert.
Ia melihat Albert menekan-nekan tombol handphone-nya, mencoba menghubungi orang yang diyakininya sebagai Pak Muktar, Kasubdit mereka. Namun begitu Albert memulai pembicaraan dengan Pak Muktar, wajah Albert terlihat mendadak terkejut.
Intonasi suaranya mendadak meninggi dan ia seperti kaku di tempatnya terduduk. Setelah bertanya beberapa hal dengan sangat serius, Albert kemudian menutup teleponnya dan menatap ke arah Devia dengan tegang.
"Pak Muktar tengah dalam perjalanan menunju RS Bhayangkara Sespimma Polri beserta rombongan Kapolri dan yang lain-lainnya. Ia bilang bahwa jenazah Pak Restu ada di sana. Pak Restu ... baru saja ditemukan meninggal di mobil pribadinya sejam lalu akibat serangan jantung."
Devia terhenyak seketika. "A-apa?"
"Orang-orang dari Puslabfor sudah berangkat menuju ke sana barusan. Pak Mukhtar juga baru akan menghubungi kita untuk datang saat aku meneleponnya. Aku diminta untuk segera ke sana."
Devia melihat Albert bergerak cepat untuk mengenakan jaketnya yang sudah berminggu-minggu ada di atas kursinya dan tampak tidak pernah dicuci. Pria itu terlihat tampak meringis saat melihat noda kecap dan saos pada jaketnya, tetapi kemudian terlihat menggunakannya secara terpaksa.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau diam saja dan tidak segera bersiap-siap?" tanya Albert melihat Devia hanya terdiam di tempatnya.
"Eh? Saya juga ikut, Capt?" tanya Devia terkejut.
Ia merasa petugas junior sepertinya akan terlihat canggung bila nanti bertemu dengan semua pejabat senior di sana dan menjadi sungkan karenanya.
"Kau kan juga polisi dan bekerja untuk Jatanras? Memangnya kau merasa tidak perlu untuk ikut ke lapangan langsung? Kau bukan petugas administratif Jatanras," ujar Albert dengan cuek.
Devia sudah hampir terharu. Ia terbiasa diperlakukan oleh semua senior di tempat kerja lamanya hanya sebagai petugas administratif semata. Namun di saat ia mulai merasa dibutuhkan, Albert segera menjatuhkan harga dirinya dengan cepat lagi.
"Kebetulan aku juga butuh orang untuk membantuku membeli makanan dan minuman di sana nanti. Lagi pula, pasti ada banyak dokumen yang akan kita urus."
Devia menundukkan kepalanya dengan lemas. Ia pun menghembuskan napasnya dan segera berjalan ke arah mejanya sendiri untuk ikut bersiap-siap.
"Kalau mereka bilang tim forensik sudah menuju ke sana, bukankah itu artinya dia juga kemungkinan ada di sana nanti?" gumam Albert dari tempatnya sambil memiringkan kepalanya sendiri.
"Dia?"
"Profiler dari Amerika Serikat," jawab Albert. "Mabes Polri baru mendatangkan profiler Indonesia yang lama bekerja untuk FBI. Katanya orang ini sangat hebat. Aku hanya tahu kalau namanya Bayu. Katanya dia warga negara Amerika yang berdarah Indonesia."
"Dari FBI?" Wajah Devia terlihat seperti terkesima. "Orang sehebat itu akan bekerja dengan kita mulai sekarang?"
"Bukan sebagai karyawan tetap. Dia hanya didatangkan sebagai freelancer. Pekerja lepas. Tapi sepertinya, dia bisa langsung jadi anak kesayangan para bos-bos kita. Aku yakin gajinya juga sangat besar kalau mereka bisa mendatangkannya dari Amerika seperti itu.
"Ah, ini sangat tidak adil," keluh Albert mendadak. "Orang-orang dari Komfor punya gaji yang besar-besar sementara gaji kita sangat kecil. Padahal, pekerjaan kita yang lebih susah dan harus pontang-panting 24 jam."
Devia hanya tertawa kecil. Ia kemudian mengikuti langkah cepat Albert yang sudah melesat keluar dan mempersiapkan dirinya untuk menjalani penyelidikan kasus pertamanya di Bareskrim Polri bersama Albert.