The Lovers

1042 Words
Entah sudah berapa lama Devia tenggelam dengan pakaian lengkapnya, tetapi mendadak ia terbangun di lantai samping permukaan kolam sambil memuntahkan air dari mulutnya. Gadis itu seperti mendengar suara seorang pria menanyakan sesuatu kepadanya. Namun matanya masih memicing perlahan, berusaha menyadari apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Secara samar, ia melihat langit di atas kepalanya mulai memamerkan gradasi pagi --- dari gelap pekat hingga menjadi biru tua. Bola mata Devia mengerjap sesaat. Setelah mulai menyadari situasinya, samar-samar ia melihat wajah seorang laki-laki di dekat wajahnya sendiri yang kemudian membuatnya sangat terkejut. "Siapa kau?!" tanya Devia sambil mendudukkan diri secepatnya di lantai. Ia menatap wajah sang laki-laki yang seketika mundur dari posisinya dan kini memandangi Devia dengan ekspresi wajah yang aneh dari posisinya berjongkok. "Aku orang yang baru saja menolongmu dari dasar kolam dan memberimu bantuan napas buatan," jawabnya tenang dengan suara yang pelan. Pria itu terlihat sama basahnya dengan Devia. Meskipun begitu, tidak sedikitpun aura terganggu atau panik tampak pada wajahnya. "Apa kau yang sejak tadi mengikutiku?" tanya Devia dengan penuh kecurigaan dan sedikit kesal. Kesal karena mungkin pria itu yang menyebabkannya terjatuh di kolam. Pria di hadapan Devia terdiam sejenak. Lalu dengan wajah datar, ia mengangkat telunjuknya ke arah sesuatu di belakang tubuh Devia. "Aku mengejar itu," jawabnya kepada Devia dengan santai. Devia menoleh ke arah yang ditunjuk oleh pria itu dan segera menjerit dengan keras. Di belakangnya, tengah duduk dengan nyaman seekor anjing pitbull raksasa berwarna hitam legam tadi. Anjing itu hanya berjarak satu meter dari Devia, dengan lidah menjulur dari mulut merahnya dan mengeluarkan suara napas yang seperti tersengal-sengal. Kehadirannya di sana berhasil membuat Devia bergidik ngeri sekali lagi. Pria tadi lalu mengangkat tubuhnya dan kemudian berdiri di depan Devia sambil menyentuh bagian bawah kaos dan celananya yang basah kuyup. "Tenang saja, Jendral tidak akan menyerang orang kalau tidak aku perintahkan, kecuali ... kalau orang itu berbau mencurigakan." Devia kembali menatap pria dan anjing bernama Jendral tadi secara bergiliran dengan jantung yang masih berdebar ketakutan. Tak disangka, tubuh pria itu sangat tinggi --- nyaris mencapai dua meter. Badannya sedikit kurus, namun pria itu memiliki garis tubuh tegas bak model-model pria kebanyakan. Kulitnya sangat putih dan menjurus pucat. Ia terlihat tengah mengenakan kaos berwarna abu-abu dan celana pendek selutut beserta sepatu olah raga yang semuanya basah. Dan wajahnya.... Devia menahan napas menatap wajah pria tersebut. Gadis itu telah banyak menemui rekan atau atasan di tempat kerjanya yang tampan, tetapi pria di depannya saat ini luar biasa tampan. Dengan mata yang seolah sendu tapi tajam, hidung mancung dan tegak lurus, serta kulit kencang yang halus tanpa pori-pori ... pria itu terlihat bak manekin di toko-toko butik ternama atau karakter pangeran dalam kebanyakan komik-komik khas Asia Timur. Devia pun terpaku cukup lama menatap pria tersebut. Namun kemudian, lamunannya buyar saat menyadari anjing pitbull di belakangnya tiba-tiba bergerak mendekati tuannya. Gadis itu pun kembali merinding saat melihat anjing yang luar biasa besar tersebut berdiri dengan aura yang menyeramkan. "Terima kasih karena sudah membantuku, tapi sepertinya ... anjingmu tadi mengejarku. Itu yang menyebabkanku jatuh ke kolam," ujar Devia dengan nada sedikit menyalahkan. Pria itu menatap Devia dengan heran bersama dengan air kolam yang masih menetes-netes dari rambutmya yang acak-acakan dan basah. "Jendral? Oh, tadi kami sedang dalam perjalanan pulang lari pagi. Tiba-tiba tali rantai Jendral terlepas dari tanganku karena ia mengejar seekor tikus. Kebetulan, selanjutnya aku sadar ada orang yang memasuki wilayah rumahku begitu saja. Mungkin karena kau salah paham dan ketakutan, Jendral jadi curiga kepadamu tadi." "Tu-tunggu sebentar, i-ini rumahmu?" tanya Devia dengan raut wajah sangat terkejut. Pria itu hanya tersenyum acuh. Seketika Devia merasa sangat malu. Ia sudah bersikap paranoid, seakan dirinya tadi dikejar-kejar oleh penjahat dan sempat kesal tak berdasar. Ia bahkan tadi sempat mengancam mereka dengan profesi polisinya. Tak dinyana, ia malah memasuki wilayah kediaman orang yang dicurigainya tadi tanpa ijin. Tidak hanya itu, ia bahkan juga diselamatkan oleh orang yang tadi dicurigainya. Wajah Devia bertambah merah padam ketika sadar bahwa pemilik rumah yang tampan tersebut tadi memberikan bantuan CPR kepadanya. Itu artinya, secara tidak langsung ada kontak fisik yang sudah terjadi antara dirinya dan pria itu. "Apa polisi masa kini tidak bisa berenang?" tanya pria tersebut dengan nada datar namun juga dengan pandangan sedikit geli. "Ah, aku tadi tidak sengaja mendengar kalau kau menyebut dirimu polisi dan siap menembak kami. Lagi pula di balik jaketmu ada lencana Polri. Jadi ... yah, aku tahu kalau kau benar-benar polisi." Devia makin merasa malu. Gadis itu mulai salah tingkah di tempatnya. "Bukan tidak bisa berenang," kilah Devia dengan cepat dan sedikit gagap. "Kakiku terkilir saat terjatuh ke kolam secara tiba-tiba. Karena terpeleset, aku langsung panik dan malah merasa susah untuk menyelamatkan diri." Pria di depan Devia tersenyum sekilas dan melirik ke arah lambang kepangkatan di pundak Devia. "Kau bertugas di...?" "Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo," jawab Devia dengan intonasi suara yang mulai melunak. Pria tersebut mendadak bereaksi seperti kaget saat mendengarnya. Ia lalu mengamati Devia dengan teliti. Setelah agak lama memandangi gadis itu, ia kembali bertanya, "Namamu siapa?" "Aku? Devia. Namaku Devia Sarasmita." "Ah, Devia. Berarti kau dipanggil Bripda Devia. Nama yang bagus." Devia mau bertanya balik nama pria tersebut, tetapi pria jangkung itu langsung terlihat memandang arlojinya yang juga basah dengan wajah yang serius. "Sekarang jam enam kurang tiga puluh menit." "A-apa?! Sudah jam enam?!"Devia terlonjak kaget di tempatnya. Ia pun seketika bergegas mengangkat tubuhnya yang basah dari tempatnya duduk dengan panik. "A-aku harus buru-buru ke kantorku." "Maaf sudah memasuki rumahmu tanpa ijin dan terima kasih banyak atas bantuanmu. Sekali lagi, terima kasih," sambung Devia tergagap sambil kemudian melangkah buru-buru melompati deretan tumbuhan kaktus untuk menuju ke arah taman di samping tadi. "Bripda Devia," panggil pria tersebut dan membuat Devia refleks kembali membalikkan badannya dengan cepat. Pria itu kemudian melemparkan sesuatu ke arah Devia dan Devia menangkapnya dengan cepat. "Sampai bertemu lagi," cetus pria tersebut dengan suara tenang sambil memanggil anjingnya yang bernama Jendral tadi untuk memasuki rumahnya. Devia bengong di tempatnya sesaat. Ia menggenggam sebuah handphone butut miliknya yang penuh dengan balutan plester akibat basah kuyup. Ia pun makin merasa malu karena pria itu pasti melihat kondisi mengenaskan handphone Devia dan mungkin menertawakannya. Meskipun begitu, ia tidak ada waktu untuk merenungi lama-lama rasa malunya. Devia jelas sudah terlambat. Ia pun lalu menelusuri kembali jalanan menuju halte busway dengan gerak yang terburu-buru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD