Kematian Sang Bintang

1932 Words
Januari 2017 Close your eyes, lullabies Soon will banish all harms With the bright, morning light You'll be back in my arms Donita Sandra tak berhenti menyenandungkan lagu penghantar tidur populer anak-anak sambil berbaring di sofa panjang berwarna krem di rumahnya sendiri. Ia sudah hampir tiga jam kembali ke rumahnya --- sudah membersihkan diri dengan mandi, mengenakan makeup, menata rambut indahnya yang bergelombang panjang, lalu mengenakan gaun dan sepatunya yang terbaik. Setelah terlihat lebih rapi dan cantik, ia duduk mematung selama sejam lebih di lantai bawah dan kini berbaring di sofa panjang yang terletak di ruangan tengah tadi. Donita telah mengacuhkan ponsel iPhone keluaran terbarunya di ujung meja yang terus mengeluarkan nada getar, pertanda ada yang terus mencoba menelponnya sedari tadi. Setelah mendengar suara denting jam yang keras di ruangan tersebut, ia mendadak beranjak dari sofanya dengan sedikit lemas, meninggalkan meja dengan sebotol port wine vintage yang sudah habis beserta gelas red wine yang terjatuh di atas karpet bulu asli di bawah meja. Bersamaan dengan gelas kosong tersebut, juga terbaring sebuah piala penghargaan bergengsi dengan cetakan di bawah piala yang menunjukkan tulisan 'aktris terbaik'. Dari luar terdengar suara langit bergemuruh dan sesekali ... cahaya kilat langit seperti memotret suasana rumah gadis itu dari luar. Donita sekilas melihat jam besar antik di rumahnya menunjukkan waktu tepat tengah malam. Kini Donita mengambil sepatu biru langit merek Manolo Blahnik-nya yang berhak setinggi sepuluh senti dan sedari tadi tergeletak di lantai, kemudian memakainya. Lalu dengan kaki yang tidak lagi telanjang, ia menaiki tangga ke lantai dua, menuju kamarnya. Ia masih mengenakan gaun floral panjang khas Valentino di tubuhnya yang semampai. Sementara wajahnya yang cantik khas peranakkan Indonesia-Italia, masih segar dengan riasan makeup. Sepanjang perjalanan di tangga, ia menyentuh satu per satu foto artistik dirinya yang tergantung di sana dengan jari telunjuknya yang lentik dan dihiasi cincin emas putih manis bertakhta berlian biru --- senada dengan kalung di lehernya dan anting di telinganya. Ujung bibirnya masih menyenandungkan lagu penghantar tidur tadi dengan suara yang kini makin tertelan. Lalu di ujung tangga, ia menyeret kakinya menuju pintu kamarnya yang terbuka lebar dengan cahaya lampu kuning menyala. Donita menatap isi kamarnya dengan hampa. Ia sempat terdiam lama di depan pintu kamarnya, sebelum akhirnya memasuki ruangan tempatnya selalu beristirahat yang sangat megah dengan desain Victorian. Lalu dengan langkah kaki yang mengayun pelan, ia bergerak menuju pintu balkon kamarnya yang terbuka lebar dan menatap langit gelap yang sesekali diwarnai dengan kilat di beberapa titiknya. Udara masih sangat dingin dan cuaca masih begitu lembab. Di lantai balkon, semua persiapan Donita sudah matang. Ia melihat tali tambang coklat yang telah diikat sempurna di sela-sela balkonnya sejak beberapa jam lalu, masih tergeletak di bagian tengah lantai balkon. Donita pun membungkukkan badannya bak robot dan meraih tali tersebut di tangannya. Lalu dengan perlahan, ia menaiki balkon kamarnya --- masih mengenakan sepatu hak tingginya --- dan mendudukkan diri di pinggiran balkon yang setengah basah. Dengan raut wajah kaku, ia kemudian mengalungkan tali tersebut ke lehernya yang panjang dan mulus. Lalu dengan mengambil detik-detik napasnya yang terakhir, Donita memejamkan mata dan membiarkan ujung bibirnya masih menyenandungkan lagu tidurnya. So goodnight, dear again Let me kiss you and then Slumber on, slumber on I'll be with you at dawn Hanya beberapa detik usai menyenandungkan lagu tersebut, Donita menolakkan dirinya dari dinding balkon untuk bergerak terjun dari lantai dua. Ia masih berpenampilan utuh saat tali yang tergantung dari balkon tersebut menjerat lehernya yang rapuh seketika itu juga. Tubuhnya menggantung di pertengahan antara lantai satu dan dua --- dengan kedua kaki yang terlihat menggelepar di udara. Donita mencengkeram tali di lehernya sendiri sambil menatap kebun bunga cantik di taman bawah rumahnya yang dihias oleh ibunya. Mawar-mawar putihnya favoritnya yang penuh duri terlihat telah bermekaran. Anggrek-anggrek yang ditanam ibunya juga terlihat sangat cantik mewarnai tamannya yang kini basah oleh rintik hujan. Langit masih bergemuruh dan menyisakan kilat saat Donita mulai merasa tulang tenggorokannya seperti meremuk dan wajahnya yang merah padam seperti mau pecah akibat susah bernapas. Tidak sampai dua menit setelah merasakan reaksi tubuh yang mengerikan dalam menghadapi kematiannya, kini tubuh Donita mulai melemas. Lebih dari itu, ia hanya menjadi sebuah tubuh yang menggantung di rumahnya sendiri ... untuk dikenang. Donita Sandra tewas pukul 00.30 tengah malam --- dengan potret diri sama artistiknya dengan rangkaian sesi foto yang biasa ia jalani. Cantik, anggun dan kelam. ___ Februari 2017 Bripda Devia Sarasmita keluar dari rumah indekosnya yang kumuh dengan kondisi langit di luar yang masih gelap. Di waktu subuh, tidak begitu banyak orang yang lalu lalang di wilayah kosnya, meski daerah itu adalah daerah perumahan rapat khas Jakarta. Udara yang masih berhembus dingin membuat Devia yang masih terkena flu akibat kondisi cuaca buruk mengeluh. Ia berjalan cepat menelusuri gang-gang sempit untuk menuju halte busway terdekat. Meski saat itu masih subuh, Devia harus mengejar waktu agar sampai di kantornya sebelum pukul tujuh pagi. Mengingat rumahnya berada di ujung utara Jakarta, maka ia butuh persiapan lebih awal untuk berangkat dan membiasakan dirinya untuk mulai jalan sejak pukul lima pagi. Sudah hampir sebulan ini Devia dialihtugaskan ke Mabes Polri dari tempatnya bekerja selama dua tahun belakangan, yaitu Polres Jakarta Utara. Ia kini menjadi penyidik pembantu untuk Bareskrim Polri. Namun hingga kini, tugasnya lebih banyak hanya berkutat seputar wilayah administratif yang membosankan --- tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Yang paling parah adalah ... dulu dan sekarang ia masih saja menjadi korban bully para seniornya. Bahkan di saat ia sudah resmi bekerja untuk Unit Tipidum Bareskrim, kebanyakan tugas Devia hanyalah mengetik, menyediakan kopi, dan bolak-balik mengikuti perintah senior atau atasannya. Itu sebabnya Devia kini harus berangkat lebih pagi setiap harinya karena ia takut jika atasannya tiba lebih dulu darinya, maka harinya akan jadi malapetaka. Herannya, entah mengapa beberapa seniornya seolah sengaja tiba lebih pagi hanya untuk menghukum para junior yang terlambat. Dengan tekad bulat, pagi itu Devia memutuskan mengambil jalan pintas ke halte busway dengan melewati area perumahan mewah di dekat sana. Ia berjalan cepat menembus udara dingin dengan melompati jembatan kayu kecil sepanjang satu meter dan menelusuri tanah kosong penuh rerumputan, sebelum kemudian menjejakkan diri di salah satu blok perumahan mewah yang terkenal. Rumah-rumah di sana sangat mewah dan didesain seperti layaknya perumahan tanpa pagar seperti di luar negri. Rata-rata luas tanah tiap rumah seperti berukuran seribu meter lebih dengan masing-masing rumah memiliki taman yang besar. Setiap rumah setidaknya memiliki lebih dari satu mobil mewah dengan garasi yang besar-besar. Jalanan di blok-blok perumahan tersebut sendiri sangat lapang seperti luas jalan raya dan didominasi rumput golf di sana-sini. Bagian tengah jalan dipisah oleh deretan pohon palem tabung yang menjulang tinggi, beserta lampu jalanan di beberapa sisinya. Meski kondisi di sana masih sangat sepi dan kelam pagi itu, namun langkah Devia terbantu oleh cahaya jalan yang cukup terang di sana. Biasanya di jam-jam seperti ini, para petugas keamanan selalu lalu lalang mengawasi daerah perumahan tersebut. Namun konon belakangan mereka hanya berkumpul di beberapa tempat. Desas-desus penduduk sekitar mengatakan, rumah tempat seorang artis bunuh diri bulan lalu, kini sangat angker. Hal itu menyebabkan banyak orang kini ketakutan jika melewatinya atau bahkan jika sekadar berjalan sendiri di blok itu. Bulu kuduk Devia meremang mengingat kejadian soal kasus bunuh diri artis tersebut. Ia baru sadar bahwa untuk memotong jalan, ia harus melewati rumah sang artis yang diisukan angker itu. Devia tidak suka cerita horor, tetapi ia sudah terlanjur mengambil jalan pintas ke halte busway dan lupa bahwa ia harus melewati rumah sang artis. Bulan lalu saat kejadian perkara, Devia masih berada di Polres Jakut dan sempat ikut melihat TKP ke rumah sang artis, sebelum akhirnya Devia dialihtugaskan ke Mabes Polri hanya sehari setelahnya. Ia ingat bahwa sang artis, Donita Sandra bunuh diri akibat depresi dan mayatnya yang menggantung di balkon rumahnya, ditemukan oleh satpam perumahan setempat menjelang pagi. Karena karirnya melonjak tajam sebagai pemain film dan model dalam setahun belakangan, kabarnya ia menjadi mudah rapuh dan frustasi. Rekan-rekan Devia di Polres Jakut sempat menemukan fakta bahwa sang artis adalah pelaku prostitusi di kalangan elite dan baru menjalani aborsi. Namun ibu dari Donita Sandra minta fakta tersebut ditutup rapat untuk nama baik anaknya dan menolak memberi keterangan lebih lanjut karena saat itu dirinya sedang sangat terpukul. Kabarnya, ibu dari Donita Sandra masih menempati rumah tersebut hingga kini dan menolak menjual rumahnya. Berita kematian artis tersebut sendiri sempat membuat heboh publik dan terus menghiasi pemberitaan selama berpekan-pekan. Bulu kuduk Devia meremang. Ia kini berada hanya beberapa meter dari rumah Donita Sandra yang megah dan dicat serba putih. Siapa pun yang berada di posisi Devia, jika menoleh ke sebelah kiri dengan mudah akan melihat titik TKP tempat Donita Sandra gantung diri. Balkon kamar Donita sendiri memang tepat menghadap ke jalanan dan hanya terpisah oleh taman bunga mawar dan anggrek. Devia merinding dan ketakutan melihat suasana temaram di rumah tersebut dan segera memalingkan muka menatap jalanan. Ia pun mulai berjalan lebih cepat ketika mulai merasa suasana seram menghantuinya. Hanya beberapa detik setelah berusaha meninggalkan lokasi itu, Devia mendadak merasa punggungnya bergidik seakan ada yang menatap tajam ke arahnya dari belakang. Jantung Devia pun makin berdebar setelah sebuah ranting pohon di samping Devia bergerak-gerak, seirama dengan semak di bawahnya yang juga bergerak aneh. Gadis itu menahan napasnya dan mulai setengah berlari menyusuri jalan di depannya. Ia sadar betul saat itu langit masih gelap dan tidak ada seorang pun di sana. Mulutnya mulai komat-kamit berdoa ketika ia mendengar seperti ada suara-suara langkah yang mengikutinya dari belakang. Devia menolak untuk menoleh --- dan dengan jantung berdegup kencang, gadis itu mulai berlari. Anehnya, suara langkah seperti angin di belakangnya tadi seolah ikut berlari cepat menyusul Devia. Kini, Devia merasa seolah-olah ada yang memanggilnya dari belakang dengan suara yang halus. Bulu kuduk lehernya kembali meremang. Semakin cepat Devia berlari, semakin cepat suara di belakang mengejarnya. Karena ketakutan, gadis itu pun secara refleks membelokkan tubuhnya masuk ke sebuah perkarangan rumah terdekat di sebelah kirinya dan berusaha mencari bantuan. Namun tanpa disadarinya, ia telanjur masuk ke wilayah samping suatu rumah yang lebih gelap dengan kondisi lampu taman yang mati. Napas Devia tersengal-sengal ketika ia membalikkan badannya dan ia melihat kegelapan di belakangnya dengan mata melotot ketakutan. "Si-siapa di sana?!" serunya dengan suara bergetar yang dipaksakan keras menembus kegelapan. "Saya polisi dan memegang senjata. Kalau Anda macam-macam, saya akan menembak Anda!" "Jendral!" Sebuah suara seruan dari kejauhan terdengar oleh Devia --- kini semakin jelas --- seolah ada seseorang yang sedang memanggil entah siapa. Namun Devia malah menelan ludah dan tak sanggup bersuara, ketika mendadak ia menyadari munculnya sebuah sosok sangat mengerikan hanya beberapa meter di depannya. Seekor anjing pitbull hitam besar setinggi pinggang Devia dengan ikat leher duri besi yang mengerikan tengah menatap tajam ke arahnya. Devia kini menyadari bahwa sedari tadi, makhluk ini yang terus mengikutinya. Gadis itu pun melangkah mundur perlahan, tidak berani berteriak minta tolong pada suara seorang laki-laki yang tampaknya sedang mengejar anjing tersebut. Devia adalah pecinta anjing, tetapi bukan termasuk pecinta anjing seram. Ia tahu benar potensi seekor anjing petarung semacam pitbull sangat besar untuk menyerang jika diprovokasi. Devia sudah nyaris membeku akibat merasa sangat ketakutan. Tanpa sadar ketika anjing di depannya menggerakkan tubuhnya, Devia bergerak mundur cepat dan tiba-tiba terjatuh ke kubangan air di belakangnya yang ternyata adalah sebuah kolam renang. Gadis itu pun berteriak panik ketika menyadari wajahnya telah berada di dalam pusaran kolam renang dan berusaha bergerak cepat untuk naik ke permukaan kolam. Sayangnya, kakinya yang telah terkilir akibat jatuh malah membuatnya lebih dalam terpeleset ke kolam yang memiliki kedalaman sekitar tiga meter tersebut. Devia pun mulai megap-megap meraih permukaan yang gelap namun gerak tubuhnya yang panik membuatnya justru semakin terpuruk ke dasar kolam. Ia mulai merasa kehabisan napas sebelum akhirnya pandangan matanya mulai gelap. Hanya satu menit setelahnya, Devia pun berhenti bergerak dan tenggelam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD