12. JATD

2051 Words
Justin dan Dior tengah berjaga di depan api yang mereka hidupkan, sedangkan para prajurit tengah beristirahat seperti yang Justin perintahkan tadi. Suasana hutan nampak begitu sepi, hanya ada beberapa suara dari serangga malam saja. Keduanya nampak biasa-biasa saja ketika mendengar hal itu, sama sekali tidak ada rasa takut karena memang mereka terlatih berani sejak dulu. Mereka saling diam karena tidak ada yang ingin dibicarakan, hanya suara kayu yang terbakar saja yang terdengar juga beberapa suara serangga ataupun binatang malam seperti burung hantu dan lain sebagainya. Hutan ini adalah hutan pertama yang mereka datangi, mereka memilih hutan ini karena mengira kalau tempat ini cocok untuk istirahat. Tiba-tiba saja ada sebuah suara yang berasal dari balik semak-semak, sontak saja hal itu membuat Justin dan Dior langsung siaga. Keduanya berdiri sambil mengeluarkan senjata masing-masing dan mengarahkannya ke depan, takut ada sebuah bahaya yang mengancam mereka dan akan membuat mereka celaka jika saja mereka tidak siaga. Dior mengkode pada Justin agar Justin diam saja, sedangkan dirinya yang akan maju untuk melihat ada apa gerangan di balik semak-semak itu. Justin tentunya tidak bisa diam saja, ia juga harus siaga. Maka dari itu, Justin langsung berdiri di belakang Dior. Ia harus siap siaga, apapun yang akan terjadi nantinya harus dihadapi bersama. "Apa yang ada di sana?" tanya Justin. "Biar aku cek." Dior semakin melangkah maju, menajamkan penglihatannya saat ia semakin dengan dengan semak-semak yang bergerak itu. Belum sempat Dior menebas semak itu, tiba-tiba saja sesuatu dibalik semak-semak itu meloncati keluar. Ternyata itu adalah sekumpulan serigala kelaparan, mata serigala-serigala itu memerah. Air liurnya menetes seakan baru saja melihat sekumpulan makanan lezat yang siap untuk disantap. Baik Dior maupun Justin langsung siap siaga, mereka yakin kalau serigala-serigala itu bukanlah hewan sembarangan. "Justin, cepat panggilkan para prajurit! Kita telah dikepoin oleh hewan buas!" teriak Dior menatap sekilas ke arah Justin dengan pedang yang mengacung ke depan. "Baiklah!" Justin segera berlari, membangunkan para prajurit yang masih terlelap. "Kalian bangunlah, sedang ada bahaya yang tengah mengepung kita!" teriak Justin membuat semua prajurit itu langsung terbangun. "Kami akan siap siaga!" teriak mereka segera bangkit dan menyusul ke arah Dior diikuti oleh Justin. Serigala-serigala itu mulai maju, hendak menyerang mereka. Justin dan lainnya langsung siaga mengeluarkan senjata yang mereka miliki, melibas habis kepala-kepala serigala pemangsa yang kapan saja bisa mencabik-cabik tubuh mereka ataupun langsung menggigit mereka. Rupanya tak mudah dalam melawan hewan-hewan buas pemangsa itu karena ternyata saat kepalanya terpenggal, dengan ajaibnya kepala itu bisa menyatu kembali. Dan entah perasaan mereka atau memang benar terjadi, serigala-serigala pemangsa itu bukannya semakin sedikit malah seperti semakin banyak. Seakan ada sebuah magic jahat yang tengah membantu serigala-serigala itu untuk menyerang mereka. Ternyata tempat yang dikira aman, tak sepenuhnya aman karena selalu saja ada bahaya di dalamnya. Sama seperti tempat ini, di kala mereka sedang lengah dan ingin beristirahat, segerombol serigala dayang menyerang mereka. Serigala pemangsa yang begitu kuat yang kapan saja siap menyantap mereka hidup-hidup. Beberapa prajurit harus Justin dan Dior relakan habis dimakan oleh serigala kelaparan itu membuat para prajurit lainnya agak merasa takut karena khawatir mereka yang akan menjadi sasaran berikutnya. "Justin, kita harus lari dari sini. Serigala-serigala semakin banyak, kita tidak akan pernah bisa melawan mereka semua!" teriak Dior pada Justin. Tangannya terus berusaha melawan serigala-serigala yang hendak menyantapnya. "Kau benar, Dior. Aku juga merasa kasihan pada prajurit-prajurit yang nyawanya telah melayang karena ulah serigala itu!" Justin membalas. Hingga akhirnya, dalam sekejap Justin dan yang lainnya menghilang setelah Dior membacakan sebuah mantra sihir. Serigala-serigala pemangsa itu nampak kebingungan mencari keberadaan mangsa-mangsanya yang sangat lezat itu. Di tempat lain, Justin, Dior dan para prajurit merasa sangat lega karena bisa terbebas dari segerombol serigala pemangsa itu. Agak merasa sedih sekaligus kecewa karena di hari pertama mereka pergi, sudah ada beberapa prajurit yang tewas. Justin sendiri merasa kalau kekuatannya sama sekali tidak berguna karena ia tidak bisa menyelamatkan prajurit-prajurit yang sudah dimakan habis oleh serigala buas itu. Seakan ia seperti manusia biasa yang sama sekali tidak memilih kekuatan, mungkin jika ia tidak memiliki kekuatan itu akan lebih bagus. Ia tidak akan merasa terbebani saat yang terjadi tak seperti apa yang dibayangkan. "Sangat disayangkan kita harus kehilangan beberapa prajurit di hari pertama kita pergi," ujar Dior. "Aku merasa kalau kekuatan yang kumiliki ini tidak berguna." Justin tiba-tiba berbicara seperti itu sambil menatap kedua tangannya yang katanya memiliki kekuatan luar biasa yang pada kenyataannya tidak ada apa-apanya. "Kau tidak boleh berkata begitu, Justin. Kau harus yakin pada dirimu sendiri, akan ada saatnya kekuatan yang kau miliki itu akan berguna." Dior mencoba menguatkan Justin. "Terima kasih karena sudah menenangkanku." Justin tersenyum, merasa beruntung karena Dior memberinya sebuah ketenangan dengan perkataan itu. "Panglima, serigala-serigala itu sepertinya bisa mengikuti kita," ujar salah satu prajurit membuat Justin dan Dior langsung menoleh ke arah belakang. "Ayo, semuanya lari!" teriak Dior membuat semua prajurit pun langsung lari bersama dengannya dan juga Justin. "Bagaimana bisa mereka mengetahui tempat kita berada? Mengapa mereka juga bisa mengejar kita dengan cepat?" tanya Justin pada Dior di sela mereka berlari mencoba menghindari serigala-serigala pemangsa itu. "Aku rasa, ada seseorang yang dengan sengaja menyihir serigala-serigala itu, Justin. Setahuku, semua serigala yang ada di sini baik hati, sama sekali tidak pernah memangsa para kurcaci atau hewan lainnya." Dior membalas. "Ataukah mungkin Diavro yang telah menyihir serigala-serigala itu?" tanya Justin tak yakin. Musuh mereka hanya satu yaitu Diavro, bisa dipastikan kalau pelaku yang berkemungkinan besar melakukan hal semacam ini adalah Diavro. Memangnya siapa lagi? Justin sama sekali tidak pernah bertemu dengan musuh kerajaan Auguirel selain Diavro, si raja kurcaci jahat. "Kemungkinan besar memang dia pelakunya." Serigala-serigala itu semakin mendekati mereka membuat lari mereka semakin dipercepat. Dior berusaha mengusir serigala-serigala itu dengan sihirnya, tetapi entah mengapa sama sekali tidak mempan. Dior merasa sangat bingung sekali karena biasanya sangat mudah mengusir serigala-serigala itu, tetapi sekarang ini dari semua mantra sihir yang coba ia pakai sama sekali tidak bisa mengusir serigala-serigala itu pergi. "Apakah tidak ada cara lain untuk mengusir serigala-serigala itu?" tanya Justin yang mengerti keresahan Dior karena ia pun sama seperti Dior. Sudah berusaha semampunya, mengeluarkan kekuatan yang ia miliki meskipun itu hanya sia-sia saja karena serigala-serigala itu tak ada yang tumbang. "Aku ada cara, sepertinya kita harus berpencar. Agar serigala-serigala itu mengikuti salah satu dari kita." Dior memberikan sebuah ide. "Selagi ada jalan dua arah, kita akan mulai berpencar. Justin, kau dan beberapa prajurit lari ke arah kiri, sedangkan aku dan beberapa prajurit akan lari ke jalan yang kanan. Kau setuju?" Justin mengangguk. "Beberapa prajurit! Ikut aku dan sisanya ikut Justin! Ayo!" Mereka akhirnya berpencar, tetapi perkiraan mereka salah jika mengira kalau serigala-serigala itu akan mengikuti salah satu di antara mereka. Karena pada kenyataannya, serigala-serigala pemangsa itu juga membagi sejumlah mereka hingga akhirnya mengikuti keduanya dengan jumlah yang sama-sama banyak. "Sial! Mereka ternyata juga mengikuti kita!" teriak Justin pada para prajurit. "Tuan, kita tidak bisa terus berlari karena serigala-serigala itu pasti akan terus mengikuti kita!" ujar salah satu prajurit. "Iya, benar itu, Tuan Muda." Prajurit yang lain membenarkan. "Di depan ternyata jalan buntu, Tuan!" teriak prajurit lain membuat Justin menajamkan penglihatannya. Benar saja karena di depan sana ada jalan buntu, yang kemungkinan di bawahnya adalah jurang yang sangat curam. Mata Justin menjelajah hingga tatapannya mengarah pada pohon besar yang berada dekat dengan jurang itu. "Aku punya ide!" teriak Justin. "Apa itu, Tuan Muda? Bisakah dipercepat memberitahu hal itu pada kami? Serigala-serigala ganas itu semakin mendekati kita dan jurang pun juga semakin kita dekati," ujar prajurit. "Kita terus berlari hingga masuk jurang bersama dengan serigala-serigala itu." Prajurit saling pandang mendengar ide gila yang Justin katakan. "Bukankah itu sangat berbahaya? Baik bisa dia memberikan ide seperti itu?" "Apa dia ingin membunuh nyawa kita semua?" "Apa yang dia katakan tadi? Dia ingin bunuh diri bersama dengan serigala-serigala itu?" Pertanyaan-pertanyaan terucap berupa bisikan dari para prajurit itu, yang tentunya suara-suara itu masih bisa didengar oleh Justin. "Kalian tidak perlu merasa takut, ada aku! Aku akan melakukan sesuatu agar kita tidak ikut terjatuh di jurang itu bersama dengan serigala-serigala pemangsa itu," ujar Justin menjawab beberapa pertanyaan penuh kebingungan dari para prajurit. "Memangnya apa yang akan kau lakukan, Tuan Muda?" tanya salah satu prajurit itu penasaran. "Nanti kalian juga akan tahu. Yang aku inginkan sekarang ini kalian mematuhi semua perkataanku dulu, biar aku yang akan melakukan tugasku nantinya," jawab Justin. "Kalau kalian tidak ingin ikut ya tak mengapa, serigala-serigala itu akan memakan kalian nantinya." Justin kembali bersuara. Para prajurit saling pandang hingga mereka kompak mengangguk setelah bersama-sama membuat keputusan. "Kami telah bersumpah kalau kami akan ikut ke mana pun Tuan Muda pergi, kami juga rela nyawa kami melayang hanya demi menyelematkan Tuan Muda. Kami akan ikut saran dari Tuan Muda karena kami yakin itulah yang terbaik." Salah satu prajurit mewakili yang lainnya berbicara. "Baiklah, jika itu keputusan kalian. Aku merasa senang, biarkan aku yang bekerja. Kalian hanya akan mengikuti kata-kataku saja." Mereka semakin dekat dengan jurang itu, langkah pun sudah terhenti. Memang benar adanya kalau jurang di bawah sana sangat dalam, ditambah di bawah sana ada batu-batu besar tajam yang menyerupai pedang. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika tubuh mereka terjatuh dalam jurang itu kemudian tertusuk oleh batu-batu tajam itu. Meskipun semuanya memiliki ilmu sihir dan ini adalah dunia yang berbeda dengan bumi, tetapi hidup mereka sama sekali tidak abadi. Ada kalanya mereka akan mati jika sesuatu yang buruk terjadi. Berbeda dengan yang memiliki ilmu sihir hitam, hidup mereka jauh lebih panjang dari kurcaci kebanyakan. Maka dari itu terkadang banyak yang tergiur keabadian hingga mengikuti jejak Diavro. "Ayo! Loncat semuanya!" titah Justin pada para prajurit. Para prajurit nampak ketakutan, mereka saling pandang satu sama lain. Hingga ketika melihat Justin yang sudah melompat lebih dulu membuat mereka semuanya pun ikut melompat, mereka tidak bisa membiarkan tuan mereka pergi tanpa mereka. Serigala-serigala yang semula berlari kencang itu tidak dapat menghentikan langkahnya ketika tiba di ujung pembatas antara jurang dan juga tanah. Hingga akhirnya serigala-serigala itu pun terjatuh ke dasar jurang. Justin dan para prajurit tak jatuh ke dasar jurang karena saat mereka masih berada di atas langit yang di mana tubuh mereka bergerak lambat, Justin langsung mengeluarkan sihirnya hingga membawanya dan para prajurit naik ke atas pohon besar yang tadi ia lihat. Mereka kini berada di atas pohon besar itu sambil melihat ke arah serigala-serigala pemangsa itu yang mulai hancur lebur terkena batu tajam itu. Entah mengandung apa batu tajam itu hingga bisa memusnahkan serigala-serigala itu, sedangkan dengan pedang mereka sama sekali tidak berfungsi. "Kau benar-benar hebat, Tuan. Awalnya kami ragu kalau rencana ini akan berhasil, nyatanya semua serigala itu telah musnah," komentar salah seorang prajurit. "Aku sudah mengira kalau rencanaku ini akan berhasil, apapun hasilnya aku tidak akan pernah ragu loncat dari jurang itu daripada harus diterkam oleh hewan buas pemangsa," balas Justin. "Sekarang kita sudah selamat, lebih baik kita menyusul Dior dan yang lainnya. Barangkali mereka membutuhkan bantuan kita." Semua prajurit mengangguki perkataan Justin. Justin melompat dari atas pohon, diikuti oleh para prajurit. Mereka semua berlari mencari keberadaan Dior dan para prajurit lainnya yang entah saat ini berada di mana. Hingga akhirnya Justin dan para prajurit menemukan mereka yang tengah bertarung melawan serigala-serigala itu sesekali berlari menghindari kejaran serigala-serigala itu. "Ayo kita bantu mereka!" teriak Justin. "Iya, Tuan." Para prajurit langsung segera menyusul yang lainnya, menyerang serigala-serigala yang tidak bisa mati hanya dengan pedang yang mereka gunakan. Justin membiarkan semua bertarung, laki-laki itu menggunakan sihirnya untuk terbang dan mencari-cari apa saja yang bisa membuat serigala-serigala itu musnah tak bersisa. Seketika Justin ingat pada kejadian beberapa saat lalu, ia lantas segera terbang ke jurang untuk mendapatkan sesuatu yang bisa memusnahkan serigala-serigala itu. Justin melihat batu curam itu, dengan sihirnya ia mengambil beberapa batu tajam itu kemudian membawanya menuju Dior dan yang lainnya. "Kalian gunakan ini untuk menyerang serigala-serigala itu!" teriak Justin melemparkan satu persatu batu tajam itu pada para prajurit dan juga Dior. Dan benar saja, saat diserang menggunakan batu tajam itu, semua serigala seakan musnah tak kembali. Serigala-serigala yang diberi sihir hitam itu seperti kembali menjadi serigala biasa yang bisa tewas dibunuh. Hingga akhirnya serigala-serigala itu terbunuh di tangan mereka semua. "Kau benar-benar cerdik, Justin," ujar Dior sambil menghampiri Justin. "Kau menggunakan batu yang di dalamnya terdapat sesuatu yang bisa memusnahkan ilmu sihir jahat." Dior kembali bersuara, menatap batu di tangannya yang baru ia sadari ada kekuatan di dalamnya. "Aku melihat serigala-serigala itu jatuh ke jurang kemudian mengenai batu ini dan akhirnya mereka musnah. Maka dari itu aku kembali ke sana untuk mengambil batu ini," ujar Justin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD