13. JATD

1211 Words
Meskipun masih malam hari, mereka semua lebih memilih melanjutkan perjalanan ketimbang kembali beristirahat. Walau cukup melelahkan karena sempat berlari menghindari serigala-serigala pemangsa yang tadi mereka temui. Namun, semua itu sama sekali tidak membuat mereka berhenti, justru mereka harus segera menemukan sesuatu yang tersembunyi agar kehidupan damai tak menyerang kembali menerangi dunia Auguirel. Perjalanan mereka pun masih sangat panjang, pasti akan ada banyak tempat-tempat berbahaya lainnya yang harus mereka lewati. Mereka harus siap menghadapi semua bahaya yang menanti kedatangan mereka, bahaya yang mengincar nyawa mereka. Hidup atau mati, menang dengan membawa kekuatan baru atau kalah dengan kematian, semua itu mereka sendiri yang harus menentukan. Suasana hutan nampak begitu gelap, hanya ada sinar bulan merah yang menjadi penerangan perjalanan bagi mereka semua. Justin baru menyadarinya kalau hutan di sini tentu jauh berbeda dengan hutan di bumi, jelas saja berbeda karena waktu itu Raja Doe sudah mengatakan tentang hal ini. Jika hutan biasanya akan ada banyak pohon-pohon hijau besar yang menutupi langit, ada juga binatang-binatang liar di hutan. Berbeda dengan hutan di sini yang pohon-pohonnya cenderungnya kecil, hanya ada beberapa pohon besar saja. Pohon itu pun tak berwarna hijau, melainkan berwarna-warni. Entah memang dari sananya ataukah diberi pewarna saat pohon itu lahir. Justin menggeleng pelan, bisa-bisanya ia berpikir demikian di saat keadaan seperti ini. "Perlukah kita beristirahat sebentar?" tanya Justin. "Kau sudah lelah, Justin?" tanya Dior. "Hmm, aku hanya manusia biasa yang masih memiliki rasa lelah meski aku sudah memiliki kekuatan di dalam tubuhku." Justin menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kita semua akan beristirahat sebentar. Prajurit! Pastikan kalian mengawas tempat peristirahatan kali ini dengan teliti!" teriak Dior pada para prajurit. "Baik, Panglima!" Prajurit-prajurit itu langsung siaga di tempatnya, mengawasi tempat beristirahat mereka. "Aku tidak ingin kejadian tadi terulang kembali, lebih baik siaga di awal agar kita bisa bertindak lebih cepat dalam mengatasinya." Dior menjelaskan untuk menjawab kebingungan Justin. Dior menjentikkan jarinya hingga tiba-tiba saja tempat yang kosong tadi berubah menjadi tempat beristirahat mereka. Ada tenda dan juga api unggun yang mirip sekali dengan apa yang ditinggalkan mereka tadi karena kejaran serigala-serigala pemangsa. "Bukankah ini—" "Iya, ini memang tenda dan api unggun kita tadi. Aku memindahkannya ke sini dengan sihirku," ujar Dior membuat Justin mengangguk paham. "Kau beristirahat lah, Justin. Biar kami yang akan menjaga tempat ini." Dior meminta Justin berisitirahat karena dia tahu kalau Justin lelah. Justin hanya manusia biasa, berbeda dengan mereka para kurcaci yang sebenarnya memiliki tenaga lebih kuat dari manusia kebanyakan meskipun tubuh mereka lebih kecil dari manusia. Lagipula, mereka sudah terlatih hingga tak ada kata lelah, berbeda dengan Justin yang mungkin baru kali ini melakukan hal-hal berat. "Terima kasih." Justin pun akhirnya memasuki tenda, laki-laki itu tersenyum saat melihat Billy si boneka beruang hidupnya tengah menunggunya di dalam tenda. Karena sibuk menyingkirkan serigala-serigala itu, Justin jadi lupa kalau ada Billy bersamanya. Laki-laki itu pun langsung ikut bergabung dengan Billy, duduk di dalam tenda yang terasa sangat nyaman ini. "Hai, Billy!" sapa Justin. "Hallo, Justin." Billy menyapa balik sambil melambaikan tangannya. Boneka beruang itu nampak tersenyum ketika melihat Justin. "Maaf tadi aku tidak bisa membantumu, Justin. Apa kau terluka?" tanya Billy. "Tidak apa-apa, Billy, justru aku khawatir kalau kau membantuku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, aku sama sekali tidak terluka. Tak perlu mencemaskan ku," jawab Justin. "Kau adalah tuanku, jelas saja aku sangat mencemaskanku. Aku payah sekali karena tidak bisa membantumu." "Aku bukan tuanmu, Billy. Aku adalah temanmu. Seorang teman tidak perlu ada kata maaf, oke?" Billy menganggukkan leher pendeknya itu. Waktu istirahat Justin diwarnai dengan pembicaranya bersama Billy. Hingga tak terasa ia terlelap sampai matahari berwarna hijau bersinar terang. Jika bulan berwarna merah, maka matahari di sini berwarna hijau terang. Sehingga banyak cahaya hijau yang menyinari alam-alam ini. Herannya meskipun matahari hijau, sama sekali tidak ada pohon berwarna hijau. Rumput yang biasanya warnanya hijau pun berwarna lain, bisa menjadi biru atau kuning. Tempat ini malah seperti taman bermain anak-anak ketimbang tempat berbahaya. Walau pada kenyataannya tempat ini memang teramat bahaya karena katanya ada berbagai macam bahaya yang tengah bersembunyi dan siap menampakkan dirinya. Sudah cukup dengan waktu istirahat beberapa jam membuat Justin membuka kedua matanya. Ia tersentak ketika melihat langit sudah hijau, laki-laki itu lantas langsung keluar dari tenda. Membiarkan Billy yang tidur sambil mengigau karena ada hal penting yang harus ia sampaikan pada Dior. "Dior!" teriak Justin saat tak mendapati keberadaan Dior. "Ada apa, Tuan Muda?" tanya salah seorang prajurit langsung menghampiri Justin saat mendengar Justin berteriak. "Di mana, Dior?" tanya Justin. "Panglima tadi pergi sebentar bersama beberapa prajurit, Tuan," jawab prajurit itu. "Pergi ke mana?" tanya Justin lagi. "Saya sama sekali tidak tahu, Tuan. Panglima tidak memberitahu ingin pergi ke mana tadi." "Baiklah, kamu boleh pergi." "Baik, Tuan." Prajurit itu kembali ke tempatnya, siaga menjaga tempat ini bersama yang lainnya. "Ada apa, Justin?" tanya Billy yang tiba-tiba muncul di atas bahu Justin. "Aku sedang mencari Dior, ada yang ingin aku sampaikan padanya. Apa kamu bisa mencarinya untukku, Billy?" pinta Justin. "Tentu bisa, Justin." Billy langsung melaksanakan permintaan Justin yaitu mencari keberadaan Dior. Beberapa saat Justin menunggu hingga akhirnya Billy kembali bersama dengan Dior dan para prajurit di belakangnya. Melihat itu, Justin merasa sangat lega karena tadi ia sempat khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada Billy. Billy di sini sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri, tentunya ia akan teramat sedih jika terjadi sesuatu pada Billy. "Ada apa kau mencariku, Justin?" tanya Dior saat ia telah berada di dekat Justin. "Ada yang ingin aku katakan, Dior. Mungkin saja ini bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk pergi ke tempat selanjutnya," ujar Justin. "Petunjuk?" Justin mengangguk. "Iya, sebuah petunjuk yang sangat jelas terlihat." "Di mana kau melihat petunjuk itu?" Nampaknya Dior sangat penasaran. "Di alam mimpi, tetapi mimpi itu sangat nyata sekali, Dior. Aku yakin mimpi itu ingin memberikan petunjuk untuk kita," ujar Justin. "Petunjuk seperti apa itu, Justin? Bisa kau jelaskan padaku?" pinta Dior. "Di dalam mimpi itu aku seakan berada di sebuah tempat yang begitu gelap sekali, kemudian seperti ada satu cahaya yang ingin menyeretku masuk. Ada juga cahaya kecil yang memancarkan aura yang sangat dahsyat, bahkan yang aku rasakan seperti ada angin kencang." Dior mendengarkan penjelasan Justin sambil menelaah kata demi katanya. "Kau yakin itu adalah sebuah petunjuk?" tanya Dior lagi. "Aku sangat yakin sekali. Karena sangat jarang aku bermimpi, entah mengapa tadi tiba-tiba mimpi itu datang." Justin menjawab dengan sangat mantap sekali. "Kita bisa mencobanya, Justin. Apakah kau ingat jalan-jalan yang kau lalui di alam mimpi itu? Bisa jadi ada sebuah kekuatan yang tersembunyi di tempat yang kau ceritakan tadi." Justin nampak berpikir sejenak, mengingat-ingat jalan yang ia lalui lewat alam mimpi. "Aku tidak berjalan melewati tanah, melainkan terbang di atas langit lalu mendarat di suatu tempat yang ...." Justin berpikir keras, lebih tepatnya mengingat-ingat kembali jalan yang ia lalui. "Sepertinya aku ingat sekarang! Tempat itu seperti sebuah gua yang sangat besar sekali!" ujar Justin. "Sebuah gua?" gumam Dior. "Hanya ada sebuah gua di sini, lebih baik kita segera ke sana!" ujar Dior. "Iya." Dalam satu kali jentikkan jari, semua tenda langsung menghilang. Dior memerintahkan para prajurit untuk mengikutinya dan juga Justin yang akan segera pergi ke sebuah tempat yang Justin katakan tadi. Ternyata, petunjuk itu sangat berguna sekali bagi mereka saat ini karena sejujurnya mereka awalnya bingung ingin pergi ke mana. Beruntung sekali petunjuk berupa mimpi itu menghampiri Justin sehingga mereka bisa pergi dengan cepat saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD