03 - Bertemu Playboy kelas Kakap

1764 Words
Suara alarm yang sengaja dipasang oleh Nana di dalam ponselnya berbunyi cukup nyaring di sebelah telinganya. Supermodel itu seketika terjaga dari tidurnya. Nana menoleh ke samping kanan bagian ranjang, seorang pria bertelanjang d**a masih terlelap begitu nyenyak tanpa terganggu dengan suara alarm ponsel Nana, mungkin pria itu begitu lelah karena kegiatan berkuda beberapa jam lalu bersama Nana. Nana memindahkan lengan kokoh Calvin secara perlahan yang berada di atas perutnya lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya dan melenggang dengan begitu santainya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Nana menatap tubuhnya di depan cermin. Wanita itu lantas berdecak kesal melihat beberapa bagian tubuhnya dipenuhi oleh bercak merah yang nantinya pasti akan membiru bekas isapan brutal Calvin, apalagi bagian di atas bukit kembarnya. "Errr ... sungguh sialan sekali. Ini sangat menyebalkan," gumam Nana tampak begitu kesal. "Kenapa dia harus meninggalkan jejak di bagian sini. Untung saja aku sedang libur bekerja, kalau tidak, aku sudah pasti menjadi headline berita lagi. Ck! Benar-benar menjengkelkan, kenapa bisa aku tidak sadar dengan kelakuannya!" gerutu Nana pada  pantulan tubuhnya di cermin.  Nana bergegas membersihkan tubuhnya yang begitu lengket dengan keringat dan juga cairan klimaks hasil berkuda mereka beberapa waktu lalu. Butuh waktu lima belas menit untuk Nana mandi dan juga merias dirinya secara natural di dalam sana. Wanita bertubuh langsing itu melangkah ke luar dengan memakai bathrobe berwarna putih yang telah disediakan oleh pihak hotel untuk tamu mereka.Nana berjalan menuju tas dan juga paper bag yang ada di dalam lemari untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan. ****** T-shirt berwarna putih dan celana jeans berwarna dark navy menjadi pakaian pilihan Nana untuk ia pakai selama perjalanan dari Paris menuju Indonesia. Sangat kontras penampilannya ketika berada di depan kilatan kamera dan di dunia nyata. Nana memilih pergi ke salah satu negara di Asia Tenggara itu karena sudah membuat janji untuk bertemu sahabatnya yaitu Amanda Altakendra..  Amanda Altakendra adalah seorang arsitek cantik yang namanya sudah tersohor di antara para pengusaha dan kalangan pebisnis dunia. Wanita itu memiliki mulut tajam dan sinis dengan pria yang tidak diinginkannya. Sangat jarang melihat seorang Amanda bersama seorang pria begitu kebalikan dengan Nana yang selalu berganti pria dalam jangka waktu yang begitu dekat. Untuk itu Nana memberi julukan pada Amanda wanita lesbi dan Amanda menjuluki Nana sebagai Miss kecebong (larva binatang amfibi yang hidupnya di air dan bernapas dengan insang serta berekor--karena kecebong juga binatang yang hampir mirip dengan salah satu cairan yang dihasilkan seorang pria pada saat pembuahan). Nana kembali mematut penampilannya di cermin dan berputar kanan dan kiri memastikan tidak ada yang aneh atau tidak rapi. Sungguh berbeda penampilan yang ditunjukkan Nana ketika di kehidupan sehari-harinya dan kehidupannya berlenggak lenggok di atas catwalk dan bergaya di depan lensa kamera. Keseharian Nana jauh dari kata glamor, ia hidup tampak sangat sederhana meskipun sering kali menggunakan produk-produk mahal bahkan limited edition.  Sepasang bola mata biru memperhatikan tingkah laku Nana tanpa wanita itu sadari. Calvin memandangi Nana dalam diam. Pria itu selalu saja dibuat kagum atas pesona Nana, sederhana, tapi  tetap terlihat menarik dan juga seksi.  "Kau yakin akan pergi selarut ini?" tanya Calvin membuat Nana menolehnya lalu l mengangguk.  "Ini tidak larut lagi, Cal. Ini sudah pagi." Nana melihat jam tangannya, "sudah pukul 02.34 a.m," lanjut Nana. "Kau yakin tidak ingin tinggal beberapa hari lagi di sini bersamaku?" Nana menggeleng cepat.  "Aku sudah membeli tiket dan berjanji dengan sahabatku untuk bertemu,"  "Aku harus pergi lebih cepat karena harus kembali ke hotel terlebih dahulu untuk mengambil koper dan semua barang-barangku yang lainnya," jelas Nana dan Calvin mendesah pasrah mendengar jawaban itu.  Nana berjalan mendekati pria yang tengah menyandar di kepala ranjang dengan bertelanjang d**a. Wanita itu memberikan ciuman singkat pada bibir Calvin lalu tersenyum seolah semua baik-baik saja. "Aku harus pergi sekarang juga. Terima kasih untuk malam panas yang mengesankannya," ucap Nana begitu santai. "Aku pasti akan sangat merindukanmu," kata Calvin dengan berat hati. Supermodel itu menoleh ke arah Calvin dan bersedekap kedua lengannya di depan d**a. “Tidak bisakah kau memberiku satu kesempatan untuk kita berdua mencoba menjalin suatu hubungan?" tanya Calvin dengan nada penuh harap. Nana menggeleng mantap. "Jangan terlalu berharap banyak padaku, Cal." ucap Nana tegas. "Jika aku boleh jujur, aku sudah jatuh cinta padamu. Aku berharap setelah ini, kita masih bisa bertemu dan bisa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih," ucap Calvin jujur. Nana tertawa mendengar ucapan jujur dari seorang Calvin Hegen. Ini bukan kali pertama baginya mendengar pria menyatakan perasaan mereka pada Nana secara terang-terangan. "Simpan saja cintamu untuk wanita lain. Aku masih ingin bebas sendirian. Aku menghargai ungkapan perasaanmu, tapi aku hanya menganggap hubungan kita hanya sebatas bersenang-senang saja." Calvin mendadak kaku mendengar penolakan secara langsung dari mulut seorang Nana. Pria itu tidak pernah menyangka jika Nana begitu kuat pendirian dengan apa yang sudah ia katakan sebelumnya. Wanita itu terlalu mandiri dan tidak ragu untuk menolak seseorang. "Baiklah, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa di lain kesempatan." Kaki jenjang Nana melangkah menuju pintu, meninggalkan Calvin yang terdiam kehilangan kata setelah mendengar kalimat penolakan terang-terangan Nana tadi. ***** INDONESIA Hingar bingar cahaya lampu dan musik EDM (Electronic Dance Music) yang dimainkan oleh seorang DJ menambah kemeriahan isi salah satu kelab malam terbesar di Jakarta. Lautan manusia yang tengah berjoget sekedar melepas penat atau memang mencari kesenangan menjadi pemandangan yang sangat biasa.  Kedua wanita cantik menghempaskan b****g seksinya di atas kursi di depan bar. Seorang bartender memekik riang saat matanya menatap kedua wanita cantik di hadapannya. "Nana, Amanda! Wow, long time no see, Babe!" teriak Kai, seorang bartender yang menyapa Nana dan juga Amanda. Selepas landing di bandara dan mampir sejenak ke apartemen Amanda, sahabatnya, Nana memilih untuk pergi ke luar untuk bersenang-senang. Kedua wanita itu memutuskan untuk pergi ke kelab malam. Tidak ada lagi rasa jetlag yang dirasakan oleh Nana, wanita itu sudah begitu rindu untuk meliukkan tubuhnya di tengah lautan manusia di dalam kelab favoritnya. "Aku sangat baik, Kai. Bagaimana denganmu? Tapi tampaknya kau terlihat sangat luar biasa baik," sapa Nana ramah pada Kai dengan kedipan menggoda wanita itu. Amanda hanya tersenyum tipis melihat interaksi keduanya. Amanda bukan tipikal wanita yang mau berbasa-basi dan ramah pada sembarang orang. Ia terkenal begitu ketus dan pemarah. Jadi, Kai bahkan orang-orang di sekitarnya sudah memaklumi sifatnya itu. “Kau tampak begitu mengagumkan, My Supermodel,” pekik Kai begitu senang melihat kehadiran Nana di sana. Nana tertawa melihat Kai begitu ekspresif dalam menyambut kedatangannya. Ia senang bisa bebas bergaul dengan siapa pun tanpa ketakutan untuk dijadikan headline news. Kedatangannya ke Indonesia secara diam-diam dan tidak banyak orang yang tahu.  "Baby, aku akan ke sana. Aku sudah rindu ingin berjoget di tengah mereka semua," pamit Nana pada Amanda sambil menunjuk lantai dance. "Perhatikan tingkahmu, jangan gegabah. Aku tidak ingin mengurusi kegaduhan yang kau perbuat.” Amanda memberi peringatan. "Tenang saja. Di sini tidak begitu banyak orang yang mengenalku, jadi aku bisa sedikit aman, tidak seperti di New York, di setiap sudut tempat banyak paparazi yang menguntitku," kata Nana santai. Amanda mengibaskan sebelah telapak tangannya di depan wajah Nana. "Cepat pergi sana! Aku menunggumu di sini. Jam dua belas kau sudah harus kembali lagi kemari, kalau tidak---aku akan meninggalkanmu." Ancam Amanda yang ditanggapi dengan sentilan di ujung hidung oleh Nana pada Amanda. “Kau membuatku seperti Cinderella, Baby!” Nana berjalan dengan senyum lebar menampilkan deretan gigi putih terawatnya, meninggalkan Amanda hanya duduk di depan bar.  Supermodel itu tidak akan menyia-nyiakan lampu hijau yang diberikan oleh sahabatnya yang kejam itu. Nana meleburkan diri, berjoget meliukkan tubuhnya mengikuti irama musik yang dimainkan oleh DJ. Ia memakai masker setidaknya itu bisa menutupi sedikit identitasnya dan wajah tanpa riasannya. Lima belas menit berlalu, Nana terkejut saat sepasang lengan tengah memeluk perutnya yang rata dari belakang secara tiba-tiba. Wanita itu menoleh, matanya bertatapan dengan sepasang mata biru seorang pria tampan berkemeja putih yang kini tengah tersenyum miring kepadanya. Nana memicingkan mata serta mengerutkan dahinya, mencoba mengingat siapa pria tampan yang memiliki tatapan tajam serta berwajah indo itu.  "Samuel?" tebak Nana ragu dibalik masker yang ia kenakan. Pria itu tersenyum lantas membalikkan tubuh Nana agar sepenuhnya menghadapnya.  Sepertinya tebakan Nana tidak meleset. Benar, pria itu adalah Samuel Axeleo. Seorang CEO sebuah perusahaan jam tangan mewah yang berasal dari Swiss, pria yang terkenal dengan julukan playboy kelas kakap. Nana hanya menatap pria itu dengan ekspresi datar. Begitu berbanding terbalik dengan ekspresi yang ditampilkan pria itu saat Nana menatapnya. Nana membuka maskernya dan masih berusaha menebak-nebak, mengapa pria kaya itu bisa berada di Indonesia lalu secara kebetulan bertemu dirinya di tempat ini.  "Ya. Tebakanmu benar. Aku Samuel." "Hari yang begitu luar biasa bisa bertemu dengan seorang Belina Carmella Rose di sini. Aku pikir, aku hanya berhalusinasi melihatmu," ucap Samuel dengan tatapan penuh minat pada Nana. Sisi liar dan nakal Nana muncul begitu saja. Dengan santai, wanita itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Samuel. Senyum menggoda ditampilkan di wajah cantiknya. Nana juga tidak menyangka bisa bertemu secara langsung dengan pria yang biasanya hanya ia lihat di majalah atau televisi. Pria tampan dengan kekayaan yang melimpah ruah. Salah satu pria yang menjadi incaran para wanita seluruh dunia dan sekarang pria itu berada di depan wajahnya. Surprised!          "Wow!! Aku juga tidak menyangka bisa bertemu dengan seorang CEO tampan kenamaan dunia di tempat ini. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nana dengan suara sensual.  Senyum miring serta tatapan menggoda diberikan oleh Samuel saat mendengar ucapan Nana.   "Aku sengaja mencarimu, aku dengar kau berangkat ke Indonesia. Kebetulan sekali, aku sedang ada meeting di sini. Secara iseng aku main ke kelab ini dan ternyata aku menemukanmu di sini." Samuel menarik tubuh Nana agar lebih rapat padanya. Jemari Nana meraba wajah mulus Samuel dengan gerakan pelan yang membuat Samuel menggeram menahan desahan. Nana benar-benar wanita berbahaya, benar seperti gosip yang beredar. Namun, sepertinya itu bukan gosip melainkan fakta yang ada. Dengan sentuhan jemari saja di wajah sudah berhasil membuat turn on seorang pria.   "Kau tidak ingin menciumku?" bisik Nana tepat di depan bibir Samuel.  Tanpa menunggu lama dan menyiakan kesempatan yang ada, Samuel langsung melumat panas bibir wanita itu. Menjejalkan lidahnya dengan ganas dan melilit lidah Nana dengan penuh nafsu. Nana tersenyum di sela ciuman b*******h mereka. Wanita itu hanya mengikuti ritme ciuman panas yang diberikan Samuel padanya.     Nana melepas ciuman basah antara dirinya dan Samuel, saat seseorang tiba-tiba membisikkan sesuatu yang jauh lebih penting dibanding keinginannya bergulat dengan Samuel malam ini.  CEO tampan itu memandang Nana bingung, saat ciuman mereka terlepas. Kedua mata Samuel sudah dipenuhi kabut gairah dan Nana pun sebaliknya, tapi Nana tidak bisa melanjutkan aktivitas panas mereka. "Aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu lain kali." Nana pamit sembari mendaratkan kecupan singkat pada bibir Samuel. "Oh, Damn! s**t!" umpat Samuel saat menatap kepergian Nana yang begitu terburu-buru dari hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD