Kenapa ada istilah kalau cinta itu datang dari mata lalu turun ke hati? Entahlah, mungkin karena ia enggan mampir ke otak untuk diolah terlebih dahulu.
***
___________________________________
Author pov.
"Guys, kantin yuk. Lupa tadi gue kagak sarapan." Suara cempreng Jeje memenuhi ruang kelas.
"Sarapan aja lupa, untung tuh idung kagak ketinggalan," balas Beby.
"Wahh bawa-bawa idung gue! lama-lama gue slepet juga tuh jenong lo!" sewot Jeje mengungkit jidat Beby yang sedikit lebar.
"Sono dah lu pada tengkar dulu. Gue mau makan. Bye!" Kinal meninggalkan kedua sahabatnya begitu saja.
"Woii Paus! Tungguin napa!" seru Jeje menyebut Kinal dengan nama Paus.
"Lah gue ditinggal?!" Beby menyusul dua sahabatnya.
Mereka bertiga menuju kantin Fakultas Teknik yang berada di lantai satu gedung tersebut.
Kinal, Beby, dan Jeje.
Tiga gadis yang tidak terlihat seperti gadis pada umumnya. Mereka cenderung terlihat cool dengan gaya berpakaian dan perilaku mereka. Didukung dengan status mereka sebagai mahasiswi Fakultas Teknik salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta.
Tiga gadis yang sudah terkenal bahkan sejak menjadi mahasiswa baru. Mereka bertiga adalah putri dari pengusaha-pengusaha sukses di Indonesia dan Asia. Bersahabat sejak kecil karena bersekolah di tempat yang sama dari SD hingga SMA, sampai kuliah pun mereka memilih universitas yang sama juga.
Devi Kinal Putri Prawira, anak tunggal dari pemilik perusahaan properti, Wirar Property bernama Davi Wisnu Prawira. Kinal sudah menjadi piatu sejak kematian ibunya 10 tahun yang lalu. Meski begitu, Kinal tidak merasa dirinya kekurangan kasih sayang, karena Davi selalu meluangkan waktu untuk putri semata wayangnya di sela-sela kesibukan bekerja. Di usia yang ke 21 tahun ini, Kinal telah menempuh semester ketujuh di perkuliahannya dan mengambil jurusan Teknik Industri. Satu semester lagi ia bertekad lulus tepat waktu dan menyandang gelar Sarjana Teknik di belakang namanya.
Beby Chaesara Anandira, gadis jenius yang lebih muda satu tahun dari Kinal ini merupakan putri pertama dari Antonio Chaesar, seorang pebisnis di bidang perhotelan dan pariwisata ternama di Indonesia. Beby mempunyai saudara bernama Brandon Chaesar Andriata, mahasiswa Teknik Mesin semester tiga di kampus yang sama dengannya. Beby merupakan mahasiswi semester tujuh Jurusan Teknik Informatika dan menjadi yang terpintar di angkatannya.
Jessica Vania Walingsa, atau yang akrab di panggil Jeje sejak kecil karena tingkahnya yang sangat petakilan. Putri bungsu dari seorang pengusaha tambang batu bara di Sulawesi, Jordan Felix Walingsa. Bisa dibilang bahwa Jeje tinggal seorang diri di Jakarta, kakaknya sedang menempuh pendidikan S2 di luar negeri, sementara orang tuanya harus bolak-balik Jakarta-Sulawesi. Gadis mungil ini tengah menempuh pendidikan di jurusan Teknik Geofisika dan berada di semester yang sama dengan Kinal dan Beby.
Hari ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan Ujian Akhir Semester. Mulai besok kuliah mereka akan libur panjang sekitar 3 bulan sebelum memasuki semester delapan.
"Kalian liburan pada mau kemane?" tanya Jeje yang sedang menunggu pesanannya datang.
"Ngga tau juga gue, adek gue sih liburan sama temen angkatannya. Nah gue belom ada rencana apapun." jawab Beby.
"Lo, Nal?" Jeje menunjuk Kinal dengan dagunya.
"Kayaknya di rumah aja sih. Papa juga pasti sibuk, mana mungkin gue ajak liburan."
"Kalo kita liburan bareng gimana?" tanya Beby semangat.
"Ogah," jawab Kinal dan Jeje bersamaan.
"Kenapa?" Beby sendu.
"Bosen gue, tiap liburan semester kite always together," jawab Jeje dengan logat khas Betawinya.
"Bener tuh kata Jeje, kemana-mana kita bertiga mulu. Dari ke dufan sampe disney land, mending liburan ini kita tidur aja dirumah," lanjut Kinal.
"Yaahh.. Yaudah, siap-siap aja rumah kalian gue recokin," balas Beby.
"Lagian pikiran lo liburan mulu Beb, skripsi tuh urusin," sahut Kinal.
"Yee.. Skripsi gue mah udah jalan setengah, nah kalian apa kabar?" Beby membalikkan ucapan Kinal.
"Kabar baik sih, punya gue juga udah jalan hampir setengah," jawab Kinal percaya diri.
"Serius lu Nal? Kok lu ngga bilang-bilang sih? Gue aja baru nentuin tema." Jeje sendu.
"Ye kan gue ambil datanya di perusahaan Papa, jadi ya cepet Je."
"Iye juga ya, kayaknya liburan ini gue ke Sulawesi deh," kata Jeje.
"Ngambil data doang kan? Paling sebulan juga kelar Je," balas Beby.
"Pala lu sebulan!" sarkas Jeje.
"Trus berapa?"
"Yahh dua minggu lah," jawab Jeje enteng.
"Nyesel gue udah ngomong ama lu!" Beby kesal lalu menyeruput minumannya sampai habis.
Walaupun mereka berbeda jurusan, tapi ketiganya selalu menyempatkan untuk bertemu meski itu hanya sekedar untuk makan siang bersama.
Mereka sangat peduli satu sama lain, bukan karena sifat mereka yang hampir sama, tapi karena mereka sudah seperti saudara tak sedarah. Mungkin ini yang dinamakan sahabat sejati (?).
Tentang asmara...
Ketiganya belum pernah merasakan jantung yang berdebar lebih cepat karena menyebut sama seseorang. Mereka juga belum pernah memendam rindu yang teramat dalam pada orang terkasih. Ya, tiga gadis itu belum pernah jatuh cinta sebelumnya.
Bukan karena tidak ada yang mengutarakan cinta pada mereka. Bahkan beberapa kali ada yang mencoba mendekati mereka, tapi hasilnya nihil. Belum ada yang bisa membuat mereka merasakan getaran aneh ditubuhnya.
Bukan hanya pria, bahkan banyak gadis yang mencoba menarik perhatian mereka. Seperti sekarang, baru saja seorang gadis datang dan tiba-tiba duduk di sebelah Beby.
"Hai Beb,"
"Eh.. hai Nin, ngapain?" balas Beby pada gadis yang dipanggilnya 'Nin' itu.
"Mau ngasih kamu ini, makasih ya kemarin udah bantuin bikin tugas." dia memberikan kotak yang dibungkus dengan kertas berwarna pink.
"Sama-sama, kan itu tugas kelompok Nin. Apaan nih? Ngga usah Nin, kayak sama siapa aja. Santai aja sama gue," balas Beby mendorong kotak itu agar mendekat lagi ke pemberinya.
"Nggapapa Beb, ini buat kamu kok. Yaudah, aku kesana dulu ya? Bye..," dia pergi tanpa menunggu Beby membalas kalimatnya.
"Yaudah lah Beb, rejeki kagak boleh ditolak. Ya ngga Nal?" kata Jeje.
"Iya, tapi gue liat Anin kayak gimana gitu.. Kayak malu-malu gitu pas sama lo Beb. Lo ngrasa ngga sih?"
"Masa sih? Biasa aja Nal," ujar Beby sambil memasukkan kotak itu ke tas ranselnya.
"Biasa aje begimane? Si Anin sering banget ngedeketin elu Nong, kalo menurut gue sih ada ape-apenye," kata Jeje mencoba menerka-nerka sikap Anin.
"Tuh kan, Jeje juga ngrasa," sahut Kinal.
"Menurut gue sih biasa aja." Beby cuek.
"Susah ngomong ame jidat," celetuk Jeje.
"Eh lubang hidung segede goa. Mending lu urusin noh si Echa, masih aja lo gantung. Kagak kasian apa?" Beby mengalihkan topik pembicaraan.
"Iye Je, kalo lo ngga suka, mending lo tolak deh. Dari pada lo gantung, dia kan bukan jemuran," lanjut Kinal.
"Udah gue tolak tadi pagi. Tapi dia tetep mau usaha katanya. Yaudah biarin aje."jawab Jeje sekenanya.
"Sadis bener lu!"
"Gila gila!"
Tanggapan Kinal dan Beby saat mengetahui bahwa Jeje telah menolak cinta dari pria yang sudah lebih dari setahun berusaha mendekati Jeje.
Tepat pukul satu siang, mereka beranjak dari kantin dan menuju luar kampus untuk pergi ke toko buku. Karena jarak toko buku yang dekat, ketiganya memutuskan untuk jalan kaki dari pada harus bolak-balik parkir mobil.
"Panas banget nih hari yak? Tau gitu bawa mobil aja," keluh Beby.
"Toko bukunya deket Beb, lu ngga liat tuh jalanan macet? Malah lama kalo pakek mobil," sahut Kinal menunjuk padatnya jalan raya di samping mereka.
"Tau! Banyak ngeluh lu!" imbuh Jeje. "Eh btw Nal, seharian ini gue ngga liat Yona, kemane dia?" lanjut Jeje.
"Ngga tau. Gue kan bukan emaknye," jawab Kinal enteng.
"Ye kan biasanya dia ngintilin lo mulu."
"Udah capek kali," Kinal cuek.
Toko buku yang dituju berada di kiri perempatan jalan. Saat mereka berjalan di trotoar dan akan melewati tikungan, tiba-tiba..
Bruukk..
"Aauu!!"
"Aduuh!"
Seorang gadis bertabrakan dengan Jeje tepat di tikungan perempatan.
"Lo kalo jalan pakek mata dong!" sewot Jeje yang batal terjatuh kebelakang karena ditangkap oleh Kinal.
"Jalan pakek kaki, kalo liat baru pakek mata. Lagian situ yang nabrak." balas gadis itu tak terima.
"Bener juga sih, jalan kan pakek kaki," celetuk Beby pelan.
"Eh jenong, kok lo malah belain die sih?!" protes Jeje mendengar ucapan Beby.
"Udah udah, sama-sama salah." lerai Kinal.
"Kagak bisa! Dia yang nabrak gue," Jeje menunjuk gadis di depannya. "Dan lo, lo anak SMA kan? Yang sopan dong lo anak kecil. Minta maaf buruan!" perintah Jeje.
"Ngga mau, lagian situ lebih kecil." balas gadis berseragam SMA itu sambil melihat Jeje dari atas sampai bawah yang memang lebih pendek darinya.
"Ppfftt..." Beby menahan tawanya, seketika Jeje menatap tajam ke arahnya.
"Pokoknya lo harus minta maaf!" paksa Jeje.
"Ngga mau! Orang aku ngga salah."
"Minta maaf!"
"Ngga mau"
"Gre!" teriak seseorang dari belakang gadis SMA itu, ia berjalan cepat menghampiri gadis yang ia panggil 'Gre' di depan Kinal, Jeje, dan Beby.
"Eh kak? Kok lama banget sih jalannya?"
"Kamu yang kecepetan, kakak malah ditinggal. Gimana sih?!"
Kinal dan Beby hanya bisa melihat perdebatan kecil kakak beradik itu. Terutama Kinal, bola matanya seolah terkunci pada objek didepannya. Sementara Jeje..
"Lo kakaknya dia?" tanya Jeje ke gadis cantik berambut panjang yang baru datang.
"Iya, kenapa?" tanyanya sopan.
Pandangan Kinal tak beralih darinya, gadis cantik yang memakai kaos putih bergaris hitam dengan jaket birunya. Entah apa yang dipikirkan Kinal sekarang, sampai-sampai matanya enggan berkedip menatap gadis yang sepertinya lebih tua beberapa tahun darinya.
"Adik lo udah nabrak gue. Untung gue ngga jatoh." jawab Jeje melirik tajam ke si gadis SMA.
"Apaan? Bohong kak, kakak itu duluan yang nabrak aku."
"Gue? Lo yang nabrak gue!"
"Ngga, kakak yang nabrak aku!"
Jeje dan gadis SMA itu saling menatap tajam.
"Udah udah... Gre, kamu minta maaf ke kakak ini. Cepet," perintah si gadis cantik.
"Kok aku kak?" protes sang adik.
"Greee.."
"Iya iya. Aku yang minta maaf," ia cemberut lalu mengalihkan pandangan ke arah Jeje. "Kakak yang dari tadi marah-marah dan ngga mau ngalah, aku minta maaf ya..," ujar Gre dihadapan Jeje.
"Udah Je, maafin. Buruan." sahut Beby.
"Yaudah gue maafin." ucap Jeje.
"Nah udah beres, maafin kita juga ya.." ucap Beby melihat kakak beradik di depannya.
"Iya, yaudah kami duluan. Ayuk Gre," sang kakak menarik tangan adiknya.
Kakak beradik itupun melangkah menjauh dari Kinal, Jeje, dan Beby. Dan lagi-lagi mata Kinal masih mengikuti gadis itu.
"Nal?" tegur Beby
Kinal masih diam..
Beby dan Jeje saling melihat dengan ekspresi bingung.
"Nal, woi!"
Kinal not responding..
"Woii Paus!!!" Jeje menepuk bahu Kinal.
"Eh apa? Kenapa? Ada apa?" Kinal seperti orang linglung.
"Ada apa, ada apa. Elo yang ada apa? Ngeliatin apa lo sampe bengong gitu?" sarkas Jeje.
"Hah? Ng-ngga liatin apa-apa kok," Kinal gugup.
"Halah, gue merhatiin elo kali Nal. Dari tadi lo liatin cewek tadi kan? Ngaku lo!" tebak Beby.
"Ngga. Ngarang lu Beb!"
"Halah pakek ngeles segala lu kek bajay!"
"Udah udah, yok jalan lagi." Kinal mengalihkan pembicaraan. Ia baru sadar bahwa baru saja dirinya terhipnotis oleh gadis yang bahkan ia belum kenal sebelumnya.
***
Pukul lima sore, mata kuliah terakhir untuk hari ini baru saja usai. Kinal berjalan sendiri menuju parkiran kampus, karena Jeje ada rapat di himpunan dan Beby ada tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok.
Sejak kejadian tabrakan kecil di tikungan tadi siang, Kinal tak henti memikirkan tentang gadis itu. Bukan si anak SMA cerewet tadi, tapi kakaknya yang sampai detik ini wajahnya masih terbayang di benak Kinal.
"Kenapa aku mikirin dia terus ya? Apa aku pernah ketemu dia sebelumnya? Kayaknya ngga deh." gumam Kinal sembari berjalan menghampiri Ferrari F430 miliknya.
Kinal melajukan mobil kesayangannya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Tidak seperti biasa, hari ini Kinal tidak mampir kemana-mana sepulang kuliah, karena Davi -ayah Kinal- baru saja tiba di Indonesia sore ini. Davi memang seorang pekerja keras, baru saja ia membuka cabang baru perusahaan propertinya di tanah Eropa.
"Kinal pulang!!" seru Kinal saat ia baru melewati pintu rumah mewahnya.
"Anak papa akhirnya pulang juga. Gimana ujiannya? Lancar?" Davi berdiri dari duduknya di sofa ruang tamu dan menyambut Kinal.
"Papaaaaa!!!" Kinal berlari ke arah Davi dan langsung memeluknya. "Lancar kok Pa, hari ini terakhir uas-nya," pelukan Kinal semakin erat seolah menyalurkan rindu yang teramat dalam. Terang saja, sudah sebulan lamanya Kinal tinggal sendiri di rumah, karena Davi harus mengurus perusahaan barunya di negri orang.
"Bagus kalau begitu. Kalau IPK kamu naik lagi, kamu mau minta hadiah apa? Hmm?"
"Apa yaa? Terserah papa deh." Kinal melepaskan pelukannya.
"Kok terserah sih? Kamu mau liburan ke luar negeri? Sekalian ajak Jeje sama Beby. Nanti papa yang urus keperluan kamu."
"Ngga ah, Kinal ngga mau liburan dulu pa. Mau fokus skripsi dulu biar cepet lulus," senyuman bangga seorang ayah jelas terukir di bibir Davi. Kinal benar-benar putri idaman setiap orang tua.
"Yasudah, kalau kamu butuh apa-apa, langsung bilang ke papa ya..,"
"Siap pak bos!" ujar Kinal sok serius sambil berpose layaknya orang hormat.
Mereka bercengkrama menuntaskan rindu antara ayah dan anak. Kinal sangat mirip dengan ayahnya, dagunya, hidungnya, sampai bentuk rahangnya. Hanya saja yang berbeda adalah di kedua mata Kinal. Gadis itu mewarisi mata cantik dari almarhumah ibunya.
***
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Seperti hari ini, hari sabtu yang cerah untuk mengawali liburan semester. Kinal sengaja tidak memasang alarm dan bangun sesuka hatinya. Melewatkan jam sarapan pun ia tak peduli, yang jelas ia mau membalaskan dendam waktu tidur yang tersita karena ujian kemarin.
"Woii!!! Bangun paus!"
"Nal..!"
"Paus bangun!!"
Sudah hampir satu jam Beby berada di kamar Kinal, tapi si pemilik kamar masih terlelap damai di alam mimpinya.
"Punya temen gini amat ya?! Jeje juga ditelfon dari tadi ngga diangkat. Pasti masih molor, sama kayak nih paus!" gerutu Beby kesal.
"Naaall" Beby masih berusaha menggoyang-goyangkan badan Kinal.
"Emm..." Kinal menggeliat sambil bersuara khas orang bangun tidur.
"Akhirnya sadar juga! Tidur apa pingsan sih lo?!"
"Lo Beb? Jam berapa sekarang?" Kinal mengucek matanya.
"Jam satu siang."
"Hah?? Jam satu? Yang bener lo," Kinal tak percaya, seketika ia bangun dari tidurnya dan melihat jam di atas meja. "Pantesan perut gue keroncongan," ucap Kinal setelah melihat jarum jam.
"Sekalian aja perut lo suruh dangdutan!" sahut Beby.
"Iye, elo yang jadi biduannye. Tapi mana ada biduan cungkring kayak lo,"
"Bodo amat Nal. Gue laper, ayo ke bawah. Lo sarapan, gue makan siang." Beby melangkahkan kaki keluar kamar Kinal.
Beby memang sering ke rumah Kinal, walaupun hanya untuk sekedar main. Biasanya mereka berkumpul bertiga, tapi sepertinya hari ini Jeje sedang sibuk dengan aktivitas di alam mimpinya.
"Hari ini lo nginep disini aja Beb, besok kita joging kayak biasa," ucap Kinal, mereka berdua sedang asyik memutar dan menekan tombol pada stik PS di tangan mereka.
"Iye, gampang itu mah." Beby fokus dengan layar datar didepannya.
"Ah!!! Kalah gue! Sial!" Kinal melempar stik PSnya.
"Yes!! Gue menang. Sesuai kesepakatan, lo harus bikinin gue hot chocolate yang sama persis kayak bikinan nyokap gue. Sono buruan," Beby menagih janji Kinal sebelum mereka bertanding tadi.
"Ck! Mana tau gue gimana rasanya," gerutu Kinal.
Drrrtt..drrtt..
Ponsel Beby bergetar,
"Hallo?" Beby menerima telfon.
"....."
"Hah? Lagi? Astaga Brandon! Oke, saya kesana sekarang mas. Makasih ya,"
Beby menutup sepihak telfonnya, sementara Kinal menatap Beby bingung.
"Kenapa, Beb?"
"Adek gue, mabuk lagi. Ikut gue Nal, kita jemput dia,"
"Oke."
...
Mobil Kinal membelah jalanan yang cukup padat, mengingat malam ini adalah malam minggu. Dan sekarang mereka terjebak di perempatan, mobil Kinal berada di paling depan berhadapan dengan lampu lalu lintas dengan warna merah yang terlihat.
Mata Kinal memicing, mencoba memfokuskan pandangan di objek yang tiba-tiba saja menarik perhatiannya.
"Diaa..." Kinal melihat sosok gadis yang sedari tadi berkeliling di pikirannya.
"Kenapa Nal?"
"Beb, liat deh. Itu cewek yang tadi siang kan? Yang adeknya ditabrak Jeje?" Kinal memastikan pandangannya.
"Iye bener," jawab Beby singkat.
"Ngapain dia?" tanya Kinal sambil tak melepaskan tatapannya.
"Ya nyebrang lah! Pertanyaan macam apa coba. Udah jelas dia lewat zebra cross," jawab Beby.
"Maksud gue, dia mau kemana?" koreksi Kinal.
"Sejak kapan lo kepo gitu? Lo kenal dia?" selidik Beby.
"Ngga juga sih," balas Kinal.
Tin tin... tin!!
Tin!! Tiiiiinn...!
Mobil yang berderet di belakang mobil Kinal seolah sedang berdemo.
"Nal jalan Nal, nglamun aja lo!" Beby menepuk bahu Kinal.
"Eh.. iya iya, maap"
Kinal langsung tancap gas menuju club tempat Brandon mabuk.
***
Beby dan Kinal baru saja sampai di halaman rumah Beby dan Brandon. Mereka berdua turun dari mobil dan membopong Brandon yang setengah sadar.
"Berat banget nih anak! Kebanyakan dosa lu!" keluh Kinal setelah mendudukkan Brandon di sofa ruang tamu rumah Beby.
"Untung papi mami lagi di luar kota. Coba aja kalau mereka liat dia kayak gini, pasti abis dia dimarahin," ucap Beby sambil meregangkan tangannya.
"Ambilin minum gih, Beb!" titah Kinal, dan Beby pun langsung berjalan ke arah dapur untuk mengambil air.
"Heh! Kenape lo? Mabuk mulu kerjaan lo!" Kinal menepuk-nepuk pipi Brandon.
"Gue kurang apa ha?!! Kurang apa?!!" oceh Brandon dengan suara khas orang mabuk.
"Buset bau banget! Abis berapa botol sih lo?!" omel Kinal sambil menutup hidungnya karena mencium aroma alkohol yang menyengat.
"Percuma lo ajak ngomong orang teler Nal." Beby datang membawa segelas air putih. "Nih minum dulu, abisin." Beby meminumkan air itu ke adiknya.
"Gue kurang apa kak?? Kenapa Shania malah milih dia?" ucap Brandon diluar kesadaran.
"Milih siape?" Kinal menanggapi.
"Sakti, cowok tampang paspasan! Gantengan juga gue! Tajir gue! Kenapa Shania ngga milih gue?!!" Brandon meninggikan suaranya frustasi.
"Sakti siapa sih?" bisik Kinal ke Beby.
"Mana gue tau," jawab Beby singkat.
"Lah die tidur Beb? Cepet amat? Barusan tereak-tereak, sekarang udah molor aja," Kinal melihat Brandon yang memejamkan mata sambil mendengkur pelan.
"Udah biarin aja, lo nginep sini aja ya Nal?"
"Oke, gue telfon papa dulu," Kinal mengambil ponsel di kantong jaketnya dan langsung mengabari sang ayah.
Kinal memutuskan untuk menginap di rumah Beby. Sebenarnya jarak rumah Kinal dan Beby tidak jauh, akan tetapi saat ini Kinal harus menemani Beby. Siapa tau sewaktu-waktu Beby memerlukan bantuan untuk mengurus adiknya yang sedang mabuk sekarang.
***
Sang surya mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Sinar kuning keemasan menyapa hari minggu pagi dengan hangatnya.
Kinal dan Beby sedang menunggu Jeje di tempat yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Sesuai rencana, minggu pagi ini mereka bertiga akan joging bersama. Terakhir mereka melakukan aktivitas ini adalah saat sebelum berperang dengan ujian akhir semester. Itulah mengapa Beby sangat semangat saat Kinal mengajaknya joging bersama.
"Nal, Beb, woi!" teriak Jeje dari kejauhan.
"Oii Je!"
"Akhirnya lu dateng juga. Dah yuk mulai," ajak Beby.
Mereka berlari mengelilingi taman yang cukup luas dengan berbagai fasilitasnya. Taman ini berada di bagian depan komplek perumahan elit tempat tinggal Kinal dan Jeje. Sementara rumah Beby berada di komplek perumahan yang berbeda.
...
Selesai mengelilingi taman tersebut, mereka bertiga berjalan menuju ke minimarket depan komplek.
"Eh liat deh, kasian tuh kucing," Kinal menunjuk seekor anak kucing yang mengeong bingung di tengah jalan.
"Yaudah pinggirin Nal," balas Beby.
"Gue pinggirin dulu ya," Kinal menghampiri anak kucing berwarna putih tersebut.
"Gue masuk dulu deh, haus banget," Jeje memilih masuk ke minimarket dan membeli minum disana. Sementara Beby memilih duduk di kursi depan minimarket
"Lucu banget sih kamuuu...," Kinal gemas, lalu ia berdiri dan menggendong anak kucing itu.
Kinal tak menyadari jika ada mobil yang melaju kencang baru saja berbelok dan menuju ke arahnya.
.
TIN....TIIIINNNN!!
Betapa shock-nya Beby, sampai mulutnya menganga, matanya membulat melihat mobil itu melaju ke arah Kinal yang masih menggoda anak kucing digendongannya.
"NALL AWAAASS!!!" Beby berdiri dan berlari sekencang yang ia bisa, walau ia tahu jaraknya terlalu jauh dengan Kinal.
TIIN...TIIINNNN!!!!
Kinal menoleh, seketika ia membulatkan mata karena jarak mobil itu sangat dekat.
Beby masih berlari dan...
BRUUGH..!!
"Auww!"
"Naall!!!"
"Kak Ve!!!"
.
*****
.
.
To be continue.