AM 2: Gravitasimu

3461 Words
Bukan kau yang sengaja datang untuk menyelamatkanku, bukan aku yang sengaja terancam agar kau selamatkan. Tapi semesta yang ingin melihat drama baru di takdirku, takdirmu, takdir kita. *** ____________________________________ Author pov. "Nalll!!" "Kak Ve!!" Beby dan seorang gadis SMA berlari ke arah Kinal yang tidur telentang ditindih oleh seorang gadis cantik di pinggir jalan. Ya, gadis cantik itu adalah Veranda. Gadis yang dua hari ini berputar-putar di pikiran Kinal. Gadis elok berambut panjang yang membuat siapapun terpesona pada pandangan pertama. Seperti halnya Kinal, bukan hanya terpesona, bahkan Kinal sampai terhipnotis hanya dengan sekali tatap. "Auuw!" Veranda bangkit dari atas tubuh Kinal saat merasakan perih di telapak tangan kanannya. Sedangkan Kinal seperti orang linglung, masih tak sadar dengan apa yang terjadi. Ia sangat terkejut saat melihat mobil yang melaju kencang kearahnya dan tiba-tiba saja dirinya serasa terdorong ke samping menghindari mobil itu. Disinilah dia sekarang, terjatuh di pinggir jalan dengan posisi telentang dan memandang seorang gadis yang duduk disampingnya sambil membersihkan tangan. "Dia.." batin Kinal saat melihat wajah Veranda di sampingnya. "Heii..!, haloo!!" Veranda melambaikan tangan di depan wajah Kinal. Kinal tak merespon, "Mau sampai kapan kamu tiduran disitu?" tanya Veranda. "Eh??" Kinal sadar dan langsung bangkit, ia menegapkan tubuhnya dan duduk di depan Veranda. "Kamu nggapapa kan?" tanya Veranda pada Kinal. "Ng-nggapapa kok," Kinal gugup. "Gadis ini! Lagi lagi aku bertemu dengannya! Dia barusan yang nolong aku?" pertanyaan di batin Kinal. "Hah... hah... Lo nggapapa kan Nal?? Ada yang sakit?!" Beby panik ngos-ngosan. "Nggapapa Beb, cuma kaget aja." "Kakak nggapapa kan kak? Kenapa kakak main lari aja sih? Trus malah nyelametin kakak ini, kalau kakak kenapa-kenapa gimana??" pertanyaan bertubi-tubi dari gadis bernama Gracia yang tidak lain adalah adik kandung Veranda. "Nggapapa kok Gre, kita pulang yuk?" ia berdiri dibantu oleh adiknya. "Eh tunggu, lo yang kemarin kan? Yang ketemu kita ditikungan? Makasih ya, udah nolongin temen gue tadi. Untung lo tanggap banget, jadi Kinal ngga sampe ketabrak mobil," ujar Beby tulus. Sedangkan mulut Kinal seolah beku, ia tidak mengatakan apapun walau hanya ucapan terima kasih. "Sama-sama, tadi aku cuma kebetulan lewat kok. Bilang sama temen kamu, lain kali hati-hati," Veranda melirik Kinal yang masih memandangnya sedari tadi. "Udah yuk kak, kita pulang. Tangan kakak luka tuh," sang adik menarik tangan kakaknya. Mereka berjalan meninggalkan Kinal dan Beby. "Tunggu!" seru Kinal yang membuat langkah mereka terhenti. "Ini... sebagai ucapan terima kasih saya, tolong diterima," Kinal mengeluarkan beberapa lembar kertas merah dari dompetnya. Veranda tersenyum, "tidak perlu, saya menolong bukan untuk imbalan. Terima kasih," tolaknya halus. Kemudian melangkah pergi bersama adiknya. Kinal kembali mematung, baru kali ini ia melihat gadis yang bukan hanya cantik parasnya, tapi juga hatinya. Kata yang keluar dari mulutnya sangat lembut terdengar di telinga Kinal. "Nal, kok lo malah ngasih dia uang sih?" tanya Beby heran dan membuyarkan lamunan Kinal. "Trus gue harus ngasih apa? Masa gue ngga bales dia apa-apa, kan dia udah nyelametin gue Beb." "Cewek baik kayak dia ngga bakal nerima kalo dikasih uang gini Nal. Ya udah, kayaknya bilang makasih aja cukup," jawab Beby. "Gitu ya? Oke!" Kinal menarik nafas dalam dan ... "HEI KAMUU!! MAKASIH YA UDAH NYELAMETIN AKU!! SEMOGA KITA BISA KETEMU LAGI LAIN WAKTU!! MAKASIIHH!!!" teriak Kinal sangat keras, Veranda hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis. "Woii!! Kalo mau tereak bilang-bilang dong! Sakit nih kuping gue!" Beby menoyor kepala Kinal. "Hehe iya maap," ucap Kinal seolah tak berdosa. "Yaudah yuk samperin Jeje," ajak Beby sambil melangkahkan kakinya. "Eh Beb..." "Apa lagi Nal?" "Kok tangan gue perih ya?" ucapan Kinal ini membuat Beby menoleh cepat. "Tangan lo!! Darahnya banyak banget! Bego banget sih baru nyadar!" Beby melihat luka di bawah siku kanan Kinal, darahnya sudah mengalir sampai telapak tangannya. "Pantesan perih," Kinal meringis kesakitan. Saking terpesonanya Kinal pada gadis malaikat tadi, sampai ia tak merasakan perihnya luka di tangannya. "Yaudah ayok diobatin." Mereka berdua langsung bergegas ke rumah Kinal dan meninggalkan Jeje yang masih di dalam minimarket. *** Siang hari di kediaman Kinal, tiga gadis sedang duduk di ruangan kecil depan kamar Kinal. Bisa dibilang itu adalah markas mereka saat berkunjung ke rumah Kinal. Ruangan dengan satu sofa panjang berwarna biru muda, meja kecil di pinggir sofa, karpet tebal yang tergelar di lantai, dan televisi layar datar dilengkapi dengan play stations terbaru. Serta beberapa mainan non elektronik, seperti ular tangga, catur, monopoli, dan lain sebagainya. "Ssshhh.. perih Je! Pelan-pelan dong!" keluh Kinal saat Jeje membersihkan lukanya. Setelah dilihat lagi, luka Kinal bukan hanya di siku kanan, melainkan sepanjang lengan bawah sebelah kiri dan punggung telapak tangan kiri, walaupun lukanya tak separah luka di siku kanannya. "Sukurin! Lo sih bego! Ada mobil tuh minggir, malah ngejogrok di tengah jalan. Lu pikir lagi debus?! Jeje kesal. "Namanya juga shock," balas Kinal. "Shock apaan? Kaos kaki?! lagian gue kesel sama kalian. Main tinggal aja, untung gue ngga diculik!" "Mana ada yang mau nyulik lo Je, yang ada penculiknya rugi, makannya ludes lu sikat," sahut Beby yang baru datang membawa kompres air dingin untuk lengan atas Kinal yang lebam. "Haha bener tuh!!" lanjut Kinal. "Berani lo ngetawain gue ha?!" balas Jeje sambil menekan luka Kinal. "Au auu.. sakit bego!" Jeje dan Beby mengobati luka Kinal hingga tak terasa waktu makan siang segera datang. Mereka pun makan siang bersama di ruang makan rumah Kinal. Setelah itu, permainan monopoli menjadi pilihan mereka untuk mengisi minggu siang ini. *** . Beberapa hari ini, dua sahabat Kinal selalu berkunjung untuk mengobati luka Kinal, membersihkan, mengganti kasa, memberi antiseptik, dan lain sebagainya. Tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Selama tiga hari pula, Kinal belum bertemu lagi dengan gadis penolongnya. Bagi Kinal, tiada satu malam pun yang terlewat meski hanya untuk membayangkan wajah teduh gadis yang belum ia ketahui namanya itu. Luka di kedua tangan Kinal sudah mulai mengering, hanya luka di bagian bawah siku kanannya yang masih membutuhkan perawatan ekstra. Malam ini Kinal pergi ke rumah Beby, karena ia bosan dengan suasana rumahnya tiga hari ini. Kinal memilih untuk berjalan kaki dan menikmati suasana malam. "Tempat ini, tempat dimana Tuhan sangat baik padaku. Dia mengirimkan malaikat tak bersayap untuk menyelamatkan nyawaku," gumam Kinal kala melewati jalan tempat ia hampir saja tertabrak mobil. Sejatinya, Kinal adalah gadis pemberani jika lawannya adalah manusia sama seperti dia. Entah preman, brandalan, atau apapun sebutannya, Kinal tak akan gentar jika melawan mereka. Tapi, jika yang berhadapan dengannya bukanlah manusia, Kinal pasti akan lari terbirit-b***t. Karena sewaktu kecil ia pernah memiliki pengalaman buruk dengan hal yang berbau mistis. Seperti sekarang, Kinal sedang berusaha mengusir pikiran negatif dan sedikit mempercepat langkahnya. Sekarang Kinal akan memasuki komplek perumahan tempat tinggal Beby, tapi ada satu hal yang tiba-tiba saja mengalihkan perhatiannya. Kinal melihat gadis malaikat itu sedang berjalan di atas trotoar, seketika Kinal langsung menghampirinya. Kinal melihat Veranda berdiri di halte bus, niat Kinal untuk menghampiri berganti menjadi mengikuti. Kinal penasaran kemana Veranda akan pergi, karena hari sabtu lalu ia juga melihat Veranda menyeberang jalan malam-malam. Veranda berdiri di halte, Kinal berdiri sedikit jauh di belakang Veranda. Veranda menaiki bus, Kinal pun ikut menaiki bus yang sama. Veranda turun di suatu tempat, Kinal juga turun di tempat yang sama. Beruntungnya tadi Kinal mengenakan topi, setidaknya untuk menutupi wajahnya jika tiba-tiba Veranda menyadari keberadaanya. Langkah demi langkah dilalui Kinal di belakang Veranda. Ia tak menghiraukan dinginnya malam yang menembus jaketnya. Kinal menghentikan langkah saat melihat Veranda masuk ke sebuah club malam. Kinal berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk masuk dan mencari Veranda. "Tunggu, lo orang baru ya? Kalau mau masuk tunjukin KTP lo," perintah seorang pria berbadan tegap di depan club. "Kenapa pakai KTP segala?" "Itu peraturan, kalau ngga mau, yasudah pergi sana." "Oke oke, ini," Kinal memberikan KTPnya. "Oo lo anak kuliahan?" "Iya." "Rumah lo di daerah itu? Anak orang kaya dong lo?" "Biasa aja." .... Kinal menjawab singkat semua pertanyaan pria itu. Kinal di perbolehkan masuk setelah pria itu mengembalikan KTPnya. Seperti club malam pada umumnya, musik dan kilatan cahaya lampu ada dimana-mana. Kinal memperhatikan sekeliling dan memutuskan duduk di satu kursi depan bartender. "Itu dia!" seru batin Kinal saat melihat Veranda menuruni anak tangga dan sampai di lantai satu. Mata Kinal memicing memperhatikan Veranda yang berjalan menjauh dari ruangan bar. Lagi-lagi Kinal penasaran dan mengikutinya. Langkah Kinal terhenti di depan pintu toilet. Ia sangat yakin kalau baru saja Veranda memasuki toilet ini. Kinal pun masuk dan mendapati satu bilik toilet dengan pintu tertutup. "Hiks..hikss.hikss.." Kinal mendengar suara tangisan wanita. Kemudian Kinal menempelkan daun telinganya ke pintu toilet yang tertutup. Ternyata benar, suara tangisan itu berasal dari dalam toilet. Kinal bingung harus bagaimana, diam atau melakukan sesuatu (?). Tiba-tiba pintu toilet terbuka, "Dia keluar! Pura-pura ngaca aja kali ya..." batin Kinal. Tapi sialnya, Veranda juga ikut bercermin dan berdiri di sebelahnya. "Hai...," sapa Kinal dari pantulan cermin. Seketika Veranda menoleh ke arahnya dengan ekspresi sedikit kaget. "Kamu lagi?! Ngapain disini?" Kinal melihat Veranda dari atas sampai bawah. Ia menyadari bahwa pakaian Veranda telah berganti. "Eh?.. itu.. aku cuma numpang pipis, iya numpang pipis. Hehe.," jawab Kinal asal. "Ohh..," balas Veranda dan melangkah pergi meninggalkan Kinal sendiri di toilet. Kinal kembali mengikuti Veranda, dan melihat Veranda yang duduk di samping pria paruh baya. Mereka berdua terlihat mesra. "Hai.. sendirian aja?" sapa seorang gadis yang tiba-tiba muncul di samping Kinal entah dari mana datangnya. "Eh? Iya kak," balas Kinal spontan. "Kak? Jangan panggil kak dong. Palingan kita seumuran. Lo anak kuliahan kan?" tebak gadis itu. "Iya kak. Eh.." "Nat, Natalia. Panggil aja Nat," lanjut Natalia. "Kinal. Salam kenal Nat." "Kaku banget sih lo. Ngapain disini? lagi suntuk ya?" tanya Natalia sok akrab sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kinal sekilas. "Ngga kok, lagi nyari seseorang aja." "Siapa?" "Itu. Gadis itu. Lo kenal Nat?" Kinal menunjuk Veranda yang duduk di sofa. "Dia? Bagus juga selera lo. Dia itu kerja disini. Namanya Veranda. Dia pendiem banget, tapi justru itu yang bikin orang penasaran. Dan asal lo tau, dia mahal banget. Kayaknya anak kuliahan kayak lo ngga bakal kuat buat nyewa dia." jawab Nataila, seketika Kinal menunjukkan ekspresi kaget mendengar kalimat Natalia. "Kenapa? Kok lo kaget gitu sih?" tanya Natalia heran. "Eh? apa Nat?" "Wajah lo. Kenapa shock gitu?" "Ngga, cuma agak kaget aja. Jadi dia itu ..," Kinal tidak yakin untuk melanjutkan kalimatnya. "Iya, dia cewek sewaan, wanita malam, wanita penghibur, p*****r, kupu-kupu malam, apapun lah istilah lo." kata Natalia enteng. Kinal semakin tak percaya dengan semua ini. "Yaudah deh Nal, karena target lo itu Veranda, gue jadi minder sendiri. Gue kesana dulu ya, kali aja ada mangsa. Haha. Bye Nal..," gadis berpakaian minim itu pergi meninggalkan Kinal. "Iya Nat, thanks ya.." Kinal masih memperhatikan Veranda. "Veranda, nama yang cantik, secantik orangnya," batin Kinal terus memandang Veranda. Veranda yang merasa diperhatikan pun menatap balik Kinal. Seketika Kinal membuang tatapannya ke arah lain entah kemana. Kinal diam, otaknya masih berusaha mencerna tentang informasi yang baru ia dapat. Tapi semakin berpikir, semakin banyak pertanyaan yang muncul di otak Kinal. Veranda, gadis itu benar-benar membuat Kinal bingung sekaligus penasaran. Gadis baik seperti Veranda mempunyai pekerjaan nista di tempat hina ini. Lamunan Kinal buyar saat melihat Veranda berdiri dan bergandengan mesra dengan pria paruh baya tadi. Mata Kinal masih mengikuti Veranda, tapi Kinal melihat dua orang itu menaiki anak tangga. "Jangan-jangan mereka mau gitu-gitu, aku pulang aja deh," batin Kinal memutuskan untuk mengakhiri aksi membuntuti Veranda malam ini. *** . Pagi hari yang ditunggu oleh Kinal telah tiba. Kinal sengaja bangun lebih awal dengan harapan akan bertemu dengan Veranda. Semalaman ia tak hentinya memikirkan tentang Veranda dan pekerjaannya. Sampai ia memutuskan untuk menanyakan secara langsung ke Veranda. "Aku bakal nunggu kamu disini Veranda, kalau kemarin kamu melakukannya dengan pria itu, pasti kamu akan pulang pagi-pagi sekali," terka Kinal, ia berdiri di dekat pintu masuk kompleks perumahan tempat ia melihat Veranda kemarin. Dugaan Kinal benar, matanya menangkap sosok gadis yang ia targetkan baru saja turun dari taksi. Melihat itu, Kinal bergegas mengikuti Veranda yang berjalan dengan langkah sedikit cepat. "Dia pakai baju kayak pas berangkat kemarin malem," gumam Kinal sambil terus melangkah di belakang Veranda. Veranda memasuki gang kecil yang letaknya di seberang kompleks perumahan tempat Beby tinggal. Kinal ikut masuk ke gang dengan ukuran lebar sekitar 2 meter itu. Veranda berbelok ke kanan dan berjalan terus hingga sampai di depan sebuah rumah kecil sederhana. "Apa itu rumahnya ya?" kata Kinal saat melihat Veranda memasuki rumah itu. Rumah sederhana dengan pekarangan cukup luas didepannya. "Eh.. itu.." Kinal melihat seorang gadis berseragam SMA yang baru saja keluar rumah disusul dengan Veranda. Gadis itu adalah Gracia, ia mencium pipi dan punggung telapak tangan Veranda seolah sedang berpamitan ke ibunya. "Apa aku kesana sekarang ya? tapi pasti dia capek, kan baru pulang. Nanti aja deh kesananya," Kinal berkata pada dirinya sendiri. Kinal memutuskan untuk pulang saat melihat Veranda masuk ke rumahnya dan menutup pintu dari dalam. *** Perasaan Kinal masih belum tenang karena pertanyaan-pertanyaan di benaknya belum terjawab. Sore ini ia kembali ke rumah itu, berharap bisa bertemu langsung dengan Veranda. Ia mengendarai motornya dan masuk ke gang yang ia lewati tadi pagi. Kinal berhenti di depan rumah Veranda dan mendapati Gracia sedang berdebat dengan seorang wanita di depan rumah. "Pokoknya kamu harus bayar kontrakan sekarang! Tidak ada alasan lagi!" serunya. Kinal mendekati rumah dan berdiri di belakang wanita berdaster itu. "Tapi kakak saya baru gajian nanti malam Bu, nanti aja Ibu kesini lagi," balas Gracia. "Tidak bisa! Setiap hari alasan kamu selalu seperti ini. Saya tidak mau ditipu anak kecil. Bayar sekarang!" maki si Ibu. "Maaf.. ini ada apa ya?" ujar Kinal sopan. "Kamu siapa?!" sarkas Ibu itu ke Kinal. "Eumm... saya.. saya teman Veranda, kakaknya dia. Maaf Bu, tapi kenapa Ibu memarahi anak ini?" tanya Kinal sopan. Sementara Gracia bingung, kenapa Kinal tiba-tiba datang dan mengaku sebagai teman Veranda. "Ooo kamu temannya Veranda? Bilang sama teman kamu itu ya, kalau tidak bisa bayar kontrakan hari ini, besok dia harus angkat kaki dari tempat ini!" "Memangnya berapa yang harus dibayar Veranda, Bu?" tanya Kinal sopan. "Empat setengah juta, dia sudah nunggak bayar tiga bulan. Kenapa? Kamu mau bayar?" "Iya, tapi saya tidak bawa uang cash Bu. Gini aja, ibu tunggu disini, saya ke ATM sebentar buat ambil uang. Oke?" Kinal berusaha akrab untuk meredam emosi si Ibu. "Ngga usah Kak, nanti Kak Ve aja yang bayar," cegah Gracia. "Udah nggapapa, kamu tunggu sini ya," balas Kinal. "Ngga usah Kak," Gracia memegang lengan Kinal. "Nggapapa, nanti kalau Kakak kamu udah gajian, biar dia bayar ke aku. Yang penting sekarang kamu ngga kena marah ibu ini, bentar ya..." Kinal melepas tangan Gracia dan pergi dengan motornya. Uang empat setengah juta bukan hal yang besar untuk Kinal. Bagi Kinal, bahkan memberikan semua tabungannya untuk Veranda pun tidak bisa membalas jasa Veranda padanya. Butuh waktu 15 menit, dan sekarang Kinal sudah berada di ruang tamu rumah tadi. "Ini Bu, silahkan dihitung dulu," Kinal memberikan satu gepok uang ke Ibu pemilik kontrakan. "Pas, gini dong. Kan sama-sama enak. Yasudah, saya pergi dulu," Ibu itu pergi begitu saja. "Makasih kak, nanti biar aku bilang ke kak Ve kalau kakak yang bayar," ujar Gracia sendu. "Sama-sama, ngga usah bilang juga nggapapa kok," balas Kinal tulus. "Jangan gitu kak, masalah uang loh ini. Eh kakak mau minum apa? Aku bikinin ya?" ucap Gracia sungkan. "Ngga usah, kakak cuma bentar kok. Oiya, kakak kamu kemana?" tanya Kinal. "Kak Ve masih kerja, tadi siang berangkat." "Kerja? Kerja dimana?" tanya Kinal hati-hati. "Di restoran masakan Thailand, agak jauh sih dari sini," jawab Gracia. "Restoran? Apa dia ngga tau kalau Veranda kerja di club?" batin Kinal. "Pulangnya jam berapa biasanya?" Kinal mencoba mencari tahu, apakah Gracia tahu tentang pekerjaan kakaknya. "Ngga pasti sih, kadang berangkat siang pulang malem, kadang berangkat malem pulang pagi. Soalnya restoran itu buka 24 jam kak," jawab Gracia. "Fix! Dia ngga tau apa-apa tentang pekerjaan kakaknya." batin Kinal lagi. "Ooo gitu, yaudah, kakak pulang aja ya. Besok kakak kesini lagi, mau bilang makasih sama kakak kamu soalnya udah nolongin kakak kapan lalu," pamit Kinal. "Yahh kok buru-buru sih? Tapi bener ya besok kakak kesini lagi? Nanti aku sampein ke kak Ve." "Iya, kakak pulang ya.. Dahh.." Kinal keluar rumah, menaiki motornya dan pergi belum jelas kemana tujuannya. Kinal memutuskan untuk pergi ke rumah Jeje. Selama persahabatan mereka, ketiganya tidak pernah menutupi apapun atau merahasiakan sesuatu. Sehingga Kinal berencana untuk menceritakan tentang Veranda pada sahabat-sahabatnya. Kinal sampai di rumah Jeje, beberapa saat kemudian Beby juga datang. Mereka berdua serius mendengarkan cerita Kinal. "Hah?? Ngaco lo Nal! Masa cewek baik kayak dia kerja kaya gitu sih?" Beby tak percaya dengan ucapan Kinal. "Lo ngga percaya? Sama, gue juga. Tapi mata gue liat sendiri Beb. Dia kerja di tempat itu," balas Kinal. "Club itu emang gudangnya orang ngga bener sih. Gue udah peringatin lo, jangan pernah kesana, kok lo malah kesana sih?!" Beby mendorong pelan lengan Kinal. "Eh?? Itu.. soalnya gue penasaran sama Veranda. Tenang aja Beb, gue baik baik aja kok," Kinal beralasan. "Gue rasa dia kepepet deh, soalnya ngga punya duit. Makanya kerja kayak gitu," Jeje berpendapat. "Gue rasa bukan soal uang. Kalau emang dia kerja kayak gitu demi uang, seharusnya dia udah bisa bayar kontrakan. Menurut info yang gue dapat, bayaran dia buat semalem aja itu mahal banget. Dengan bayaran tinggi, kenapa dia masih ngga bisa bayar kontrakan? Dan kalau emang dia cuma butuh uang, dia bisa kerja yang lain, yang halal. Jadi pelayan kek, OB kek, pasti cukup buat kebutuhan dia. Tapi kenapa dia lebih milih jadi wanita malam? Itu yang gue bingung," Kinal mengeluarkan uneg-unegnya. "Jangan bilang kalo lo mikir Veranda kerja gitu soalnya buat menuhin kebutuhan biologisnya," ucap Jeje. "Maksud lo apa Je?" Kinal memastikan. "Maksud Jeje, mungkin alasan Veranda jadi wanita penghibur itu cuma menuhin nafsunya, alias just for s*x," Beby menjelaskan. "Hah?? Ngga! Ngga mungkin! Gue yakin dia bukan cewek kayak gitu," sahut Kinal. "Santai dong.. kan cuma berandai-andai Nal. Lagian lo juga ngga kenal dia," ucap Beby. "Bukan ngga kenal, tapi belum. Malam inu gue bakal temuin dia lagi," kata Kinal yakin. "Lo mau kesana lagi? Gila lo!" "Iya gue gila, gue gila gara-gara Veranda. Gue akan cari tau kenapa dia kerja kayak gitu. Gue pergi dulu guys! Bye!!" Kinal berdiri dan langsung berlari keluar rumah Jeje "Eh paus! Lu yang nyuruh gue kesini, lu juga yang ninggalin gue!! Awas lu!" teriak Beby melihat Kinal yang kabur begitu saja. *** Seperti kata Kinal tadi bahwa dia akan menemui Veranda malam ini. Di dalam club yang sama, pandangan Kinal menelusuri setiap titik di ruangan ini. Tapi nihil, Kinal tidak menemukan Veranda disini. "Itu Nat kan? Apa aku tanya dia aja ya? Iya deh," batin Kinal sambil menghampiri Natalia yang sedang tertawa bersama rekan-rekannya. "Ekhem.. Maaf ganggu, boleh ngobrol sebentar?" Kinal menatap Natalia. "Eh Kinal... lo kesini lagi?" Natalia tersenyum melihat Kinal. "Sorry semua, gue tinggal bentar," pamitnya pada tiga wanita yang bersamanya. Kinal mengajak Natalia ngobrol di depan bartender, mereka duduk berhadapan. "Lo liat Veranda ngga Nat?" tanya Kinal tanpa basa-basi. "Veranda?? Lo nyari dia sampe malem juga ngga bakal ketemu," jawab Natalia santai. "Hah? Kok gitu? Kenapa?" Kinal penasaran. "Gue mau jawab, tapi ada syaratnya," Natalia melihat Kinal dengan tatapan menggoda. "Syarat? Apa?" "Temenin gue minum malem ini. Gimanaaa?" rayu Natalia manja sambil mencolek dagu Kinal. "Ngga bisa Nat, buru-buru gue. Gini aja, gue traktir lo minum sepuasnya, asal lo ngasih tau gue dimana Veranda," tawar Kinal. "Yang bener lo? Sepuasnya??" Natalia bersemangat, Kinal mengangguk. "Oke deal!" Natalia menjentikkan jarinya manja di depan wajah Kinal. "Nahh gitu dong. Jadi dimana Veranda sekarang?" Kinal antusias. "Gue ngga tau dimana dia sekarang," jawab Natalia santai. "Lah... gimana dah?!" sewot Kinal. "Santai sayang.. Gue emang ngga tau dimana dia sekarang, yang jelas hari ini dia ngga mungkin kesini. Soalnya dia ngga pernah mau nrima job dua hari berturut-turut," balas Natalia. "Trus kapan dong gue bisa nemuin dia?" "Lo suka banget ya sama Veranda? Makin iri aja gue sama dia," "Eh?? Ngga kok, bukan gitu, gue cuma---" "Halah ngga usah bohongin gue. Gini aja deh, kalo lo emang mau ketemu Veranda mending lo booking aja dia," usul Natalia memotong kalimat Kinal. "Booking?" Kinal bingung. "Iya booking. Lo sewa dia buat semalem. Itu sih kalo lo sanggup bayar dia, tapi kayaknya lo anak orang kaya. Iya kan?" "Eh.. Ngga juga, biasa aja." "Udah gue bilang ngga usah bohongin gue," sahut Natalia. "Masa gue harus booking Veranda sih? Dikira Veranda rental PS kali ya? Bisa dibooking booking segala." Kinal membatin. "Mikir apa sih lo Nal? Bingung gitu?" ucap Natalia tiba-tiba. Huuuftt.. Kinal menghembuskan nafas panjang. "Gimana caranya booking dia?" tanya Kinal serius. "Widih, serius lo? Keren banget lo Nal. Sekarang lo naik ke lantai dua, belok kanan trus lurus sampe mentok. Ada ruangan yang pintunya warna ungu. Di pintu itu ada tulisannya 'Madam Selly'. Nah lo masuk deh, trus bilang ke orang yang ada di dalem kalo lo mau nyewa Veranda," instruksi dari Natalia. "Madam Selly? Aneh banget namanya. Yaudah, gue kesana ya. Nih buat lo, cukup ngga?" Kinal berdiri dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribu pada Natalia. "Wahh.. Cukup banget! Ternyata bener lo anak orang kaya, thanks ya.." ucap Natalia sumringah. "Sama-sama, gue pergi ya. Dahh..," Kinal bergegas menuju lantai dua sesuai petunjuk Natalia. "Aku nyewa Veranda?? Astaga Tuhan!! Tapi nggapapa, demi bisa kenal trus ngobrol sama dia. Inget Nal, cuma ngobrol, ngga lebih," gumam Kinal sambil menaiki tangga. Bukan masalah uang yang Kinal cemaskan, tapi masalah Veranda. Kinal tidak bisa membayangkan kalau sampai Veranda tau bahwa Kinal telah menyewanya. Tapi ini adalah satu-satunya cara agar Kinal bisa berbicara berdua dengan Veranda. Menemui Veranda di rumah pun percuma, seperti tadi sore, Veranda bilang kepada Gracia bahwa ia akan bekerja, tapi Kinal tak menjumpainya di club. "Ini dia ruangannya," Kinal bersiap mengetuk pintu yang bertuliskan 'Madam Selly' itu. Tok tok tok... "Masuk." Cklek.. "Permisi.." Kinal masuk dan seketika membulatkan matanya saat melihat sesuatu yang ada dihadapannya. ***** . . To be continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD