AM 8: Satu Kantor

4013 Words
Bantu aku menebak kata hatimu, agar aku tau apakah rasa tak wajar ini akan berbalas atau justru segera layu. *** ____________________________________ Author pov. Di ruang tamu sebuah rumah mewah, Kinal telah berpakaian rapi untuk menyambut calon ibu tirinya. Siang ini Davi akan mengenalkan calon istrinya kepada Kinal. Beberapa saat kemudian, Davi datang bersama seorang wanita dan anak kecil di belakangnya. Kinal berdiri melihat kedatangan mereka. Ia tersenyum hangat menyapa tiga orang di depannya. "Siang Pa.." "Siang sayang. Kenalkan, ini Tante Sendy, tapi kamu jangan panggil tante deh. Panggil Mama Sendy, oke?" balas Davi. Kinal mengangguk dan mengulurkan tangan kanannya, "hai Ma, aku Kinal," ucapnya. "Hallo Kinal, ternyata benar ya kata Papa kamu, kamu cantik, persis seperti Ibu kamu," balas Sendy ramah. "Mama bisa aja, hehe.. Ini siapa? Adik Kinal ya Ma?" Kinal melihat seorang gadis kecil di belakang Sendy. "Iya, namanya Melati. Ayo sayang, kenalan sama kak Kinal ya..," Sendy mengarahkan tangan Melati untuk menjabat tangan Kinal. "Hallooo Melati.., kamu kelas berapa sekarang?" Kinal berjongkok menyamakan tinggi dengan Melati. "Kelas satu kak," jawab Melati malu-malu. "Melati memang gitu Kinal, awalnya malu-malu, belum kenal soalnya," sahut Sendy. "Yaudah yuk kita makan siang sama-sama," ajak Davi. Mereka berempat makan siang bersama di ruang makan. Sesekali sambil mengobrol untuk mengakrabkan diri. Terutama Kinal yang dari tadi menggoda adiknya. "Jadi kapan Papa sama Mama mau nikah?" tanya Kinal setelah makanannya habis. "Sepuluh hari lagi," jawab Davi. "Hah?? Sepuluh hari lagi? Apa ngga mendadak Pa? Emang udah siap semuanya?" tanya Kinal. "Udah dong, makanya kan Papa sering bolak-balik ke Surabaya. Itu buat nyiapin pernikahan. Lagi pula, lebih cepat lebih baik kan?" "Iya sih lebih baik, tapi kenapa Kinal baru dikasih tau? Sepuluh hari loh Pa, dan itu minggu depan." "Sebenarnya kami mau ngasih tau kamu jauh-jauh hari Kinal. Tapi memang belum sempat, Mama juga baru sempat ke Jakarta sekarang. Maaf ya," ucap Sendy tulus. "Iya nggapapa Ma. Tapi nikahnya disini kan? Ngga di Surabaya kan?" "Ijab kabulnya disana sayang, besoknya baru resepsi di Jakarta, dan sehari setelah resepsi dilaksanakan, kami mau honeymoon ke Maldives selama satu minggu," balas Davi. "Widihh udah prepare banget nih kayaknya. Jadi selama seminggu Papa ngga ke kantor? Apa nggapapa Pa?" tanya Kinal. "Maka dari itu, besok Papa akan mulai ajari kamu tentang mengurus perusahaan. Jadi selama kamu libur semester, kamu harus sering ke kantor. Mau kan?" balas Davi. "Sering ke kantor? Berarti sering ketemu Ve dong? Mau banget lah!" batin Kinal. "Iya Pa, berarti Kinal yang gantiin Papa waktu Papa ke luar negeri? Tapi Kinal ngga yakin bisa Pa." "Pasti bisa, kamu kan anak Papa. Lagian Papa sudah suruh Daniel kesini, nanti dia yang akan bantu kamu." "Daniel? Daniel siapa?" "Daniel anaknya Om Thomas. Masa kamu lupa? Dia sudah menjadi salah satu orang kepercayaan Papa. Sekarang dia yang mengurus perusahaan Papa di Belanda." "Lupa. Kayaknya Kinal ngga pernah kenal sama yang namanya Daniel deh," balas Kinal cuek. "Dia ganteng, tinggi, pinter, mandiri lagi. Siapa tau kamu cocok sama dia," goda Davi. "Apaan sih Pa? Papa tau kan Kinal ngga suka dijodoh-jodohin," balas Kinal. "Siapa yang mau jodoh-jodohin. Kan Papa bilang siapa tau cocok. Ya kan Ma?" lanjut Davi menoleh ke Sendy. "Ngga sih, Mama sependapat sama Kinal. Papa itu udah kayak jodoh-jodohin Kinal sama Daniel tadi," balas Sendy. "Tuhh kan! Tos dulu Ma!" Kinal mengangkat tangannya ke udara dan ber-tos-ria dengan Sendy. "Yahhh.. kalian mahh..," ucap Davi seolah kesal, padahal ia sangat senang melihat keakraban Kinal dan Sendy saat ini. Sungguh awal yang baik untuk keluarga kecil mereka. Mereka melanjutkan obrolan hingga hari menjelang sore. Hari ini Davi akan mengantarkan Sendy dan Melati ke Surabaya. Sekaligus mengurus persiapan pernihakannya disana. "Pa, Kinal minta tolong dong, suruh dua bodyguard Papa kesini sekarang. Kinal butuh bantuan buat pindahan Veranda. Bisa kan Pa?" pinta Kinal kepada Davi. Saat ini mereka sedang berada di luar rumah, karena Davi akan mengantar Sendy pulang. "Bisa dong sayang. Sekarang Papa suruh mereka ya, kamu tunggu disini. Nanti sampaikan salam Papa untuk Veranda. Dan jangan lupa besok kamu ajak dia ke kantor, temui Naomi. Oke?" "Siap bos!" jawab Kinal sambil bersikap hormat ala siswa yang sedang upacara bendera. *** . Sore hari tiba, Kinal sudah di atas motornya dengan sebuah bungkusan di depannya, dan bersiap untuk menuju rumah Veranda. Dua orang pria juga sudah berada di dalam mobil untuk mengangkut barang-barang Veranda nanti. Kinal berangkat terlebih dahulu, tak lupa tadi ia sudah memberi tahu Jeje dan Beby agar mereka berdua nanti langsung ke apartemen Veranda. ... "Vee... Gree...!" teriak Kinal "Eh Nay, masuk aja. Aku sama Gre masih beres-beres!" teriak Veranda dari dalam rumah. Kinal masuk dan melihat Veranda sedang membantu Gracia merapikan pakaian di kamar Gracia. "Butuh bantuan?" tawar Kinal. "Ngga usah Nay, udah selesai kok. Kamu tunggu di ruang tamu aja Nay." "Oke Ve." Kinal duduk manis di sofa menunggu Veranda dan Gracia. "Kak Ve, kok kak Kinal dipanggil Nay sih? Udah ganti nama?" tanya Gracia pelan. "Ngga lah Gre, masa ganti nama sih. Kakak suka aja manggil kak Kinal 'Kinay', lucu aja," jawab Veranda. "Lucu sih, tapi ngga cocok. Kak Kinal kan keren, masa panggilannya Kinay," protes Gracia. "Biarin, suka-suka kakak dong," balas Veranda cuek sambil berdiri karena telah menyelesaikan tugasnya. Kini barang bawaan Gracia dan Veranda telah siap. Kinal membantunya membawa ke teras rumah dan menelfon dua bodyguard-nya untuk membawa barang-barang itu ke mobil yang diparkir di depan gang. "Kuat ngga?" ledek Kinal pada salah satu pria yang bersiap mengangkat koper paling besar yang rodanya telah rusak. "Kuat mbak, nih liat," pria itu dengan gagahnya mengangkat koper Veranda. "Mantap, gih sono bawa ke mobil. Nanti jangan berangkat dulu ya, Gracia ikut mobil kalian. Kita berangkat bareng-bareng." "Siap mbak Kinal." Kemudian kinal mengambil bungkusan yang ia bawa tadi dan menyerahkan pada Veranda. "Ve, ini ada makanan, kamu kasih ke yang punya kontrakan ini ya. Sekalian kamu pamit dari sini," pinta Kinal. "Ya ampun kak Kinal baik banget sih!" sahut Gracia. "Makasih banget Nal, ini aku juga mau ke Bu Rahmi, mau pamit dulu," ucap Veranda. "Yaudah yuk bareng-bareng kesana," ajak Kinal. Mereka bertiga pergi ke rumah Rahmi yang berjarak dua rumah dari kontrakan tersebut. Setelah berpamitan, mereka langsung menuju apartemen baru Veranda dan Gracia. *** . "Selamat datang di apartemen baru!" kata Kinal ceria setelah membuka pintu apartemen di lantai 7 tersebut. "Wahh.. Bagus banget kak!" seru Gracia takjub melihat interior apartemen. Kinal, Beby, dan Jeje lah yang tadi pagi sengaja membeli dan menata interior apartemen ini. Kinal juga telah menyiapkan segala perlengkapan sekolah untuk Gracia dan perlengkapan kantor untuk Veranda. "Kamar kamu yang itu Gre, coba deh liat dalemnya," ucap Kinal menunjuk satu ruangan berpintu coklat gelap. Gracia langsung berlari dan membuka kamarnya. Ia sangat senang dengan kamar barunya. Fokus Gracia tertuju pada meja belajar dengan segala perlengkapan alat tulis, serta sebuah laptop di atas meja itu. "Kak Kinal!! Ini laptopnya buat aku?!" teriak Gracia dari dalam kamar. "Iyaa!!" balas Kinal yang juga teriak. Beberapa saat kemudian dua pengawal Kinal telah selesai membawa semua barang Veranda ke apartemen. "Punya kamu yang mana Ve?" tanya Kinal melihat koper dan beberapa tas besar di depannya. "Yang koper Nay, sama tas itu," tunjuk Veranda. "Buseet, banyak amat?. Ya udah aku angkat ini ke kamar kamu ya," Kinal mengangkat koper itu dan membawanya ke kamar Veranda di sebelah kamar Gracia. Kinal membantu Veranda menata barang-barangnya. Sementara Gracia juga sedang menata barang miliknya sendiri di kamar sebelah. "Ve, ini foto kamu?" Kinal membawa sebuah foto berpigura dan berjalan mendekati Veranda yang membelakanginya. "Foto yang mana Nay?" Veranda berjalan mundur lalu menoleh ke Kinal. Tapi jarak mereka terlalu dekat. Sehingga saat Veranda menoleh, lengannya hampir menyentuh d**a Kinal. Hal itu membuat Kinal reflek memundurkan langkahnya, tapi entah kenapa keseimbangan tubuhnya sangat buruk saat itu. Kinal terjatuh ke belakang, dan parahnya ia malah menarik Veranda. Bruk Keduanya jatuh dengan posisi Veranda yang menindih tubuh Kinal. Wajah mereka sejajar, tatapan mereka bertemu. Veranda tidak mampu menopang diri dengan kedua tangannya, karena masih sedikit sakit. Sehingga tubuhnya menempel sempurna di atas tubuh Kinal. Hanya wajah yang berjarak cuma beberapa centi saja. Entah keberanian dari mana, Kinal malah melingkarkan tangannya di pinggang Veranda. "Jangan menghindar Ve!" "Jangan menghindar Nay!" Batin mereka bersamaan saling menatap sendu. Degup jantung yang seakan berlomba. Deru nafas bisa dirasakan masing-masing dengan jarak sedekat itu. Bola mata Kinal yang awalnya menatap mata Veranda, kini beralih ke bibir tipis yang menarik perhatiannya. Veranda tahu arah pandang Kinal, ia lebih mendekatkan wajahnya dengan wajah Kinal. Hingga ujung hidung mereka bersentuhan lembut. Tinggal beberapa centi saja akan terjadi sebuah ciuman pertama diantara mereka, tapi.. "Kak Ve!!! Kak Kinal!!!" Teriak Gracia membuyarkan semuanya. Seketika Kinal melepaskan tautan tangannya dari pinggang Veranda. Veranda pun langsung bangun dan berdiri sedikit menjauh dari Kinal. "Maaf Nay," ucap Veranda pelan. "Kak Ve!! Kak Ve dimana sih?!" teriak Gracia lagi. "Di kamar Gre! Ngapain sih teriak-teriak?" Veranda melangkah keluar kamar meninggalkan Kinal yang masih duduk terdiam di lantai. "Barusan aku sama Ve hampir....," gumam Kinal sambil mengingat apa yang ia lakukan tadi. Sementara di ruang tamu apartemen, Gracia bilang kepada Veranda bahwa ada yang tamu di luar yang dari tadi menekan-nekan tombol pintu. "Gre ngga berani buka pintunya. Kak Ve aja yang buka," pinta Gracia. "Kamu ini! Buka pintu aja ngga berani!" Veranda kesal. "Tapi makasih sih Gre, untung tadi kamu manggil kakak. Kalau ngga, mungkin tadi aku sama Kinay udah...," batin Veranda sembari berjalan ke arah pintu. Veranda membuka pintu, dan ternyata dua sahabat Kinal lah tamu yang datang berkunjung. "Hai Vee..," sapa Beby. "Hai Beb, hai Je, yuk masuk." "Si paus kemana Ve?" tanya Jeje. "Ada di dalem, habis bantuin beres-beres tadi." "Woii Beb! Je!" seru Kinal yang baru keluar kamar Veranda. "Oii Nal! Ngapain lu?" "Ngga ngapa-ngapain sih Beb." "Lo pasti Gracia kan?" tanya Jeje tiba-tiba sambil menunjuk Gracia. "Iya kak, kok kakak tau?" Gracia tanya balik. "Kebagusan nama lu! Tingkah petakilan tapi namanya Gracia! Ganti aje, Bejo kek, atau apa gitu," ucap Jeje sok akrab. "Enak aja Bejo! Lagian aku petakilan dari mana coba? Kakak aja ngga kenal aku," balas Gracia. "Anak cewek yang suka manjat pohon mangga, apalagi namanya kalo bukan petakilan?" sahut Beby. "Loh kok...," Gracia heran. "Kak Kinal yang cerita ke mereka Gre. Mereka ini sahabat kak Kinal, yang itu kak Beby, satunya kak Jeje. Mereka juga yang bantuin kak Kinal beresin tempat ini tadi pagi," sahut Kinal. "Ooo gitu.., hai kak, aku Gre." "Udah tau," jawab Beby dan Jeje bersamaan yang membuat Gracia mengerucutkan bibirnya. Veranda terkekeh melihat dua temannya ini. Dengan tingkah konyol mereka ini, sepertinya mereka akan cocok dengan Gracia nanti. Disisi lain, Kinal belum berani menatap Veranda sejak insiden jatuh tadi. Kinal selalu menghindar jika pandangannya bertemu dengan Veranda. Sekarang mereka bersama-sama membantu membereskan sisa barang yang belum ditata. Malam ini Kinal mengajak keempatnya untuk makan malam bersama diluar. ... Tepat pukul 7 malam, Kinal, Jeje, Beby  Veranda, dan Gracia akan pergi keluar apartemen untuk makan malam. "Je buruan! Lama amat sih lu!" protes Kinal pada Jeje yang tidak juga keluar apartemen. "Iye iye sabar! Sensi banget sih, lagi dapet lu?!" balas Jeje. "Iye, dapet kesel gara-gara nungguin lu!" "Udah nih. Yok berangkat!" Jeje berjalan mendahului yang lain. "Ditungguin malah ninggal! Gue sleding juga lu! Untung temen," gerutu Kinal. "Udah Nay, emosi mulu dari tadi," ucap Veranda pelan di samping Kinal. "Eh.. iya Ve, maaf," Kinal masih canggung untuk berbicara dengan Veranda. Mereka berlima berjalan dan memasuki lift untuk turun ke lantai satu. Rencananya mereka akan makan malam di cafe sebelah gedung apartemen. Baru saja lift turun, tapi berhenti lagi di lantai enam pertanda seseorang akan masuk. "Shania?" ucap Beby saat pintu lift terbuka. "Kak Beby? Kak Kinal? Kak Jeje? Kok disini?" balas Shania. Ya, Shania lah orang yang menekan tombol lift di lantai enam. "Ya soalnya ngga disitu, makanya disini. Udah buruan masuk. Lo mau masuk kan?" sahut Jeje. "Iya kak," Shania memasuki lift. "Kamu ngapain disini Shan?" tanya Beby. "Aku tinggal disini kak, apartemen aku di lantai enam. Kak Beby sendiri nggapain disini?" "Aku, Jeje, sama Kinal tadi habis main di apartemen Veranda, lantai tujuh." "Eh buseet.. Aku-kamu, biasanye juga gue-elo. Kesambet lu Beb?" sahut Jeje meledek Beby. Padahal Beby pernah bercerita ke Kinal dan Jeje jika dia merasakan hal aneh diperasaannya jika bertemu dengan Shania. "Apaan sih lu!" Beby salah tingkah. "Eh Shan, lo mau ke lantai berapa?" tanya Kinal mengalihkan topik. "Satu kak." "Oo yaudah, sama kalo gitu. Mau kemana lo malem-malem gini?" Kinal ingin tahu. "Nyari makan kak." "Makanan mah dibeli Shan, bukan dicari. Digetok abangnya baru tau rasa lu!" sahut Jeje. "Jangan didengerin kecebong ngomong Shan," sahut Beby. Sementara Shania dari tadi terlihat malu-malu di depan Beby. "Wahh cari gara-gara lu jenong!" "Udah udah. Udah nyampe nih. Oiya Shan, lo mau makan malem kan? Sekalian aja, kita juga mau makan kok," ajak Kinal. "Wahh nggapapa nih kak?" "Nggapapa lah, yaudah yuk..," .... Di sebuah cafe bermenu makanan Indonesia ini mereka berenam duduk saling berhadapan. "Oiya, kenalin Ve, ini Shania. Dan Shan, kenalin ini Veranda, trus itu adiknya Gre," Kinal membuka pembicaraan setelah mereka memesan makanan. "Veranda." "Shania." Mereka saling menyebutkan nama saat bersalaman. "Hai kak, kok nama kita sama sih?" ucap Gracia. "Oiya? Nama kamu siapa?" tanya Shania pada Gracia yang duduk sederet dengannya. "Shania Gracia. Tapi dipanggil Gracia, atau Gre. Kalo kakak?" "Shania Junianatha, dipanggil Shania." "Ngga usah nyama-nyamain Gre. Shania mah kalem. Lah elu.. jauhh," celetuk Jeje. "Kak Jeje dari tadi nyari gara-gara mulu nih. Kenapa sih kak? Pengen punya adik kayak aku?" balas Gracia. "Idihh ogah!" "Kak Ve kuliah ya? Kuliah dimana? Kayaknya sebelumnya aku ngga pernah ketemu kak Ve deh," tanya Shania. "Eumm.. aku.." "Ve kerja di perusahaan ortu gue Shan," sahut Kinal sambil melihat Veranda. "Ooo udah kerja? Aku pikir masih kuliah, kak Ve keliatan muda banget sih," kata Shania. "Bukan kak Ve yang muda, kak Shania aja yang keliatan lebih dewasa," celetuk Gracia. "Bilang aja tua Gre. Repot amat," sahut Jeje. "Lu bener-bener yak! Ngatain mulu dari tadi!" Beby ingin menoyor kepala Jeje. Tapi terhalang oleh Kinal yang duduk diantara mereka. "Ciee yang punya ngga trima. Eaaa..," goda Kinal. "Kak Kinal apaan sih?!" Shania salah tingkah. "Lu kok ikut ikut Jeje sih!" Beby menyenggol lengan Kinal. Veranda melihat Kinal yang ada di depannya dengan tatapan penuh tanya. Kinal yang paham maksud Veranda langsung melirik-lirik Beby di sampingnya. Seolah mengerti maksud Kinal, Veranda mengangguk-angguk membulatkan mulutnya. Mereka mengobrol sambil tetap menjodoh-jodohkan Beby dan Shania. Dilihat dari gelagatnya, Shania memang lebih sering tersipu saat Beby membela dirinya didepan teman-temannya. Bahkan Veranda yang baru mengenal Shania pun langsung paham jika sebenarnya ada apa-apa antara Shania dan Beby. Apalagi posisi duduk yang sangat mendukung. Beby, Kinal, Jeje duduk bersebelahan. Shania, Veranda, dan Gracia juga bersebelahan. Sehingga Beby berhadapan dengan Shania. ... "Kak Beby, itu ada ....," Shania menunjuk ke arah sudut bibir Beby. Mereka telah menghabiskan makan malam masing-masing. "Apa Shan?" Beby bingung. "Ituu.. ada nasi disini..." Shania menunjuk sudut bibirnya sendiri. "Elapin aja Shan, ngga usah malu-ma--," goda Kinal yang tiba-tiba terpotong karena jari Veranda yang menyentuh bawah bibirnya. "Ada nasi ketinggalan," ucap Veranda santai setelah mengambil sebutir nasi dari bawah bibir Kinal. "Eh.. makasih Ve." "Eaa.. langsung kicep kan lo! Makanya ngga usah ledekin gue. Kuala---" ucapan Beby juga terpotong karena Shania. "Maaf kak," kata Shania malu-malu karena membersihkan sudut bibir Beby. "I-iya Shan, makasih." "Cangcimen cangcimen! Gre mau beli kagak?" sahut Jeje melihat kedua sahabatnya yang sedang kasmaran. "Ngga, udah kenyang," balas Gracia cuek. "Elaahh gini amat yak nasib gue!" Jeje sangat suka mendramatisir suasana. Padahal ia pun paham kalau kedua sahabatnya sedang jatuh cinta. Sebelumnya, Jeje pernah memberikan pendapatnya tentang cinta yang tak biasa ini pada kedua sahabatnya. Tapi apapun keputusan Beby dan Kinal, Jeje akan tetap mendukung mereka berdua. Karena hari sudah semakin malam, Kinal dan dua sahabatnya memutuskan untuk langsung pulang. Besok pagi Kinal akan menjemput Veranda di apartemen. "Gue ngga tau loh kalo apartemen Shania itu disini. Kebetulan banget satu gedung sama Ve," ucap Beby saat berjalan bersama Kinal dan Jeje menuju parkiran. "Ya bagus. Kalo nih paus kesini, lo ikut aja. Trus double date deh. Palingan gue ntar disuruh jagain Gre," balas Jeje. "Lo pikir Gre itu bayi pakek dijagain segala," sewot Kinal. "Ngga usah iri gitu lu Je. Makanya kalo si Echa ngajak nge-date tuh trima aja. Cinta kan dateng karena terbiasa," kata Beby. "Iye kapan kapan dah," jawab Jeje cuek. "Yaudah, kita pisah disini. Gue duluan ya!" Kinal berhenti di samping motornya. "Iye. Tiati Nal!" *** . . Mentari pagi yang cerah menerangi bumi Jakarta. Pagi hari yang selalu sibuk dengan berbagai aktivitas penghuninya. Terlihat Kinal yang berpakaian sangat rapi sedang berada dalam mobilnya yang membelah padatnya jalanan ibu kota. Hari ini ia akan mengantar Veranda untuk bekerja di hari pertama. Sekaligus Kinal akan mulai belajar mengurus perusahaan. Nanti siang ayahnya akan tiba di Jakarta setelah dari kemarin mengurus keperluan pernikahan di Surabaya. Kinal menunggu bidadarinya di luar gedung apartemen. Sesaat kemudian, Veranda datang dengan setelan pakaian kantor yang membuat Kinal tak berkedip memandangnya. "Cantik banget ya Tuhan!" gumam Kinal melihat Veranda berjalan ke arahnya. "Pagi Nay," sapa ramah Veranda. "Pagi Ve, kamu cocok banget pakek baju ini," balas Kinal. "Masa sih? Aku malah ngga PD dari tadi Nay." "Serius Ve. Kamu keliatan berwibawa, tapi tetep cantik," puji Kinal membuat Veranda tersipu. "Makasih.." Kinal tersenyum melihat Veranda yang malu-malu, "yuk berangkat," ajaknya. ... Kinal dan Veranda pergi menuju kantor Davi. Sapaan demi sapaan diterima Kinal dari pegawai yang ada di kantor tersebut. Kinal mengajak Veranda langsung menuju ke lantai 4 untuk bertemu Naomi. "Selamat pagi mbak Kinal, ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu staff di lantai 4. "Ruangan Naomi dimana ya?" "Oh ibu Naomi, itu disana mbak, yang itu," ucapnya sambil menunjuk salah satu ruangan. "Oke, makasih ya." Kinal dan Veranda berjalan ke arah ruangan yang ditunjuk oleh staff tadi. Kinal mengetuk pintu dan masuk untuk segera menemui Naomi. "Hai Naomi, selamat pagi," sapa Kinal. "Eh Kinal? Selamat pagi. Kamu udah dateng, yuk masuk," balas Naomi. Kinal dan Veranda duduk di kursi depan meja Naomi. "Ini pasti Veranda ya? Benar kan?" tebak Naomi. "Iya, dia Veranda. Papa udah ngasih tau kan kalau Ve mau kerja disini?" balas Kinal. "Iya, udah kok. Mau langsung aja? Kalau iya, aku anter ke departemen keuangan sekarang." "Gimana Ve?" Kinal menoleh ke Veranda. "Langsung aja," jawab Veranda. "Yaudah, yuk." Departemen keuangan berada di lantai 6 gedung ini. Mereka bertiga menuju ke salah satu meja diantara beberapa meja ber-sekat-sekat disana. "Selamat pagi Rezka, kamu sedang sibuk?" tanya Naomi pada salah satu staff bernama Rezka disana. "Eh Bu Naomi? Tidak Bu, ada apa ya Bu?" balas Rezka sopan. "Ini, kenalkan, staff baru di departemen keuangan, Veranda. Saya minta tolong ke kamu, tolong ajari Veranda ya? Bimbing dia sampai bisa bekerja di departemen ini. Pak Davi sendiri yang meminta saya menemui kamu, dan menunjuk kamu untuk mengajari Veranda," kata Naomi. "Baik Bu, saya akan laksanakan sebaik mungkin." "Papa nih! Ngga ada orang lain apa? Masa Rezka sih? Dia kan cowok, jomblo lagi! Bahaya nih!" batin Kinal cemas. "Yasudah, kalau begitu saya tinggal ya," Naomi melangkah pergi. "Eh hai, saya Rezka, salam kenal," Rezka mengulurkan tangan pada Veranda. "Veranda, salam kenal. Mohon bantuannya ya Rezka," balas Veranda ramah. "Lo udah lama kan kerja disini Rez?" tanya Kinal. "Lumayan mbak, tiga tahun." "Berarti masih mudaan gue, jangan panggil mbak. Kinal aja," ucap Kinal bernada datar. "Tapi takutnya ngga sopan mbak," balas Rezka. "Halah, ngga sopan gimana. Gue ngga suka dipanggil mbak," Kinal mulai ketus. "Nay.." "Apa Ve?" "Kan maksud Rezka baik, dia hormatin kamu," ucap Veranda. "Ya tapi kan aku ngga suka dipanggil mbak. Naomi aja manggil Kinal doang tadi," Kinal kekeh pada pendapatnya. "Yaudah, Rezka, turutin aja maunya Kinal ya," pinta Veranda. "Iya Ve," balas Rezka. "Baru kenal aja Ve udah belain dia! Huh kesel!" batin Kinal panas. "Yaudah, aku ke ruangan Papa dulu ya. Nanti makan siang, aku jemput kamu disini ya Ve," pamit Kinal. "Iya Nay." Kinal berbalik badan dan akan melangkah. Tapi tangannya ditahan oleh Veranda. Seketika Kinal menoleh ke belakang menatap Veranda. Veranda tersenyum, "makasih," ucapnya tulus. Kinal pun mengangguk senyum. Kinal menuju ke ruangan Davi, meskipun ia bingung harus mengerjakan apa disana. Sepertinya ia hanya duduk menghadap ponselnya sambil menunggu kedatangan ayahnya nanti siang. *** . Pukul 11 siang, Davi baru saja sampai di kantornya. Ia langsung menuju ruangannya untuk bertemu Kinal. "Siang sayang.., kamu ngapain Nal?" tanya Davi yang baru memasuki ruangannya. "Nungguin Papa, bosen banget Pa." "Maaf ya, Papa baru aja sampai, dari bandara langsung kesini." Davi duduk bersebelahan dengan Kinal di sofa ruangannya. "Iya nggapapa Pa. Oiya, tadi Ve udah mulai kerja Pa," ucap Kinal. "Iya, tadi Naomi sudah laporan langsung ke Papa." "Tapi Pa, kenapa Papa nunjuk Rezka buat ngajarin Ve? Ngga ada orang lain apa?" selidik Kinal. Ia masih merasa tak suka jika Veranda dengan orang lain, apalagi seorang pria. "Ada, tapi biar Rezka saja yang membantu Veranda. Rezka itu salah satu karyawan terbaik disini, dan bulan depan dia akan Papa promosikan untuk naik jabatan sebagai Supervisor di Departemen Keuangan." "Naik jabatan?" "Iya, kinerja Rezka itu sangat bagus. Tidak kalah dengan kakaknya yang Papa tugaskan di perusahaan kita yang di Belanda." "Ooo maksud Papa kak Melody?" "Iya, siapa lagi Nal. Oiya, lusa Daniel ke Indonesia. Nanti kamu temani dia ya? Sekalian kamu belajar tentang perusahaan." "Kok belajar sama dia sih? Katanya Papa yang ngajarin Kinal," protes Kinal. "Papa masih harus mengurus persiapan pernikahan sayang. Jadi Papa tidak bisa stay di kantor. Kamu sama Daniel aja ya," rayu Davi, sementara Kinal hanya berdecak. Kinal kesal, sepertinya sang ayah akan menjodohkan dia dengan pria bernama Daniel itu. *** Sesuai janjinya, Kinal telah menjemput Veranda saat jam makan siang tiba. Kini mereka sedang duduk berhadapan dengan meja bundar kecil di tengah-tengah mereka. "Tadi gimana Ve? Enak diajarin Rezka?" tanya Kinal di sela-sela makan mereka. "Enak kok. Rezka bagus banget cara jelasinnya. Jadi aku langsung paham Nay," jawab Veranda sumringah. "Emang jelasin apa aja dia tadi?" tanya Kinal datar. "Cuma hal-hal umum sih. Struktur perusahaan, struktur departemen keuangan, trus jelasin jenis-jenis file yang disimpan, ya gitu-gitu deh. Kata Rezka, nanti aja mulai bahas yang lebih detail." "Kalo itu jelasin itu doang sih gue juga bisa!" gumam Kinal kesal tapi masih bisa didengar oleh Veranda. "Kamu bilang apa Nay?" "Ngga, ngga bilang apa-apa." "Kamu kenapa sih Nay? Dari tadi kok kayaknya kesel gitu? Kenapa? Hmm?" tanya Veranda. "Nggapapa Ve," balas Kinal singkat lalu menyendokkan nasi ke mulutnya. "Bohong. Aku tau kamu lagi marah kan? Marah sama siapa sih? Sama aku?" Kinal menggeleng sambil mengunyah makanannya. "Trus? Marah sama siapa?" "Ngga sama siapa-siapa," jawab Kinal singkat. "Nay, kamu kenapa sih? Aku bikin salah ke kamu?" "Ngga." "Ya trus kenapa? Kok jadi jutek gitu sih? Kamu ada masalah?" Veranda sabar melihat tingkah Kinal yang menjengkelkan. "Aku cemburu Ve! Aku cemburu!!" batin Kinal kesal. "Nggapapa Ve, cuma lagi badmood aja," dalih Kinal. "Badmood kenapa Nay?" "Ngga tau, tiba-tiba bete." "Yaudah, trus aku harus gimana biar kamu ngga bete?" tanya Veranda dengan nada sangat lembut. "Jauh jauh dari Rezka Ve!! Arrghh.. Susah banget sih bilang gitu?!!" batin Kinal lagi. "Menurut kamu, Rezka itu kayak gimana?" Kinal mengalihkan pembicaraan. "Rezka? Kok jadi ke Rezka sih? Atau jangan-jangan Kinal cemburu? Tapi masa iya sih? Coba aku tes ah.." batin Veranda jahil. "Rezka ya.. Eumm dia baik, sabar, pinter, trus.. apalagi ya? ya gitu lah pokoknya Nay. Emang kenapa?" tanya Veranda sambil memperhatikan ekspresi Kinal. "Nggapapa," jawab Kinal kesal mendengar jawaban Veranda yang memuji-muji Rezka. "Jadi bener kamu cemburu Nay? Makin kesel gitu mukanya. Lucu banget sih? Gemes jadinya.." Veranda membatin sambil mengulum senyum di bibir tipisnya. "Yakin nggapapa? Kok wajahnya makin jutek gitu sih?" pancing Veranda. Melihat Kinal yang seperti itu, Veranda justru semakin senang menggodanya. "Badmood." ucap Kinal datar sambil mengaduk-aduk makanannya. Veranda menahan senyumnya agar tak terlihat oleh Kinal, "kamu kok nanyain Rezka terus sih? Kenapa ngga nanya pendapat aku tentang kamu aja? Belum pernah kan kamu nanya gitu?" "Ngga perlu," Kinal benar-benar sudah badmood. "Kok ngga perlu sih? Padahal aku mau bilang kalau kamu itu baiiikk banget, sabar juga, pinter apalagi. Kamu tuh orang paling baik yang pernah aku kenal tau." Kinal mengerjapkan matanya beberapa kali saat mendengar ucapan Veranda, "bukannya tadi itu sifat-sifatnya Rezka ya? Berarti aku lebih dari Rezka dong?!" batin Kinal. Tanpa sadar senyuman tipis telah menghiasi wajahnya. "Sumpah ya.. Aku gemes banget sama kamu Nay!! Habis jutek sejutek juteknya, eh sekarang senyum-senyum gitu," batin Veranda melihat perubahan ekspresi Kinal. "Kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Veranda. "Eh.. ngga, siapa yang senyum?" sangkal Kinal. "Ngga usah bohongin aku Nay, aku liat sendiri tadi kamu senyum-senyum. Kenapa? Udah goodmood?" "Udah, hehe.. Yaudah yuk balik ke atas. Jam makan siang mau abis nih," ajak Kinal. Sekarang perasaan kinal sudah berubah 180 derajat. "Yuk." Mereka berjalan menuju lift, dan kebetulan hanya mereka berdua yang ada di dalam lift sekarang. "Ve, nanti pas pulang kamu tungguin aku di meja kamu ya? Nanti aku samperin, aku antar kamu pulang," ucap Kinal di dalam lift. "Yahh.... Nanti aku pulang bareng Rezka Nay," goda Veranda sengaja memancing emosi Kinal. "Hah?? Kok pulang bareng dia sih? Dia ngajak? Trus kamu mau gitu? Kok mau sih Ve?!" sewot Kinal. Veranda sudah tidak bisa menahan tawanya melihat Kinal yang kesal tiba-tiba. Veranda menutup mulut dengan tangannya, berusaha agar suaranya tidak terdengar terlalu keras. "Kok ketawa?" tanya Kinal polos. Veranda meredam tawanya dan langsung memeluk lengan kiri Kinal. Ia menyandarkan kepala di bahu tegap Kinal, "becanda Nay, jangan bete gitu dong. Masa gara-gara Rezka aja sampe kesel gitu sih?, Iya nanti aku pulang sama kamu kok. Aku tungguin sampe kamu dateng ke meja aku." ucap Veranda masih betah dengan posisinya. Kinal tidak menjawab, perasaannya bercampur antara malu dan senang. Pipinya sudah merah merona sekarang, beruntung Veranda tidak melihatnya. Siang ini Veranda sudah berhasil membolak-balikkan suasana hatinya. ***** . . To be continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD