AM 9: Rencana

3744 Words
Cemburu itu hak cinta, mencintaimu itu hakku. Tapi apa aku berhak cemburu jika kau saja tak tahu bahwa aku mencintaimu? *** _____________________________________ Author pov. Malam ini Kinal berkumpul bersama dua gadis yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil. Mainan monopoli klasik menjadi pilihan mereka mengisi waktu setelah makan malam tadi. "Eh jenong! Utang lo bayar dulu, malah bangun hotel! Gimane sih?" protes Jeje setelah Beby memainkan gilirannya. "Bangun hotel dulu lah, biar kaya. Baru gue bayar utang," balas Beby sekenanya. "Diem lu pada. Giliran gue nih," lerai Kinal. Kemudian ia melempar dua dadu ke udara hingga mendarat sempurna mengenai hotel mainan Jeje. "Eh kura! Berantakan nih punya gue!" "Haha maap maap Je. Gue jalan dulu ye.., delapan nih..... Anjir, masuk penjara gue!" "Hahaa sukurin lo Nal," ledek Beby. "Iyalah dipenjara. Lo obrak abrik hotel gue sih!" Suara tiga orang yang sangat gaduh menggema di ruang tamu. Beberapa menit kemudian seorang laki-laki berjalan sempoyongan memasuki rumah Beby. "Brandon?" ucap Kinal melihat Brandon yang baru melewati pintu. Seketika Jeje dan Beby menoleh ke belakang mengikuti arah pandang Kinal. "Brandon.. Lo kenapa?" Beby bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri adiknya. "Mabok lo?" Jeje mengekor pada Beby dan disusul oleh Kinal. "Minggir! Minggir! Gue mau lewat!" ucap Brandon ngelantur khas orang mabuk sambil berjalan sempoyongan. "Lewat kemane?! Lo kagak liat itu tembok? Kalo mau masuk rumah tuh kesono tong! Bukan kesono!" Jeje menunjuk dua arah yang berlawanan. Karena arah yang dituju Brandon memang ke tembok ruang tamu. "Ooo udah pindah temboknya?" balas Brandon hampir tak sadar. "Dari dulu emang udah disono pe-ak! Duduk lo!" Kinal mendorong Brandon untuk duduk di sofa. "Ambil air Beb," pinta Kinal. Beby pun bergegas mengambil air putih untuk adiknya. "Gue mau ke kamar. Kenapa disuruh duduk sih?!" protes Brandon. "Kenapa lo mabok? Ditolak Shania lagi?" tanya Kinal duduk di sebelah Brandon. "Iyaaa gue ditolak sama Shania. Kok lo tau sih?" jawab Brandon dengan nada frustasi. "Lah beneran ditolak lo?" sahut Jeje. "Iye.., padahal gue kurang apa sih kak? Kurang apa guee?!" "Banyak sih kurang lo," celetuk Jeje. "Gue ganteng, kaya, populer, banyak cewek yang ngejar-ngejar gue! Tapi kenapa Shania nolak gue?!" Brandon memukul-mukul dadanya sendiri. "Nih anak ditolak cewek aja jadi kayak gini. Apalagi kalo udah pacaran trus diputusin, bisa gantung diri kali yak?!" gumam Jeje. "Nih minum," Beby baru datang dan meminumkan segelas air putih untuk Brandon. "Lo nanya ngga kenapa lo ditolak?" tanya Kinal. "Katanya dia udah suka sama orang lain," jawab Brandon kesal. Kinal menoleh ke Beby dan mengangkat sekilas dagunya. Tapi Beby malah diam, tidak merespon kode Kinal. "Yaudah, mau gimana lagi. Move on dong!" sahut jeje. Kinal, Beby, dan Jeje membantu Brandon untuk berjalan ke kamarnya. Setelah itu mereka kembali duduk lesehan dengan mainan monopoli di tengah-tengah mereka. "Beb, kayaknya gue tau Shania suka sama siapa," Kinal membuka pembicaraan. "Siapa?" "Lo." "Gue juga mikir gitu sih Nong," sahut Jeje. "Lo juga suka kan sama Shania, Beb?" tanya Kinal. "Gue belum yakin sama perasaan gue. Siapa tau ini bukan cinta, siapa tau gue cuma kagum sama Shania," ucap Beby. "Kagum begimane? Bukannya lo pernah bilang kalo lo suka sama Shania?" tanya Jeje. "Suka ngga berarti cinta kan Je? Lagian gue takut." "Takut? Takut kenapa?" tanya Kinal. "Kalian tau kan hubungan kayak gini itu gimana di Indonesia. Gue yakin hubungan kayak gini ngga akan bisa tahan lama. Terlalu berat. Ujung-ujungnya putus, dan malah nyakitin kedua pihak," jawab Beby sendu. "Lo lebih mentingin pandangan orang lain dari pada perasaan lo sendiri Beb?" lanjut Kinal. "Bukan gitu Nal. Tapi emang ngejalanin hubungan kayak gini pasti susah kan? Kita di Indonesia Nal, bukan Amerika atau Eropa," balas Beby. "Susah bukan berarti ngga mungkin Beb. Kita emang di Indonesia yang beda dari negara lain. Tapi kita masih di bumi kan? Kalo emang cinta sama Shania, lo perjuangin cinta lo, bawa Shania ke negara yang ngelegalin hubungan sejenis," ucap Kinal serius membuat Beby terdiam. "Lo nasehatin Beby, lo sendiri apa kabar Nal? Katanya lo cinta sama Veranda kembaran gue," sahut Jeje. "Kembaran lo dari Hongkong?! Dari Hongkong aja lo ngga ada mirip-miripnya ama Ve," Kinal menoyor kepala Jeje. "Gue bakal bilang ke Ve kalo gue cinta sama dia. Gue cuma cari waktu yang pas aja," lanjut Kinal. "Nyari waktu mulu lo. Ketikung orang baru tau rasa," balas Jeje. "Gue takut ditolak," ucap Kinal yang tiba-tiba sendu. "Punya dua temen gini amat yak?! Yang satu takut ngakuin cinta, yang satu takut nembak. Emang cuma gue yang bener disini," ucap Jeje seenaknya. Kinal dan Beby saling lihat lalu mengode dengan melirik ke arah Jeje. Sesaat kemudian mereka mendorong, menggelitiki, sampai menindih Jeje. Membuat Jeje kesal sampai tertawa kegelian. *** . Pagi ini Kinal kembali menjemput Veranda. Sejak mengenal Veranda, Kinal menjadi lebih sering bangun pagi hanya dengan bantuan alarm. Tidak seperti biasa yang harus dibangunkan oleh ART, Davi, atau Beby. Kinal berdiri di samping mobil dan melihat Veranda yang baru keluar dari apartemennya, "ternyata bener ya kata pilem India. Kalo lagi jatuh cinta itu pasti kayak gini, sejuk... damai...," batin Kinal yang seolah merasakan angin sepoi-sepoi yang berhembus menerpa wajahnya saat ia memandang sang pujaan hati berjalan ke arahnya. "Pagi Ve," sapa Kinal sumringah. "Pagi Nay," balas Veranda senyum. Mereka berangkat berdua menuju kantor. Hari ini adalah hari kedua bagi Veranda bekerja di perusahaan ayah Kinal. .... "Nanti aku jemput pas makan siang ya," ucap Kinal setelah mengantarkan Veranda di salah satu meja kerja lantai 6. "Iya Nay, makasih ya," balas Veranda. Kinal tersenyum lalu pergi ke ruangan Davi. Ternyata Davi sudah sampai lebih dulu dibanding Kinal. Kemarin Davi telah menyuruh pegawainya agar menyiapkan ruangan baru untuk Kinal. Dan hari ini Davi akan memberitahu Kinal bahwa ruang kerjanya sudah bisa digunakan. "Ini ruangan kamu. Gimana? Suka ngga?" tanya Davi setelah membuka pintu ruangan baru di lantai 8 itu. Kinal tersenyum kagum meneliti seisi ruangan, "ini ruang kerja Kinal Pa? Bagus banget," ucapnya. "Kamu kan calon pemimpin perusahaan ini. Papa rasa ruangan ini pantas untuk kamu," balas Davi. "Makasih banyak Pa," Kinal memeluk Davi. "Sama-sama sayang." Kinal mulai menempati ruangan barunya. Ruangan dengan warna putih yang mendominasi, sofa abu-abu, meja dan kursi kerja yang hampir sama dengan milik ayahnya. *** . Jam makan siang tiba, Kinal ingin segera menemui Veranda. "Eh Nal? Buru-buru banget? Mau kemana?" sapa Naomi saat melihat Kinal berjalan cepat ke arah lift. "Mau makan siang Mi, kamu sendiri mau kemana?" "Mau makan siang juga sih, yaudah yuk bareng." "Eh... iya, ayuk deh." Kinal dan Naomi berada di dalam lift yang sama. "Kok pencet lantai enam Nal? Kan kantinnya di lantai satu," tanya Naomi saat melihat Kinal menekan angka 6. "Aku mau jemput Veranda dulu Mi, nggapapa kan?" "Oohh..., ya nggapapa lah. Makin rame kan makin enak, biar ngga sepi berdua doang," balas Naomi. Sebenarnya Kinal hanya ingin makan berdua saja dengan Veranda. Tapi apa boleh buat, tidak mungkin dia menolak ajakan Naomi, sementara mereka pasti akan bertemu di kantin. .... "Gimana Ve kerja disini? Suka kan?" tanya Naomi. Sekarang mereka bertiga duduk melingkar dengan meja bundar di tengah. "Suka banget, orang-orang disini juga baik-baik, ramah semua, jadi betah," jawab Veranda tersenyum. "Bagus deh kalo gitu. Eh Nal, kata Pak Davi, selama kamu libur kuliah kamu bakal sering ke kantor ya? Cie calon direktur," goda Naomi ke Kinal. "Bukan gara-gara libur kuliah sih, lebih tepatnya karena Papa mau nikah. Makanya aku disuruh gantiin posisinya pas Papa nikah sampe pulang bulan madu. Kebetulan aja pas aku libur kuliah, makanya sekalian disuruh ke kantor tiap hari buat belajar ngurus perusahaan," penjelasan Kinal membuat Naomi sedikit terkejut. "Pak Davi mau nikah? Kapan Nal?" tanya Naomi. "Minggu depan, di Surabaya." "Ooo pantesan akhir-akhir ini Papa kamu jarang ke kantor. Sibuk urusin pernikahan ternyata," Naomi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Calon mama kamu orang Surabaya Nay?" tanya Veranda. "Iya Ve, Papa ketemunya juga di Surabaya," jawab Kinal. Veranda mengangguk paham. Tiba-tiba ia melihat Rezka yang berjalan ke arah mereka sambil membawa minuman, "Rezka..!" panggil Veranda yang membuat Kinal dan Naomi menoleh ke belakang. Sehingga Rezka bisa melihat dengan siapa saja Veranda duduk. Rezka terdiam sejenak dan kembali melanjutkan langkahnya. Tapi Rezka malah menabrak kursi di depannya dan menyebabkan dia jatuh terjungkal kedepan, minuman yang ia bawa pun tumpah ke lantai. "Rezka!" Ketiga gadis itu langsung menghampiri Rezka yang jaraknya tak jauh dari merrka. "Kamu nggapapa Rez?" tanya Naomi. "Ng-nggapapa Bu," jawab Rezka sambil bangun dan membetulkan posisi kursi yang ia tabrak. "Kok bisa jatuh sih Rez?" Veranda khawatir, dan tentu saja Kinal langsung cemberut. "Iya, ngga fokus Ve tadi. Yaudah, aku kesana dulu ya.., mari mbak Kinal, bu Naomi, Ve." Rezka salah tingkah dan langsung pergi meninggalkan mereka. "Yaudah yuk makan lagi," Kinal kembali ke mejanya mendahului Veranda dan Naomi. "Lagian tuh anak ceroboh banget, kursi diem ditabrak," gerutu Kinal. "Dia tadi salah tingkah, kayaknya ada yang dia suka diantara kita bertiga. Makanya sikapnya gugup kayak gitu," ucap Naomi santai. Ia sangat paham dengan hal seperti ini, karena dia adalah seorang psikolog yang bekerja di bagian personalia. "Rezka suka siapa? Pasti Ve! Tadi kan Ve yang nyapa dia. Ck! Belum apa-apa udah punya saingan aja!" batin Kinal kesal. "Emang gitu ya Mi?" tanya Veranda. "Iya Ve, tapi ngga tau dia sukanya sama siapa. Sama Kinal kali," canda Naomi. "Aku? Jangan ngaco," balas Kinal ketus. Butuh waktu beberapa menit sampai makanan mereka habis. "Makan kayak anak kecil. Belepotan. Sini Nal," Naomi mengambil tissu dan mengarahkannya ke bibir Kinal. "Emang belepotan ya?" lalu Kinal mengatupkan bibir saat Naomi mengelap bibirnya pelan dengan tissu. Tapi Veranda enggan melihat adegan itu, ia mengalihkan pandangan ke arah lain. "Naomi perhatian banget sih sama Kinay?!" batin Veranda kesal. Rasanya ia ingin menarik Kinal sekarang juga. Tapi apa daya, Veranda hanya teman Kinal, tidak lebih. "Nah udah, habisin Nal minumnya," ucap Naomi. "Makasih Mi," Kinal mengambil botol air mineralnya dan meneguk isinya hingga habis. Ia tidak memperhatikan perubahan ekspresi Veranda saat ini. Kemudian mereka bersama-sama menaiki lift. Naomi turun di lantai empat, sehingga Kinal dan Veranda hanya berdua menuju lantai enam. "Kamu kenapa Ve? Kok diem aja?" tanya Kinal. "Nggapapa." "Yakin nggapapa?" "Yakin." "Kamu sakit?" "Ngga." "Yakin?" "Yakin." "Kok cemberut?" "Bete." "Kenapa bete?" "PMS." "Ohh PMS.. pantesan. Oke deh, udah nyampe. Nanti pulangnya aku jemput di meja kamu ya," ucap Kinal saat mereka sampai di lantai enam. "Hmm," jawab Veranda kemudian melangkah keluar lift. "Ve masih PMS aja udah galak, apalagi pas dateng bulan? Salah dikit kena cakar nih!" gumam Kinal. ... Kini Kinal pun menuju ruangannya. Setibanya disana, Kinal melihat ayahnya duduk dengan seorang pria di sofa. "Papa?" "Eh Kinal, sudah selesai makan siangnya?" Davi berdiri dari duduknya, dan diikuti oleh pria itu. "Papa ngapain disini?" tanya Kinal sambil menutup pintu dan menghampiri Davi. "Papa nganter Daniel kesini. Papa pikir besok dia baru ke Indonesia. Ternyata barusan dia sudah sampai disini. Daniel, ini Kinal putri Om. Kinal, ini Daniel yang Papa ceritain kemarin," Davi memperkenalkan keduanya. "Daniel." "Kinal." Mereka saling menyebutkan nama sambil berjabat tangan. "Yaudah, Papa tinggal dulu ya.., kalian ngobrol-ngobrol aja dulu. Dan Kinal, nanti kamu antar Daniel untuk mencari penginapan ya.. Dia disini selama dua minggu. Sekalian kamu ajak keliling Jakarta nanti, udah lama dia ngga ke Indonesia," pinta Davi. "Kok Kinal sih Pa? Suruh orang Papa aja buat nyari hotel deket sini," protes Kinal. "Daniel kesini kan atas permintaan Papa, biar dia yang ajarin kamu tentang perusahaan. Masa cuma nemenin bentar aja kamu ngga mau sih?" balas Davi. Kinal menghela nafas kesal, "yaudah iya." "Gitu dong. Yaudah, Papa tinggal ya.., Om duluan ya Daniel," pamit Davi. "Iya Om, makasih Om," balas Daniel sopan. "Eumm Nal, kamu masih kuliah ya?" tanya Daniel basa-basi setelah mereka hanya berdua di ruangan Kinal. "Iya." "Semester?" "Mau delapan." "Bentar lagi lulus dong?" "Iyalah." jawab Kinal singkat sambil duduk di kursinya. "Kamu kenapa sih? Jutek gitu?" Daniel duduk di kursi depan meja Kinal. "Papa bilang apa aja ke kamu?" tanya Kinal. "Banyak, tentang perusahaan, tentang pernikahannya, tentang--" "Tentang aku?" Kinal memotong ucapan Daniel. "Bilang juga, tapi cuma secara umum aja. Katanya aku suruh kenalan sendiri, yaudah sekarang kenalan," jawab Daniel. "Papa jodohin kita?" tanya Kinal to the point. "Jodohin? Om Davi ngga bilang gitu sih. Tapi kalo iya juga nggapapa," jawab Daniel malu-malu. "Nggapapa gimana? Aku ngga mau dijodoh-jodohin. Tapi bagus deh kalo Papa ngga bilang apapun tentang perjodohan," balas Kinal. "Kenapa memangnya? Kamu udah punya calon sendiri?" "Ngga sih. Ngga suka aja," jawab Kinal. "Ohh oke. Belajar tentang perusahaannya besok aja ya Nal, aku masih capek, baru sampai soalnya," ucap Daniel sambil meregangkan kedua tangannya. "Kamu istirahat aja di sofa itu. Satu jam lagi aku anterin nyari hotel. Sekarang aku masih ada kerjaan dikit," ucap Kinal. "Oke." Daniel merebahkan dirinya di sofa empuk ruangan Kinal. *** . "Niel.. Daniel.. Bangun, udah jam empat nih," Kinal menggoyang-goyangkan tangan Daniel yang tertidur pulas lebih dari satu jam di sofa. "Hmmm...," Daniel membuka mata dan melihat Kinal berdiri di samping sofa. "Kinal? Kok disini?" Daniel menegapkan tubuhnya. "Ck! Kamu tidur di sofa aku. Lupa? Cuci muka sana. Buruan," perintah Kinal. "I-iya, bentar ya.." Daniel keluar ruangan dan pergi ke toilet. Sore ini Kinal akan mengantar Daniel mencari penginapan untuk tempat tinggalnya selama dua minggu di Indonesia. .... Kinal dan Daniel berjalan bersama melewati staff-staff perusahaan. Banyak diantara mereka yang mulai berbisik menggosipkan Daniel dan Kinal. "Kita ke lantai enam dulu," ucap Kinal saat mereka memasuki lift. "Ngapain?" Daniel penasaran. "Ngga usah kepo," balas Kinal. Sesampainya di lantai enam, Kinal berjalan cepat mendahului Daniel dan menuju meja kerja Veranda. "Ve..," sapa Kinal melihat Veranda yang sedang sibuk berbicara dengan Rezka. "Eh Nay.., kamu disini?" Veranda berdiri dari duduknya. "Iya, eumm maaf Ve, bentar lagi kan jam pulang kantor, tapi aku disuruh Papa nganterin anak temennya nyari penginapan. Kayaknya aku ngga bisa anter kamu deh, nanti aku suruh orang buat anter kamu aja ya. Nggapapa kan?" "Ngga usah Nay, aku bisa pulang sendiri kok. Nanti aku naik taksi aja," jawab Veranda. "Nal.., kok aku ditinggal sih?!" suara Daniel dari belakang Kinal. "Salah sendiri lama!" ketus Kinal. "Dia siapa Nay?" Veranda penasaran dengan sosok pria yang baru datang. "Namanya Daniel, anaknya temen Papa. Lama tinggal di Belanda, sekarang kerja di cabang perusahaan Papa yang disana," jawab Kinal. "Hai, aku Daniel." "Veranda." "Kamu temennya Kinal ya?" tanya Daniel sok akrab. "Iya," jawab Veranda singkat. "Yaudah Ve, aku anterin dia dulu ya. Nanti kamu pulangnya hati-hati ya Ve.., kalau udah sampe apartemen kabarin aku," ucap Kinal, Veranda hanya mengangguk sebagai jawaban. "Tadi Naomi, sekarang Daniel. Aku ngga suka liatnya Nay!," batin Veranda cemburu. "Ayo buruan!" Kinal menarik tangan Daniel dan berjalan cepat menuju lift. .... Kinal menemani Daniel ke salah satu hotel dan menyewa sebuah kamar untuk dua minggu. Kinal mendapatkan hotel yang bagus dan dekat dengan kantor, sehingga memudahkan akses Daniel yang tidak ada kendaraan disini. Tapi Kinal berniat akan meminta Davi agar menyiapkan satu mobil untuk Daniel. Diluar perkiraan Kinal sebelumnya, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuknya menemani Daniel mencari penginapan. Sekarang Daniel sudah beristirahat di kamarnya, dan Kinal entah akan pergi kemana. Sementara di waktu yang bersamaan, Veranda berada di mobil Rezka. Kebetulan tadi Rezka mendengar perkataan Kinal bahwa Kinal tidak bisa mengantar Veranda pulang. Sehingga Rezka menawarkan tumpangan untuk Veranda sore tadi. "Kamu di apartemen tinggal sendiri Ve?" tanya Rezka. "Ngga Rez, sama adik aku. Dia masih kelas satu SMA," jawab Veranda. "Oo gitu..," Tiba-tiba ponsel Veranda bergetar. Ternyata panggilan masuk dari Kinal. "Bentar ya Rez," Veranda ingin mengangkat telfon tersebut. ___ "Hallo Nay.." "....." "Ngga usah Nay, aku udah di jalan kok sama Rezka." "....." "Iya, tadi Rezka nawarin buat pulang bareng dari pada naik taksi." "....." "Ya aku mana tau kalau kamu udah selesai urusannya." "....." "Iya Nay, sekarang kamu dimana?" "....." "Ih.. kok jutek gitu sih? Yaudah kalau di jalan hati-hati ya nyetirnya." "....." "Iya, langsung pulang kok." "....." "Iya Nay." "....." "Iya, dahh.." ___ "Kinal ya Ve?" tanya Rezka setelah Veranda memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Iya Rez." "Kamu akrab banget ya sama Kinal? Udah berapa lama temenan?" "Eh.. berapa ya? Belum lama kok. Oiya Rez, tadi kamu kenapa kok tiba-tiba nabrak kursi?" Veranda mengalihkan topik pembicaraan. "Eh itu... nggapapa Ve, namanya juga ngga sengaja," dalih Rezka. "Ngga sengaja apa salah tingkah? Kata Naomi, kamu kayak gitu soalnya abis liat orang yang kamu suka. Iya kah?" "Bu Naomi bilang gitu?" Rezka sedikit terkejut mendengar ucapan Veranda. "Iya. Emang bener gitu Rez?" "Duhh gimana ya Ve bilangnya?" "Bilang apa?" Veranda bingung. "Ve, kita temenan kan?" "Iya." "Kamu bisa jaga rahasia kan?" "Bisa." "Bener ya Ve.., jangan bilang sama siapa-siapa. Termasuk Kinal, apalagi ke Bu Naomi." "Iya Rez, kamu mau bilang apa?" "Aku... suka sama... Bu Naomi," ucap Rezka malu-malu yang membuat mulut Veranda menganga saking terkejutnya. "Kamu suka Naomi? Sejak kapan?" tanya Veranda tersenyum lebar. "Sejak dia kerja disitu. Berawal dari tabrakan di tangga. Trus aku suka pada pandangan pertama. Kayak sinetron gitu." "Ya ampun..., aku ngga nyangka loh kalo kamu suka sama Naomi. Tapi aku dukung Rez, seratus persen aku dukung," ucap Veranda yakin. "Yang bener Ve?" Veranda mengangguk pasti. "Makasih Ve. Eh, udah nyampe nih di apartemen kamu," ucap Rezka saat mereka sudah berada di depan gedung apartemen Veranda. "Eh iya, yaudah, aku turun ya.." "Tunggu Ve. Kalau nanti aku ajak kamu makan malem, kamu mau ngga? Ngga ada temen nih. Tiap hari makan malem sendiri. Sekalian aku mau curhat tentang Naomi. Bisa kan?" ajak Rezka. Veranda mengangguk, "bisa." "Oke, nanti aku jemput jam tujuh ya. Thanks Ve." "Iya, makasih juga Rez." Veranda pun turun dari mobil Rezka. ... Sementara di tempat lain, Kinal masih kesal karena Veranda yang pulang bersama Rezka. Ia semakin yakin kalau Rezka memang menyukai Veranda. "Kalo gini terus aku bisa keduluan sama Rezka nih! Apa aku tembak Veranda aja ya?" tanya Kinal pada dirinya sendiri di dalam mobil. "Tapi kalo ditolak gimana? Kalo Ve malah ngejauh gimana? Kayaknya Ve normal normal aja. Aku yang ngga normal!" gerutu Kinal khawarir. Sejauh ini memang Kinal belum bisa menangkap sinyal kode yang diberikan oleh Veranda. "Aku harus konsultasi ke Beby sama Jeje! Iya bener, kali aja mereka punya solusi," Kinal melajukan mobilnya ke arah rumah Beby. .... Di rumah Beby, baru saja Kinal menelfon Jeje agar datang ke rumah Beby saat itu juga. Jeje yang tidak ada kerjaan pun mengiyakan dan langsung berangkat ke rumah sahabatnya. Sekarang mereka bertiga berada di halaman belakang rumah Beby. Disana ada semacam pondok kecil yang terbuat dari kayu jati di taman pinggir kolam renang. "Nih cemilan, kalo kurang nanti gue suruh bibi ambilin lagi," Beby meletakkan sekotak pisang coklat keju. "Mantep nih," Jeje mengambil satu potong makanan tersebut. "Buruan cerita Nal, katanya lo lagi galau," Beby membuka topik pembicaraan. "Gue mau nembak Veranda," ucap Kinal pasti. "Lo yakin?" tanya Beby. "Nah itu dia, gue takut ditolak. Menurut kalian gimana?" "Lo serius ngga sama Veranda?" tanya Jeje. "Serius maksudnya?" "Ya serius ngejalin hubungan ini. Bukan cuma buat pacaran. Tapi sampe ke tahap nikah. Lo siap ngga?" lanjut Jeje. "Kalo itu sih serius, gue bakal perjuangin hubungan ini." "Kalo lo serius, seharusnya lo ngga perlu takut ditolak. Katanya lo mau berjuang, kalo ditolak ya kejar terus dong. Cemen banget sih lo," ucapan Jeje seolah telah menampar Kinal. "Busett pengalaman banget nih kayaknya. Keseringan nolak Echa sih lo," sahut Beby. "Oke, gue bakal tembak Veranda. Tapi kalian bantuin gue ya?" pinta Kinal. "Bantuin apaan?" tanya Jeje. "Ya bantuin nyari ide, gimana nembak yang romantis. Gue kan ngga pernah nembak cewek sebelumnya," jawab Kinal. "Kapan lo mau nembak Ve?" tanya Beby. "Kapan ya..., besok. Gimana?" usul Kinal. "Terserah elu lah. Kan elu tokoh utamanye, kita mah follower. Tapi romantis tuh kayak begimane? Gue juga kagak tau," ucap Jeje. "Gue pernah liat di drama korea. Si cowok nembak si cewek pas ditaman bunga, trus dia ambil satu tangkai bunga kecil gitu. Trus bunga itu dibentuk cincin, trus dipakekin ke jari si cewek. Romantis banget tuh Nal," Beby berpendapat. "Romantis apaan?! Itu sih kagak modal namanye!" sahut Jeje. "Emang gitu romantis ya Beb?" tanya Kinal bingung. "Kalo menurut gue sih iya. Tapi kalo dibilang ngga modal, ngga salah juga sih," balas Beby sendu. "Apa gue nembak pakek bunga aja ya?" "Ck! Ngga kreatif banget lu!" sewot Jeje. "Trus ide lo apa ha? Salah terus gue sama Beby dari tadi." "Makan malam aja. Cari tempat yang romantis, cuma berdua. Nanti gue sama Jenong siapin tulisan 'will you be my girlfriend?'. Mantep tuh!" usul Jeje. "Makan malem? Dimana?" balas Kinal. "Di taman belakang rumah lo aja Je, kan bagus tuh. Lagian rumah lo sepi kan? Tinggal siapin meja, dua kursi, lilin, makanan, lampu-lampu, sama tulisan-tulisan gitu. Gimana?" Beby melihat Jeje serius. "Rumah gue ya? Boleh sih, nanti pinggir kolam renangnya kasih lilin-lilin gitu. Bagus kali yak?" Jeje bertanya entah pada siapa. "Iye bener, trus abis makan malem, kita nyanyi-nyanyi deh. Kan lama kita ngga akustikan bareng. Gitar sama piano lu juga nganggur kan Je?" sahut Beby. "Nahh ini gue demen. Iye bener, kite kan lama ngga nge-band bareng. Terakhir pas pensi fakultas tahun lalu kan? Sepakat banget gue!" balas Jeje pasti. "Lo tinggal siapin lagu yang romantis Nal. Inget ye, yang romantis! Jangan lagunye Via Vallen. Ntar adanya ngga romantis malah dangdutan ho-a ho-e," lanjut Jeje. "Ngga nyesel gue punya sohib kayak kalian. Oke gue setuju, tapi kalian yang siapin ya? Kan gue besok ke kantor. Besok pagi gue ajak Ve buat dinner. Ya ya ya?" ucap Kinal dengan nada memelas merayu sahabatnya agar mau mengurus semuanya. "Iye, gampang. Kite berdua yang urus. Ye kan Nong?" "Yoi Je." Kinal tersenyum senang mendengar jawaban sahabatnya. Tak lama setelah perbincangan seru mereka, ponsel Kinal bergetar beberapa kali. "Daniel?" gumam Kinal, ternyata Daniel lah yang menelfonnya sekarang. ___ "Halo." "....." "Ck! Cari makan malem sendiri aja napa Niel." "....." "Pakek google maps kan bisa" "....." "Males ah, sendiri aja Niel. Manja banget sih!" "....." "Eh jangan dong! Kok jadi bilang ke Papa sih?! Kang ngadu lo!" "....." "Yaudah iya, gue ke tempat lo sekarang." ____ Kinal menutup sepihak telfonnya. Ia sangat kesal dengan tingkah Daniel yang sangat manja. Bahkan Kinal sudah tidak ber-aku-kamu lagi pada Daniel. Tapi kalau di kantor mungkin akan berbeda, karena Kinal tak mau terdengar kasar di depan Davi-ayahnya. "Niel siape Nal? Kuda Nil?" tanya Jeje penasaran. "Ya kali gue telponan sama kuda nil Je. Barusan tuh Daniel, anaknya temen Papa. Orang Indonesia sih, cuma lama di Belanda. Sekarang kerja di perusahaan Papa yang disono. Nah gue disuruh nemenin dia selama disini dua minggu. Ribet banget tuh orang, makan malem aja minta ditemenin. Dikira gue babysitter-nya apa?" curhat Kinal. "Orangnye begimane Nal? Kok manja gitu kayaknye?" "Emang manja. Ngga suka gue pokoknya sama dia." "Yaudah, gih sono berangkat lo. Katanya mau nemenin dia," ucap Beby. "Sama kalian yuk? Biar gue ngga berdua doang sama dia," ajak Kinal. "Lah, kok kite ikut juga?" "Udah ayooo.." Kinal menarik tangan Beby dan Jeje. Mereka bertiga memakai mobil Beby untuk menjemput Daniel. Kali ini Jeje yang ditugaskan menyetir. Sesampainya di hotel tempat Daniel menginap, Kinal menelfon Daniel agar segera turun dan menemuinya. Kini mereka berempat sedang mencari tempat makan untuk makan malam bersama. Tapi ditengah perjalanan, Beby melihat seorang gadis yang baru keluar dari apartemen Shania dan Veranda. Mata Beby memicing memastikan penglihatannya. "Itu bukannya Veranda, Nal?" ucap Beby tiba-tiba. Sontak Kinal yang berada di jok belakang pun memajukan badannya dan mengikuti arah yang ditunjuk oleh jari Beby. "Iya bener, itu Ve. Je berenti Je, pinggirin mobilnya," pinta Kinal. Jeje menepikan mobil Beby dan berjarak tidak jauh dari tempat Veranda berdiri sekarang. Terlihat Veranda akan memasuki sebuah mobil sedan hitam. "Mobil siape tuh Nal?" tanya Jeje. "Mana gue tau. Ikutin Je," perintah Kinal. "Kok ikutin sih? Bukannya kita mau makan?" protes Daniel. "Diem lu!" balas tiga gadis itu bersamaan. "Ck!" decak Daniel kesal. Sebenarnya ia sudah kesal dari tadi, karena Kinal yang datang bersama dua temannya. Batal sudah rencana Daniel untuk makan berdua dengan Kinal. Jeje menempatkan mobil dengan jarak sekitar 8 meter di belakang mobil yang dinaiki Veranda tadi. Dengan lihai Jeje mengikuti mobil di depannya itu. Sedangkan Kinal seolah tak berkedip melihat mobil yang telah ia targetkan. Dengan tatapan yang sangat tajam, bibir yang mengatup rapat, dan helaan nafas sedikit cepat khas orang yang sedang kesal. Kinal sangat ingin tahu kemana Veranda pergi. Terlebih lagi, satu pertanyaan yang sedang berputar-putar di kepala Kinal... "Kamu pergi sama siapa Ve?" ***** . . To be continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD