Hatiku jatuh, terjun bebas ke arahmu, kumohon tangkaplah ia.
***
____________________________________
Author pov.
Di depan sebuah restoran yang menyajikan menu masakan Jepang, mobil Beby berhenti setelah mobil yang Kinal targetkan memasuki resto tersebut.
"Rezka?" ucap Kinal saat melihat Rezka turun dari mobil bersamaan dengan Veranda.
"Lo kenal dia Nal?" tanya Beby.
"Dia kerja di kantor Papa," jawab Kinal singkat dengan nada sangat kesal.
"Kita masuk juga ngga?" tanya Jeje.
"Kalo kita masuk, pasti Ve liat kita, Nal. Tapi kalo ngga masuk, gue yakin lo pasti penasaran kan mereka ngapain?" tebak Beby.
Kinal berpikir sejenak sambil mengamati sekelilingnya. Pandangannya terhenti pada sebuah tempat makan cepat saji yang terletak di seberang jalan.
"Puter balik Je, kita kesitu," Kinal menunjuk KFC yang berada tepat di seberang restoran Jepang yang didatangi Veranda.
"Oke," jawab Jeje patuh karena ia paham maksud Kinal. Di tempat yang dimaksud ada beberapa meja outdoor, sehingga memudahkan mereka untuk mengawasi Veranda. Setidaknya mereka akan tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Veranda dan Rezka untuk makan malam berdua.
"Kok ke KFC sih? Kan enak makanan Jepang!" protes Daniel.
"Kalo lo mau makanan Jepang, lo makan sendiri. Kita bertiga lagi pengen tulang ayam," sahut Beby.
"Sendiri? Ya ngga mau lah!"
"Yaudah jangan bawel!"
Mau tidak mau, Daniel harus ikut kemanapun mereka pergi. Jadilah sekarang mereka berempat makan di resto cepat saji yang khas dengan menu makanan serba ayam itu.
....
Sekitar satu jam kemudian, terlihat Veranda dan Rezka yang baru keluar dari resto itu. Kinal melihatnya dan meminta yang lain untuk segera ke mobil. Kinal berencana akan mengikuti Veranda lagi setelah ini.
"Kenapa buru-buru sih Nal?" protes Daniel lagi.
"Kalo lo mau disini, silahkan. Gue mau balik dulu," balas Kinal. Kemudian Kinal melangkah pergi diikuti oleh Jeje dan Beby.
"Yaudah aku ikut."
Di dalam mobil, mereka berempat cenderung diam. Jeje fokus menyetir, Kinal dan Beby fokus melihat mobil Rezka, sedangkan Daniel memilih untuk tidak membuka obrolan. Tapi ia masih penasaran, kenapa Kinal dan dua sahabatnya sangat antusias mengikuti Veranda.
"Mereka balik ke apartemen Nal. Lo mau turun sini?" tanya Jeje.
"Ngapain gue turun Je?"
"Ya kali aje lo mau ketemu Ve."
"Ngga usah, besok pagi aja pas gue jemput dia," balas Kinal.
"Kamu kenapa sih Nal? Segitunya ngikutin Veranda?" Daniel masih penasaran.
"Veranda itu sahabat Kinal, sahabat gue sama Jeje juga. Kita ngga mau sampe dia kenapa-kenapa. Makanya kita ikutin," sahut Beby.
"Kalo sahabat, kenapa tadi ngga makan bareng aja?" lanjut Daniel.
"Cerewet lo! Kayak emak emak gang," sarkas Jeje.
"Udahlah Niel. Kamu sendiri kan yang minta ditemenin makan? Yaudah jangan protes terus," lerai Kinal.
"Iya iya maaf." Daniel memilih untuk diam lagi. Ia merasa ada yang janggal dari sikap tiga gadis ini. Terutama Kinal, sepertinya Kinal sangat tidak suka melihat Veranda dan Rezka yang makan malam berdua. Bahkan Daniel sempat berpikir kalau Kinal menyukai Rezka.
"Masa Kinal suka sama cowok itu? Tapi dia kan penasarannya sama Veranda. Kinal ngikutin mobil itu karena ada Veranda. Apa jangan-jangan Kinal suka Veranda? Ah.., ngga mungkin," Daniel berdebat dengan batinnya sendiri.
Kinal, Beby, dan Jeje memutuskan untuk pulang karena Veranda sudah masuk ke apartemennya. Sekarang mereka dalam perjalanan mengantar Daniel terlebih dahulu.
Malam ini Kinal dan Jeje menginap di rumah Beby. Selain untuk mematangkan rencana, mereka juga mulai mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan Kinal untuk besok malam.
***
.
Pagi ini Kinal menjemput Veranda seperti biasa. Ia tak perlu menjemput Daniel karena pagi tadi mobil untuk Daniel telah sampai di hotelnya. Sehingga mulai sekarang Daniel bisa kemana-mana sendiri tanpa bergantung pada Kinal.
"Pagi Ve.."
"Pagi Nay.."
Veranda memasuki mobil Kinal. Sekarang Kinal sedang berpikir, ia ingin tahu kenapa Veranda makan malam berdua dengan Rezka kemarin. Bahkan pertanyaan ini membuat tidur Kinal tak tenang semalam.
"Ve.."
"Ya Nay?"
"Kemarin malem kamu kemana?" tanya Kinal hati-hati.
"Kemarin malem? Jam berapa Nay?"
"Jam makan malem pokoknya."
"Ohh.. Aku diajak makan malem sama Rezka," jawaban jujur Veranda membuat Kinal semakin penasaran.
"Sama Rezka? Berdua doang?" Kinal pura-pura tidak tahu.
"Astagaa.. Kalau aku jawab iya, Kinay pasti mikir yang ngga ngga nih," batin Veranda.
"Iya, berdua. Tapi ngga ngapa-ngapain Nay, cuma makan. Jangan mikir macem-macem," jawab Veranda.
"Kok Ve bilang gitu sih? Tau aja kalau aku udah mikir yang ngga-ngga dari kemaren," batin Kinal.
"Kenapa Rezka ngajak kamu? Kayak ngga ada orang lain aja," balas Kinal.
"Soalnya dia mau cerita tentang N--" Veranda memotong kalimatnya karena ingat janjinya pada Rezka. "Tentang kerjaan, dia mau cerita tentang kerjaan Nay. Kan aku orang baru, jadi dia ceritain semua yang dia tau tentang perusahaan," dalih Veranda.
"Cerita tentang kerjaan emang harus sama makan malem ya? Kenapa ngga pas dikantor?" selidik Kinal.
"Ya kan dia ngajak makan malem bareng. Masa aku tolak Nay? Ngga enak lah. Lagian kenapa bahas Rezka terus sih? Kamu suka sama dia?"
"Hah? Ya ngga lah! Ngapain amat." ketus Kinal.
"Kali aja kan. Yaudah jangan jutek terus ihh.. Masa pagi-pagi udah cemberut aja," balas Veranda.
Tiba-tiba Kinal mendapatkan telfon dari Davi yang meminta agar Kinal segera ke kantor. Ada hal yang harus Davi titipkan pada Kinal karena hari ini ia akan pergi ke Surabaya lagi.
Kinal segera memenuhi panggilan ayahnya. Ia fokus menyetir yang membuat mobilnya terasa lebih hening tanpa percakapan dirinya dengan Veranda.
....
Sesampainya di kantor, Kinal langsung menuju ruangan Davi di lantai 7. Hanya butuh beberapa menit bagi Davi untuk menjelaskan pekerjaan Kinal. Kini pria itu meninggalkan Kinal diruangannya setelah berpamitan akan pergi ke Surabaya.
Kinal mulai mengerjakan pekerjaannya di ruangannya sendiri. Ia bahkan sampai lupa mengajak Veranda makan malam hari ini.
....
Di lantai 6, lebih tepatnya di meja Veranda, seorang pria bersetelan jas rapi datang menghampirinya.
"Hai Ve.."
"Daniel? Kamu disini?" Veranda berdiri dari duduknya.
"Iya, cuma mau tanya. Kamu itu sahabatnya Kinal kan? Kamu pasti tau dong Kinal sukanya apa?" tanya Daniel.
"Kinal sukanya apa? Maksudnya?" Veranda bingung.
"Ya apa gitu.., bunga? Atau coklat? Atau tas? Atau apa gitu.., soalnya nanti aku mau ajak dia dinner. Dan aku mau ngasih sesuatu yang spesial buat dia. Enaknya apa ya Ve?" tanya Daniel sok akrab.
"Dinner? Dia mau ngajak Kinal dinner? Kira-kira Kinal mau ngga ya diajak Daniel?" Veranda membatin.
"Aku juga ngga tau Daniel. Tapi setau aku sih Kinal bukan tipe cewek yang suka hal romantis," jawab Veranda apa adanya.
"Gitu ya? Yaudah deh, nanti aku pikir lagi mau ngasih Kinal apa. Makasih ya Ve.."
"Sama-sama"
Saat Daniel akan berbalik badan, ia berpapasan dengan Rezka yang berjalan ke arahnya. Karena Daniel berdiri tepat di belakang kursi Rezka.
"Eh sorry sorry," ucap Rezka reflek.
"Tidak apa-apa. Eh, kamu yang kemarin makan malam sama Veranda kan?" tanya Daniel menunjuk Rezka.
Mendengar itu, Veranda mengerutkan alisnya bingung, "kok Daniel tau?" batinnya.
"Kamu tau dari mana Niel? Emang kemarin kita ketemu ya?" tanya Veranda membuat Daniel menoleh ke arahnya. Kini mereka bertiga sedang berdiri melingkar.
"Bukan ketemu, tapi ngikutin. Kemarin aku, Kinal, sama dua temen Kinal makan bareng, terus ngga sengaja liat kamu masuk mobil dia. Kamu makan malem berdua sama dia kan Ve?" tanya Daniel sengaja ingin melihat reaksi keduanya.
"Iya, kami makan berdua. Apa masalah?" sahut Rezka.
"Ngga sih, semoga langgeng ya..," ucap Daniel lalu pergi begitu saja.
Sementara Veranda masih terdiam, "kalau kamu tau aku pergi berdua sama Rezka, kenapa tadi masih kamu tanyain Nay? Sebenernya apa yang kamu pikirin?" resah Veranda.
"Jangan di dengerin Ve, biarin aja dia. Kenal juga ngga," ucap Rezka cuek.
"Iya Rez."
....
Daniel melangkahkan kakinya menuju ruangan Kinal. Sesuai rencananya, dia ingin mengajak Kinal dinner nanti malam.
"Hai.." sapa Daniel setelah membuka pintu.
"Bisa ketok pintu dulu kan? Ngagetin aja!" balas Kinal ketus.
"Oh iya lupa. Kamu sibuk ya Nal?" Daniel melihat Kinal yang duduk berhadapan dengan berkas-berkas di atas meja.
"Sibuk. Kenapa?" jawab Kinal tanpa melihat Daniel.
"Kalau nanti malam, sibuk ngga?" Daniel duduk di kursi depan meja Kinal.
"Kenapa emangnya?"
"Aku mau ajak kamu dinner, bisa kan?"
"Dinner?"
"Iya dinner, tapi cuma berdua. Kamu jangan ajak dua sahabat kamu itu ya," pinta Daniel.
"Lah kan nanti aku mau dinner sama Ve. Astagaa! Lupa belum ajak Ve! Jangan sampe keduluan Rezka lagi nih!" batin Kinal, lalu ia berdiri dari duduknya.
"Maaf Niel, aku ngga bisa. Nanti malem udah ada janji. Dan sekarang aku mau pergi dulu. Bye!" Kinal berjalan keluar ruangan.
"Tunggu Nal," Daniel memegang tangan Kinal. "Kamu mau kemana? Trus nanti malem kamu ada acara apa? Aku pengen banget makan malam sama kamu nanti," mohon Daniel.
"Maaf Niel. Aku udah ada janji, dan sekarang aku ada urusan mendadak. Aku tinggal dulu," Kinal melepaskan tangan Daniel dan berjalan cepat menuju lift.
Daniel menghela nafas kasar, "aku akan dapetin kamu Nal. Bagaimana pun caranya!" gumam Daniel berjalan meninggalkan ruangan Kinal.
.....
"Rez, mana Ve?" tanya Kinal. Ya, sekarang Kinal sudah berada di depan meja kerja Veranda.
"Eh mbak Kinal? Ve tadi ijin ke toilet mbak," jawab Rezka sopan.
"Toilet? Oke thanks. Dan inget, jangan panggil gue mbak!" ucap Kinal tegas.
"I-iya mbak. Eh.., iya Nal," balas Rezka.
Kinal berjalan cepat menuju toilet lantai 6. Ia ingin segera menemui pujaan hatinya.
....
Suasana sangat hening di luar toilet wanita. Kinal masuk dan melihat tiga bilik toilet yang terbuka. Karena tiga bilik ini adalah sisi yang langsung terlihat saat pertama memasuki toilet. Kinal melangkah lebih ke dalam dan melihat seorang wanita yang berdiri di depan cermin.
"Ve..," Kinal mendekati Veranda dari belakang.
"Kinay?" Veranda melihat bayangan Kinal dari cermin. Veranda pun memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Kinal, "kamu ngapain kesini Nay?" tanya Veranda.
"Mau ketemu kamu," jawab Kinal senyum.
"Ketemu aku? Aku pikir kamu lagi sama Daniel sekarang," jawab Veranda memancing reaksi Kinal.
"Daniel? Kok dia? Tadi emang ketemu, tapi cuma bentar," jawab Kinal santai.
"Ohh.., kamu trima ajakan makan malam dia?" selidik Veranda.
"Kok Ve tau kalo Daniel ngajak aku makan malem nanti? Tau dari mana ya?" Kinal membatin mengalihkan pandangan dari Veranda.
"Kok kamu tau kalo Daniel ngajak aku dinner?" tanya Kinal penasaran.
"Tau lah, orang Daniel sendiri yang bilang tadi pagi," jawab Veranda mulai jutek.
"Kok Ve biasa aja sih? Dia kok ngga cemburu ya? Kalo dia suka sama aku, seharusnya dia cemburu. Kalo ngga cemburu berarti ngga suka. Trus pasti nanti aku ditolak. Gimana dong? Antisipasi dulu deh. Tes dulu sekarang," batin Kinal lagi.
"Itu dia Ve, menurut kamu enaknya aku trima ngga ya ajakan Daniel nanti malem?" tanya Kinal sambil memperhatikan ekspresi Veranda.
"Bisa ya dia nanya gitu ke aku?!!" batin Veranda
"Kok tanya aku? Ya kalau kamu suka, trima aja," jawab Veranda ketus.
Kinal melihat ekspresi Veranda yang mulai kesal. Kinal tersenyum, "ooo jadi trima ya Ve? Yaudah deh, nanti aku bilang ke Daniel," ucap Kinal.
"Yaudah sana bilang."
"Iya, aku pergi nih ya.., sekarang nih aku perginya," ucap Kinal menahan senyum sambil melangkah mundur seolah benar-benar akan keluar dari toilet.
"Yaudah pergi sana, sekalian nanti ngga usah anterin aku. Aku bisa pulang sendiri," ketus Veranda lalu membalikkan badannya menghadap cermin.
"Ah iya bener, nanti kamu naik taksi aja ya Ve. Kayaknya nanti aku langsung pulang sama Daniel," lanjut Kinal. Ia sampai menahan tawanya melihat Veranda yang kesal sekarang.
"Iyaa! Udah sana pergi," Veranda tidak mau melihat Kinal.
Kinal melangkah keluar tapi tidak benar-benar keluar. Kinal menempelkan badannya di tembok toilet. Tepat di dekat pintu masuk toilet. Ia memang tidak bisa melihat Veranda, tapi masih bisa mendengar dengan jelas jika Veranda berbicara.
"Dasar ngga peka!"
Alis Kinal berkerut mendengar umpatan Veranda.
"Tadi aja sok kesel pas tau aku jalan sama Rezka! Sekarang? Malah kesini cuma buat nanyain trima ajakan Daniel apa ngga! Maksudnya apa?!"
Kinal menutup mulut dengan tangannya. Ternyata benar dugaannya, Veranda cemburu.
"Kesel kesel kesel! Mau kamu apa sihh Nay?!"
Kinal berjalan mengendap-endap menghampiri Veranda dari belakang. Kebetulan Veranda sedang menunduk seolah meredam emosinya. Kesempatan yang bagus untuk Kinal, ia memposisikan dirinya tepat di samping kiri Veranda.
"Katanya 'yaudah pergi sana', tapi sekarang marah-marah sendiri," ucap Kinal santai sambil menirukan gaya bicara Veranda saat menyuruhnya pergi tadi.
Veranda menoleh cepat, ia kaget saat melihat Kinal yang sudah berada di sampingnya. "Kok kamu disini, bukannya tadi...", Veranda kaget bercampur bingung.
Kinal memutar dirinya menghadap Veranda. Kinal juga memegang bahu Veranda, menggerakkan tubuh itu agar menghadap dirinya.
"Kamu kenapa marah-marah gitu? Hmm?" tanya Kinal lembut.
"Ngga marah," jawab Veranda tanpa menatap mata Kinal.
"Kamu kesel sama aku?"
"Ngga."
"Bohong, kamu kesel sama aku kan?"
"Ngga."
"Kamu cemburu?" tanya Kinal yang membuat Veranda melihatnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan lagi.
"Ngga."
"Jangan bohong, kamu cemburu kan?"
"Ngga."
"Iya, kamu pasti cemburu."
"Ngga."
"Kamu rela aku pergi sama Daniel?"
"Ngga. Eh?" dengan cepat Veranda menatap Kinal saat menyadari jawabannya.
Kinal tersenyum saat Veranda menatapnya. Sebenarnya sudah sejak tadi ia menahan senyumnya. Kini Kinal menatap teduh mata Veranda. Tangannya mulai berani memegang pinggang Veranda.
"Aku juga ngga rela liat kamu pergi sama Rezka kemarin," ucap Kinal sambil lebih mendekatkan tubuhnya dengan Veranda.
"Kamu liat?"
"Iya, aku kemarin ikutin kamu. Maaf ya."
Wajah mereka semakin berdekatan, Veranda sudah bisa merasakan nafas Kinal yang terhembus di depan wajahnya.
"Kenapa ikutin aku?" ucap Veranda sangat pelan, hampir terdengar seperti sebuah bisikan.
"Karena aku cemburu."
Hidung mereka telah bersentuhan lembut, tidak ada yang mau menghindar. Saling mendekatkan wajah, seolah tak menghirukan debaran jantung yang sudah di luar kendali. Keduanya seakan terbuai dengan suasana yang mereka ciptakan sendiri.
"Kamu cemburu?"
"Iya, aku cemburu."
Entah siapa yang memulai, kini bibir keduanya telah menempel. Mereka sama-sama menutup mata, merasakan lebih dalam ciuman mereka. Tangan Kinal yang melingkar sempurna di pinggang Veranda semakin menarik Veranda agar mengikis jarak antara mereka. Tangan Veranda pun bergerak ke leher Kinal. Veranda menekannya untuk memperdalam ciuman mereka.
Ciuman pertama diantara keduanya. Ciuman yang sangat lembut antara dua bibir yang hanya menempel tanpa nafsu.
Setelah beberapa detik, perlahan Kinal melepaskan ciumannya, membuka matanya, dan memundurkan wajahnya.
"Ve.."
"Nay.."
Mereka sama-sama canggung dan tersipu setelah apa yang terjadi. Kinal memegang bibir bawah dengan jarinya. Ia masih tidak percaya bahwa baru saja ia telah berciuman dengan Veranda.
"Ba-barusan itu ciuman pertama aku Ve," ucap Kinal pelan.
"Apa? Ka-kamu belum pernah ciuman sebelumnya?" Veranda kaget sekaligus merasa bersalah.
Kinal menggeleng pelan.
"Ya ampun, maaf Nay, aku ngga tau kalau kamu--"
"Nggapapa Ve, tapi seharusnya jangan sekarang kita ciumannya. Nanti aja," Kinal memotong kalimat Veranda.
"Eh? Kok gitu?" Veranda bingung.
"Ya soalnya nanti kan aku mau nembak kamu. Eh... -ep," Kinal keceplosan dan langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Tapi percuma, Veranda telah mendengar dengan jelas ucapannya tadi.
"Apa Nay? Kamu bilang apa barusan?" Veranda memastikan pendengarannya.
Kinal menggeleng dengan tetap menutup mulutnya.
"Bilang apa Nay? Kamu mau nembak aku? Beneran?"
Kinal menghela nafas, "iya, nanti malem," jawabnya sendu.
"Nanti malem? Bukannya kamu mau pergi sama Daniel?"
"Tadi Daniel emang ngajak aku, tapi aku ngga mau. Aku udah rencanain buat ajak kamu dinner nanti," ucap Kinal menunduk.
Veranda tersenyum, "ngajak dinner kok lemes gitu sih?" goda Veranda.
Tiba-tiba Kinal mendengar langkah kaki mendekat masuk ke toilet.
"Mbak Kinal?" sapa seseorang.
"Eh, Bu Ira? Silakan masuk Bu. Saya sudah selesai. Mari..," Kinal pergi dan menarik tangan Veranda.
"Iya, mari mbak," balas wanita yang dipanggil 'Bu Ira' oleh Kinal itu.
Veranda masih berjalan di samping Kinal dengan tangan yang masih digenggam mesra oleh Kinal.
"Kita kemana Nay?" tanya Veranda sesaat setelah memasuki lift.
"Ke ruangan aku. Disana sepi, ngga ada yang gangguin. Kamu kan belum jawab mau aku ajak makan malam apa ngga," ucap Kinal polos. Sementara Veranda hanya mengulum senyum mendengarnya.
...
Kini mereka berdua telah duduk bersebelahan tapi saling menghadap di sofa ruangan Kinal.
"Kamu mau kan nanti makan malam sama aku Ve?" tanya Kinal pelan.
"Nanti kamu mau nembak aku?"
"Iya, maaf ya ngga surprise, tadi keceplosan," balas Kinal.
"Kalau gitu nanti aku mau tolak kamu," goda Veranda.
"Lah kok gitu Ve? Kamu ngga suka sama aku? Kamu ngga cinta sama aku? Kok tadi mau ciuman sama aku?" tanya Kinal bertubi-tubi.
"Kalau nanti malem aku tolak. Kalau sekarang aku terima," balas Veranda.
"Yahh.. Nanti aja napa Ve, aku udah siapin semuanya. Jeje sama Beby sih yang siapin. Nanti kita makan malem di halaman belakang rumah Jeje. Kasian mereka kalo nanti ngga jadi. Nanti aja ya nembaknya," pinta Kinal.
"Siapa bilang nanti ngga jadi? Ya kamu nembak dua kali dong Nay. Sekarang sama nanti," Veranda sangat suka menggoda Kinal.
"Harus gitu ya Ve?"
Veranda mengangguk.
"Yaudah..," Kinal mengambil nafas panjang lalu menatap mata gadis di depannya.
"Hari pertama kita ketemu, kamu udah nyuri seperempat hati aku Ve. Pertemuan kedua, waktu kamu nolongin aku, setengah hati aku isinya kamu. Setelah kita kenalan, aku tau tentang kamu, kamu tau tentang aku, seluruh hati aku cuma ada nama kamu Ve. Bukan cuma hati, tapi otak juga. Aku selalu mikirin kamu, pagi siang malem, kamu udah kayak hantu di pikiran aku. Tiba-tiba muncul, muter-muter, senyam-senyum, ngga mau pergi lagi. Sampai aku yakin kalau aku udah jatuh cinta sama kamu Ve. Sekarang dengan keberanian seadanya, aku mau minta kamu jadi pacar aku. Kamu mau kan Ve?" ucap Kinal sangat lembut dan tulus.
Grep..
Veranda memeluk Kinal, ia mengangguk pasti di bahu Kinal, "aku mau Nay," jawabnya.
Kinal membuang nafas lega dan tersenyum lebar. Kinal membalas pelukan Veranda, "makasih Ve, I love you."
"Love you more, Nay," balas Veranda semakin mengeratkan pelukannya.
Lima detik..
Sepuluh detik..
Dua puluh detik..
Berdetik-detik...
Akhirnya pelukan itu terlepas juga.
Keduanya saling menatap lembut, Kinal menggenggam mesra tangan Veranda.
"Sekarang kita pacaran kan Ve?"
Veranda mengangguk malu-malu.
Kinal mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya dengan kening gadis terkasihnya. Telapak tangan kanannya sudah berada di bawah telinga kiri Veranda, ibu jarinya tengah mengelus lembut pipi mulus Veranda.
"Makasih Sayang," ucap Kinal setengah berbisik.
Veranda semakin tersipu, ia hanya tersenyum mendengar Kinal memanggilnya 'Sayang'. Bola mata Veranda bergerak berusaha melihat bibir Kinal yang tertutup hidungnya. Veranda mengalungkan tangannya di leher Kinal, sedikit memiringkan wajahnya, dan..
Cup!
Veranda mencium bibir kekasihnya. Melumatnya lembut, menyapu bibir atas dan bawah Kinal secara bergantian.
Kinal yang baru pertama kali merasakannya pun memejamkan mata, ia menikmati setiap pergerakan bibir Veranda diatas bibirnya. Sebelumnya ia hanya melihat cara ciuman semacam ini di drama korea yang diberikan Beby. Tapi sekarang ia merasakan langsung bersama pencuri hatinya.
Perlahan Veranda melepaskan ciuman itu dan membuat Kinal membuka matanya.
"Kok ngga dibales sih Nay?" Veranda pura-pura cemberut.
"Belajar dulu Yang, tapi sekarang udah bisa sih. Apalagi nanti kalo udah jago, siap-siap aja bibir kamu aku makan tiap hari," balas Kinal yang juga menggoda Veranda sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Coba aja kalo berani," tantang Veranda.
"Berani dong, sini deh.." Kinal memajukan wajahnya, tapi..
Tok tok..
"Nal, aku masuk ya.." ijin seseorang dari luar pintu.
"Ck! Ganggu aja nih kompeni!" umpat Kinal membuat Veranda terkekeh geli.
"Masuk!"
"Hai.., bahas perusahaan sekarang yuk Nal?" ajak Daniel yang baru masuk ruangan Kinal.
"Sekarang?"
"Iya sekarang," balas Daniel.
"Yaudah, kamu tunggu bentar. Aku mau antar Ve dulu. Yuk Ve," ucap Kinal dan menggandeng tangan Veranda.
Mereka berjalan meninggalkan Daniel sendirian di ruangan Kinal.
"Aku antar kamu, takutnya kamu dimarahin sama atasan kamu karena ijin ke toiletnya lama," ucap Kinal.
"Iyalah lama, orang diculik dulu," balas Veranda.
"Tapi suka kan?"
"Suka dong, kan yang nyulik cewek ganteng," Veranda memeluk lengan Kinal dan menyandarkan kepala di bahu tegap kekasihnya. Entah kenapa Veranda suka sekali bersandar disana.
"Yuk," ucap Kinal saat mereka sampai di lantai enam.
Kinal mengantarkan Veranda sampai di mejanya. Sudut kanan bibir Kinal terangkat saat melihat Rezka yang duduk di samping Veranda.
"Hai Rez, Veranda udah jadi punya gue sekarang! Hahaa," batin Kinal bangga karena masih menganggap bahwa Rezka menyukai Veranda.
***
.
Daniel dengan serius menjelaskan ke Kinal tentang cara mengurus perusahaan, terutama tentang anak perusahaan, cabang, saham, dan investor. Daniel terlihat sangat tegas, berwibawa, dan menguasai segala materi tentang perusahaan. Tapi sekeren apapun Daniel, namanya tidak akan pernah menempati ruang di hati Kinal.
....
Jam makan siang tiba, Kinal mengajak Veranda makan siang bersama. Tapi sayangnya mereka harus diganggu oleh Daniel yang tiba-tiba ikut bergabung di meja mereka.
Sesaat kemudian, Naomi juga datang. Kini mereka berempat duduk mengitari meja yang sama. Kinal dan Veranda bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Tapi hati masing-masing dari keduanya telah mengumpat kesal.
"Baru juga jadian, mau dua-duaan. Eh kompeni dateng. Naomi juga ikutan lagi. Emang disini meja cuma satu apa?" batin Kinal.
"Naomi suka ya sama Kinay? Kok dari tadi merhatiin Kinay terus sih? Ini lagi si Daniel, dari tadi cari muka terus ke Kinay. Udah ditolak juga, masih aja deket-deket! Kinay juga sih, dia cewek tapi ganteng. Liat aja sekarang, bukan cuma cowok yang suka dia, tapi cewek juga," batin Veranda.
***
.
Saat-saat yang ditunggu akhirnya tiba. Kinal menjemput bidadarinya dan langsung mengarahkan mobil ke rumah Jeje.
Sedangkan di halaman belakang rumah Jeje, semuanya telah tertata rapi. Kinal sendiri yang membeli barang-barang itu secara online kemarin malam. Dan tadi siang barang-barang itu sudah siap untuk dieksekusi oleh Jeje dan Beby.
"Je, nih lilin dinyalain sekarang aja kali ya?. Bentar lagi Kinal dateng kayaknya," ucap Beby yang telah memegang korek api untuk menyalakan lilin-lilin kecil yang telah ia tata rapi di pinggir kolam. Sebelumnya Beby telah menaburkan kelopak-kelopak mawar putih di atas kolam. Sehingga airnya tak terlihat dari permukaan
"Yaudah nyalain Beb. Gue masih mau ambil gitar dulu diatas," balas Jeje. Dari tadi Jeje sibuk mempersiapkan pianonya yang sengaja dipindahkan dari ruang tengah ke halaman belakang. Tentu saja Jeje telah mengerahkan seluruh pembantu di rumahnya, ditambah satpam, tukang kebun, dan supir yang sebenarnya tidak ada jadwal bekerja hari ini.
Di dekat kolam, di atas rerumputan yang terawat, sebuah meja berdiri dengan dua kursi yang saling berhadapan. Meja tersebut telah dilengkapi dengan lilin dan bunga mawar di tengahnya. Peralatan makan juga sudah tertata rapi. Sampai bunga mawar merah yang sengaja ditata di sekitar meja membentuk gambar hati
Semua telah siap, tinggal menunggu sepasang gadis yang telah dimabuk asmara datang kesini.
....
"Silahkan tuan putri," Kinal menarik sedikit ke belakang kursi yang akan diduduki Veranda.
"Bagus banget Nay, ini semua kalian yang buat?" Veranda masih terkagum-kagum melihat suasana yang begitu romantis tersaji untuknya.
"Aku cuma siapin perlengkapannya. Jeje sama Beby yang kerjain semuanya. Kamu suka?" ucap Kinal sembari duduk di tempatnya.
"Suka banget, makasih ya. Ini bagus banget Nay, serius."
"Sama-sama," balas Kinal senyum.
"Ekhem, maap nih ganggu. Makanan udah siap. Silahkan. Abisin ye, kagak ada racunnye kok," Jeje datang bersama Beby membawa makanan buatan pembantu Jeje.
"Dan ini minumnya, selamat menikmati," ucap Beby yang tersenyum manis dengan lesung pipinya.
"Makasih guys, kalian the best banget," balas Kinal.
"Ve, tolong ntar si paus lo trima ye? Lo kagak mau kan populasi orang stres di Jakarta meningkat? Jadi mending lo jangan tolak die. Oke?" ucap Jeje pelan disamping Veranda. Memang Kinal belum memberitahu Jeje dan Beby kalau ia telah berpacaran dengan Veranda sejak tadi siang.
Veranda terkekeh mendengarnya, "iya Je," balasnya.
"Eh kecebong! Ngomong apaan lu? Lu pikir gue ngga denger apa?" sewot Kinal.
"Eh paus ciliwung! kalo lu udah denger, ngapain lu nanya lagi? Aneh lu! Dah yuk Beb, kite main PS aje," Jeje menarik lengan baju Beby.
....
Kinal dan Veranda telah menghabiskan makan malam mereka. Kini Kinal bersiap menembak Veranda untuk kedua kalinya.
"Ve, kamu jadi mau ditembak lagi?"
"Jadi dong Nay, aku udah nunggu loh dari tadi," balas Veranda. Lagi-lagi ia senang sekali menggoda Kinal.
"Oke, yang sekarang aku langsung aja ya? Sebenarnya aku bukan orang yang romantis Ve. Semua ini ide Jeje sama Beby, termasuk itu..." Kinal menunjuk sesuatu di belakang Veranda. Seketika Veranda menoleh sesuai arah yang ditunjuk Kinal.
Rupanya Jeje dan Beby telah berdiri di belakang Veranda sambil memakai topeng dengan gambar wajah Kinal. Mereka berdua tengah membentangkan kain hitam panjang yang bertuliskan:
____________________________________
'Veranda, will you be my girlfriend?'
' [ ] YES '
or
' [ ] NO '
_____________________________________
.
Dengan ukuran yang cukup besar berwarna putih.
Veranda merasakan matanya sudah mulai berair, ia tersenyum senang sekaligus terharu dengan kesungguhan Kinal.
"Ini Ve," Kinal memberikan sebuah spidol hitam pada Veranda.
Veranda mengerti maksud Kinal, ia berdiri menerima spidol itu dan langsung menghampiri Jeje dan Beby. Kinal juga berjalan di belakang Veranda.
Dengan pasti Veranda menyentang 'YES' dan mencoret-coret 'NO' sampai tak terlihat lagi. Kemudian memberikan spidol itu ke Beby dan memutar tubuhnya menghadap Kinal yang sudah tersenyum lebar.
Kinal merentangkan tangannya, Veranda tersenyum dan langsung memeluk Kinal, "Yes, I will." ucap Veranda dipelukan Kinal.
Jeje dan Beby juga ikut tersenyum puas melihat mereka berdua, "bentar lagi kite jadi photograper nih Beb," celetuk Jeje.
"Lama amat sih pelukannya? Buruan kita nyanyi-nyanyi Nal," ucap Beby.
Veranda melepaskan pelukannya malu-malu, ia sempat lupa kalau masih ada Jeje dan Beby disana.
....
"Satu lagu untuk bidadari yang selendangnya telah aku curi," ucap Kinal sambil memegang gitar di pangkuannya.
Jeje mulai memainkan pianonya, Beby dan Kinal juga mulai memetik gitarnya.
Kinal menatap teduh Veranda sebelum menyanyikan alunan lagu yang telah ia siapkan....
Oh, her eyes, her eyes make the stars look like they're not shining
Her hair, her hair falls perfectly without her trying
She's so beautiful and I tell her everyday
Yeah, I know, I know when I compliment her she won't believe me
And it's so, it's so sad to think that she don't see what I see
But every time she asks me "Do I look okay?"
I say
....
Tatapan Kinal tak beralih dari bidadarinya. Veranda pun menatap sayu Kinal dengan senyuman yang tak lepas dari bibir merah mudanya.
When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
Cause girl you're amazing
Just the way you are..
....
Bahkan sampai kata terakhir lirik lagu itu, tatapan Kinal masih tetap setia tak beralih dari wajah Veranda.
Beby mengambil alih lagu berikutnya. Ia menyanyikan lagu dari Rossa dan Afgan -Kamu yang Kutunggu-. Lagu yang Beby persembahkan khusus untuk Kinal dan Veranda.
Berbeda dengan Jeje yang jalan pikirannya terlalu tak bisa ditebak, "karena ini sudah terlalu malam, mari kita dengarkan lagu yang sangat bermanfaat. Begadang, dari Bang Haji Rhoma Irama," ucap Jeje dengan nada khas pemilik lagu.
Seketika mereka tertawa mendengar ucapan Jeje. Tapi jangan salah, Jeje tetap dengan lihai memainkan pianonya sesuai lagu yang ia pilih.
Malam ini adalah malam yang ceria bagi mereka berempat. Sekaligus menjadi malam yang teramat indah bagi Kinal dan Veranda.
***
.
.
"Gre kayaknya udah tidur deh Nay," ucap Veranda saat mereka berdua telah berada di ruang tamu apartemen Veranda.
"Bagus dong, kan kita bisa berduaan," goda Kinal menaik-turunkan alisnya.
"Trus kalau udah berdua, mau ngapain emang? Hmm?" pancing Veranda.
"Ngapain ya? Enaknya ngapain?" Kinal sudah melingkarkan tangan di pinggang ramping Veranda.
"Ini kamu mau ngapain Nay?" Veranda merasakan tangan Kinal yang lebih rapat di pinggangnya.
"Mau cium kamu, boleh kan?" ucap Kinal.
"Kalau aku bilang ngga boleh? Gimana?" goda Veranda.
"Ya aku paksa lah, kan kamu pacar aku."
Veranda hanya tersenyum melihat Kinal yang menggodanya. Segera ia mengalungkan tangannya di leher Kinal. Sebenarnya ia juga sudah menahan untuk tidak mencium Kinal di depan Jeje dan Beby tadi.
Kinal mendekatkan wajahnya dan mulai mencium lembut bibir Veranda yang ingin dia rasakan sejak tadi. Kinal melumat pelan bibir itu, dan Veranda pun melakukan hal yang sama.
"Kak Ve?! Kak Kinal?!"
Sontak Veranda dan Kinal melepaskan ciuman mereka. Kinal melangkah mundur menjauhi Veranda.
"Gre??"
"Kak Ve sama kak Kinal ngapain?" tanya Gre polos.
Veranda memejamkan mata sejenak, menarik nafas dalam-dalam, "ada yang mau kakak omongin sama kamu Gre," ucap Veranda pelan.
"Apa?"
"Sini duduk sama kakak," ajak Veranda.
Menurut Veranda, cepat atau lambat pasti Gracia akan mengetahui hubungannya dengan Kinal. Maka sekarang Veranda akan memberitahu adiknya agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
Veranda duduk di samping Gracia. Sedangkan Kinal duduk berhadapan dengan Veranda. Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu.
"Kak Ve pacaran sama kak Kinal, Gre."
"Pacaran? Sejak kapan?" tanya Gracia yang tidak menunjukkan ekspresi kaget sedikitpun.
"Kok kamu ngga kaget sih Gre?" sahut Kinal.
"Emang harus kaget ya kak? Kalau tadi sih emang Gre agak kaget. Gimana ngga kaget kalo aku tiba-tiba liat kak Ve ciuman sama kak Kinal. Ngga ada angin, ngga ada hujan, tau-tau ciuman."
"Jadi kamu ngga masalah kalau kak Ve sama kak Kinal pacaran? Kan kak Ve dan kak Kinal itu sama," tanya Veranda hati-hati.
"Ngga sih, di sekolah aku juga ada cewek tomboy yang suka gonta-ganti cewek. Aku ngga suka sih sama dia. Bukan gara-gara dia cewek. Tapi gara-gara dia playgirl. Kalau kak Kinal, aku yakin kak Kinal ngga kayak gitu, kak Kinal itu orang baik. Kak Kinal juga bisa jagain kak Ve. Jadi aku oke oke aja kalau kak Kinal jadi pacar kak Ve," jawab Gracia panjang lebar.
"Beneran Gre?" Kinal tersenyum lebar.
"Iya beneran kak. Tapi kak Kinal harus janji buat jagain kak Ve ya? Jangan biarin kak Ve ketemu sama si botak itu."
"Janji, kak Kinal janji bakal jagain kak Ve. Kak Kinal juga janji bakal jagain kamu Gre," balas Kinal sangat yakin.
"Gitu dong.., yaudah, aku ngantuk nih. Kak Ve, aku ngantuk," Gracia tiba-tiba memeluk Ve dan menaruh kepalanya di d**a kakaknya.
"Eh.. Gre? kalau ngantuk ya bobok dong. Gih sana masuk," tubuh Veranda sedikit terdorong ke belakang karena menahan beban Gracia.
"Males jalan," rengek Gracia manja. Lalu ia menoleh ke Kinal dengan posisi masih tetap dipelukan Veranda. "Kak Kinal kenapa? Pengen dipeluk kak Ve kayak gini yaa?" goda Gracia.
Seketika Kinal mengalihkan pandangan ke arah lain, "ngga! Apaan sih Gre?!" sewot Kinal. Veranda mengulum senyum melihat Kinal yang salah tingkah.
"Halah malu-malu gitu, bilang aja pengen," lanjut Gracia. Kinal masih tidak mau melihat calon adik iparnya itu.
"Gre, kamu ngomong apa sih? Udah tidur sana. Katanya ngantuk," ucap Veranda.
"Emang ngantuk. Malem ini kak Ve tidur di kamar aku ya? Aku kangen sama kak Ve, masa kemarin sama tadi ditinggal terus. Aku makan malem sendirian, apa-apa sendirian. Pokoknya nanti aku mau tidur sama kak Ve," rengek Gracia.
"Iya iya, bangun dulu dong. Kamu ke kamar dulu, nanti kak Ve nyusul," ucap Ve yang dituruti oleh Gracia.
Malam ini Kinal menginap dan tidur sendiri di kamar Veranda. Sedangkan Veranda menemani Gracia tidur di kamar sebelah. Tapi hanya sampai Gracia terlelap. Setelah itu Veranda pindah ke kamarnya dan mendapati Kinal yang sudah tertidur pulas.
Veranda tersenyum memandangi kekasihnya yang tidur dengan mulut sedikit terbuka. Ia membaringkan diri disamping kiri Kinal, mencium lama kening dan bibir Kinal, lalu memeluk Kinal hingga ia juga terbawa ke alam mimpi. Meski Veranda yakin, tidak akan ada mimpi yang lebih indah dari rangkaian kejadian manis hari ini antara dirinya dengan Kinal, kekasihnya.
*****
.
.
.
To be continue.