AM 11: Kita

4585 Words
Jika kau merasakan bumi berputar lebih lambat saat bersama dia, itu berarti hatimu sedang meminta agar kau lebih berlama-lama dengannya. *** _______________________________________ Author pov. Sabtu pagi yang menyenangkan.... Senyuman bahagia tak henti-hentinya menghiasi bibir Kinal. Bagaimana tidak, pagi tadi saat membuka mata, ia mendapati Veranda tertidur lelap di pelukannya. Sekarang Kinal duduk sendiri di dekat meja makan, ia sedang menunggu Veranda yang masih mandi. "Gre? Kamu ngga sekolah?" tanya Kinal melihat Gracia yang baru saja menguap sambil berjalan keluar dari kamarnya. "Ngga kak, udah libur. Bosen sekolah mulu," jawab Gracia cuek. "Yee.. tanya serius juga!" Kinal melempar bawang merah ke arah Gracia. "Siapa juga yang becanda? Orang emang bener kok. Gre udah libur sekolah. Semester depan masuk," jawab Gracia. "Ohh libur semester? Udah bagi rapor dong? Bagus ngga nilainya?" "Bagus dong. Liat aja di kamar," jawab Gracia setelah meneguk segelas air. "Nanti deh kak Kinal liat. Eh, kamu libur kan? Mau main ke tempat kerja kak Ve ngga?" ajak Kinal "Emang boleh kak? Mau mau, mau banget," jawab Gracia semangat. "Yaudah sono siap-siap." Gracia pun bergegas mandi. Ia sangat antusias dengan ajakan Kinal. Sesaat kemudian Veranda keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. "Cantik banget sih pacar aku," Kinal berjalan mendekati Veranda. "Cantik dong, kan udah mandi. Kamu yakin ngga mau pakek baju aku aja Nay?" tanya Veranda. "Ngga ah, mana cocok aku pakek baju kamu. Nanti abis nganterin kamu ke kantor, aku pulang bentar, trus ganti baju," jawab Kinal sambil memeluk Veranda dari samping. "Kasian kamu Nay, bolak-balik jadinya," Veranda mengusap lembut pipi Kinal. "Nggapapa Sayangku, kiss lagi dong Yang," ucap Kinal memajukan bibirnya. Padahal sudah berkali-kali Kinal mencium Veranda pagi ini. Veranda tersenyum melihat Kinal yang sangat manja. Lalu Veranda mencium sekilas bibir Kinal. "Kok gitu doang sih?" rajuk Kinal. "Nanti Gre liat Yang," jawab Veranda sambil melirik kamar Gracia. "Ngga akan, dia lagi mandi. Nanti Gre mau ikut ke kantor, aku yang ajak dia," balas Kinal. "Ikut ke kantor? Emang boleh? Kenapa kamu ngga bilang aku du---emph," ucapan Veranda terpotong karena dengan cepat Kinal mencium bahkan mengulum bibir pink kekasihnya. Veranda yang awalnya kaget, kini juga ikut membalas ciuman Kinal. Perlahan Kinal melepaskan ciumannya, "hmm... strawberry," bisik Kinal setelah merasakan bibir Veranda yang telah dilapisi lipstick tipis. "Ihhh Kinay, lipstick aku ilang kan jadinya! Kamu sihh...," ambek Veranda menggembungkan pipinya. "Tinggal pake lagi kan bisa Yang. Mumpung masih disini jadi aku bisa cium-cium, kalo udah di kantor kan ngga bisa," ucap Kinal lalu mengecup sekilas pipi Veranda. "Kata siapa ngga bisa? Kemarin bisa di ruangan kamu," balas Veranda. "Itu kan kemarin. Nanti pasti si Daniel di ruangan aku, bantuin sama ngajarin ngurus kerjaan," ucap Kinal lemas jika harus mengingat bahwa ia akan menghabiskan waktu bersama Daniel nanti. "Lagian kan nanti ada Gre juga," lanjut Kinal. "Iya juga ya.., tapi awas ya kalo kamu macem-macem sama Daniel." "Macem-macem? Sama Daniel? Ngga mungkin lah. Aku tuh macem-macemnya sama kamu doang tau," goda Kinal. Veranda hanya tersenyum dan melangkah menuju meja makan. Ia akan menyiapkan roti bakar untuk dirinya, Kinal, dan Gracia. *** . Mobil Kinal menjadi salah satu penghuni kemacetan jalan raya pagi ini. Kinal dan Gracia mengantar Veranda hanya sampai di depan kantor. Lalu Kinal mengajak Gracia ke rumahnya, ia meminta Gracia untuk menunggunya berganti pakaian. Setelah itu Kinal dan Gracia kembali lagi ke kantor. ... Gracia memandang takjub ke setiap sudut gedung megah ini. Ia semakin kagum pada Kinal, dengan kekayaan yang sangat berlimpah, Kinal tetap begitu baik pada semua orang. Terutama pada dia dan kakaknya, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, sampai hal-hal kecil seperti makanan. "Kamu ke ruangan kak Kinal aja ya Gre? Nanti aja ketemu kak Ve pas makan siang. Kalo sekarang nanti ganggu kerjaan kak Ve," ucap Kinal saat mereka berdua sedang berada di lift. "Oke kak, ruangan kak Kinal lantai delapan?" tanya Gracia melihat tombol 8 yang menyala. "Iya, kak Kinal di lantai delapan, kalau kak Ve di lantai enam." .... Gracia menghabiskan waktu di ruangan Kinal untuk bermain game di gadgetnya. Sementara Kinal masih setia mendengarkan penjelasan panjang lebar Daniel di depannya. Mereka duduk berhadapan, sesekali Daniel mengeluarkan pujiannya untuk Kinal. Tapi Kinal enggan menanggapinya, ia hanya fokus pada materi yang dijelaskan Daniel. Sampai waktu makan siang tiba, Kinal tak beranjak dari ruangannya. Karena Kinal telah memesan makanan satu jam yang lalu, dan baru saja pesanan itu datang. Kinal juga telah menelfon Veranda agar ke ruangannya saat jam makan siang tiba. Ia bermaksud untuk makan siang dengan Veranda dan Gracia di ruangannya, hanya bertiga tanpa manusia tambahan. "Eumm Ve, masa tadi Beby sama Jeje boom chat, minta traktiran pajak jadian kita," Kinal membuka pembicaraan di sela-sela makan mereka. Veranda terkekeh mendengarnya, "pajak jadian? Ada ada aja mereka. Trus kamu jawab apa Nay?". "Mereka sih usulnya kita masak bareng aja. Jadi masak rame-rame gitu, makanan jadi atau ngga urusan belakangan. Gimana? Kamu mau ngga?" "Gre mau kak, asik tuh masak bareng, pasti seru," sahut Gracia antusias. "Idih, emang kamu diajak?" goda Kinal. "Lah? Aku ngga diajak? Kak Ve..., kak Kinal jahat," rajuk Gracia pada Veranda. "Udah gede masih suka ngadu. Katanya jagoan," lanjut Kinal. "Bodo! Kalo aku ngga ikut, kak Ve juga ngga boleh ikut," balas Gracia masih cemberut. "Ngga pantes kamu ngambek gitu Gre," sahut Veranda. "Kak Ve.....!" "Haha iya iya, nanti kita masak bareng. Ajak Shania juga, boleh kan Ve?" ucap Kinal. "Boleh lah Nay, berarti nanti kita kasih tau dia tentang hubungan kita?" "Iya, nggapapa kan? Kayaknya Shania bakal oke oke aja sih." "Iya, terserah kamu aja Nay. Jadi kapan masak-masaknya?" "Nanti malem aja Ve, kan besok minggu tuh, jadi ngga khawatir kesiangan bangun besoknya. Jadi nanti bisa sampe jam berapapun terserah kita. Nahh, nanti kita masak di rumah aku, kebetulan rumah aku sepi. Papa masih di Surabaya, senin baru balik ke sini. Gimana?" Obrolan tentang masak bersama terus berlanjut. Kinal dan Veranda memutuskan untuk membuat barbeque party di halaman depan rumah Kinal nanti malam. *** . . "Woi paus! Balik dagingnye, gosong tuh," sewot Jeje yang melihat Kinal sedang asyik bercanda dengan Veranda. Kini Kinal, Jeje, Beby, Veranda, Shania, dan Gracia sedang berkumpul di halaman depan rumah Kinal. Alat panggang, meja kayu persegi panjang, dan kursi yang terbuat dari papan kayu telah tertata rapi di sini. Kinal dan Jeje bertugas untuk memanggang. Beby dan Gracia bertugas untuk meletakkan daging, jagung manis, serta sosis di panggangan. Sedangkan Veranda dan Shania diberi kepercayaan untuk membuat bumbunya. Tadi sore Kinal telah mengajak Shania, dan dengan senang hati Shania menerima ajakan Kinal. Selain agar lebih akrab, Shania juga sangat ingin bertemu dengan gadis berlesung pipi yang sejak dulu telah mencuri perhatiannya. "Beb udah nih Beb. Ambilin piringnya," ucap Kinal sambil menjapit dua sosis ukuran besar yang sudah matang. "Oke oke," balas Beby sambil menghampiri Kinal. "Mantep nih!" Beby mencium aroma sedap dari daging dan sosis yang telah matang. ... "Kak Shania udah punya pacar?" tanya Gracia yang tiba-tiba duduk di samping Shania, berhadapan dengan Veranda. "Ngga punya, kenapa Gre?" "Kok ngga punya sih? Kak Shania kan cantik. Masa ngga ada yang mau jadi pacar kak Shania?" "Bukan kagak ade yang mau, tapi Shania yang pilih-pilih. Ye kan Shan?" sahut Jeje yang membawa beberapa daging yang sudah matang di atas piring. "Gimana yaa..," Shania bingung menanggapi ucapan Jeje. "Kamu tau Gre, adiknya kak Beby aja abis ditolak sama kak Shania. Padahal dia ganteng," ucap Kinal pada Gracia. "Oh ya? Kenapa ditolak kak?" tanya Gracia polos pada Kinal yang duduk di depannya. "Ya percuma ganteng, kalo hobinya teler," sahut Jeje enteng. "Eh kecebong! Barusan yang lo katain tuh adek gue!" sewot Beby. "Ya emang, siapa yang bilang dia adek gue," balas Jeje. "Teler tuh hobi apaan sih kak? Hobi minum es teler?" tanya Gracia tak mengerti. "Gre udah, ngga usah ikut-ikut, kamu masih kecil," balas Veranda. "Tuh denger, masih kecil ngga boleh ikut-ikut!" sahut Kinal. "Aku udah gede tau! Kak Jeje tuh yang kecil," ledek Gracia. "Wah nih anak minta di slepet emang ye!" Obrolan-obrolan tak berfaedah pun mereka lontarkan di sela-sela makan mereka. Terutama Jeje, Kinal, Beby, dan Gracia. "Ve, aaaa...," Kinal menyodorkan sepotong daging, ia ingin menyuapi Veranda. "Kegedean Nay." "Kegedean ya? Yaudah bentar aku potong lagi." "Ve kan bukan lo Nal. Orang kalem mah makannya dikit. Ngga kayak lo, sepiring semenit ludes," sahut Beby. "Sirik aja lu Beb!" balas Kinal lalu kembali menyuapi Veranda, "nih Ve, aa....." Veranda tersenyum lalu membuka mulutnya menerima suapan Kinal. "Nasib jomblo begini nih, dianggep angin lewat doang," celetuk Jeje. "Disini berasa ngontrak ya Je?" lanjut Beby. "Ini sih masih mending. Kak Beby sama kak Jeje ngga ngerasain gimana jadi aku pas kak Kinal ke apartemen, nempeeeell mulu sama kak Ve. Semalem juga tidur berdua, aku ditinggal," curhat polos Gracia. "Eh buseet yang bener Gre? Baru jadian semalem, udah tidur berdua aja lu pada," balas Jeje. "Jangan omes! Tidur doang, kagak ngapa-ngapain," bela Kinal. "Kalian ngapa-ngapain juga ngga bakal laporan ke kita kali, ye ngga Je?" "Yoi Nong, tul banget!" "Jadi kak Ve sama kak Kinal jadiannya baru semalem? Aku pikir udah agak lama," ucap Shania. "Semalem Shan, kan sekarang traktirannya," balas Kinal. "Iya juga ya." Mereka menghabiskan makanan masing-masing sambil tetap mengobrol. Setelah makan, mereka berenam tidak langsung membersihkan peralatan dan sisa makanan karena masih kekenyangan. "Main aja yuk?" ajak Gracia. "Main apa Gre?" "Apa gitu, biar rame." "Truth or Dare aje, gimane?" ajak Jeje. "Ayok!" Kinal dan Gracia semangat. "Ogah gue," balas Beby. "Kenape lu? Takut lu yak?" "Males aja," jawab Beby. "Halah bilang aje takut Beb," ledek Kinal. "Udah ayok main!" paksa Jeje. "Lu ikut kan Ve? Shan?" tanya Jeje. "Ikut dong." "Aku sih ikut aja kak." "Oke, ikut semua. Gue cari botol dulu bentar," Jeje masuk ke rumah Kinal mencari botol kecil. "Main ToD, mana ada Shania lagi! Pasti tuh kunyuk dua ntar nanya yang aneh-aneh kalo gue kena. Pokoknya gue ngga akan pilih truth nanti," batin Beby. Beberapa menit kemudian Jeje muncul sambil membawa botol kecil kosong di tangannya. "Gue mulai ye, pesertanye kite, enam orang. Truth harus dijawab jujur tanpa rahasia, apapun pertanyaannye. Trus Dare, harus mau ngelakuin apapun yang disuruh. Tapi yang nyuruh juga kira-kira, jangan nyuruh loncat dari atas genteng. Bisa celaka anak orang. Paham kan?" "Pahaaamm." "Oke, gue yang duluan," Jeje mulai memutar botol di atas meja. Set.. "Gre!!" teriak lima gadis setelah botol berhenti berputar dan ujungnya menunjuk Gracia. "Yahh kok aku sih?! Belum apa-apa udah kena," rajuk Gracia. "Oke Gracia bocah petakilan, Truth or Dare?" tanya Jeje. "Truth aja deh." "Nanya ape ye gue? Bingung," Jeje mengetuk pelan dagunya. "Oiya ini aje, kapan terakhir lu nangis dan kapan terakhir lu ngompol?" tanya Jeje. "Kok dua pertanyaannya? Satu aja kak, curang nih," protes Gracia. "Yaelah Gre, nanyanya kan kapan doang. Dua nggapapa, singkat kan jawabannya?" sahut Kinal. "Huhh yaudah. Apa tadi? Nangis? Kapan ya? Dua hari yang lalu pas beres-beres kamar," jawab Gracia sendu. "Kalo ngompol kapan ya? Lupa, pas SD deh kayaknya," lanjut Gracia. "Kamu nangis dua hari lalu? Kenapa Gre?" tanya Veranda. "Pas beres-beres, liat foto mama kak, Gre kangen," Gracia menunduk. "Udah jangan sedih, sini kak Shania peluk," Shania memeluk Gracia di sampingnya. "Jadi sedih gini yak? Salah pertanyaan nih gue," ucap Jeje. "Gre, mau lanjut ngga?" tanya Shania pelan. "Lanjut dong," Gracia tiba-tiba semangat. "Sini aku puter botolnya. Aku sih berharap kak Jeje yang kena," Gracia memutar botol itu. Set.. "Jeje!" "Kak Jeje!" "Mampus!! Hahaha" "Kok gue?! Doa lu manjur bener Gre?!" sewot Jeje saat ujung botol berhenti mengarah padanya. "Kak Jeje, Truth or Dare?" "Truth lah, gue sih woles, lo nanya apa aja pasti gue jawab," balas Jeje santai. "Eumm..., nanya apa ya?" Gracia masih berpikir. "Ukuran lobang idung aja Gre," sahut Beby. "Lo ukur aja Jenong lo!" sarkas Jeje. "Sama kayak tadi aja deh pertanyaannya. Aku bingung mau nanya apa," ucap Gracia. "Oke gue jawab. Terakhir nangis minggu lalu pas ikan kesayangan gue mati. Terakhir ngompol, kapan ye? Lupa gue. Udah lama, SD palingan," jawab Jeje cepat. "Giliran gue!" Jeje memutar botol itu lagi. Set.. "Beby!" "Kak Beby!" "Sial! Kenapa gue sih?! Pas kecebong lagi yang muter botol," gerutu Beby. "Truth or Dare Nong?" tanya Jeje dengan senyum mengerikan. "Dare." "Yahhh kok Dare sih Beb?" sahut Kinal. "Terserah gue lah," balas Beby cuek. "Oke nggapapa, gue pastiin lo bakal nyesel udah milih Dare," ucap Jeje. "Oke, apa tantangannya?" "Selama permainan, lo singkirin tuh poni lo." "Eh? Ngga ada yang lain apa Je?" "Kagak ade! Salah sendiri milih Dare." "Yaudah oke," Beby mengangkat dan menjepit poninya ke atas, "dah tuh." "Duh silau Beb," ledek Kinal. "Duh mata gue ternoda Nong!" "Kak Beby jenong banget," celetuk Gracia. Sementara Shania hanya tersenyum melihat Beby yang tampak kesal. "Diem lu pada. Giliran gue sekarang," Beby mengambil cepat botol dan langsung memutarnya. Set.. "Ve!" "Yes! Kak Ve kena!" seru Gracia. "Siap-siap ya Ve, Truth or Dare?" tanya Beby. "Apa ya.., Truth deh," jawab Veranda. "Eh Beb, gue aja yang nanya," pinta Jeje. "Emang lu mau nanya apaan? Kasih tau gue dulu," balas Beby. Jeje berdiri dan duduk di samping Beby. Kemudian membisikkan sesuatu yang membuat Beby tersenyum. "Bagus banget! Oke gue pakek ide lo," Beby setuju. "Apaan sih pakek bisik-bisik segala?" Kinal penasaran. "Jadi..., Veranda, jawab pertanyaan ini sejujur-jujurnya ya. Berapa kali lo ciuman sama Kinal dari jadian kemarin sampai detik ini?" pertanyaan Beby yang membuat Veranda dan Kinal melongo. "Kok pertanyaan lo gitu sih Nong? Itu kan privasi!" protes Kinal. "Yang namanya Truth or Dare itu ngga ada privasi. Tinggal jawab berapa kali aja apa susahnya sih? Ya ngga Je?" Beby mencari pembelaan. "Yoi, bener banget. Lagian yang ditanya kan Ve, kok lu yang sewot sih paus?" balas Jeje. "Ye kan ciumannya sama gue! Lagian di sini ada anak kecil. Jangan bahas begituan," kata Kinal. "Anak kecil siapa? Aku? Aku udah gede tau! Lagian aku juga udah liat kak Ve sama kak Kinal ciuman kemarin," sewot Gracia. "Tuh denger!" sahut Jeje. "Udah Ve, buruan jawab," ucap Beby. Veranda malu-malu, semburat merah di pipinya sudah mulai terlihat, "berapa kali ya? Aku ngga ngitung," ucapnya pelan. "Widihh.. Itu sih namanye berkali-kali!" sahut Jeje. "Di depan kita aja Je kemarin sok-sokan diem, ngga ciuman sama sekali. Eh pas pulang tuh langsung eksekusi," tambah Beby. Veranda hanya menunduk malu mendengar celotehan teman-temannya. "Udah udah, gue aja yang jawab. Udah gue itung, kalo ngga salah sebelas kali," jawab Kinal setelah menghitung berapa kali ia berciuman dengan Veranda. Mulai dari ciuman pertama di toilet kantor, sampai tadi sore waktu mengantar Veranda. "Gilss! Banyak juga ya," balas Beby. "Banyak banget? Kapan aja tuh sebelas kali? Kok Gre ngga tau?!" sahut Gracia. "Ya emang kalo ciuman harus bilang kamu dulu Gre?!" sewot Kinal. "Kayaknya bukan sebelas deh Nay, tapi dua belas. Kemarin aku cium kamu pas kamu tidur," ucap Veranda pelan. "Eh? Emang iya?" tanya Kinal, Veranda hanya mengangguk malu. "Yeee.. malah buka lapak dimari!" "Kak Ve kalo malu-malu gitu lucu ya? Gemes banget," kata Shania. "Udah udah, yok mulai lagi. Ve, puter botolnya," pinta Beby. Kini giliran Veranda yang memutar botol itu. Dan ujung botol telah menunjuk ke arah.. "Jeje!" "Gue lagi! Lagi-lagi gue!" "Oke Jeje, Truth or Dare?" "Truth. Buruan Ve, tanya ape?" tantang Jeje. "Eumm.., siapa cinta pertama kamu?" tanya Veranda. "Yahh Ve, kok kamu nanya itu sih. Kalo itu sih aku sama Beby juga tau jawabannya," sahut Kinal. "Eh? Salah ya? Aku kan ngga tau Nay." "Udeh ye udeh, gue jawab nih. Gue belom pernah jatuh cinta. Jadi cinta pertama gue? Ngga ada," jawab Jeje cepat. "Tuh kan!" sahut Kinal dan Beby. "Salah pertanyaan lo Ve. Udah sekarang giliran gue! Siap-siap lo semua!" Jeje memutar botol itu. Botol berputar cepat.. Mulai melambat.. Berhenti.. Dan ujungnya menunjuk ke .. "Shania!!" "Yes!" seru Jeje. Jeje sudah berharap agar Shania yang menjadi sasarannya kali ini. "Shan, Truth or Dare?" "Apa yaa?" Shania berpikir, entah mengapa bola matanya mengarah ke Beby. Shania melihat Beby yang sedang menunduk sambil memejamkan mata rapat-rapat seolah sedang berharap sesuatu. "Dare," ucap Shania dengan tatapan tak beralih dari Beby. "Huufft..." helaan nafas lega keluar dari mulut Beby. Shania tersenyum melihat perubahan ekspresi Beby. "Yaahh.. kok Dare sih?! ngga asik lo Shan!" protes Kinal. "Tau! Sehati banget ama Jenong!" tambah Jeje. "Ya terserah aku dong kak. Jadi apa tantangannya?" tanya Shania. "Je, bikin dia nyesel udah milih Dare," kata Kinal. "Oke, lo harus jilat siku! Sampe kena!" perintah Jeje. "Haha.., makan tuh jilat siku! Sampe kapan juga ngga bakal bisa," ledek Kinal. "Emang ngga bisa ya kak?" Gracia mencoba menjilat sikunya. "Eh iya, ngga bisa," ucapnya. "Kak Jeje jahat banget," ucap Shania sendu sambil masih berusaha menjilat sikunya. Beby berdiri dan menghampiri Shania, "Nih Shan, bersih kok, udah aku lap barusan," Beby menyodorkan sikunya pada Shania. "Eh?" Shania kaget. "Mereka cuma bilang jilat siku kan? Mereka ngga bilang kalo yang dijilat harus siku kamu. Kalo kamu mau, tempelin aja ujung lidah kamu disini. Soalnya kamu ngga mungkin bisa jilat siku sendiri," ucap Beby. "Emang boleh gitu ya? Lo sih Je, bego. Salah perintah lo," protes Kinal. "Salah yang membawa berkah ini mah. Liat aje, nohh..," Jeje mengarahkan dagunya ke Beby dan Shania. "Maaf ya kak Beby," ucap Shania sungkan. Beby mengangguk senyum. Shania menempelkan ujung lidahnya pada siku Beby. Hanya sekilas, lalu Shania mengambil tissu untuk mengelap siku Beby. "Udah, ngga usah Shan," kata Beby memegang tangan Shania. "Cieee.... ehem ehem, inget di sini ada anak di bawah umur," celetuh Jeje. Seketika Beby melepaskan tangannya dari tangan Shania dan melangkah kembali ke tempat duduknya. "Ciee Shania malu-malu," goda Veranda melihat pipi Shania yang sudah merona merah. "Udah buruan kak, puter botolnya," kata Gracia. Shania mengambil dan memutar botol. Beberapa detik botol itu berputar, dan berhenti di... "Beby!!" "Cieee!!" "Prikitiww.." . . Permainan berlanjut hingga larut malam. Berbagai pertanyaan dan tantangan telah diberikan. Mereka berenam menghabiskan malam dengan candaan dan celotehan konyol mereka. ...... Malam ini mereka memutuskan untuk menginap di rumah Kinal karena sudah terlalu malam. Kinal, Beby, dan Jeje tidur di kamar Kinal. Sedangkan Veranda, Gracia, dan Shania tidur di kamar tamu dengan kasur double king size-nya. *** . . Minggu pagi.. Veranda terbangun terlebih dahulu, kemudian disusul Shania. Shania ke kamar mandi, sedangkan Veranda keluar kamar dan mengecek kamar Kinal. "Astagaaa..," ucap Veranda saat melihat posisi tidur tiga orang yang sangat berantakan. Jeje di tengah, kakinya sudah di atas paha Beby, tangannya juga ada di atas perut Kinal. Beby di samping kanan, tangannya juga ada di perut Jeje. Sementara Kinal tidur di samping kiri dan memunggungi Jeje. "Nay.. bangun.., udah siang Nay," Veranda mengusap lembut pipi kekasihnya. Kinal menggeliat dan membuka mata. "Ve..," suara parau Kinal khas orang bangun tidur. "Kamu lucu banget sih Nay kalo bangun tidur gini," batin Veranda gemas melihat kekasihnya. "Bangun Sayang.., udah siang." "Iya," Kinal pun bangun dan langsung membangunkan dua sahabatnya. Beby dengan mudah terbangun. Tapi Jeje? Beby lah yang ditugaskan membangunkannya. Kinal mencuci wajahnya sebentar, lalu keluar kamar karena Veranda telah menunggunya di bawah. Sementara Gracia masih tertidur. Veranda sengaja tidak membangunkan adiknya, karena semalam Gracia terlihat lelah sekali. Jeje dan Beby juga turun ke lantai 1 setelah mencuci wajah. Kini Kinal, Veranda, Shania, Beby, dan Jeje berkumpul di ruang makan. Karena jarum jam telah menunjukkan pukul 8 pagi, mereka akan sarapan bersama di rumah Kinal. "Nanti pada kemana? Dufan yuk?" Ajak Beby. "Lu kagak capek Nong?" "Ngga, bosen malah kalo di rumah," balas Beby. "Gue sih ayo ayo aja. Kamu mau ngga Ve?" tanya Kinal. "Boleh, sama Gre juga kan?" "Iya dong, kita berenam lagi. Lo ikut kan Shan? "Boleh sih, jam berapa kak?" "Agak siang aja, kita siap-siap dulu. Nanti lo dijemput Beby sama Jeje aja Shan. Jangan bawa mobil sendiri. Nanti biar di-chat Beby. Ya kan Beb?" tanya Kinal, dan Beby hanya mengangguk sebagai jawaban. Mereka menghabiskan sarapan masing-masing. Sepertinya kebersamaan mereka tidak cukup semalam, hingga hari ini pun mereka memutuskan untuk beraktivitas bersama. ... Baru saja Jeje, Beby, dan Shania pamit untuk pulang. Kini hanya tersisa Veranda dan Gracia di rumah Kinal. "Yang, aku mandi dulu ya? Biar habis ini langsung ke apartemen kamu. Sekarang kamu bangunin Gre aja dulu. Suruh dia sarapan juga," ucap Kinal yang berdiri di depan Veranda. "Iya, gih sana mandi. Aku ke Gre dulu ya.." Kinal tersenyum dan naik ke kamarnya. Sementara Veranda membangunkan adiknya. ..... "Kak Kinal kok lama sih kak?" tanya Gracia setelah meminum s**u. Baru saja ia telah menghabiskan sarapannya. "Iya ya, kok lama ya? Kak Ve liat dulu ya. Kamu tunggu di sini Gre," balas Veranda. "Oke kak." Veranda pergi menuju kamar Kinal. Ia membuka pintu, tapi tidak mendapati Kinal di kamarnya. Sesaat kemudian pintu kamar mandi terbuka. Veranda menoleh dan melihat Kinal keluar dari kamar mandi. Glek.. Veranda sampai kesulitan menelan salivanya sendiri saat melihat Kinal yang menurutnya sangat sexy. Dengan rambut yang masih basah, Kinal memakai kaos putih longgar tanpa lengan, dan handuk yang melilit dari perut sampai atas lutut. "Ve?? Kamu disini?" "Eumm.. I-iya Nay," Veranda mengalihkan pandangannya. "Kamu kenapa Yang?" Kinal berjalan mendekati Veranda dan berdiri di hadapannya. "Nggapapa Nay, aku keluar dulu ya.." "Ehh tunggu," Kinal mencegah Veranda dengan memegang tangannya. "Tadi aku belum dapet morning kiss Yang. Ada anak-anak tadi, makanya aku ngga minta. Tapi kan sekarang cuma berdua," ucap Kinal pelan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Veranda. Veranda sedikit menunduk, ia hanya mampu menggigit bibir bawahnya saat melihat Kinal yang begitu menggairahkan pagi ini. Kinal mengikuti arah pandang Veranda, lalu terlintas ide jahil untuk menggoda kekasihnya itu. "Kamu liat apa Yang? Pasti mikir yang ngga-ngga nih. Mikir m***m ya?? hayoo ngaku," goda Kinal. "Kamu jangan kayak gini di depan orang lain ya Nay," balas Veranda pelan. "Eh? Kayak gini gimana maksudnya?" "Ya kayak gini, cuma pakek kaos tipis sama handuk doang." "Ohh.., tapi kalo di depan kamu boleh kan Yang?" tanya Kinal sambil mengangkat lembut dagu Veranda dengan tangan kanannya. Veranda hanya mengangguk malu sambil menggigit bibir bawahnya. Pagi ini Kinal sungguh menggoda iman Veranda, yang membuat Veranda mati-matian menahan gejolak dalam dirinya saat ini. Kinal memajukan wajahnya, ia mulai mencium Veranda. Tangan Veranda secara otomatis mengalung mesra di leher Kinal. Mereka berciuman, saling melumat, bahkan sesekali Kinal menghisap bibir bawah Veranda. Tidak ada yang mau mengakhiri ciuman ini, keduanya merasa ingin lebih, dan lebih lagi. Sampai tiba-tiba... "Kak Ve!! Kak Kinal!! Pada dimana sih?!" teriak Gracia kesal setelah melewati anak tangga. Seketika Kinal dan Veranda melepaskan ciuman mereka. "Kenapa ya Gre itu selalu ngerusak momen kita Ve?" ucap Kinal asal. "Hushh.., gitu-gitu dia kan adik aku Nay. Yaudah, aku mau keluar dulu. Kamu buruan ganti baju yaa," Veranda mencium pipi cepat Kinal lalu melangkah keluar kamar. Kinal pun segera berganti pakaian setelah Veranda menutup pintu dari luar. ... Seperti yang telah direncanakan, Kinal mengantarkan Veranda dan Gracia ke apartemen. Kinal harus menunggu Veranda dan Gracia bersiap terlebih dahulu. Setelah itu mereka akan pergi ke tempat yang sudah ditentukan. Dufan menjadi tujuan keenam gadis itu. Beby, Jeje, dan Shania sampai terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian Kinal, Veranda, dan Gracia datang menyusul mereka. Siang ini mereka berenam pasti akan mencoba segala macam wahana permainan. . ===bersenang-senang edisi Dufan=== =====skip skip===== . *** . Senin pagi, awal pekan yang sudah terasa sangat melelahkan bahkan hanya dengan membayangkannya saja. Hari ini Davi sudah di kantor pagi-pagi sekali. Karena satu jam lagi ia akan meeting bersama salah satu rekan untuk proyek barunya. ... "Pagi Pa..," sapa Kinal yang baru saja sampai di ruangan Davi. "Pagi Sayang, kamu sudah terima email Papa kan?" "Udah Pa, rancangan proyek kompleks perumahan yang di Bali kan? Katanya hari ini ketemu sama pihak perizinan lahan ya Pa?" "Iya nanti sore. Tapi pagi ini Papa mau meeting sama Pak Bowo, salah satu investor besar di proyek ini. Dan Papa minta kamu sama Daniel ikut meeting, biar sekalian kamu belajar juga," ucap Davi. "Oo oke Pa, jam berapa?" "Setengah jam lagi di ruang meeting. Sekarang Papa minta tolong ke kamu Kinal, kamu ke departemen keuangan, minta data tentang daftar investor kita di proyek sebelumnya. Kamu ajak salah satu dari mereka juga ya, Rezka boleh, atau Veranda juga nggapapa," pinta Davi. "Rezka? No! Jelas Ayang Veranda lah," batin Kinal. "Oke Pa, siap." Kinal meninggalkan ruangan ayahnya dan pergi menuju lantai 6. Saat akan memasuki lift, Kinal ditabrak oleh seorang pria perut buncit yang sibuk dengan ponselnya. "Kamu kalau jalan liat-liat dong! Gimana sih?!" sewot laki-laki itu. "Lah kan Bapak yang nabrak saya," balas Kinal. "Kamu nyalahin saya?! Kamu karyawan di sini kan? Kamu belum tau siapa saya? Saya ini teman Pak Davi, bos kamu!" "Situ temennya? Lah gue anaknya!" batin Kinal sedikit kesal dengan tingkah sombong pria ini. "Yasudah, kalau begitu saya minta maaf Pak," ucap Kinal lalu langsung memasuki lift. "Eh tunggu! Nama kamu siapa? Biar dikasih SP sama Pak Davi nanti, karyawan kok ngga sopan!". Kinal menghela nafas malas, "Kinal," ucapnya saat pintu lift akan tertutup. "Kinal? Awas ya dia!" gumam pria itu. Pria berbadan besar dengan tinggi tak seberapa yang kesal dengan Kinal yang tak menghormati dirinya. Pria itu pun berjalan mencari ruang meeting. "Maaf, Pak Bowo ya?" tanya seorang staff wanita pada pria itu tepat di depan ruangan yang dimaksud. "Iya, saya Bowo." "Bapak diminta Pak Davi untuk menunggu di ruang meeting, dua puluh menit lagi beliau akan kesana." "Baik, terima kasih," balas pria bernama Bowo yang tidak lain adalah investor proyek baru yang akan dijalankan oleh perusahaan Davi. ... Sementara di lantai 6, Kinal baru saja meminta beberapa data pada Rezka. Sambil menunggu Rezka pergi mengambil data yang dimaksud, tentu saja Kinal tidak menyia-nyiakan waktu. Ia duduk di kursi Rezka samping Veranda dan menggoda pacarnya itu. "Ini Nal, semua yang diminta Pak Davi ada di sini. Yuk ke ruang meeting," ucap Rezka sambil membawa beberapa berkas. "Lah lo ikut?" tanya Kinal. "Iya, biasanya gitu kalau rapat sama inverstor. Pasti aku ikut," jawab Rezka. "Kali ini ngga usah, biar Veranda aja Rez. Sekalian biar belajar, kata Papa boleh kok kalau ajak Veranda," ucap Kinal. "Oh gitu? Yaudah, nih Ve datanya. Nanti kamu tinggal catat yang sekiranya penting aja," Rezka memberikan berkas itu kepada Veranda. "Beneran nih aku yang ikut meeting?" Veranda tidak yakin. "Beneran, sama aku juga kok. Yaudah yuk, udah ditunggu Papa," Kinal menggandeng tangan Veranda. "Makasih ya Rez." "Iya, sama-sama Nal." Kinal dan Veranda menuju ruang meeting di lantai 7. "Beneran nggapapa nih Nay kalau aku yang ikut meeting? Kan aku masih baru," ucap Veranda sendu. "Justru bagus dong, biar belajar Yang. Lagian kan ada aku, aku juga baru sekali ini ikut meeting." "Gitu ya? Deg-degan nih Nay," balas Veranda sambil memegang d**a bagian atasnya. "Masa sih deg-degan?" tanya Kinal menggoda Veranda sambil mendekatkan telinganya ke d**a Veranda. "Ih Kinay! Ini di kantor Nay, m***m banget sih!" sahut Veranda sambil mendorong pelan tubuh Kinal. "Berarti kalo ngga di kantor boleh dong?" Kinal menaik turunkan alisnya. "Boleh apa? Hmm?" balas Veranda dengan tangan yang telah mencubit perut Kinal. "Aaaa.. aduh duh.., sakit Yang. Ampun..." Veranda melepas cubitannya, "manggilnya jangan gitu. Kamu ngga mau kan kalo ada yang denger? Ini kantor Nay," tegur Veranda. "Iya iya, lagian ngga ada yang denger kok....," Kinal mendekatkan wajah ke telinga Veranda, "Sayang..," bisiknya. Veranda tidak membalas, ia hanya mengulum senyum. Sungguh tidak habis pikir dengan tingkah kekasihnya. Kini mereka berdua telah sampai di depan ruang meeting. Di dalam sana telah ada seorang pria perut buncit bersetelan jas rapi yang sedang menunggu Davi. Cklek Kinal membuka pintu dan melangkah memasuki ruangan. Ia melihat seorang pria yang duduk membelakangi pintu. "Kok cuma satu orangnya? Papa belum kesini?" batin Kinal. Namun ia memutuskan untuk tetap di ruangan itu sambil menunggu Davi. "Permisi, anda Pak Bowo?" tanya Kinal sopan. Sementara Veranda masih bekum sepenuhnya memasuki ruangan. Ia berdiri di belakang Kinal yang masih berdiri di samping pintu yang terbuka. Bowo menoleh, ia manautkan alisnya saat melihat Kinal. "Kamu?!" Bowo meninggikan suaranya. "Bapak yang tadi kan?" "Kamu kenapa ada disini?" tanya Bowo. "Bapak sabar dulu. Bapak menunggu Pak Davi kan? Sebentar lagi beliau datang. Silahkan duduk Pak," balas Kinal sopan. Bowo pun duduk kembali di kursinya. "Yuk Ve, masuk," ajak Kinal pada Veranda yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Mendengar ucapan Kinal, membuat Bowo berpikir sejenak. "Ve?" gumamnya sambil menoleh ke arah Kinal. Veranda mulai melangkah masuk dan melihat siapa rekan meeting Davi nanti. DEG! Betapa terkejutnya Veranda setelah melihat wajah Bowo. Kedua mata Veranda membulat, tubuhnya beku seketika, kakinya lemas seolah tak mampu menahan beban dirinya. Dengan cepat Bowo berdiri dan berjalan menghampiri Veranda. "Ve? Kamu Veranda kan?" tanya Bowo. "Dia? Om Gendut?" batin Veranda. Mulut Veranda seolah telah mengatup rapat tak bisa digerakkan. Badannya sudah gemeratan melihat pria yang dipanggil 'Om Gendut' itu. Pria yang menjadi teman akrab Roy. Pria yang paling sering menyewa Veranda saat ia masih bekerja di tempat nista itu. "Kamu kenal dia Ve?" tanya Kinal menatap Veranda yang sudah berkeringat dingin. "Ya jelas kenal dong," sahut Bowo bangga. "Kamu kemana saja Veranda? Saya nyari kamu loh. Kata Roy, kamu sudah ngga kerja di sana ya? Kenapa? Hmm?" Bowo semakin mendekati Veranda. Tangannya berusaha memegang bahu Veranda. Tapi dengan cepat tangan itu di tangkap oleh Kinal. "Roy? Anda temannya Roy?!" sahut Kinal dengan suara cukup keras sambil menghempaskan tangan Bowo. Kinal menarik Veranda agar menjauh dari Bowo. Membawa Veranda agar berdiri dibelakangnya. Sekarang Kinal maju dan berhadapan langsung dengan Bowo yang tinggi badannya masih di bawah dirinya. "Berani kamu bentak saya ha?!!" Bowo menatap tajam Kinal. "Siapa anda? Apa hubungan anda dengan Veranda?" tanya Kinal mulai geram. "Hubungan saya dengan Veranda? Bisa dibilang teman ranjang. Iya kan Veranda?" jawaban Bowo yang membuat nafas Kinal memburu karena amarah. "LO!!" Kinal mencekram kerah baju Bowo. Menatap tajam pria gendut itu. Dengan cepat Bowo mengayunkan tangan kanannya dan mendaratkan di pipi kiri Kinal. Plak! Tamparan keras diterima Kinal. "Nay!" seru Veranda melihat Kinal yang hampir terjatuh ke lantai. "Karyawan kurang ajar! Berani kamu sama saya ha?!!" "Hentikan! Ada apa ini?!!" teriak Davi yang baru memasuki ruangan, dan disusul Daniel beberapa langkah di belakangnya. ***** . To be continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD