Aku mencintaimu tanpa syarat, tanpa kriteria, juga tanpa perundingan. Karena cinta bukanlah sebuah perjanjian, apalagi kesepakatan.
***
____________________________________
Author pov.
Ruangan berdinding putih bersih terasa hening untuk beberapa detik, setelah seorang pria gagah berteriak untuk menghentikan kericuhan yang sedang terjadi. Pria itu adalah Davi yang baru saja memasuki ruang meeting ini. Davi berjalan cepat ke arah Kinal dengan nafas yang memburu. Ayah mana yang tidak marah saat putri semata wayangnya ditampar oleh seorang pria tepat di depan matanya.
"Ada apa ini?!" tanya Davi lantang.
"Ini Pak, karyawan Pak Davi sudah kurang ajar pada saya," balas Bowo.
"Anda duluan yang menghina Veranda!" sahut Kinal.
"Siapa yang menghina? Memang bagitu kenyataannya!" Bowo menatap tajam Kinal. Lalu mengalihkan pandangan ke Davi, "Pak Davi, saya yakin anda tidak tahu dengan pekerjaan Veranda sebelumnya kan? Dia itu bukan wanita baik-baik Pak. Sebaiknya anda---"
"Cukup! Anda sudah melewati batasan anda Pak Bowo. Anda tidak berhak menghina siapapun di perusahaan ini, termasuk Veranda," Davi memotong kalimat Bowo.
"Tapi Pak, anda harus tau latar belakang semua karyawan anda. Siapa dia, pekerjaan sebelumnya---"
"Saya bilang cukup! Anda tidak perlu menggurui saya tentang perekrutan karyawan. Saya kenal dan hafal background seluruh pegawai saya, dan saya sendiri yang meminta Veranda agar bekerja di sini. Saya sudah tau tentang masa lalunya. Menurut saya, dia pantas untuk mendapatkan kehidupan dan pekerjaan yang lebih baik. Jadi, anda tidak berhak menghina dia dengan kata-kata yang tidak pantas," ucap Davi penuh ketegasan.
"Anda tau? Dan anda tetap menerima dia bekerja di sini? Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran anda Pak Davi. Anda ini pebisnis terhormat! Bisa-bisanya punya pegawai jalang seperti dia!" Bowo menunjuk Veranda, tapi Kinal malah memegang lalu menghempaskan tangan Bowo.
"Jaga omongan lo! Gue ngga peduli siapapun lo! Sekali lagi lo hina Veranda, gue yang bakal tutup mulut lo!" Kinal menunjuk tepat di wajah Bowo.
"Nay.." Veranda memengang bahu kanan Kinal, menariknya pelan agar Kinal menjauh dari Bowo.
"Kinal, sudah, kendalikan emosi kamu," sahut Davi.
Bowo tersenyum remeh, "anda lihat sendiri kan Pak Davi? Seperti ini tingkah karyawan anda. Berani-beraninya dia membentak saya! Saya semakin yakin kalau anda masih harus memperbaiki sistem rekruitmen karyawan di tempat ini."
"Saya tidak butuh saran dari anda. Saya juga tidak butuh rekan bisnis seperti anda. Sekarang juga saya putuskan kerja sama kita batal. Anda tidak perlu menginvestasikan uang anda di proyek kami," ucap Davi sangat yakin.
Kalimat Davi itu membuat seisi ruangan terkejut. Termasuk Bowo, pria itu mengerutkan alisnya. Dia kaget sekaligus bingung dengan keputusan mendadak Davi.
"Apa? Tunggu Pak Davi. Kenapa tiba-tiba anda bicara seperti ini? Anda tidak bisa memutuskan ini secara sepihak. Saya sudah menyiapkan puluhan milyar untuk proyek anda," balas Bowo menolak keputusan Davi.
"Saya berhak memutuskan ini secara sepihak. Karena kita belum menandatangani kontrak kerja sama," balas Davi berusaha tetap tenang.
Nafas Bowo mulai memburu. Dia benar-benar tidak terima, karena sebelumya dia sangat antusias dengan proyek ini. Baginya, kerja sama ini akan membuat dirinya untung besar.
"Tapi apa alasannya?! Karena saya menghina karyawan anda?! Seharusnya anda berterima kasih! Saya sudah menunjukkan kalau mereka tidak pantas bekerja disini! Apalagi dia! Wanita jalang! Hina!--"
"Hentikan! Saya tidak pernah meminta saran dari anda. Dan anda bilang apa? Hina? Siapa yang lebih hina di sini? Veranda atau anda? Menghina seorang wanita karena masa lalunya itu juga tindakan yang hina, Pak Bowo. Hanya pria pengecut yang melakukan itu, dan baru saja anda melakukannya," balas Davi.
"Apa maksud anda Pak Davi?"
"Setiap orang berhak berubah. Saya hanya memberi kesempatan untuk Veranda agar bisa hidup lebih baik. Sekarang Veranda adalah pegawai saya. Sudah menjadi tugas saya untuk melindungi dia," ucap Davi sambil melihat Kinal dan Veranda. Kemudian kembali melihat ke arah Bowo, "dan seperti yang saya bilang tadi, kerja sama kita batal," lanjutnya tegas.
"Tunggu tunggu, Pak Davi. Baiklah, saya mengaku salah telah menghina karyawan anda. Tapi mengenai kerja sama, sebaiknya kita bicarakan lagi," ucap Bowo mulai memelas.
"Keputusan ini bukan hanya karena hinaan anda kepada Veranda, Pak Bowo."
"Lalu? Karena apa lagi?" tanya Bowo tak sabar.
"Pertama, anda sudah membuat kegaduhan di kantor saya. Kedua, anda telah menghina pegawai saya dengan kata-kata tidak pantas. Dan ketiga, anda sudah membentak dan menampar putri kesayangan saya. Asal anda tau, bahkan saya sendiri tidak pernah membentak Kinal. Tapi anda dengan lantang membentak dan menampar dia di depan mata saya. Itu tidak bisa saya maafkan," Davi menatap tajam Bowo.
"Pu-putri?" Bowo tak percaya.
"Benar Pak Bowo. Dia adalah Kinal, Devi Kinal Putri Prawira. Putri tunggal Bapak Davi Wisnu Prawira, sekaligus pewaris sah perusahaan ini," jawab Daniel melirik Kinal.
"Dia putri anda?" Bowo memejamkan mata sejenak. "Maaf Pak Davi, saya tidak tau kalau Kinal ini putri anda," ucap Bowo.
"Saya maafkan, tapi keputusan saya sudah bulat. Kerja sama kita batal."
"Tapi Pak Davi--"
"Kalau dibilang batal ya batal! Ribet banget sih!" sahut Kinal.
"Kinal. Papa bilang kendalikan emosi kamu. Lebih baik kamu pulang sekarang. Dan kamu Veranda, kamu saya ijinkan untuk pulang lebih cepat," ucap Davi melihat Veranda.
"Tapi Pak--"
"Tidak apa-apa Veranda. Lebih baik kamu tenangkan diri di rumah. Saya minta maaf atas kekacauan ini. Kamu saya ijinkan pulang sekarang. Biar Kinal yang mengantar kamu," ucap Davi tulus.
"Biar saya Om yang mengantar Kinal dan Veranda," Daniel menawarkan diri.
"Ngga usah, aku bisa pulang sendiri kok," sahut Kinal. "Yaudah Pa, Kinal pulang ya. Yuk Ve," Kinal menggandeng tangan Veranda.
"Iya, hati-hati ya."
"Terima kasih Pak, permisi," pamit Veranda sopan.
Davi mengangguk ramah. Setelah mereka berdua pergi, Davi kembali fokus kepada Bowo yang berdiri di depannya. Bowo masih tetap meminta agar Davi tidak membatalkan kerja sama mereka. Tapi keputusan Davi sudah bulat, hatinya masih tak terima dengan perlakuan Bowo kepada Kinal. Lagi pula mudah baginya untuk mendapatkan investor lain yang lebih terhormat dibanding pria itu.
Davi juga telah meminta Daniel agar tidak membahas kejadian ini lagi. Apalagi tentang Veranda, Davi meminta Daniel untuk tetap menjaga agar latar belakang Veranda tidak menjadi bahan omongan di kantor.
***
.
Di dalam mobil, Kinal dan Veranda cenderung diam. Beberapa kali Kinal membuka pembicaraan, tapi Veranda menjawabnya hanya dengan anggukan atau gelengan kepala.
"Kamu pasti kesel sama omongan dia tadi ya?" tanya Kinal pelan. Ia masih saja berusaha mengajak Veranda agar mau bicara sesuatu.
Veranda menggeleng pelan.
"Jangan bohong, aku tau kamu pasti kesel kan sama dia? Aku aja kesel. Coba aja tadi ngga ada Papa. Pasti aku udah nonjok mukanya. Bukan cuma nonjok, aku pengen banget hajar dia sampe babak belur. Seenaknya aja ngomong sembarangan tentang kamu. Belum tau aja dia kalo tinju aku ini keras ba--"
"Nay.." ucap Veranda pelan menghentikan gerutu Kinal.
"Eh.. iya Ve?"
"Aku nggapapa kok. Kamu lagi nyetir, jangan terlalu emosi Nay," balas Veranda.
"Iya, maaf."
"Pipi kamu masih sakit ya? Nanti sampe apartemen langsung dikompres ya," tangan Veranda mengusap lembut pipi Kinal yang masih terlihat merah bekas tamparan Bowo tadi.
Kinal tersenyum dan mengangguk pasti, "kompresin ya..," pintanya manja.
"Iya, sekarang kamu fokus nyetir dulu. Jangan marah-marah terus," balas Veranda. Kinal mengangguk dan kembali fokus melihat depan.
...
Hanya butuh waktu beberapa menit hingga mereka tiba di apartemen Veranda.
"Gre mana Ve? Kok sepi?" tanya Kinal yang tidak merasakan kehadiran Gracia yang biasanya selalu berisik saat dirinya dan Veranda datang.
"Tadi pagi sih bilangnya mau diajak Shania jalan-jalan Nay, mungkin sekarang masih sama Shania. Abis ini aku chat dia aja buat mastiin."
"Oo sama Shania, aman kalo gitu sih. Kirain kemana."
"Iya. Eh kamu duduk dulu aja Nay, aku ambilin kompresan dulu ya," ucap Veranda sambil berjalan ke arah dapur. Kini Kinal duduk bersandar di sofa ruang tamu.
...
"Sakit ngga?" tanya Veranda saat mengompres pipi Kinal.
"Ngga kok, aku pernah kena pukul lebih parah dari ini," jawab Kinal.
"Itu sih kamunya aja yang suka berantem."
"Ngga juga, kan cuma membela diri."
Veranda tak membalas ucapan Kinal. Ia hanya tersenyum lalu meletakkan kain kompresan di tempatnya. Veranda ingin membawa baskom yang berisi air dingin itu ke dalam. Ia sudah beranjak dari duduknya. Tapi ditahan oleh Kinal.
"Ve..," Kinal memengang lembut tangan Veranda. Ia menarik tangan itu seolah meminta Veranda agar kembali duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa Ve?"
"Nggapapa Nay."
"Jangan bohong, aku tau kamu Ve. Apa yang kamu pikirin sekarang? Apa yang bikin kamu jadi murung gini? Cerita ke aku Ve," pinta Kinal halus.
"Aku.....aku cuma ngrasa ngga pantes buat kamu," Veranda menunduk tak mau menatap Kinal.
"Ngga pantes? Ngga pantes gimana maksud kamu?"
Veranda menatap Kinal, "kamu tau kan masa lalu aku kayak gimana? Aku ngrasa aku ngga layak buat kamu Nay," ucapnya sendu.
"Ve.., kamu cinta kan sama aku?"
Veranda mengangguk.
"Itu udah cukup buat aku Ve. Aku cinta kamu. Kamu cinta aku. Ngga peduli masa lalu kamu kayak gimana. Aku cuma cinta sama kamu Ve," Kinal memegang tulus telapak tangan Veranda.
"Tapi kamu bisa dapet gadis yang lebih baik dari aku Nay."
"Aku suka kamu bukan karena kamu cewek Ve. Aku pernah ditembak cowok, aku juga pernah ditembak cewek. Tapi ngga ada yang aku trima. Kenapa? Karena aku ngga cinta mereka, hati aku ngga milih mereka Ve. Tapi sama kamu beda, aku baru ngerasain perasaan ini pas sama kamu. Hati aku yang milih kamu, dia milih tanpa ijin Ve. Tiba-tiba aja aku jatuh cinta sama kamu. Aku ngga mau yang lain Ve, aku mau kamu."
Veranda memejamkan mata sejenak, "tapi kamu bukan yang pertama buat aku Nay. Ngga adil kalau aku jadi yang pertama buat kamu. Bahkan aku yang udah ngambil ciuman pertama kamu. Tapi kamu udah jadi yang kesekian buat aku. Aku...aku udah terlalu kotor Nay, aku ngga pantes buat kamu," air mata Veranda lolos begitu saja.
"Hati aku ngga pernah kasih syarat apapun mengenai cinta. Harus cewek, harus cowok, harus cantik, harus ganteng, harus pinter, dan harus-harus lainnya. Ngga pernah Ve, dia ngga pernah kasih syarat apapun."
"Tapi Nay..."
"Aku ngga peduli sama masa lalu kamu Ve. Kamu ngga cinta kan sama mereka? Kamu terpaksa kan ngelakuin itu? Iya kan Ve?"
Veranda mengangguk, masih dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Itu udah cukup Ve. Bagiku, aku tetap yang pertama buat kamu. Bukan soal ciuman atau keperawanan. Tapi aku yang udah berhasil buat kamu jatuh cinta Ve. Itu udah cukup buat aku," ucap Kinal sangat lembut, lalu memeluk Veranda yang masih terisak.
"Aku cuma ngga mau kamu nyesel udah milih aku Nay," ucap Veranda dipelukan Kinal.
"Aku ngga akan nyesel Ve. Justru aku bahagia banget udah jatuh cinta sama kamu. Aku cinta kamu, Ve."
Veranda tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku juga cinta kamu, Nay. Kamu yang pertama nyuri hati aku. Cuma sama kamu, aku bisa bener-bener ngrasa dicintai. Kamu beda dari mereka yang cuma mau tubuh aku."
"Udah Ve, jangan ungkit sesuatu yang buat hati kamu sakit," Kinal mengusap bahu Veranda.
Tiba-tiba Veranda melepaskan pelukannya, Ia menatap mata sayu Kinal. "Bukan cuma aku yang sakit. Kamu juga sakit kan Nay? Hati kamu sakit kan kalau kita bahas masa lalu aku?"
Kinal menunduk, "dikit, aku cuma ngga rela Ve. Itu aja."
"Maaf Nay."
Kinal kembali menatap Veranda, "jangan bahas masalah itu lagi ya Ve. Sekarang kamu cuma punya aku. Aku ngga akan biarin siapapun nyentuh kamu lagi," ucap Kinal.
Veranda mengangguk, "tapi ada satu hal yang aku rasa kamu harus tau Nay."
"Apa?"
"Semua itu palsu. Semua yang aku kasih ke mereka itu palsu. Senyum, sikap, ciuman, desahan, termasuk--"
"Cukup Ve. Iya, aku tau kalau kamu ngga tulus ngasih itu ke mereka kan? Aku tau Ve," Kinal memotong ucapan Veranda. Karena tak sanggup mendengar lanjutan kalimat itu.
"Tunggu Nay, jangan dipotong dulu. Semua memang palsu, termasuk....termasuk o*****e. Aku ngga pernah o*****e Nay," kata Veranda jujur sambil tetap menatap Kinal. Veranda ingin melihat ekpresi Kinal ketika mengetahui fakta ini.
Dan benar saja, Kinal terkejut dengan pengakuan Veranda. "Ma-maksud kamu Ve?"
"Ya, aku cuma pura-pura o*****e di depan mereka. Biar mereka ngrasa dirinya hebat udah naklukin aku. Padahal engga, semua itu pura-pura."
"Apa? Gimana? Maksud aku...emang bisa gitu o*****e dipalsuin?" Kinal sampai gugup, tapi ia penasaran bagaimana Veranda melakukan itu.
"Bisa, buktinya aku bisa. Aku ngelakuin itu ngga tulus Nay, aku ngga mau, aku terpaksa. Mungkin aku memang senyum di depan mereka waktu itu. Tapi hati aku nangis Nay, aku bener-bener ngrasa jadi manusia paling hina di dunia. Disisi lain, aku harus buat diri aku jadi mahal. Semakin banyak uang yang mereka keluarkan untuk nyewa aku, semakin cepet aku lunasin hutang aku Nay. Makanya aku pura-pura nikmatin permainan mereka. Padahal ngga sama sekali," Veranda mengeluarkan semua gundahnya.
Kinal masih terdiam, ia bingung harus bilang apa.
"Nay..."
"Eh? Ya Ve?"
"Kamu nggapapa kan?"
"Nggapapa kok. Aku cuma baru tau kalo itu bisa dibuat-buat."
"Ya itu kan karena aku ngga cinta mereka Nay. Beda lagi kalau misal aku ngelakuin itu sama orang yang aku suka," balas Veranda sedikit menunduk.
"Eh? Ma-maksud kamu?" Kinal gugup.
Veranda menggeleng pelan, "ngga maksud apa-apa."
"Itu barusan kode bukan sih? Duh kok aku gugup gini ya?" batin Kinal bingung.
Tiba-tiba ponsel Kinal berdering. Ternyata karena panggilan masuk dari Davi. Kinal segera mengangkat telfon dari ayahnya itu.
____
"Halo Pa.."
"....."
"Udah kok, ini Kinal sama Ve di apartemen. Gimana masalah tadi? Udah selesai kan Pa?"
"....."
"Papa keren banget. Orang kayak gitu emang ngga usah diajak kerja sama Pa. Bikin rugi aja."
"....."
"Iya maaf, tadi Kinal emosi. Habisnya dia ngatain Ve sih."
"....."
"Iya iya.., maaf ya Papaku yang ganteng."
"....."
"Haha iya, cantik lah, Kinal."
"....."
"Oo gitu? Yaudah nggapapa, nanti Kinal makan siang di luar aja sama Ve, Pa."
"....."
"Oiya bener Pa. Kenapa Kinal ngga kepikiran ya? Yaudah, nanti sekalian ajak Ve aja deh."
"....."
"Ngga usah Pa. Pakek punya Kinal aja. Kan nanti Papa juga yang bayar, hehe.."
"....."
"Iya Pa. Siap laksanakan!"
"....."
"Iya nanti disalamin."
"....."
"Iya, dah Pa.."
_____
Kinal mematikan layar ponselnya setelah panggilan diakhiri oleh Davi.
"Kenapa Nay?"
"Kerja sama Papa dan orang kurang ajar tadi fix batal Ve. Trus Papa langsung dapet penggantinya, nanti Papa makan siang bareng sama orang itu. Keren kan?"
Veranda tersenyum senang, "serius Nay? Kamu tau, dari tadi aku ngrasa bersalah banget, gara-gara aku kerja sama mereka batal. Tapi syukur deh, kalau udah ada investor penggantinya."
"Iya Ve, dan nanti kita makan siang di luar ya? Sekalian kita beli gaun buat resepsi pernikahan Papa. Kan kamu jago tuh milih-milih baju. Nanti sekalian pilihin aku gaun ya? Mau kan?"
"Iya, emang kapan Papa kamu nikah Nay?"
"Kamis itu akad nikahnya di Surabaya. Trus Jum'at resepsinya di Jakarta. Kalau buat akad nikah sih aku disuruh pakek kebaya. Kata Mama, udah disiapin disana. Tapi buat resepsi aku minta ke Papa buat milih gaun sendiri. Jadi nanti kita beli gaun."
"Kamis kamu ke Surabaya? Berangkat kapan?"
"Rabu malem, kenapa?"
"Berarti seharian aku ngga ketemu kamu dong?"
"Cuma sehari Sayang.., hari Jum'at kan aku ke Jakarta lagi," Kinal mengusap lembut pipi Veranda.
"Iya sih."
"Uluh uluuuh.., pacar aku takut kangen ya?" goda Kinal mencubit pelan kedua pipi Veranda.
"Ihh apa sih? Emang kamu ngga kangen sama aku?" rajuk Veranda.
"Kangen dong...., tapi kan aku harus kesana. Cuma sehari kok, kamu jangan nakal ya disini, jangan mau digodain Rezka."
"Kok Rezka sih Nay?"
"Ya kan dia suka sama kamu," ucap Kinal enteng.
"Jangan sok tau deh. Rezka tuh udah suka sama orang lain, Nay."
"Oiya? Siapa?"
"Kepo banget sih pacar aku," goda Veranda.
"Bukan kepo, cuma mastiin aja kalo bukan kamu yang dia suka."
"Bukan aku kok, ngga usah cemburu gitu. Yang pantes cemburu tuh aku, Daniel kan terang-terangan suka sama kamu," Veranda cemberut mengerucutkan bibirnya.
Cup!
Kinal menciumnya sekilas, "tapi kan aku ngga suka dia, Yang. Jangan cemberut gitu dong," pinta Kinal.
"Dia ikut ke Surabaya?" selidik Veranda.
"Ngga kayaknya. Ngga tau sih. Pokoknya yang jelas ikut tuh aku, Beby, sama Jeje. Kan mereka juga ngga ada kerjaan, makanya aku ajak aja."
"Oo mereka berdua ikut? Bagus deh, jadi kan kamu ngga sendirian di sana. Kalaupun Daniel ikut, paling ngga kan kamu ngga cuma berdua sama Daniel. Ada Beby sama Jeje yang nemenin, nanti aku mau minta mereka buat ngawasin kamu," ucap Veranda membuat Kinal terkekeh mendengarnya.
"Kamu kalo cemburu lucu ya? Gemes banget cemberut gitu, trus bibirnya juga maju gitu. Jadi pengen nyium," goda Kinal sengaja memegang bibir Veranda dengan jari telunjuknya
"Cium aja kalo berani," balas Veranda menahan senyum.
"Berani dong," Kinal memanjukan wajahnya dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Veranda. Mereka berciuman seperti yang biasa mereka lakukan. Tangan Kinal memegang kedua pipi Veranda, berusaha menahan Veranda agar tidak memundurkan wajahnya selagi Kinal terus memperdalam ciumannya.
Drrtt.. Drrt..
Getaran ponsel Veranda membuyarkan fokus mereka. Veranda lebih dulu melepaskan ciumannya dan langsung menoleh ke ponselnya yang ada di atas meja.
Kinal berdecak kesal, ia mengambil cepat ponsel itu. Karena jarak Kinal lebih dekat dari pada Veranda. "Nih, kalo ini hp aku, pasti udah aku banting. Ganggu aja!" kata Kinal kesal. Lalu ia memberikan ponsel itu pada Veranda.
"Sabar Sayang, jangan marah-marah terus," balas Veranda sambil menerima ponselnya. "Gre?" kata Veranda saat melihat nama adiknya tertera di layar ponsel.
"Gre lagi Gre lagi. Selalu gangguin pas lagi enak-enaknya," gerutu Kinal seolah mengingat beberapa kali teriakan Gracia mengacaukan momennya dengan Veranda.
Mendengar itu, Veranda hanya tersenyum lalu mengangkat telfon Gracia.
____
"Halo Gre.."
"....."
"Oo gitu? Yaudah nggapapa. Mana kak Shania? Kak Ve mau ngomong bentar."
"....."
"Halo Shan, kalian habis nonton ya?"
"....."
"Maaf ya Shan, Gre pasti ngrepotin kamu ya?"
"....."
"Kalo dia banyak maunya jangan diturutin ya Shan."
"....."
"Yaudah kalo gitu. Kak Ve titip Gre ya. Walaupun dia udah gede, tapi dia itu masih kayak anak kecil."
"....."
"Iya, makasih ya Shan."
"....."
"Iya, kamu kasih ke Gre telfonnya, Shan."
"....."
"Yaudah sana main, jangan ngrepotin kak Shania ya."
"....."
"Iya, kakak juga sayang kamu. daah.."
_____
"Gre masih sama Shania, Yang?" tanya Kinal saat Veranda meletakkan kembali ponselnya di meja.
"Iya Nay, barusan mereka abis nonton katanya. Pantes chat aku ngga dibales-bales."
"Kita nonton juga yuk?" ajak Kinal.
"Nonton? Nonton apa?"
"Ngga tau, liat aja ntar. Atau makan siang dulu trus nonton?"
"Terserah kamu aja Nay, aku ikut kamu."
"Bener Yang, kamu emang harus ikut aku. Kan istri harus ikut suami," goda Kinal lagi.
Veranda terkekeh, "istri? Suami? Siapa suaminya? Kamu kan bukan cowok Sayang."
"Tapi aku bisa kok menunaikan kewajiban sebagai suami. Aku bisa ngelindungin kamu, aku bisa kerja buat kamu, aku bisa biayain kamu, aku bisa--"
"Ngasih anak buat aku?" Veranda memotong ucapan Kinal yang beritme cepat tadi.
"Eh? Anak? Bisa kok, sekarang itu udah canggih Yang. Pasti ada cara buat kamu bisa hamil anak kita nanti," ucap Kinal yakin.
"Kamu serius mau nikahin aku Nay?" tanya Veranda melihat Kinal yang seolah mulai merencanakan masa depan mereka.
Kinal mengangguk pasti, "serius. Kamu mau kan nikah sama aku Ve? Tapi nunggu aku lulus dulu. Trus kerja, trus aku mau bawa kamu ke luar negeri. Kita nikah di sana. Kamu kamu kan?"
Veranda terharu mendegar kesungguhan Kinal. Ia memeluk Kinal cepat. Menyandarkan kepalanya di d**a Kinal yang membuat Kinal sedikit terdorong ke belakang. Veranda mengangguk pelan, "aku mau Nay. Tapi apa semua bisa berjalan semudah itu?"
"Ngga Ve, ngga bakal semudah itu. Terutama buat dapet restu Papa. Tapi aku mau hidup sama kamu Ve. Aku bakal ngelakuin apapun buat perjuangin cinta kita. Kamu mau kan berjuang bareng aku?" pinta Kinal sambil mengusap lembut puncak kepala Veranda.
"Iya Nay. Makasih ya, cinta kamu besar banget buat aku."
Kinal tersenyum dan semakin mendekap Veranda di pelukannya. Kinal mengecup mesra puncak kepala gadisnya. Ia tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Kebahagiaan sederhana hanya dengan bersama orang yang ia cintai. Gadis berparas bidadari yang bersedia menerima dan membalas cintanya.
"Aku suka dipeluk kamu kayak gini Yang. d**a kamu bidang, nyaman banget dipeluk disini," ucap Veranda di pelukan Kinal.
"Bidang? Itu pujian apa sindiran Yang? Iya tau d**a aku kecil, ngga segede punya kamu," balas Kinal asal.
Seketika Veranda melepaskan pelukannya, menatap intens mata Kinal, "emang kamu tau punya aku kayak gimana?" selidik Veranda sambil menyilangkan tangan menutup dadanya. Antara bertanya serius dan ingin menggoda Kinal, Veranda senang sekali membuat Kinal gugup di hadapannya.
"Eh?? Ng-ngga..ngga tau kok. Suwer, ngga tau, serius Ve, ngga tau," ucap Kinal sambil mengacungkan dua jarinya ke udara. Benar dugaan Veranda, mudah sekali membuat Kinal gugup. Veranda mengulum senyum tipis untuk menahan tawanya. Lalu ia kembali memeluk Kinal dengan posisi sama seperti tadi. Veranda meluruskan telinga kanannya tepat di jantung Kinal.
Deg deg..
Veranda tertawa pelan saat mendengar debaran jantung Kinal yang sudah maraton karena ulahnya. "Canda Nay, serius banget sih? Sampe deg-degan gini," kata Veranda sambil terkekeh yang membuat Kinal menghela nafas lega.
"Jail banget sih kamu. Iyalah deg-degan, orang dituduh yang ngga-ngga," Kinal membalas pelukan Veranda.
"Iya iya maaf. Tapi aku serius Yang, aku suka dipeluk kamu kayak gini. Nyaman banget," Veranda kembali mengeratkan tangannya yang sudah melingkar di pinggang Kinal.
"Iya, aku juga suka peluk kamu. Eh, kita berangkat sekarang yuk? Kalo udah jam makan siang kayaknya lebih macet deh, Yang," ajak Kinal.
"Yuk, aku ganti baju bentar ya. Ngga enak jalan-jalan pakek setelan kantor gini. Kamu ngga mau ganti baju? Pakek baju aku aja Nay," kata Veranda setelah melepaskan pelukannya.
"Pinjem kaos aja Yang. Aku pakek celana ini aja. Aku udah ada jaket di mobil," balas Kinal.
"Yaudah, kamu pilih sendiri gih mau kaos yang mana," Veranda berdiri lalu menggandeng Kinal ke kamarnya.
Mereka berganti pakaian bersama, hanya berbeda tempat. Veranda di kamarnya, sedangkan Kinal memilih ganti di kamar mandi. Setelah siap, kedua gadis itu langsung turun menuju mobil Kinal di parkiran lantai ground.
***
.
Kinal dan Veranda memutuskan untuk tidak menonton bioskop karena tidak ada film yang menarik perhatian mereka. Sehingga kini mereka memutuskan untuk mencari gaun terlebih dahulu.
Jam tangan Kinal menunjukkan pukul 12 siang ketika mereka memasuki salah satu toko di pusat perbelanjaan. Toko yang terlihat seperti butik mewah dengan berbagai macam gaun yang melekat di tubuh mannequins.
"Kamu mau gaun yang gimana Nay?" tanya Veranda. Dibelakang mereka telah ada satu karyawati yang siap melayani.
"Gimana ya? yang simple aja Ve."
"Kalau yang ini? Mau ngga?" Veranda menunjuk gaun hitam dengan beberapa corak berwarna emas yang menambah kesan mewah pada gaun itu.
"Ngga ah, kalo itu sih cocoknya buat kamu."
"Kok buat aku sih? Kan kamu yang mau gaun."
"Lah kan tadi aku bilangnya kita beli gaun. Berarti beli dua, buat aku sama kamu. Kamu kan juga diundang ke resepsinya Papa," balas Kinal.
"Ya tapi kan--"
"Ngga ada tapi-tapian. Ngga ada penolakan. Papa sendiri yang minta aku buat beli gaun bareng kamu. Sekalian beli buat kamu juga. Kalo kamu mau nolak, sana bilang ke Papa," ucap Kinal sekenanya.
"Ck! Kamu mahh.."
"Yaudah, mbak, coba yang ini ya, tolong diambilin," pinta Kinal pada wanita yang ada di belakangnya.
Selagi karyawati itu mengambilkan gaunnya, Kinal dan Veranda kembali berkeliling mencari gaun untuk Kinal.
"Nay, ini bagus. Simple, cantik, kamu yang ini aja ya. Aku mau liat kamu pakai ini," Veranda menunjuk gaun putih yang menurutnya akan sangat anggun jika Kinal memakainya.
"Boleh, bagus kayaknya Ve, yang ini aja kali ya? Dicoba dulu," balas Kinal.
Dua gaun telah mereka pilih, kini keduanya berada di ruang ganti untuk mencoba gaun masing-masing. Ada tiga bilik kecil di ruang ganti ini. Mereka masuk ke bilik pertama dan kedua.
Kinal mencoba gaunnya dan selesai terlebih dahulu. Dengan mudah ia memakai gaunnya sendiri karena resletingnya berada di samping kiri gaun. Kinal keluar dari biliknya dan melihat dirinya daribpantulan cermin. Gaun putih yang begitu anggun melekat di tubuhnya.
"Nay, bisa tolongin bentar?" tanya Veranda sambil menyembulkan kepalanya dari tirai bilik.
"Apa Ve?"
"Sini...," Veranda menarik tangan Kinal agar masuk ke bilik itu bersama dirinya.
"Ehh.., minta tolong apa?"
"Resletingnya susah Nay. Bantuin," pinta Veranda manja sambil membelakangi Kinal. Veranda telah memakai gaun dengan resleting yang masih terbuka di bagian belakang. Sehingga punggung mulusnya dapat terlihat jelas oleh Kinal.
Kinal sampai kesulitan menelan ludahnya sendiri saat melihat yang ada di hadapannya. Apalagi Veranda telah menyatukan rambut dan menaruhnya di bagian depan tubuhnya. Kinal merasakan pipinya yang mulai memanas, ia sampai mengalihkan pandangan untuk membuang pikiran negatif dari kepalanya.
"Nay..."
"I-iya Ve."
Kinal menutup resleting gaun Veranda dengan tangan yang sedikit gemetaran.
"Udah," ucap Kinal.
Veranda berbalik badan menghadap Kinal. "Keluar yuk," Veranda menggandeng tangan Kinal untuk keluar dari bilik sempit itu, karena cermin besar memang terletak di luar.
"Cantik," kata pertama Kinal saat melihat Veranda yang memang benar-benar menawan dengan gaun hitam itu.
"Kamu juga," balas Veranda.
"Pengen cium kamu," bisik Kinal keluar dari topik. Ia memegang bahu Veranda yang terekspos.
"Nay...," tegur Veranda. Bagaimanapun ini bukan tempat pribadi mereka. Bisa saja seseorang masuk tiba-tiba.
"Iya iya tau, ini tempat umum kan? Jadi ngga boleh cium-cium," gerutu Kinal.
Veranda terkekeh pelan melihat kekasihnya yang super manja. Lalu ia memegang tangan Kinal dan menariknya masuk ke bilik tempat ia berganti pakaian tadi.
Kinal sempat kaget tapi tetap mengekori bidadarinya. Kini mereka berdua berada di dalam bilik sempit itu. Veranda mengalungkan tangannya di leher Kinal, memandang bola mata Kinal dengan tatapan nakalnya. Kinal mengerjapkan mata beberapa kali, Veranda memang susah ditebak.
"Kiss me," bisik Veranda mesra yang terdengar seperti desahan di telinga Kinal.
Kinal tersenyum lalu dengan cepat melahap bibir yang telah menjadi candu untuknya. Kinal mendominasi ciuman ini, ia melumat bahkan menghisap lembut bibir atas dan bawah Veranda secara bergantian.
"Silahkan dicoba terlebih dahulu. Saya tunggu di luar," suara sopan seorang wanita terdengar dari luar.
Seketika Kinal dan Veranda sama-sama menyudahi ciuman mereka. Mereka diam sejenak, saling menatap, lalu terkekeh sendiri mengingat apa yang baru saja mereka lakukan.
"Pfffttttt.."
"Kamu sih, nakal banget," canda Kinal pelan. Lalu menggerakkan ibu jarinya di bibir Veranda, mengusap lembut bibir yang basah karena ulahnya tadi.
"Tapi kamu suka kan?" balas Veranda.
"Suka ngga yaa..."
"Ihh, bilang suka aja malu-malu."
Kinal terkekeh pelan, "iya iya, suka," ucap Kinal lalu kembali mengecup singkat bibir Veranda.
Kemudian Kinal kembali ke biliknya. Mereka mengganti kembali pakaiannya.
....
Setelah membeli dua gaun cantik itu, Kinal mengajak Veranda untuk makan siang. Mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua siang ini.
Saat menunggu pesanan datang, Kinal mendapat telfon dari ayahnya yang meminta agar Kinal makan malam di rumah.
"Ada apa Nay?" tanya Veranda saat melihat ekspresi Kinal yang berubah setelah menerima telfon dari Davi.
"Nanti malem disuruh Papa makan malem di rumah," jawab Kinal.
"Trus masalahnya apa? Kok kamu cemberut gitu?"
"Ada Daniel."
"Daniel?"
"Iya, dia diajak Papa makan malem di rumah."
Veranda menghela nafas panjang, "yaudah, cuma makan malem kan? Jangan cemberut gitu dong," ucap Veranda, walaupun sebenarnya ia sedang cemburu.
"Kamu nggapapa aku makan malem sama dia?"
"Nggapapa, kan ada Papa kamu. Kalau cuma berdua ya ngga boleh lah."
Kinal menghela nafas malas. Ia semakin yakin kalau sang Papa berniat menjodohkannya dengan Daniel.
***
.
.
Berbagai masakan khas Indonesia tersaji di meja makan. Beberapa kursi tertata rapi menunggu sang tuan mendudukinya. Ruang makan di dalam rumah megah ini akan menjadi tempat makan malam mewah bagi penghuninya.
Davi terlihat sumringah saat menyambut Daniel yang baru datang. Daniel, laki-laki muda yang menurut Davi sangat berbakat dan cekatan. Bahkan ia pernah membayangkan betapa bahagianya jika Kinal mau menikah dengan Daniel, yang tidak lain adalah putra kawannya sendiri.
"Selamat malam, Om," sapa Daniel ramah.
"Malam Daniel, ayo masuk. Makan malamnya sudah siap," ajak Davi.
"Iya Om. Ngomong-ngomong Kinal mana Om?"
"Kinal masih di kamarnya, sebentar lagi juga turun."
Mereka berdua pun duduk di kursi masing-masing sambil menunggu Kinal. Tak lama setelah itu, Kinal datang dengan pakaian casual-nya.
"Malam Pa," sapa Kinal.
"Malam sayang, Danielnya disapa juga dong," balas Davi.
"Hai Niel."
"Hai Nal, kamu cantik hari ini," balas Daniel. Kinal hanya tersenyum sekilas, mau tidak mau ia harus bersikap ramah karena di sini ada Davi diantara mereka berdua.
Kinal duduk di tempatnya, ia tidak membuka pembicaraan apapun. Kinal hanya menjawab jika ada yang bertanya padanya.
Saat mereka akan menyantap hidangan, ponsel Daniel berdering. Alis Daniel berkerut saat melihat layar ponsel, ternyata telfon dari ayahnya yang ada di Belanda. Daniel pun meminta ijin kepada Davi untuk mengangkat telfon itu.
Daniel melangkahkan kaki menjauh dari ruang makan. Ia mengawasi sekitarnya sebelum mengangkat telfon itu.
____
"Halo Pi. Ada apa sih?"
"....."
"Bukannya ngga sopan, tapi sekarang Daniel lagi makan malam sama Pak Davi, ada Kinal juga. Tapi Papi nelfon."
"....."
"Susah Pi, Kinal susah banget dideketin."
"....."
"Iya, ini juga lagi usaha."
"....."
"Ya maulah Pi. Siapa yang ngga mau punya perusahaan besar seperti Wirar Property. Jelas Daniel maulah."
"....."
"Iya iya. Daniel pasti bisa jadi pacar Kinal. Dan secepatnya Daniel bakal nikahin dia."
"....."
"Iya, Daniel tau kok. Papi tenang aja."
"....."
"Yaudah, dah Pi."
____
Panggilan itu diakhiri oleh Daniel. Panggilan dari Thomas, ayah Daniel, yang tidak lain adalah teman Davi. Pria yang berambisi untuk mengambil alih perusahaan yang telah dirintis Davi dari nol. Bahkan dia menyalurkan ambisi itu pada putranya, meminta agar Daniel menikah dengan Kinal.
Dengan senang hati, Daniel menerima amanat itu. Iya bertekad akan menguasai seluruh bagian dari perusahaan milik Davi. Dengan kecakapan yang Daniel miliki, dia berhasil membuat Davi menjadikannya sebagai orang kepercayaan. Tinggal selangkah lagi, maka ia akan menjadi penerus sah perusahaan ini. Ya, selangkah lagi, langkah yang masih ia usahakan sampai detik ini, yaitu menikahi putri tunggal Davi.
*****
.
To be continue.