"Brakkkk!!!"
Marvel sedikit membanting pintu ruang tamu setelah Andaru si majikan masuk rumah. Marvel mengikuti langkah majikan yang menurutnya suka semena-mena itu.
"Jangan banting pintu rumahku Vel, biaya renovasi mahal." Andaru berbalik kebelakang. Lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk kamar.
"Kamu gak bisa begitu Ndaru…" ujar Marvel, pria itu berdiri tepat di belakang Andaru.
"Begitu apa?" tanya Andaru berlagak gak ngerti arah bicara Marvel. Pria yang beberapa tahun ini bekerja sebagai asisten untuknya.
"Meminta anak itu untuk bekerja disini jadi asisten rumah tanggamu, dia hanya anak-anak," terang Marvel.
"Dia remaja, re-ma-ja." Andaru menekankan kata remaja.
"Iya remaja. Tapi tetap saja kamu gak bisa menyuruh dia bekerja disini, apa lagi dia masih sekolah."
"Emang kenapa? Dia harus bertanggung jawab atas kesalahannya, dia tidak bisa membayar kerugian yang aku tanggung. Jadi apa salahnya aku memberikan alternatif lain." jawab Andaru dengan nada angkuh.
Marvel hanya bisa menarik nafas dan menggeleng pelan.
"Tapi apa yang bisa anak itu kerjakan di sini?" keluh Marvel.
"Bersih-bersih tentu saja. Kamu jangan bawel Marvel, ini demi kebaikanku. Bukankah kamu besok harus pergi ke kota. Kalau tidak ada kamu di sini aku sangat repot apa kamu tau itu?"
"Aku bisa mencarikan orang lain untuk melayanimu jika kamu mau."
"Kamu kira aku banyak uang sekarang? Apa kamu lupa pabrikku sedang bangkrut. Kamu bahkan belum dibayar selama tiga bulan."
"Kalau begitu pergi kerja lakukan sesuatu. Jangan sembunyi disini," ketus Marvel.
Marvel jadi kesal jika mengingat ia belum menerima gajinya selama tiga bulan bahkan sepertinya lebih. Kalau tidak memikirkan Andaru bukan hanya bos tapi juga seorang teman dekat, Marvel memilih hengkang dari perusahaan yang mulai gulung tikar.
"Ahh sudah aku mau istirahat. Tolong tutup pintu kamar jika kamu keluar," perintah Andaru. Pria itu melepas baju yang ia kenakan lalu berganti pakaian tidur.
Marvel cemberut. Merasa kesal kata-katanya diabaikan lagi oleh Andaru.
"Aku mau lihat mau sampai kapan kamu akan tahan terpuruk seperti ini." ujar Marvel lalu berlalu pergi dari kamar Andaru. Tak lupa ia menutup pintu kamar.
Setelah kepergian Marvel, Andaru duduk termangu di tepi ranjang tempat tidurnya.
Ia menarik nafas panjang lalu ia hembuskan pelan. Perlahan Andaru membuka laci nakas dekat tempat tidur. Andaru mengeluarkan sebuah bingkai foto. Bibirnya tersenyum melihat foto di tangannya.
"Kalian apa kabar?" ucap Andaru pelan.
Tangan besarnya membelai kaca bingkai foto yang ia pegang.
"Bisa kita bertemu malam ini?" Seolah orang dalam foto tersebut bisa menjawab pertanyaan yang ia ucapkan.
Andaru terdiam, masih memandangi gambar dua orang yang sedang tersenyum riang dalam foto. Setelah cukup lama memandangi gambar foto di tangannya, Andaru kembali menyimpan bingkai foto itu kembali ke laci.
Ia lalu membaringkan tubuhnya. Mencoba untuk memejamkan mata. Berharap ketika ia terlelap tidur bisa bertemu dengan orang yang sedang ia rindukan.
xxxx
Dengan perasaan tak ikhlas, Djian kembali berdiri depan pintu rumah Andaru. Pintu rumah yang sebenarnya tak ingin ia lihat sekarang ini. Namun, apa daya keadaan yang membuatnya harus kembali datang ke rumah besar ini. Rumah paling terlihat mencolok di antara rumah lain.
Djian menekan tombol pintu rumah berulang kali tanpa jeda. Meluapkan rasa kesal dalam hati. Kalau saja bukan karena Kakek Djian tak akan sudi datang ke rumah gedong ini. Apalagi datang untuk menjadi pembantu untuk tuan sombong.
Bisa saja Djian meminta bantuan paman dan bibinya untuk membantu dia membayar uang ganti rugi. Namun Kakek melarang. Kakek bilang, harus belajar tanggung jawab atas kesalahan sendiri. Agar nanti bisa lebih hati-hati. Karena ucapan Kakek itu lah yang membuat Djian berdiri di depan pintu Andaru walau hati tak ikhlas.
Ting..tong..Ting..tong
Djian kembali menekan tombol pintu.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Hai..Djian," sapa Marvel dengan senyum ramah menghias bibir.
"Masuk.." Marvel mempersilahkan Djian masuk.
Djian masuk ke dalam rumah. Kedua matanya langsung melihat ke arah Andaru yang duduk dengan wajah angkuh di sofa ruang tamu.
Djian mendecih pelan. Malas melihat wajah angkuh itu. Bergaya seolah tak melihat ia datang. Jujur saja Djian merasa tersinggung, pasalnya Andaru selalu saja tak acuh tiap kali Djian datang kerumahnya. Kalau tidak sibuk dengan ponselnya Andaru akan sibuk membaca koran. Selalu saja seperti itu. Membuat Djian jadi heran sebenarnya apa pekerjaan Andaru.
"Djian..dengar, semua aku jelaskan dalam sepuluh menit. Karena dalam sepuluh menit aku harus segera pergi. Aku yakin kamu bisa mengerti semua yang aku katakan," ucap Marvel.
Pria itu mengeluarkan sebuah kertas panjang penuh dengan tulisan tangan.
"Ini...kamu harus membaca ini, ikuti saja apa yang tertulis di sini," Marvel memberikan kertas yang ia pegang pada Djian. Remaja itu menerimanya lalu membaca bagian atas yang tertulis diatas kertas itu.
Kedua matanya terbelalak ketika membaca rentetan tugas-tugas yang harus ia lakukan.
Melihat ekspresi wajah Djian, Marvel merasa tak enak hati.
"Hehe..ini Andaru yang menulis, dia bilang untuk memudahkan mu." Marvel menggaruk-garuk kepalanya. Meski tak gatal.
Djian melirik ke arah Andaru. Namun, siapa yang peduli. Andaru tetap duduk santai seakan tak mendengar percakapan dua orang yang berdiri tak jauh darinya.
"Setelah pekerjaanmu selesai kamu boleh pulang pukul lima sore," imbuh Marvel.
"Jelaskan pada bocah itu juga Vel, jika dia tidak menyelesaikan pekerjaan dalam satu hari, maka sisa pekerjaan akan ditambahkan untuk esok hari. Jadi pastikan setiap hari dia menyelesaikan pekerjaannya." papar Andaru, tanpa melihat ke orang yang diajak bicara. Sungguh pria sombong bukan.
Djian hanya bisa mendengkus kesal tanpa bisa berkata apa-apa. Dalam hati dia mengumpat, mengancam, 'awas saja ia akan membuat perhitungan dengan Om tua itu'.
"Baca pelan-pelan Djian jika ada yang gak kamu mengerti, kamu bisa hubungi nomor ponsel ku. Aku tulis di sudut paling bawah."
"Iya," jawab Djian sambil menyimpan kertas ke saku celananya.
"Kalo gitu aku pergi sekarang," Marvel meraih koper baju miliknya, "selama satu minggu aku tidak di sini kalian jangan seperti anjing dan kucing," imbuh Marvel.
Pria yang lebih muda tiga tahun dari Andaru itu lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Ahh Djian ini kunci cadangan, aku hampir lupa kasih ke kamu." Marvel memberikan kunci cadangan miliknya pada Djian.
Setelah itu dia keluar rumah. Menggunakan mobil Andaru untuk pergi ke kota. Menggantikan tugas Andaru mengurus pekerjaan.
Sekarang tinggalah Andaru dan Djian di rumah besar itu.
Mereka saling diam untuk beberapa saat.
"Buatkan aku makan siang," perintah Andaru.
"Di kertas ini ditulis jam dua siang aku baru mulai kerja."
"Itu mulai kerjaan membereskan rumah Bukan berarti kamu tidak memasak untukku," sanggah Andaru
"Gak bisa begitu dong!" sengit Djian gak terima.
Sudah jelas kok. Dalam kertas itu pekerjaan dimulai pukul dua siang, dan saat ini baru jam setengah dua. Artinya Djian masih free untuk 30 menit kedepan.
"Aku majikan di sini, jadi kamu harus mematuhi perintahku. Cepat buatkan aku makan siang." perintah Andaru kali ini dengan nada bicara lebih tegas.
Pria itu lalu bangkit berdiri. Meninggalkan ruang tamu.
Djian ingin marah. Namun, ia tak bisa. Dengan terpaksa remaja itu berjalan ke dapur untuk melakukan apa yang Andaru minta. Remaja itu sempat bingung apa yang harus dia lakukan. Dia gak begitu pandai masak tapi sekarang dia harus masak, dan lagi Djian juga gak tahu pria angkuh itu ingin makan apa. Djian garuk-garuk kepala sambil melihat ke sekeliling dapur.
"Aku harus gimana ini?" gumam Djian.
Remaja bertubuh mungil itu berpikir sejenak. Harus masak apa dalam waktu tiga puluh menit. Djian membuka pintu kulkas, dalam kulkas selain ada sayuran dan buah juga ada sosis sapi. Djian tersenyum senang.
Gak perlu repot-repot, cukup membuat menu sosis asam manis yang simple dan anti ribet. Untung saja selama dua bulan di rumah Kakek Djian sedikit-dikit belajar memasak dari Kakek dan Bihan. Ya..sekalipun hanya bisa membuat olahan sederhana. Lumayan. Dari pada gak bisa sama sekali.
Lalu kemudian Djian mulai mengeluarkan bahan yang ia butuhkan. Tidak lupa Djian mencuci beras lalu memasukkan beras dalam rice cooker.
Ketika sedang asik memotong sosis, Djian dikejutkan dengan suara teriakan Andaru dari dalam kamar.
"Heii bocah…. cepat kemari!" teriak Andaru dari dalam kamar.
Djian tak menghiraukan suara panggilan Andaru. Biar bagaimanapun Djian itu punya nama. Ia tak akan menyahut jika si tuan angkuh tidak memanggilnya dengan benar.
"Bocah cepat kemari!!" suara Andaru makin keras.
Djian menulikan telinganya.
"Djian!!!!! Cepat kemari!!!!" akhirnya Andaru menyebut nama Djian.
"Huh menyebalkan." Djian meletakkan pisau di tangannya. Lalu meninggalkan dapur untuk datang ke kamar Andaru.
Tanpa mengetuk pintu Djian langsung membuka pintu. Remaja itu sempat terkejut Andaru ternyata berdiri tepat di balik pintu. Hampir saja ia menabrak tubuh besar Andaru.
"Ada apa?" tanya Djian.
Andaru terlihat gugup. Wajahnya pucat.
"Kenapa?" tanya Djian lagi.
"Cepat masuk kamar mandi." Andaru mendorong -dorong tubuh mungil Djian ke arah kamar mandi yang bersatu dengan kamarnya.
"Ya tapi kenapa?!" Djian mencoba untuk menahan langkahnya. Ia menoleh ke arah Andaru.
"Di dalam kamar mandi ada cicak. Kamu harus tangkap cicak itu."
Djian melongo. Mulut nya menganga tak percaya. Orang dengan tubuh tinggi besar dan angkuh ini takut cicak. Lelucon macam apa ini.
"Om..sama cicak aja takut sih, dah ah aku mau lanjutin kerjaanku."
Djian hendak melangkah keluar kamar. Namun, Andaru mencegahnya.
"Aku bilang kamu harus tangkap itu cicak! Kamu itu pembantu di rumah ini jadi harus mematuhi perintahku, tahu!"
Djian mendengkus kesal. Terpaksa Djian menuruti perintah Andaru. Remaja itu lalu masuk ke kamar mandi dan ya.. benar ada seekor cicak di bathtub. Djian mencoba menangkap cicak itu. Hup… namun, sayang si cicak pandai meloloskan diri. Hingga beberapa menit remaja itu tak berhasil menangkap cicak yang diburu olehnya.
"Hufff…kemana larinya tadi." keluh Djian. Sudah ia cari kesetiap sudut kamar mandi namun cicak itu tidak ketemu juga.
Di luar kamar mandi, Andaru berjalan mondar mandir gelisah. Pria angkuh itu berhenti mondar mandir saat melihat Djian keluar dari kamar mandi.
"Sudah ketemu?? Sudah mati?? Mana cicaknya?" berondong Andaru. Ia berdiri tepat di depan Djian.
"Gak ketemu. Tapi sudah hilang."
Andaru melotot.
"Gak ketemu?? Hilang?? Gak bisa! Kamu harus cari cicak itu sampai ketemu!"
"Ya tapi udah gak ada! Cicaknya udah ilang Om!" ucap Djian dengan nada kesal, "pasti sudah mati juga itu cicak, tadi sempat aku pukul," lanjut Djian meyakinkan Andaru.
"Kalo mati mana jasad-nya?? Kamu bohong kan, pasti gak kamu tangkap. Aku gak mau tahu kamu harus dapetin itu cicak hidup atau mati. Titik!!!"
Bibir Djian terbuka menganga, gak habis pikir dengan pria tua di depannya saat ini. Hanya karena seekor cicak sampai harus menyusahkan orang lain.
"Om itu hanya cicak, dia gak akan bunuh kamu kok Om."
"Aku jijik! Aku geli!! Jadi kamu harus temukan cicak itu. Biar aku bisa mandi dan tidur dengan tenang. Kalo perlu kamu geledah di setiap sudut kamar ini. Cari sampai ketemu!" titah Andaru.
"Tapi Om…"
Andaru tak Sudi mendengar protes Djian. ia memutar tubuhnya lalu duduk di tepi ranjang tempat tidur. Menyilangkan kaki, kedua lengan ia lipat di d**a. Sedikit mengangkat dagu ke atas dan menatap angkuh ke arah Djian.
"Cepat cari!" perintah Andaru lagi. Kali ini dengan suara datar namun tegas.
Djian menghentakkan kaki kesal. Lalu masuk ke kamar mandi untuk mencari si cicak sampai ketemu. Hidup atau mati.
Bersambung….