Author POV
"Begitu ceritanya kek." Djian mengakhiri ceritanya. Remaja itu tertunduk merasa bersalah. Satu, dia tidak bisa membawa pulang tas sayur milik kakeknya dan yang kedua dia merusak barang mahal milik orang lain.
Kakek hanya mendesah pelan. Mengamati wajah cucu satu satunya. Meskipun Djian itu seorang anak laki-laki, namun wajah Djian sangat mirip dengan mendiang putrinya. Melihat Djian seakan ia melihat putrinya hidup kembali.
"Jadi, di rumah itu ada dua orang pria, dan yang sering datang kemari itu salah satunya. Ada satu pria lagi di dalam rumah besar itu, dan itu pria yang kamu bilang angkuh."
"Tepat sekali Kek," tukas Djian.
Kakek manggut-manggut mengerti.
"Ya sudah, kamu gak usah khawatir. Kalau orangnya kesini dan minta ganti rugi biar kakek yang bicara."
"Sekali lagi maafkan Djian ya kek.."
"Iya..kakek maafkan," ucap Kakek, pria tua berusia 73 tahun namun masih terlihat sehat itu memutar tubuhnya kembali ke kebun miliknya di belakang rumah. Djian mengikuti kakek dari belakang.
Di kebun belakang ada Bihan sedang memanen sayuran kangkung dan sawi hijau untuk mempersiapkan pesanan beberapa pedagang sayur langganan Kakek.
Biasanya setiap malam para pedagang sayuran akan datang ke rumah Kakek untuk mengambil pesanan mereka. Dan kemudian mereka jual di pasar keesokan harinya.
Dari bertani sayuran itu lah Kakek membiayai hidupnya selama ini. Dulu saat muda Kakek adalah petani sayur yang sukses. Namun seiring berjalannya waktu semua berubah. Semua tak sama lagi. Kini hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Buat kakek yang penting bisa jadi kegiatan di usianya yang tua. Dan bisa membantu Bihan. Pemuda desa yang suka bertani sayuran. Dan lebih memilih bekerja pada Kakek dengan gaji yang terbilang kecil daripada ia pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih layak lagi.
Djian mengikuti langkah Kakek, lalu berjalan mendekati Bihan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Djian selama dua bulan tinggal bersama kakeknya tidak banyak membantu di kebun, Djian lebih suka bermain-main daripada membantu. Namun walau begitu Djian punya tugas rutin, yaitu menghantarkan pesanan pelanggan dari satu rumah ke rumah yang lain.
"Jadi...di dalam rumah besar itu ada dua orang?" Tanya Bihan sembari memanen kangkung yang terlihat segar-segar dan hijau.
Djian mengangguk sebagai jawaban.
Remaja bertubuh kecil dengan paras seperti gadis itu mengekori kemana langkah Bihan yang berjalan di depannya.
"Jadi yang sering datang kemari pria yang tidak sombong."
"Iya, tidak sombong tapi menyebalkan."
"Kok bisa sih..kayaknya tiap kesini orangnya ramah tuh."
"Kan aku dah bilang dia gak sombong tapi tetap saja dia menyebalkan."
"Tapi dia gak kayak gitu kok"
"Kak Bihan gak percaya banget sih sama omongan ku."
"Aku percaya dengan apa yang kulihat Djian.."
Djian mencebikkan bibirnya.
"Serah deh... mentang-mentang dia langganan sayuran mu, jadi kamu bela kan Kak."
"Gak juga. Karena orangnya emang ramah dan tidak menyebalkan kayak yang kamu bilang."
"Dia bilang aku ini anak kecil. Bukanya itu menyebalkan." Djian sedikit berteriak.
Bihan berhenti berjalan. Lalu menoleh kebelakang dan tertawa pelan.
"Haha...jadi karena itu kamu kesal sama orang itu. Makanya kamu makan yang banyak Djian, agar badanmu tumbuh dengan maksimal. Gak mungil gitu." Bihan lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Kalian sama saja. Jaman seperti ini masih saja mengatai fisik orang lain. Huh..!!" kata Djian kesal. Remaja itu lalu memilih pergi meninggalkan Bihan sambil menggerutu tidak jelas. Dan kemudian kembali masuk ke rumah, untuk mengerjakan tugas sekolahnya.
Melihat tingkah Djian, Bihan tersenyum. Dan menggelengkan kepala. Sejak kehadiran Djian di rumah Kakek, Djian memberi warna untuk hari-hari kakek dan Bihan. Karena Djian itu ceria, pemberani dan gak mau kalah apalagi kalau posisinya benar. Djian akan mati-matian membela diri. Jadi Bihan sering menggoda Djian. Hanya karena ingin melihat Djian ngotot mempertahankan apa yang menurutnya benar. Djian itu hiburan buat Bihan dan Kakek.
xxxxx
"Apa perlu sampai sejauh ini Daru?" Marvel jalan mondar mandir mengikuti kemana gerak tubuh Andaru.
"Apa maksud mu Vel? Anak tengil itu merusak barangku, dia harus tanggung jawab," ucap Andaru sambil berdiri depan cermin.
"Ya tapi kan gak harus minta ganti rugi juga, dia hanya anak-anak." Marvel berharap majikanya itu bisa mengurungkan niatnya.
"Dia itu remaja. Tubuhnya hanya gagal berkembang jadi terlihat seperti anak-anak."
"Tetap saja untuk ukuran usia kita dia hanya seorang anak domba. Apa kamu tega? Guci seperti itu kamu bisa beli ratusan jika kamu mau."
Apa yang dikatakan Marvel itu benar kok. Andaru bisa beli barang seperti itu ratusan jika dia mau. Lagi pula bukan sebuah guci yang sulit untuk didapatkan.
"Ini bukan masalah gucinya vel, tapi masalah tanggung jawab dia jika membuat kesalahan pada orang lain." Yang dikatakan Andaru juga benar, Djian bahkan gak minta maaf setelah berbuat kesalahan.
"Kamu aja buang tas sayur dia," keluh Marvel. Pria itu duduk di tepi ranjang tempat tidur Andaru.
"Mana aku tau tas jelek itu punya dia. Lagian aku sudah mengatakan akan mengganti, tapi dia tidak mau. Itu salahnya."
Marvel hanya bisa menarik nafas pasrah. Terserah deh. Bicara dengan bosnya yang semena-mena ini gak akan pernah ada benarnya.
"Kenapa kamu malah duduk di sini? Ayo antarkan aku ke rumahnya." Andaru memicingkan mata kearah Marvel.
Pria yang bekerja sebagai tangan kanan Andaru itu bangkit berdiri lalu berjalan keluar kamar Andaru.
Dua pria dewasa itu lalu kemudian pergi ke rumah kakek untuk menemui Djian. Meminta remaja itu untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dibuatnya.
Tepat pukul jam 8 malam, Kakek dan Bihan baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka berdua. Yaitu melayani para pemborong sayuran langganan kakek. Dua mobil pick up baru saja meninggalkan halaman rumah kakek. Bihan membersihkan sisa-sisa sayur mayur yang sebagian berserakan di lantai dan juga teras.
Di hari-hari tertentu Bihan kerja lembur di rumah Kakek. Seperti malam ini, jadwal para pemborong sayuran datang untuk mengambil pesanan mereka. Untuk itu Bihan berada di rumah Kakek hingga malam hari. Pemuda itu tak tega kalau membiarkan Kakek Jono mengerjakan semua itu sendiri. Meskipun ada Djian remaja itu tak banyak membantu.
"Bihan, jika sudah beres semua ayo masuk kita makan malam bersama. Kamu jangan pulang dulu sebelum makan ya."
"Iya kek, sedikit lagi ini."
"Kak Bihan…cepat lah aku dah lapar ini." Teriak Djian dari dalam rumah.
Rumah Kakek itu kecil, jadi Djian bisa melihat Bihan yang berdiri di depan teras dari meja makan.
"Iya.. Djian tunggu sebentar." Sahut bihan dari luar.
Selesai membersihkan sisa-sisa sayuran di teras Bihan masuk kedalam rumah untuk bergabung dengan Djian dan Kakek yang sudah menunggunya di ruang makan. Namun baru saja ia masuk dua langkah ke dalam rumah. Sorot lampu mobil menghentikan langkahnya. Pemuda itu memutar tubuhnya, melihat ke halaman rumah. Sebuah mobil bagus masuk ke pelataran rumah Kakek.
Bihan terpaku diam. Bertanya dalam hati, mobil bagus milik siapa yang datang ke rumah Kakek.
Tidak hanya Bihan. Kakek dan Djian, mereka berdua serentak berdiri dan melangkah mendekati Bihan. Mereka bertiga menunggu siapa orang yang keluar dari dalam mobil bagus itu.
Jantung Djian berdebar. Remaja itu berpikir apakah paman dan bibinya datang untuk menjemputnya.
Tak lama kemudian, dua pria dewasa keluar dari dalam mobil. Sontak mata Djian membulat ketika melihat siapa orang yang datang.
"Permisi…." Sapa Marvel dengan ramah, wajah indah bak malaikat dan senyum menawan.
"Ohhh..saya pikir siapa, ternyata nak Marvel. Masuk..masuk nak Marvel." kata Kakek dengan wajah berseri menyambut langganannya.
"Silahkan duduk, tapi maaf tempatnya sederhana."
"Gak apa-apa Kek, yang penting nyaman." jawab Marvel sembari menarik tangan Andaru untuk duduk di sampingnya.
Andaru menepis tangan Marvel kasar. Lalu pria itu duduk dengan angkuh di sofa sederhana milik Kakek.
Andaru duduk menyilangkan kakinya, kedua tangannya saling bertaut tepat diatas lututnya. Tatapan matanya melirik ke arah Djian yang masih berdiri tergugu di sisi Bihan.
"Bihan, buat kan teh untuk tamu kita," Kata Kakek pada Bihan. Namun yang diajak bicara masih bengong.
"Bihan…." panggil Kakek.
"Ahhhh iya Kek…"
"Buatkan mereka teh."
"I-iya kek.." Bihan berlalu pergi, tak lupa menarik pergelangan tangan Djian untuk turut serta dengannya.
"Om sombong itu pasti kesini mau minta ganti rugi kak," keluh Djian lemah.
"Ganti rugi karena kamu pecahin barang dia?"
"Iya lah..ganti rugi itu, apa lagi?"
"Tenang lah… mas Marvel itu orang baik dia tidak akan tega." Bihan menepuk pundak Djian.
Pemuda itu mengambil tiga cangkir teh dan piring kecil. Lalu ia letakkan di atas nampan.
"Kak Bihan ini dari tadi bilang baik baik terus. Yang kamu bilang baik itu bukan pemilik rumah gedong itu."
"Jadi..???"
Djian menepuk keningnya pelan.
"Pria tua sombong sok ganteng itu pemiliknya." Djian menunjuk ke arah Andaru.
Bihan melihat ke arah Djian menunjuk.
"Itu bukan pria tua. Itu namanya pria dewasa." Bihan memukul pelan kening Djian dengan ujung sendok
"Dan dia emang ganteng Djian." Bihan mulai menuangkan air panas kedalam tiga cangkir di atas nampan. Lalu mengaduk air teh itu.
"Ganteng apaan, Lagian mereka siapa sih kayaknya bukan penduduk desa ini."
"Aku juga kurang tahu, aku cuma tahu mas Marvel itu sering beli sayuran kesini tiap pagi."
"Aneh banget..dua orang pria tinggal satu rumah sebesar itu."
"Apanya yang aneh?" Bihan mengerutkan kening.
"Ya aneh harusnya mereka tinggal dengan anak dan istri."
"Yeee kalo mereka masih bujang gimana?"
"Bujang apa? Dah tua gitu." Cibir Djian.
"Dewasa Djian, mereka itu dewasa."
Tanpa mereka sadari, mereka berdua seperti dua orang gadis kakak adik yang sedang sibuk berdebat tentang dua tamu pria yang berkunjung kerumahnya. Kalau bahasa gaulnya itu di apelin. Sekalipun bukan malam Minggu. Dan mereka berdua juga bukanlah dia orang gadis.
Bihan membawa teh buatannya keluar, di ikuti Djian yang mengekor di belakangnya. Lalu ia suguhkan teh buatannya itu pada Kakek, Andaru dan teh terahir ia suguhkan pada Marvel. Cangkir teh yang Bihan pegang hampir saja tumpah ketika Marvel tersenyum menawan kearahnya sambil mengatakan terimakasih.
"Silahkan diminum tehnya," ucap Kakek.
"Iya kek, terimakasih." Kata Marvel sembari mengangkat cangkir tehnya lalu menyesap teh manis hangat. Semanis tubuh mungil yang berdiri di belakang Kakek Jono.
Marvel melirik ke arah Andaru. Dengan kakinya Marvel menyenggol kaki Andaru. Pria itu menoleh ke arah Marvel. Dengan tatapan matanya Marvel seolah meminta Andaru untuk meminum teh di depannya.
Dengan malas Andaru melakukan apa yang Marvel isyaratkan.
"Kalau boleh tahu, ada apa kok tumben nak Marvel malam-malam begini datang kerumah saya. Biasanya hanya pagi hari untuk beli sayuran saja." Kata kakek memulai pembicaraan.
"Iya Kek, begini saya datang kesini ka….."
"Cucu anda merusak barang milik saya." Potong Andaru tak sabaran dengan cara bicara Marvel asistennya.
Kakek menoleh ke arah Andaru. Pria berusia 73 tahun itu menatap teduh kearah Andaru, Kakek tersenyum lembut. Sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap Andaru.
"Djian sudah menceritakan semuanya, dan saya sebagai Kakek saya akan bertanggung jawab."
"Kakek…." Lirih Djian. Tangan kurusnya menyentuh bahu sang Kakek.
Djian tahu Kakek gak akan punya uang sebanyak harga guci itu.
Namun kakek tetap tenang. Laki-laki tua itu menyentuh tangan Djian di bahunya. Meyakinkan Djian untuk tidak khawatir dan merasa bersalah.
"Saya akan mengganti kerugian yang nak…." Kakek menggantungkan kalimatnya.
"Andaru."
"Ahhh..saya akan mengganti kerugian nak Andaru. Tapi jujur saya tidak bisa membayar sekaligus. Saya akan…"
"Biarkan cucu anda kerja pada saya selama tiga bulan tanpa gaji. Dengan begitu saya anggap dia melunasi kerugian yang saya tanggung." potong Andaru cepat.
"Gak sopan Daru…." Bisik Marvel ketelinga Andaru.
Namun Andaru hanya melirik kearah Marvel.
"Kerja?? Kerja sama nak Andaru? Tapi kerja apa? Djian masih sekolah lulus SMA saja belum." Bingung sang kakek.
"Jadi asisten rumah tangga di rumah saya." Jawab Andaru tegas dengan wajah tenang. Tetap dengan wajah angkuhnya.
"Gak sudi!!!!! " Sahut Djian cepat.
"Djian...gak boleh bicara seperti itu gak sopan," kata Kakek mengingatkan Djian.
"Tapi kek, aku bukan satu-satunya orang yang berbuat salah. Dia juga salah kek."
"Jangan pandai bersilat lidah kamu." Ketus Andaru. Dia tidak sadar ada orang tua duduk di depannya.
"Siapa yang bersilat lidah. Memang benar kan. Om juga buang barang milik orang lain tanpa izin." balas Djian, membela diri. Dia merasa bukan hanya dirinya satu-satunya orang yang berbuat kesalahan.
"Untuk itu bukanya aku bilang akan menggantinya."
"Tapi kakek gak akan mau sekalipun om ganti yang baru." tandas Djian.
"Kamu..itu…."
"Apa..apa…..kesalahan om itu lebih gak bisa di maafkan. Karena dengan sengaja membuang milik orang lain. Kalo aku kan gak sengaja mecahin guci mu."
"Djian..!" bentak Kakek.
Djian terdiam. Bibirnya terkatup rapat.
"Maafkan Djian, dia gak sopan."
"Ya anda benar." Sahut Andaru datar. Ia kembali menyesap teh miliknya yang tak lagi hangat.
"Begini...apa gak ada cara lain untuk mengganti rugi. Selain Djian masih sekolah, dia juga gak bisa apa-apa untuk urusan pekerjaan rumah. Dia hanya akan membuat kekacauan."
"Itu urusan dia, kalo dia mau hutangnya lunas. Dia harus bekerja pada saya. Masalah sekolah, dia bisa datang kerumah saya setelah pulang sekolah." Jelas Andaru.
Ia lalu bangkit berdiri, sekilas merapikan blazer rajut yang ia kenakan.
"Kalau begitu saya permisi..." pamit Andaru.
Begitupun dengan Marvel, pria itu hanya bisa tersenyum canggung kearah kakek tanpa bisa berkata apa-apa. Ia juga ikut berdiri dan berpamitan.
"Aku tunggu kamu besok siang setelah pulang sekolah." kata Andaru bernada memerintah.
Djian hanya bisa mendengus kesal.
Bersambung ..