Djian POV
Saat aku pulang hari sudah mulai sore. Hatiku rasanya kesal sekali. Kenapa aku harus mengalami kesialan seperti ini. Dikejar anjing dan bertemu dua orang dewasa yang menyebalkan.
Kusandarkan sepeda miniku di depan halaman rumah Kakek. Aku lalu berjalan menuju kran air yang berada di samping rumah untuk mencuci kaki dan tanganku. Meskipun kakek sudah usia 70 tahunan tapi kakek itu orang yang sangat menjaga kebersihan. Dia tidak akan membiarkan aku masuk rumah jika kaki ku berdebu.
Setelah memastikan kakiku bersih, aku masuk kedalam rumah.
Di dalam rumah aku tidak menemukan Kakek, mungkin kakekku itu masih berada di kebun belakang. Aku harus menemui kakek. Lain kali aku tidak mau mengantar sayuran ke rumah gedong itu lagi.
"Kakek ... " panggilku.
Kakek yang sedang berbicara sesuatu dengan Kak Bihan menoleh ke arahku.
"Kamu lama sekali Djian ... Kakek khawatir sama kamu," kata Kakek dengan wajah khawatir.
"Lain kali aku gak mau antar sayuran ke alamat itu lagi Kek," kataku langsung tanpa menjawab pertanyaan Kakek terlebih dahulu.
"Lain kali Kak Bihan saja yang antar" aku menunjuk ke arah Kak Bihan yang berdiri di belakang Kakek.
Pemuda yang berusia dua tahun lebih tua dariku itu mendelik tak terima.
"Itukan sudah jadi tugasmu Djian keliling anterin sayuran ke pelanggan." Kak Bihan berusaha menolak permintaanku.
"Memangnya kenapa Djian, pemilik rumah itu sudah lama jadi pelanggan kita sebelum kamu ada disini, pemilik rumah itu adalah pria yang ramah dan sopan," jelas Kakek.
Aku menggembungkan pipiku. Siapa yang ramah, pemilik rumah itu sombong, angkuh dan galak.
"Ramah dari mana Kek... orangnya itu sombong dan galak," kataku, sesuai dengan apa yang aku lihat.
Kakek menoleh ke arah Kak Bihan. Mereka berdua beradu pandang sesaat.
"Kamu yakin?? Gak salah alamat kan?" Tanya Kak Bihan meragukan perkataanku.
"Iya alamat ini kan?" Aku menunjukan kertas pemberian Kakek tadi siang.
"Rumah gedong cat warna abu-abu itu kan," jelasku lagi.
"Tapi pemiliknya gak kayak yang kamu omongin Djian...orangnya ramah." Kak Bihan masih tidak percaya dengan yang aku katakan
"Ramah apanya?" Aku jadi makin kesal.
"Sudah sudah....yang penting sayurannya sudah dikasihkan orangnya kan?" tanya Kakek.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Ini sudah sore, kamu boleh pulang Bihan"
"Iya Kek..." Kak Bihan lalu menyimpan semua alat berkebun di gudang belakang rumah kakek.
Aku mengikuti Kakek berjalan ke arah halaman belakang rumah.
"Aku pulang ya..." pamit Kak Bihan padaku.
"Hati-hati Kak.." kataku sambil melambaikan tangan pada Kak Bihan.
"Djian..."
"Iya Kek..."
"Tas sayurannya mana gak kamu bawa pulang?"
Aku terdiam sesaat. Mengingat dimana tas sayuran itu.
"Anu Kek...kayaknya ketinggalan di rumah gedong itu."
"Kok bisa ketinggalan, Kakek hanya punya satu. Kalau gak ada tas itu kamu pakai apa antar sayuran ke pelanggan."
"Kita beli baru saja Kek..." usulku.
"Heh..kamu ini, pemborosan, itu kan masih bagus. Besok kan hari Minggu..kamu ambil tas itu di rumah pelanggan kita itu ya.."
"Hah???"
"Kek..kita beli baru saja, gak usah di ambil," kataku, berharap kakek mau mendengarkan aku.
"Djian...." Kakek melihat ke arahku dengan tatapan tegas. Seolah memintaku untuk tidak membantah perintahnya.
"Baiklah..." Aku menundukkan kepala lemah lalu melangkah masuk kedalam rumah.
Huffff......besok aku harus kembali ke rumah gedong itu, bertemu dengan dua pria aneh itu lagi. Rasanya kesal sekali.
Apalagi membayangkan wajah pria angkuh itu.
Tapi kenapa aku jadi membayangkan wajahnya. Aku buru buru menggelengkan kepalaku, menghalau bayangan yang tak seharusnya melintas dalam benakku.
Aku segera mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mandi aku masuk ke dalam kamarku yang kecil. Rumah Kakek tidak besar, bentuknya kecil dan sederhana. Tapi rumah Kakek sangat nyaman. Dulu Mama dan Papa membawaku ke rumah ini saat liburan sekolah saja itupun hanya beberapa kali.
Saat tinggal bersama Paman dan Bibi. Di kota aku sebenarnya tak kekurangan satu apapun. Mereka merawatku dengan baik. Namun tetap saja aku merasa tak nyaman tinggal bersama mereka. Apa lagi dalam diriku aku merasakan ada yang berbeda dengan orang lain. Jika aku tinggal di kota aku pasti akan terjerumus dalam pergaulan bebas. Jadi kesimpulannya aku pindah hidup di desa bersama Kakek karena ingin melindungi diriku sendiri.
Kuraih bingkai foto Mama Papa dari atas meja belajarku. Kemudian aku duduk di atas kasur tempat tidur. Aku pandangi foto Mama Papa.Mereka berdua tersenyum bahagia sambil menggendongku saat masih bayi.
"Djian kangen Mama Papa..." kataku pelan.
Tak bisa kupungkiri kata-kata si tuan angkuh itu masih terngiang di telingaku. Selama satu tahun aku menyimpan duka kehilangan ini seorang diri. Aku tidak pernah menunjukan rasa sedihku kehilangan mereka berdua di depan orang lain tapi sesungguhnya aku masihlah berduka.
Aku tahu pria tua yang sombong itu tidak bermaksud mengingatkanku pada kedua orangtuaku yang sudah tiada. Namun tetap saja rasanya dia seperti mengingatkanku bahwa aku tak lagi memiliki orang tua.
Tok...tok....
Lamunanku buyar ketika mendengar pintu kamarku diketuk.
"Djian..." panggil Kakek dari balik pintu.
"Iya Kek..."
"Waktunya makan malam."
"Baik Kek."
Aku bergegas mengusap air mataku lalu meletakkan bingkai foto kembali di atas meja.
Kubuka pintu kamar, Kakek masih berdiri di depan pintu.
"Ayo makan."
Kakek berjalan ke arah meja makan kami yang sederhana. Jauh berbeda dengan meja makan rumahku dulu di kota.
Aku dan Kakek duduk saling berhadapan menikmati makan malam yang dimasak oleh kakek tentunya.
Makan malam sederhana lauk ikan goreng dan tumisan dari sayuran yang Kakek petik di kebun.
"Gimana setelah tinggal di sini dua bulan? Apa kamu betah?" tanya Kakek.
Tumben...biasanya kakek tak pernah bertanya tentang hal ini padaku.
Aku mengangguk, seraya melirik kearah Kakek. Mengamati ekspresi serius di wajahnya.
"Kalo kamu betah di sini Kakek senang Djian...kamu jadi bisa menemani Kakek di sini, sebenarnya Kakek kasihan sama kamu, kamu sejak kecil hidup di kota tapi sekarang harus hidup di desa bersama Kakek. Ini pasti sulit buat kamu."
"Aku senang kok Kek hidup di sini. Kakek jangan khawatir," kataku sambil tersenyum.
"Tapi Kakek ini sudah tua, Kakek tidak mungkin bisa menjagamu terus, kamu harus tetap komunikasi dengan Paman dan Bibimu."
Aku terdiam, aku mulai mengerti kemana arah pembicaraan Kakek sekarang.
"Mereka menghubungi Kakek, mereka ingin bicara sama kamu Djian.."
"Kakek kan tahu sejak tinggal di sini aku tidak pernah menggunakan ponselku."
"Ya itu...kenapa begitu, mereka jadi tidak bisa bicara denganmu"
"Paman dan Bibi bisa menghubungi nomer Kakek jika mau bicara denganku Kek.."
Kakek mendesah pelan.
"Mereka mungkin tidak merasa leluasa kalo lewat Kakek."
Aku tak menjawab lagi. Aku kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutku.
Paman dan Bibi adalah keluarga dari Papa. Sedangkan Mama adalah anak tunggal. Mama tidak punya saudara lain.
"Akan aku aktifkan lagi ponselku Kek."
Kataku akhirnya. Aku tahu mungkin Kakek merasa tidak enak hati pada Paman dan Bibi. Seolah Kakek melarangku untuk berhubungan lagi dengan mereka. Padahal tidak. Aku sendiri yang ingin menjauh dari mereka.
"Itu lebih baik," ucap Kakek sambil tersenyum kearahku.
xxxx
Hari ini pagi hari sangat cerah namun tak secerah suasana hatiku.
Sekarang ini aku berdiri di pinggir sepeda miniku depan pintu gerbang.
Kupandangi pintu gerbang di depanku begitu lama. Rasanya kakiku ini sangat berat untuk melangkah masuk. Namun aku harus. Jika tidak membawa tas itu pulang. Kakek akan marah padaku. Sekalipun aku menggantinya dengan yang baru, Kakek tidak akan mau.
Setelah cukup lama berdiri termangu depan pintu gerbang, aku melangkah masuk sembari menuntun sepeda miniku. Kebetulan sekali pintu gerbang tak lagi di kunci aku bisa masuk tanpa memanggil si pemilik rumah.
Ting..tong...
Kutekan bel pintu di depanku. Sampai beberapa menit tak ada tanda-tanda ada orang datang membukakan pintu.
"Apa aku kepagian.." gumamku.
Tong tong....
Aku kembali menekan bel pintu.
"Grekkkkkk... " pintu terbuka.
"Hah..kamu..."
Berdiri di depanku pria yang kemarin ingin kupanggil Mas.
"Selamat pagi," sapaku basa basi.
"Pagi juga.." balasnya. Sambil mengulas senyum.
"Ada apa?"
"Mau ambil tas sayurku ketinggalan di sini," kataku tanpa membalas senyuman orang di depanku ini.
"Tas..." pria dewasa itu tampak berpikir sejenak.
"Ohhh tunggu sebentar, mungkin Andaru tahu." Kemudian pria itu memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkanku yang berdiri depan pintu.
Tak lama kemudian, dia kembali lagi namun dengan raut wajah aneh.
"Djian...mau masuk dulu, sarapan dulu."
Aku diam. Tak mengerti maksudnya. Aku datang untuk mengambil tas Kakek. Kenapa dia menawariku sarapan.
"Tasku mana?" Tanyaku tanpa peduli dengan ajakan sarapan yang ia tawarkan.
"Hehe....masuk dulu Djian ayo masuk..nanti kuambilkan tasmu," ucapnya sambil menggaruk kepalanya.
Wajah pria itu jadi tampak gelisah dan aneh.
Aku terpaksa mengikuti apa yang ia katakan. Yang penting aku pulang dengan membawa tas milik Kakek.
"Ayo Djian sini..duduklah kita sarapan dulu."
Pria itu menggeser kursi yang dimaksudkan untukku.
Aku melirik ke arah pria angkuh yang sedang sibuk menggulir layar ponselnya sambil menyesap kopi di tangannya tanpa terpengaruh dengan kedatanganku.
"Ini Djian..makan lah.." si pria satu lagi meletakkan piring berisi sandwich.
Ahhhh sudah dua bulan aku tidak makan makanan seperti ini.
"Aku kesini bukan untuk sarapan, aku mau ambil tasku"
"I-iya tapi makan lah dulu..nanti aku ambilkan"
"Kenapa aku harus makan, aku tidak bisa lama-lama cepat mana tasku" ucapku dengan nada sedikit meninggi.
Wajah pria dewasa yang ingin kupanggil Mas itu sangat aneh. Aku harus waspada, aku kan gak kenal mereka.
"Tas itu sudah kubuang!"
Seketika aku menoleh ke arah pria angkuh yang baru saja berbicara tanpa menoleh ke arahku.
"Apa?!kamu buang??!!" kejutku tak percaya. Enak saja dia bilang buang.
"Iya aku buang!" ulangnya lagi.
"Ahhh Djian... dengarkan dulu Andaru tidak sengaja, maafkan dia. Dia tidak tahu itu punya mu. Akan aku ganti dengan tas yang baru."
"Ini bukan masalah ganti baru. Tapi dia membuang tasku, apakah sopan membuang barang milik orang lain?" kataku sambil berdiri.
Aku geram. Aku marah.
Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu menatap tajam ke arahku.
"Kenapa kamu merepotkan sekali, tas itu sudah kubuang ke tong sampah. Aku bisa kasih kamu satu truk tas seperti itu sebagai gantinya," ucapnya dengan angkuh.
"Aku tahu kamu banyak uang, tapi tidak semua bisa kamu ganti dengan uangmu!" Aku setengah berteriak.
"Aku gak peduli yang jelas tas jelek itu sudah kubuang!!"
Aku hampir tak percaya orang tua ini bisa bicara tanpa ada sopan santun.
"Aku juga tidak mau tau!! kamu sudah membuang barang milikku. Kamu harus mencarinya!"
"Cari saja di tong sampah, aku tidak sudi mencari tas itu!"
"Dasar orang sombong!!!!" Aku memutar tubuhku lalu melangkah meninggalkan rumah gedong yang penghuninya tidak sopan.
Aku berjalan cepat dengan hati panas ingin marah. Karena aku berjalan tanpa melihat sekelilingku tanpa sengaja tanganku menyenggol sebuah guci dekat ruang makan.
"Pranggg......!!!!!!"
Guci pecah tepat di sampingku.
Aku berdiri gemetar. Apa yang sudah aku lakukan. Ini kan guci mahal. Kenapa aku sampai memecahkan guci ini. Mati aku.
"Ya...ya....yaaa.....apa yang kamu lakukan kenapa kamu memecahkan barang antik ku!!! " Teriak pria angkuh itu sambil berjalan kearah ku.
Aku menelan ludah, namun bukan karena melihat dia begitu menawan dengan jubah tidur yang ia kenakan.
Tapi aku takut disuruh ganti rugi. Uang dari mana, Kakek juga tak akan punya uang puluhan juta untuk ganti rugi.
"Daru...sabar..tenang lah..."
"Bagaimana aku bisa tenang?! Bocah ini merusak barang milik ku!!"
Apa??dia merasa marah karena aku merusak gucinya. Kalau dia marah lalu kenapa dia tega membuang tas Kakek ke tong sampah.
"Sekarang kamu marah kan, begitu juga denganku. Aku juga marah karena kamu buang taskul!"
"Yaaaaaa!!!!!!! Tas usangmu tak sebanding dengan guciku ini!"
"Aku tidak peduli kita satu sama!!" Aku tak mau kalah.
Lalu aku melanjutkan langkahku menuju pintu ruang tamu. Untung saja pintunya terbuka aku bisa langsung keluar.
"Heiiiii bocah...kamu harus tanggung jawab!!!!"
Aku tak peduli dengan teriakan pria tua dan angkuh itu.
Salah siapa punya mulut kalau bicara tidak disaring dulu. Bicara dan berperilaku seenaknya saja pada orang lain.
"Brakkkk" tak lupa kututup pintu dengan keras.
"Huft....dasar orang tua," gerutuku kesal.
Aku bawa sepedaku keluar dari halaman rumah si pria angkuh.
Hahh..aku harus memberikan alasan apa pada Kakek. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya kalau tas itu sudah dibuang oleh pria tua itu.