Rumah yang sama

1535 Words
Author pov. Marvel datang dengan membawa dua plastik berisi belanjaan kebutuhan dapur. Pria itu bergumam sendiri seingatnya dia tadi menutup pintu gerbang. Lalu kenapa sekarang pintu gerbang terbuka lebar. Marvel makin dibuat heran saat pria itu melangkah menuju pintu masuk, di halaman ada sepeda mini tergeletak asal dengan sayuran segar berserakan di sekitar sepeda. Dalam hati pria itu bertanya-tanya sepeda siapa, sejak kapan rumah ini kedatangan tamu. Sesampainya di depan pintu masuk, Marvel merogoh saku celananya untuk mengeluarkan kunci rumah. "Grekkkk." Pintu terbuka. Marvel terdiam. Melihat suasana dalam rumah dingin mencekam. Bos sekaligus sahabatnya duduk melipat kedua tangannya di d**a dengan kaki menyilang. Memandang lurus ke depan, ke arah seseorang bertubuh mungil dan berkulit putih, sedang berdiri sambil menundukkan kepala. Kedua tangannya bertaut memainkan ujung kukunya. "Ada apa ini?? Mana malingnya?" suara Marvel memecah kesunyian. "Bocah itu malingnya!" Jawab Andaru, sambil menunjuk ke arah Djian dengan dagunya. Marvel menoleh ke arah Djian, matanya melihat remaja bertubuh kecil itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Ta-tapi, anak kayak gini mau maling gimana?" Marvel meragukan omongan bosnya, daripada seorang pencuri, anak di depannya itu lebih seperti seorang anak imut sedang kehilangan ibunya. "Jangan tertipu wajah polosnya Vel, dia pandai berkelit," kata Andaru dengan tatapan angkuhnya. Marvel yang sangat paham dengan watak Andaru menghela nafas pelan. "Nama kamu siapa?" tanya Marvel dengan lembut. Mendengar suara Marvel. Djian berani mendongakkan wajahnya. Marvel sempat tersenyum gemas saat melihat tatapan mata anak kecil di depannya berkedip-kedip imut. "Djian….zilldjian." Marvel kembali tersenyum. "Kamu kok bisa masuk sini?" "Aku sudah bilang sama Om itu." Djian menunjuk ke arah dimana Andaru duduk. "Aku ini bukan pencuri, aku gak sengaja masuk rumah ini. Tadi aku dikejar anjing jadi aku lari masuk sini, karena rumah ini gerbang dan pintunya kebuka," jelas Djian untuk kedua kali. Berharap orang yang satu ini bisa percaya dan melepaskannya. Tidak seperti pria angkuh yang duduk di sofa itu. Tidak percaya dengan penjelasan orang lain. Tapi ngotot minta penjelasan. "Bohong Vel, itu alasan dia saja," sahut Andaru masih tidak percaya. "Tuh liat dari tadi Om itu gak percaya sama aku," adu Djian pada pria yang menurutnya lebih waras. "Ya sudah...kamu pulang saja, lain kali hati-hati jangan sampai dikejar anjing lagi," kata marvel mengizinkan Djian untuk pergi. "Vel, kamu gak bisa begitu. Anak ini pasti akan mencuri sesuatu dari rumahku ini" Andaru tidak terima dengan keputusan Marvel asistennya. "Aku bukan pencuri Om, dari tadi menuduh tanpa bukti." "Buktinya kamu masuk rumah ku tanpa permisi!" "Tapi mana, aku gak ambil apa pun yang ada di dalam rumah ini!" "Karena kamu sudah lebih dulu ketahuan oleh ku." "Sudah aku bilang aku ini dikejar anjing tadi, salah siapa rumahmu pintunya terbuka." "Hah???? Kamu malah jadi menyalahkan rumahku. Marvel..panggil orang tua gadis gagal tumbuh ini." Djian melongo tak mengerti. Apa yang barusan pria tua itu katakan 'gadis gagal tumbuh' Djian meraba rambut dan dadanya. "Dasar pria tua, faktor usia membuatnya gak bisa bedain mana laki-laki dan gadis" gerutu Djian dalam hati. "Aku yakin anak kecil ini gak bohong Daru.." kata marvel membela. Namun Djian tidak suka mendengar kalimat pembelaan itu. Ternyata rumah ini di isi dua pria yang karena faktor usia penglihatan mereka jadi rabun. "Kamu lebih membela bocah ini?" "Aku membela yang benar Daru, anak domba seperti dia bisa mencuri apa sih.." "Hah..kamu ini sudah tertipu sama wajah polosnya. Gak bisa!!! kamu harus panggil orang tuanya. Apa mereka tidak bisa mendidik anaknya dengan baik!?" Djian menatap tajam kearah Andaru, beradu pandang dengan sorot mata tajam yang tadi sempat membuatnya berdebar. "Panggil saja. Aku senang jika kamu bisa memanggil kedua orangtuaku. Aku juga sangat merindukan mereka. Panggil mereka di kuburan," kata Djian dengan nada kesal. Marvel berdehem beberapa kali. Ia ingin tertawa tapi dia tahu ada kesedihan dalam kalimat itu. Andaru terdiam. Mendadak pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Suruh bocah ini keluar dari rumahku Vel." Perintah Andaru dengan wajah datar. Pria itu tak lagi ingin melihat kearah Djian. Marvel paham dengan perubahan suasana hati Andaru. Pria itu lalu melangkah ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Djian. Tanpa permisi terlebih dahulu Djian langsung melangkah pergi menuju pintu keluar. "Hati-hati di jalan Djian, jangan lewat gang ini nanti dikejar anjing lagi," kata Marvel mengingatkan. Djian hanya mengangguk. Remaja itu lalu mengangkat sepedanya, merapikan sayuran yang berserakan. Ia menyesali kesialan yang menimpanya hari ini.Gara-gara kejadian ini ia jadi terlambat mengantar sayuran ke rumah pelanggan kakeknya. Djian menuntun sepedanya ke luar gerbang. Ia kemudian naik ke atas sepedanya dan meninggalkan rumah yang membuatnya membuang waktu cukup lama. Suasana hati Djian jadi tidak baik. Ia teringat kata kata pria angkuh tadi,yang mengatakan orang tuanya tidak bisa mendidiknya dengan baik. Apa yang orang itu tahu tentang orang tuanya, Papa Mamanya adalah kedua orang tua yang baik di dunia ini. Namun tuhan lebih menyayangi kedua orangtuanya. Sudah hampir tiga puluh menit Djian berputar-putar mencari alamat rumah yang Kakek berikan padanya, tapi Djian selalu berakhir di depan rumah yang sama. Djian berdiri, di depan pintu gerbang ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Kenapa rumah ini lagi sih," gerutu Djian. Karena hari sudah mulai sore mau tak mau Djian memaksa dirinya untuk masuk ke halaman rumah di depannya. Djian menekan tombol pada sudut pintu. Ting tong…. Tak lama kemudian pintu terbuka. "Mau apa lagi kamu?" Andaru berdiri di balik pintu rumahnya. "Mau antar sayuran," jawab Djian dengan nada ketus. "Sayuran apa?? Aku gak butuh pergi sana!" usir Andaru. "Aku kesini cuma mau antar ini pesanan, yang pesan siapa mana aku tahu," jawab Djian dengan wajah kesal. "Ini..sayuran yang di pesan, ambil sayurannya dan bawa sini tasnya!" Djian menyodorkan tas yang ia pegang kearah d**a Andaru dengan paksa. Pria itu terpaksa menerima tas berisi sayuran itu. Djian juga malas untuk kembali ke rumah ini, tapi mau gimana lagi kalau alamat yang Kakek berikan ternyata adalah rumah ini. "Marvel…!!Marvel...!!" teriak Andaru, memanggil sahabat sekaligus asistennya. "Cepat kemari, urus bocah ini" "Om ini, tinggal bawa masuk dan ambil sayurannya lalu balikin tasku sini, aku juga malas lama-lama berdiri di depan rumah ini!" "Kamu itu siapa??? Berani ngatur aku!" "Oh ya Tuhan…" Djian memutar bola mata malas. Kok ada orang ribet seperti ini. "Ada apa sih? Aku kan lagi mandi." Suara Marvel datang dari arah belakang Andaru. "Ini urus gadis gagal tumbuh ini," kata Andaru seraya memberikan dengan kasar tas sayur di tangannya pada Marvel. "Ga-gadis gagal tumbuh apanya???!!!!" Djian kembali meraba dadanya yang rata. Andaru menoleh sekilas sebelum ia melangkah pergi masuk kedalam rumahnya. Sambil berkata.. "Banyak-banyaklah makan makanan yang bergizi, seusiamu ini harusnya sudah mulai pertumbuhan," kata Andaru sambil berlalu pergi. "Om Om c***l kenapa memperhatikan tubuh orang lain ha..??!!!" Teriak Djian tak terima. Lagi pula sipa di sini yang seorang gadis. "Hehhh maafkan dia, temanku itu memang suka asal bicara. Kamu masih anak-anak gak seharusnya dia ngomong seperti itu." Djian mendengkus. "Ini lagi sama saja," gumam Djian tidak jelas. "Sayuran itu dari Kakek, menurut alamat yang Kakek kasih, rumah ini yang pesan." "Ohhhh...iya iya..hari ini sebelum pergi belanja kebutuhan dapur,aku mampir ke rumah Kakek Jono untuk beli sayuran.Tapi karena tadi belum dipetik jadi aku pesan untuk diantar ke rumah,jadi itu adalah kakek mu?? Kenapa aku gak liat kamu kalo lagi mampir beli sayuran" terang Marvel. "Benarkah, mungkin kita belum jodoh makanya gak ketemu." "Hehehe gitu ya...apa sekarang kita berjodoh makanya bertemu." Marvel tersenyum manis sekali. Meskipun pria di depannya ini memiliki senyum yang manis tapi Om tua yang lebih dewasa dan galak tadi lebih memiliki senyum memikat. Sekalipun yang ia lihat tadi senyum mengejek yang menyebalkan. "Kalo gitu aku permisi dulu," pamit Djian "Eh tunggu….lain kali aku bisa pesan sayuran segar dari kamu saja kan...punya nomer telpon?" "Gak punya nomor telepon," dusta Djian. "Ohhhh gitu ya…." Marvel tampak sedikit kecewa. Namun apa peduli Djian. Dia tidak akan memberikan nomor ponselnya pada sembarang orang. Lagian sejak pindah tinggal di desa dengan kakeknya. Djian jarang menggunakan ponsel pintarnya. Meskipun di desa ini sudah ada jaringan internet. "Permisi Om…" "Eh tunggu…." Cegah Marvel lagi. "Jangan panggil Om….aku belum setua itu. Panggil saja Kakak, Mas, atau Bang" kata Marvel sambil meringis memamerkan giginya yang putih terawat. "Kamu bilang aku anak kecil,banak kecil manggil pria dewasa ya Om, mana ada Mas!" Djian lalu memutar tubuhnya untuk segera pergi meninggalkan rumah yang di isi dua pria dewasa aneh. Yang satu angkuh dan galak. Yang satu lagi sok kenal sok dekat. Menyebalkan. Harusnya dia di pertemukan dengan gadis-gadis cantik natural khas gadis desa. Bukan dua pria tua yang aneh seperti itu. Marvel hanya bisa memandangi si anak imut yang menolak memanggilnya Mas pergi dari halaman rumah bosnya. "Lucu banget sih…" kata Marvel sambil senyum-senyum tidak jelas. "Apa kamu mulai belajar jadi p*****l??" suara bariton Andaru mengejutkan Marvel. "Kagetin aja sih…" entah sejak kapan Andaru berdiri di belakangnya. "Cepat masak sayuran itu..aku sudah lapar." "Sabar... sabar...aku ini asisten di kantor mu, bukan asisten rumah tangga mu," sungut Marvel sambil berjalan ke arah dapur. "Kalo di sini kamu merangkap segalanya, asisten rumah tangga, bodyguard, tangan kananku dan yang lainnya." "Dasar orang tak berperasaan," gerutu Marvel pelan. "Aku dengar ocehanmu Vel!" Andaru berteriak dari ruang tamu. Pria itu duduk sambil membaca surat kabar yang baru saja dibeli oleh Marvel. Bersambung….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD