Aku, Kamu, Kita (part 1)

2096 Words
disebuah ruangan yang gelap gulita,. seseorang tengah menyalakan laptopnya, seperti mengetik sesuatu.. wajah seriusnya muncul ketika melihat sesuatu di laptopnya.. "tidak mungkin..." ujar orang itu, sambil beberapa kali menekan tombol 'enter'. sepulang dari sekolah, akira kembali dicegat, siapa lagi kalau bukan seojin and the gang.. tapi kali ini yang dibawa cowo,. bukan cewe. "apa-apaan ini?" tanya akira ke seojin. "ah bukan apa-apa kok.. mereka bodiguardku.., btw, bisa kita bicara berdua.. aku mau bicara hal yang sedikit privasi.." ujarnya. setelah memilih tempat, mereka duduk berdua di sebuah kursi panjang, dan masing masing duduk di ujung kursi, menyisakan ruang kosong di tengahnya. "apa kalian sudah berbaikan sekarang?" tanya seojin tiba-tiba. "hah? maksudmu?" kaget dengan pertanyaan yang di lontarkan seojin. "hahahaha... jangan pura-pura nggak tau deh... aku melihatnya, dengan mata kepalaku sendiri, kalian boncengan ke sekolah." "aku sudah menolaknya, dia yang memaksa.." balas akira. "sudah kuduga... dia akan membahas hal ini, bagaimana mungkin dia bisa bersikap baik padaku?" pikir akira. "aku sudah pernah bilang kan... mikha milikku. tak akan ada masa depan jika dia bersamamu. ataukah harus kuungkapkan semuanya, bahwa kau seorang gay yang menyukai sahabatnya sendiri.." "(terdiam sejenak) mungkin benar yang kau ucapkan, tapi keputusan di tangan mikha..." jawab akira. sepertinya akira benar-benar berubah. tepat saat itu, telepon seo jin berdering, akira menggunakan kesempatan itu untuk menjauh darinya. dilain pihak., keluarga zero tengah berkumpul di ruang tamu.. mereka sepertinya kelelahan... mengkhawatirkan zero yang masih menghilang. bahkan om fatir dan tante nirina mengambil cuti dari kerjaan mereka untuk mencari zero. namun, tak berapa lama, terdengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali. mereka berlari menuju suara itu... dan benar saja... zero tengah berdiri disana... "aku pulang...." ujarnya yang langsung mendapat pelukan hangat dari tante nirina dan om fatir.. begitu juga dengan rui. "kamu kemana saja nak... kamu nggak pa-pa?" tanya tante nirina yang langsung cek keadaan zero. "aku nggak pa-pa ma... maaf membuat mama dan papa khawatir..." jawab zero yang kemudian dipeluk mama papanya. "syukurlah kalau nggak kenapa-napa.. zero... mama mohon sama kamu... jangan lagi kamu seperti ini... kamu anak mama, kakaknya rui... sampai kapanpun... mendiang zeus juga sama... kita adalah keluarga... " ujar mama dengan suara seraknya... kemudian memeluk zero lagi... "maafin zero ma... dan terimakasih.." balas zero. "kak zero.. rui minta maaf atas ucapan rui.. rui nggak bermaksud bicara seperti itu... hanya saja... pokoknya rui minta maaf..." ujar rui sambil menyodorkan tangannya, berharap zero menyambut tangannya tanda mereka berbaikan... namun ternyata zero tidak membalas jabat tangannya, namun memeluk rui. "aku juga minta maaf... " kata zero memeluk adiknya itu dan tidak hanya itu saja... zero berbisik ditelinga rui. "aku maafkan jika kamu mengubah nama karakter di novelmu itu.." ujarnya yang membuat rui membatu melihat senyuman kakaknya itu. "zero... sudah makan? maaf mama nggak nyiapin makanan, kita pesan makan saja yaa.. zero mau makan apa?" tanya mama. "papa pesan seafood..." "mama tanya ke zero, bukan papa..." mendengan jawaban mama, kami tersenyum, tertawa... "apa aja yang mama suka.." jawab zero yang mencairkan suasana. malam itu, keluarga tante nirina terasa damai.. semua berkumpul, makan bersama, canda tawa menyelingi pembicaraan mereka.. "sekarang, ini adalah rumahku, keluargaku.. kau setuju kan zeus..." pikir zero sebelum semuanya larut dalam kedamaian. tak berapa lama, semua larut dalam keheningan, dan zero memulai pembicaraan. "ma, pa, rui, ada yang ingin zero sampaikan." "bicaralah.." ujar mama. "begini... mama, papa, rui, kalian sudah paham keadaan zero kan? dalam tubuh zero, ada zero yang lainnya... dan mungkin mereka pernah muncul dan menyakiti semua orang, zero minta maaf..." "zero tetaplah zero, putra kami... kami tidak masalah dengan itu, lagipula zero tidak pernah menyakiti kami, walaupun sering membuat kami khawatir..." ujar mama sambil mencubit pipi zero. "dan mungkin, kamilah yang sering membuat zero tidak nyaman dengan kami... dan mengenai kelahiranmu..." lanjutnya. "maaf, zero selalu bikin khawatir semuanya, dan zero tau, zero adalah putra adopsi... salah satu dari kami masih mengingatnya... zero sangat berterimakasih, kalian merawat zero dengan baik, bahkan ketika zeus masih hidup... zero sungguh berterimakasih... sampai sekarang,.. zero tidak tau, bagaimana harus berterimakasih..." ujarnya dan matanya mulai berkaca-kaca. "apa maksud zero dengan mengatakan ini semua tiba-tiba?" tanya papa yang mulai terlihat serius. "zero sudah memutuskan... tentang masa depan zero,... zero ingin segera bekerja begitu lulus sekolah, dan zero ingin hidup mandiri...dan juga zero ingin tau masa lalu zero... apakah zero masih memiliki keluarga di luar sana..." "sejujurnya, papa ingin zero tetap menjadi putra kami... mengenai masa lalu zero.. sampai kapanpun tidak akan hilang karena itu takdir zero, tetapi, zero yang sekarang adalah putra kami, kita berharap zero tetap bersama kami... namun jika zero memang ingin tau masalalu zero, kami tidak masalah... kami akan bantu sebisa kami... dan ingatlah... ini rumahmu dan keluargamu... jadi jangan lupa untuk kembali..." ujar papa. "dan untuk kerja..... hmmmm" lanjut papa kemudian diam berpikir. "mama dulu berharap, zero berpendidikan tinggi, mendapat kerjaan yang mumpuni dan sesuai... tapi zero malah memilih lulus SMA langsung kerja... bagaimana pa? sejujurnya mama kurang setuju.. bagaimana kalau setelah kuliah?" kata mama. "hmmm.... hmmmmm....." papa masih berfikir keras. "kalau rui, setuju aja sama apapun pilihan kakak... tapi ntar jangan nyesel yaaa.... rui mau kuliah kelak.. jangan iri yaaa.... heheheh" ujar rui menyela dan langsung dapat cubitan dihidungnya. "aduh! sakit kak.." rintihnya kemudian sambil menampis cubitannya. "papa putuskan... setuju dengan pilihan zero. sebagai anak laki-laki, pengalaman di dunia luar itu penting. mumpung masih muda... bahkan dulu.. papa juga melancong ketika masih muda. kalau tidak salah saat itu umur papa masih seumuran zero,.. keluarga kami tidak beruntung... dan bla bla bla bla" entah kenapa papa jadi cerita panjang lebar tentang masa muda papa,.. dan sepertinya rui tertarik, dia memandang dan mendengarkan cerita papa dengan sungguh-sungguh, tapi mama hanya menghela nafas dan sedikit berbisik 'mulai deh, cerita masa muda..' lalu melanjutkan makan malamnya, dan mau tak mau zero mendengarnya sampai selesai... " papa KERENNNN...." puji rui begitu cerita selesai, dan terlihat papa bangga layaknya pinokio dengan hidung panjangnya. "tentang keputusan zero tadi... terima kasih..." kata zero setelah papa selesai cerita. "iya... sama-sama... tapi inget yaa.. zero punya rumah sekarang, jadi pulanglah kapan-kapan."ujar papa. "baik.. trima kasih pa.. ma.." balas zero. keesokan paginya... "pagi kak..." sapa rui yang bertemu kakaknya di kamar mandi. zero sedang menggosok giginya, sementara rui sedang mencuci mukanya. "kau sudah menggantinya?" kata zero membuka pembicaraan. "kakak... ideku muncul begitu saja.. tidak bisa dirubah begitu saja.." "aku tidak melarangmu menggunakanku sebagai karakter di novelmu, tapi aku keberatan jika kau menggunakan namaku juga.. aku hanya ingin kau megganti namaku di novelmu..." mendengar pembelaan kakaknya... rui pun kaget seakan nggak percaya pada apa yang ia dengar. "benarkah? kakak nggak keberatan? oke.. kalau cuma ganti nama karakter mah bisa diatur..." ujar rui yang kemudian mendapatkan cubitan di kedua pipinya. "sakit kakak..." jawab rui sambil mengelus pipinya yang memerah. "zero?!" panggil mama. "ya..." jawab zero, segera menyelesaikan rutinitas paginya. "ada apa ma?" tanya zero kemudian ketika menemui mamanya. "begini, hari ini... zero ikut mama kesekolah... karena zero sempat cuti sekolah... mungkin zero akan masuk kelas di tahun berikutnya... jadi lebih lama setahun.. nanti kita bicarakan dengan wali kelasmu, baiknya bagaimana..," lanjut mama. "emm.. iya ma, zero siap-siap dulu.." ujar zero kembali kekamarnya, bersiap-siap. waktu menunjukkan pukul 09.00, setelah mama ijin telat ke kantornya, beliau bergegas menyalakan mobil, berangkat ke sekolah zero. sesampainya di sekolah, diruang kepala sekolah, dan ada juga guru wali kelas zero sebelumnya... "karena zero tidak masuk sekolah cukup lama... kami memutuskan agar zero tetap mengikuti kelasnya tahun depan... apakah diperbolehkan pak kepsek?" "melihat riwayat absennya zero, zero masih diperbolehkan mengikuti sekolah... apakah zero tidak keberatan, kalau dia mundur setahun...? mungkin kedepannya teman sekelasnya dulu bakal mengejeknya karena dia jadi adik kelas mereka?" "... tidak masalah pak kepala sekolah... saya tetap ingin belajar" jawab zero, yang kemudian dibalas anggukan dari kepala sekolah. "baik, karena telah sepakat, zero kembali masuk di bulan juli depan.. nanti info kapan masuknya akan di hubungi guru wali kelasnya." "baik, pak..., kami pamit dulu, terimakasih." kemudian keluar dari ruang kepsek. "met pagi tante..." sapa ren yang bertemu di ruang guru.. "oh.. nak ren... ya pagi... waahh... sekarang sibuk banget ya?" "nggak juga kok tante... ini cuma ngantar berkas doang..." jawab ren yang kemudian meletakkan bawaannya di meja guru. "mau ngobrol sama zero? ayo pindah tempat.." ajak tante, yang kemudian mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. "nggak usah tante... lain kali saja tante..." "tapi sepertinya ada yang mau zero katakan... benar kan?" kata mama, yang sekilas memandang zero yang memegang ujung baju mama. "mm... (mengangguk)" "ya sudah, kalian bicara saja dulu... mama tunggu di mobil..." sepeninggal mama, keadaan menjadi canggung sebentar, kemudian ren membuka pembicaraan. "syukurlah kamu kembali... darimana saja kamu?" "aku hanya sedikit merenung.... mm.... maaf merepotkanmu." "lalu? kapan kau kembali kesekolah?" "bulan juli depan, aku dihitung mangkir setahun... jadi mungkin, ketika aku masuk sekolah nanti, kau menjadi seniorku..." "oh begitukah?" ujar ren dengan senyum kecil di bibirnya... "kita sambung lain waktu... tante sudah menunggumu..." lanjutnya. "sekali lagi... maaf dan terimakasih banyak... " ujar zero kemudian berbalik meninggalkan ren yang masih berdiri melihatnya berlalu pergi... belum sampai di tempat parkir... zero dicegat beberapa orang.... siapa lagi kalo bukan si ketua kelas, laily and the gang. zero dibawa mereka ke kelasnya, dan siapa sangka... beberapa orang disana menyambutnya. "selamat datang zero... syukurlah kamu sudah sembuh..." ujar faza. kaget dengan perlakuan itu, zero bingung bengong... "hallo... zero... kamu masih disini kan ya?!" tanya laily sambil melambaikan tangan di depan wajah zero, zero masih diam saja, akhirnya laily mengguncang-guncang tubuh zero sampai zero tersadar.. "anu... sepertinya kalian salah orang.." ujar zero dengan wajah yang masih tidak percaya... karena selama ini, zero merasa diabaikan dikelasnya.. "zero, itu benar kau... dulu kami terlalu takut untuk menyapamu... kau seperti pasang dinding rapat di sekitarmu... dan kamu juga nggak banyak bicara... begitulah pikir mereka" akira memecah keheningan. "akira..." "yo... kapan kamu kembali ke sekolah?" "aku kembali bulan juli depan, dan aku akan mengulang kelas... jadi saat bertemu nanti, kalian adalah seniorku.." "WHAATTTS!!!" beberapa orang terkejut. "kok gitu sih..." ujar laily kaget. "ya.. karena aku nggak bisa mengikuti kelas, akhirnya di putuskan aku mengulang kelas... walaupun aku jadi adik kelas kalian... mohon bantuannyaaa..." ujar zero merendah. "kau tetap teman kami... kalau perlu bantuan, bilang aja..." lanjut laily yang mendapat persetujuan 'anggukan' dari beberapa siswa disana. "terimakasih... oh ya... aku sudah ditunggu mama... jadi aku mau permisi dulu.. terimakasih dan maaf telah merepotkan kalian... sekali lagi terimakasih. aku pamit dulu.. sampai jumpa... " "bai bai... sehat-sehat ya zero, saat kita bertemu lagi..." ujar faza. " mm.. ya... bye bye" masuk mobil... "apa terjadi sesuatu?" tanya mama sambil menyalakan mobilnya.. "kenapa?" "zero terlihat lebih baik... sekarang kau terlihat sumringah dengan setumpuk bunga di belakangmu.." apa terlihat begitu?.. aku harap sekolah menjadi lebih menyenangkan besok..." "tentu saja,.. nikmati hari ini..." balas mama yang mulai melajukan mobilnya. malam harinya... "kak.. kakak yakin mau pindah sekarang? nggak besok aja.. sekarang kan dah malam..." ujar rui yang bantu mengemas barang-barang. "ya.. karena dia orang sibuk, hanya punya waktu malam hari.." "papa juga nggak menyangka kalau zero memutuskannya secepat ini... harusnya zero tinggal lebih lama dirumah.." ujar papa yang melihat anaknya sibuk mengemas barang. "maaf pa, ma,.. zero kan sudah membicarakannya kemarin.." "iya deh... iya..." "nanti kami antar sampai rumah kos ya..." ujar mama. "baiklah..." sesampainya di tempat kos... "lho... inikan...." "halo tante... silahkan masuk... semuanya telah memunggu...." sapa mikha. semua masuk ke rumah itu, den ternyata disana telah ada akira dan ren yang menunggu... "kalian?..." "kami juga penyewa disini... jawab akira..." "kok bisa..?" tanya mama dan rui barengan. "apa kalian janjian?" lanjut rui penuh selidik.. seperti membangkitkan semangatnya. "kalau saya...kebetulan saya mau masuk univ. D yang jaraknya nggak jauh dari sini.." terang ren. heran... orang berduit kayak ren, mendaftar kuliah di univ. D yang terkenal sebagai salah satu univ. negri bukannya univ. swasta. "seperti zero, saya ingin mandiri.. jadi saya putuskan untuk ngekos saja..." terang akira. "sepertinya... kalian sudah bersahabat akrab..." ujar mama yang lalu tertawa. "tidak disangka, mereka sudah dekat seperti ini.. syukurlah..." pikir mama. "kami titip zero... kalau ada apa-apa soal zero.. langsung hub. kami ya..." "ya sudah, sudah malam... kalian istirahatlah... kapan-kapan kami mampir..." ujar papa mengajak mama dan rui pulang. sebelum berpisah.. mereka memeluk zero.. sepeninggal keluarga zero, mikha menunjukkan kamar zero... kamar yang sebelumnya ditempati zero. "tak kusangka, kau benar-benar akan tinggal disini..." kata mikha. "em., trimakasih bantuannya... dan mohon bimbingannya..." ujar zero menunduk sopan. "nggak perlu formal gitu... sudah.. istirahatlah.. atau mau kami bantu merapikan barang?" "nggak perlu... lagi pula mau aku beresin besok saja... " "ya sudah.. selamat beristirahat..." ujar mikha, dan semuanya kembali ke kamar masing-masing. untuk sejenak ren memandang zero, merasa ada yang menatapnya, zero berbalik, tepat ketika ren pergi ke kamarnya.. "???...(cuek)" zero kembali menyibukkan diri dengan barang-barangnya, hingga akhirnya ia jatuh tertidur ditemani para anjing..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD