Aku, Kamu, Kita (part 2)

1188 Words
awal bulan desember ini, menjadi awal aku hidup sendiri, setidaknya itulah yang aku pikirkan sekarang.... "leo... turuuuunnnn.... beraaattttt...." kataku ke leo sambil mendorongnya turun dari tubuhku. pagi ini aku dibangunkan leo yang tidur di atas badanku, dan begitu aku bangun, dia bangun juga dan langsung menciumi, menjilatiku... 'aku kira aku kena tindihan' pikirku. (itu lho, gejala setengah sadar yang badan terasa berat dan tidak bisa bangun...). aku berjalan menuju kamar mandi, ternyata disana sudah ada akira yang sedang menggosok gigi. "pagi" sapanya. "pagi" "apa kau tidur nyenyak?" tanyaku "setidaknya bisa memejamkan mata" jawab akira. dari arah dapur, suara berisik wajan terdengar nyaring mengagetkan kami... "sarapan wooiii!" teriak mikha. "nggak usah berisik.. ntar di komen tetangga.." balas akira, dan kami segera menyelesaikan rutinitas pagi kami. ternyata ren sudah duduk sopan disana sambil menyeruput teh paginya. "aku sudah memutuskan, mulai sekarang kita akan ada jadwal mengurus rumah.," ujar mikha "maaf aku nggak bisa mengurus rumah... karna terbiasa dengan pelayan" jawab ren tiba-tiba dan langsung dipelototi mikha. "memang, aku sekarang penanggungjawab rumah ini, namun, aku tidak dibayar untuk jadi pelayan kalian.. kalian hanya bayar uang sewa, jadi.. tugas harian akan dilakukan bergilir, kalian boleh memilih partner jika kerepotan.. baiklah... kalian setuju yaa..., jadi biar nyaman langsung aku bagi, akira denganku, zero dengan ren... ini untuk mengantisipasi kerepotan kalau dikerjakan sendiri, namun kalian boleh melakukan sendiri kalau kalian yakin mampu..." tak berselang lama, terdengar bunyi bel pintu,.. "siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" kata mikha lalu kearah pintu, membuka pintu. kriet... "pagi...." sapa orang itu yang ternyata adalah miyako, kakak akira. "morning mii-chan..." sapanya dengan nada menggoda. " pagi kak... ahh.. silahkan masuk.." tawar mikha yang cuek dengan godaannya itu.. "em.. aku buru-buru.. aku ingin berbicara sebentar dengan akira... bisakah...?" "ya tunggu sebentar..." ujarnya kemudian masuk memanggil akira.. "kakak... ada apa pagi-pagi begini..." belum selesai berbicara langsung menarik tangan akira menjauh, masuk dalam mobil. mikha sedikit khawatir dan bingung, tapi ia tahan karena sepertinya ada hal penting yang ingin kak miyabi sampaikan. didalam mobil... "ada apa kak..." "hah.. akira.. langsung saja.. kenapa kau tidak bicara terus terang pada kakak?" "apa maksud kakak?" "haruskah kakak bicara dengan lantang... malam kematian zeus.." mendengarnya, membuat akira terdiam, wajah kalutnya nampak dengan jelas, dia langsung paham arah pembicaraan kakaknya itu. "kau bisa minta tolong kakak untuk mengusut pelakunya, dan kemudian menjebloskannya kepenjara. kenapa kau diam saja.. kau tidak tau betapa khawatirnya kakak.. melihatmu seperti itu..." "kakak tau dari mana?" "aku mencari tau sendiri... kakak khawatir denganmu. ".... kakak... trimakasih... dan... akira juga mau jujur kepada kakak... " "... (mengangguk pelan)... kakak... sebenarnya... aku suka mikha... suka dalam arti romantis..." "maksudmu... kamu... gay?" "... bukannya aku tidak suka wanita, tapi aku merasa lebih nyaman dengan pria, khususnya mikha..." ".... apa papa dan mama tau ini?" "(geleng)... apa kakak membenciku" "....(terdiam cukup lama) oke, kembali ke masalah tadi, apa itu artinya kamu tidak masalah seperti itu?" "bukannya begitu... memang aku marah, sedih,...(belum selesai bicara, dipotong kakak)" "kau tau.. kakak lebih marah lagi... rasanya ingin membunuh orang yang memperkosamu, apalagi orang yang memerintahnya!" kata kakak marah, mencengkeram kemudi mobilnya dengan keras. "... tapi sekarang... kami berbaikan... yang pada dasarnya kami tidak marahan, hanya aku menjauh darinya... sepertinya aku sedikit merasa beruntung aku masih diberi kesempatan untuk kembali dekat dengannya... lagipula, aku sepertinya tau, siapa biang keladinya..." "siapa dia biar aku beri pelajaran dia..." "... (menggelengkan kepala)... aku menutup mata untuk kali ini, tapi tidak untuk yang kedua kali..." ".... apa kamu sudah ke RS? apa ada yang sakit?" "untungnya saat itu, mereka belum melakukan lebih jauh, ketika zero dan zeus datang menolongku... (ketika mengingat kembali tak disangka, air mata menetes di pipiku)" " ...(langsung memeluk akira), kau adiku yang hebat, kau kuat... maaf.. kakak mengingatkanmu pada kejadian yang memang harus kau lupakan... kakak akan mendukung terus apapun pilihanmu... kau gay? kakak tak masalah dengan itu... kau tetap adikku, adik tersayangku..." ujar kakak menenangkanku sambil menepuk-nepuk punggungku, sementara aku mulai terisak. sungguh, aku benar-benar bersyukur, zero dan zeus datang menolongku, dan aku berhutang nyawa pada zeus. dan satu yang pasti, kali ini aku akan menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya. "(selesai berpelukan) lalu sekarang, apa yang ingin kau lakukan?... sejujurnya kakak masih marah dengan ini semua, tapi kakak menghargai keputusanmu..." "aku akan menjadi lebih kuat, untuk melindungi orang-orang yang kusayang." memeluk sebentar kakaknya... "...... oke...., (melihat jam tangannya), kakak harus kembali kekantor, kamu kembalilah, segera siap-siap... ngomong-ngomong, kamu berangkat sekolah naik apa?" "... em.. ehe... aku naik motor..." "motor siapa?... eeemmmm kakak tau... kalian sudah pacaran?" "tidak... eh maksudku belum... hubungan kami baru membaik... belum sejauh itu... " ujarnya malu-malu.. "ehei.... ya sudah, sana balik ke 'pacarmu' minta antar dia.." "kakak... bukan gitua.... jangan marah... lain kali ya kak... " ujarnya sebelum akhirnya memeluk kakaknya, dan keluar dari mobil. "kakak... lain kali... ayo kita kencan..." lanjut akira yang kemudian mendapat senyuman kakaknya... "oke. janji ya... ya sudah, kakak pergi dulu.." "oke... hati-hati menyetirnya..." "iya..." jawabnya sambil melajukan mobilnya, sekilas ia memandang di spion adiknya yang tengah berdiri, dan tak berapa lama senyumnya hilang, raut wajah serius, nampak di wajahnya. "kenapa begitu lama? apa yang kak miyako katakan?" tanya mikha, begitu akira kembali. "rahasia.." jawab akira lalu kembali ke kamarnya. (kita akan mundur ke 2 tahun sebelumnya.....) sebuah bangunan megah nan mewah,.. seorang pria tengah keluar dari rumah itu dengan kesal... kancing jas ia buka dengan kasar, begitu juga dangan dasinya, masuk dalam mobilnya... "dasar pak tua, mau mati aja susah banget.." upatnya. "kalau begini, aku bisa nggak dapat warisan..." lanjutnya sambil berpikir. "benar, aku ingat sekarang, aku harus menemukan wanita itu... benar... hanya itu satu-satunya cara..." pikirnya yang lalu melanjukan mobilnya. sesampainya di kantor.. "oh, kau sudah datang rio? aku mau minta bantuanmu." ujarnya lalu duduk berhadapan dengan orang yang bernama rio itu. "tidak biasanya kau seperti ini.. seperti terburu-buru." "yah, mau gimana lagi, ini antara hidup dan mati,.. benar-benar penting." "apa yang aku dapat dari ini.." "aku akan membayarmu 3x lipat dari gaji bulananmu..." "memang apa yang kau butuhkan?" "aku ingin kau mencari seorang anak.." "... mungkinkah..." "(meletakkan sebuah foto), cari wanita itu beserta anaknya." "apa kau tau wajah anaknya... ?" ujar rio mengernyit, karena difoto itu hanya foto kliennya dan seorang wanita, tanpa ada foto anak kecil disana. "sudah bertahun-tahun aku tidak menggubrisnya. terakhir kali, aku hanya melihat surat kabar, bahwa seorang wanita meninggal dengan robek di lehernya (mengambil lebar koran dari lacinya dan meletakkannya di meja, rio mengambil dan membacanya). tapi tak ditemukan seorang bayi disana, dan yang jelas, dia mati tanpa ada bayi di perutnya. dulu aku mengabaikannya, tapi sekarang, aku membutuhkan anak itu... anak dengan darah dan dagingku..." "lalu apa yang kau harapkan, bisa saja wanita ini menggugurkan bayinya." "aku pikir itu masih 50%kemungkinan, wanita itu dulu begitu mencintaiku, aku akan percaya 50% dia melahirkan anak itu, karenanya, aku ingin kau menyelidikinya. aku percaya pada kinerjamu, dan ini uang mukanya (melemparkan amplop yang berisi uang ke meja), aku harap kau segera mendapatkan infonya." "(mengambil uang)... ini hanya informasi kan? oke, aku setuju.. tunggu saja kabar dariku." ujarnya lalau pergi meninggalkan pria itu. pria itu mengambil kembali surat kabar lama itu, berpindah menuju kursinya,... "aku akan menemukannya..." ujarnya. tertulis plat di mejanya CEO Lee Jae Hoo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD