kembali ke 2 tahun sebelumnya,
disebuah ruang makan nan luas, berkumpul beberapa orang, seorang pria tua baruh baya berada diujung, dan beberapa pasang orang duduk di samping kiri dan kanannya.
"ayah, kenapa ayah mengumpulkan kami disini?" tanya salah seorang pria paruh baya yang berada disilah kanannya. sebut saja tuan Lee soo ha.
"ehem..." berdehem sebentar sebelum berbicara.
"aku mengumpulkan kalian disini, karena aku ingin membicarakan tentang masa depan perusahaan yang aku dirikan. dari kedua putraku dan 1 putriku, aku ingin melimpahkan sebagian besar aset perusahaan utama pada putra keduaku Lee jae jin."
"ayah... " potong lee jae hoo, si putra pertama.
"aku belum selesai bicara,. "ujar tuan Lee soo haa (untuk selanjutnya dipanggil ketua ya.. biar nggak kepanjangan).
"dan di masa pensiunku ini.., aku harap aku bisa bersantai menikmati hari tuaku.. aku memang melimpahkan sebagian besar saham perusahaan pada jae jin, tapi aku juga membagi rata pada kalian berdua. sebagai orang tua kalian, aku harap kalian mengerti alasannya di balik keputusanku ini... "
setelah cukup lama mengobrol, akhirnya rapat keluarga itu di bubarkan.
"jae hoo, aku ingin bicara denganmu sebentar.." ujar ketua. disaat semua telah bubar, tinggallah ketua dan tuan jae hoo..
"aku dengar dari min ji (istri sah lee jae hoo), bahwa kau akan mengadopsi seorang anak," tanya ketua.
"yaa kami berencana seperti itu.."
"aku hanya berpesan, kelak anak adopsi mu itu tidak memiliki hak atas warisanku, tapi aku akan memberinya sebagian sedikit hartaku untuk kehidupannya..."
"bagaimana kalau anak itu, anak darah dagingku,. apa kau akan membedakannya juga?"
"tentu saja berbeda, dia akan terhitung sebagai garis keturunanku.. lagipula, aku sudah mendengar dari Dr. Robert bahwa kau mandul... tidak mungkin kau memiliki anak kandung.." katanya yang to the point.
"(menahan diri untuk tidak marah)."
"aku juga tau kehidupan 'foya-foya'mu dulu, makanya aku mampertimbangkannya. keputusan ini sudah ku pertimbangkan dari dulu, dan tak akan ada yang berubah. kembalilah.." ujarnya yang kemudian meminta jae hoo keluar dari ruangannya.
setibanya di luar, dengan raut muka kesal ia melangkah pergi (namun tetap, dia jaga imej jika berpapasan karyawan lain dikantornya).
mulailah, ia mencari sosok bayi yang dulu pernah ia tolak, hingga sekarang.
karena sedikit informasi, membuatnya kesulitan, dan hanya mengandalkan file cctv, siapa sangka ternyata ia menemukannya.
17 tahun sebelumnya...
"ayah, bagaimana ini... ada orang mati di apartemen kita.. bisa-bisa apartemen kita nggak laku lagi... " ujar wanita paruh baya yang kebingungan begitu tahu bahwa ada mayat wanita di salah satu apartemen miliknya.
"ma,. kita sembunyikan dulu semua kamera disini.. kita berdoa, semoga kita tidak terkena imbasnya karena ini"
kembali ke masa sekarang...
entah kenapa zero merasa dejavu.
di sekolah, dulu zeus berjaga dari kejauhan, dia mengikuti zero dari jauh, berjaga sambil bersantai di bawah pohon rindang, yang mengingatkannya dengan zeus dulu. dan ketika bel istirahat berbunyi ia bangit dari duduknya, bergegas kekantin dan menemui leo. dan tak berselang lama, (senior) mikha datang.
"lo kok leo bisa kesini?"
"dia mengikutiku dari pagi,"
"kenapa kau tidak menyuruhnya tinggal dirumah? iya takutnya, murid di sini pada takut sama leo.,"
"mana mungkin mereka takut dengan binatang berbulu tebal dan seimut ini... " ujar zero sambil memperlihatkan wajah lucu leo.
tak berselang mereka berbincang, mereka melihat seorang paruh baya yang celingak-celinguk, seperti mencari sesuatu.
"permisi ada yang bisa dibantu?"
"ooh... murid... syukurlah, begini, kantor kepala sekolah sebelah mana ya?,.. sudah lama saya tidak kemari, ternyata sudah banyak yang berubah, membuat saya bingung," ujar pria itu.
"apa anda alumni sekolah ini?" tanya mikha.
"ya, saya angkatan 24.. saya ada keperluan dengan kepala sekolah." lanjutnya.
"mari saya antarkan..." katanya, seraya berpamitan ke zero.
sesampainya di depan ruang kepala sekolah..
"ini pak, ruangnya..."
"oh.. ya.. terimakasih nak... "
"ya sama-sama, saya permisi dulu." ujar mikha kemudian pergi.
>tok tok tokkring< telepon berdering.
"ya, " jawab Lee jae hoo.
"oke, bagus. sisa uangnya, aku kirim setelah anak itu ketemu." lanjutnya kemudian menutup teleponnya sambil tersenyum.
"lihat saja, aku pasti akan merebut apa yang seharusnya jadi milikku."