7. Don't Be A Liar

1574 Words
Aku menundukkan kepala, tidak berani menatap wajahnya. Selalu seperti itu, disaat kemarahanku sudah mengebu-gebu, mendadak sirna dikalahkan oleh tatapan matanya. "Ke ruangan saya sekarang!" perintahnya tak terbantah. Seperti anak ayam, aku mengekori langkahnya dengan perlahan. Mati sudah! Dia pasti berniat menggantungku di ruangannya. Seharusnya tadi aku langsung keluar kantor aja, nggak perlu bersembunyi di toilet seperti ini. "Tutup pintunya," perintahnya sekali lagi. Aku mendorong pintu dengan gerakan perlahan. Jantungku berdetak tak karuan, kadang cepat kadang melemah. Rasanya seperti mau dihukum mati. "Kamu harus ingat, jika pintu tertutup artinya orang yang berada di dalamnya tidak mau diganggu," lanjutnya sambil duduk di kursinya. Aku menahan napasku sejenak, bagaimana caranya agar aku diberi keberanian menjambak rambutnya yang terlihat mengkilap karena pomade? "Saya butuh penjelasan atas ketidaksopananmu tadi. Apa ada hal penting sampai kamu bertindak di luar batas kewajaran seorang pegawai?" Dia mengetuk-ngetuk jari di meja. Walaupun tidak ditawari duduk, aku nekat mengambil kursi dan duduk dihadapannya. Ayolah Rea, sekarang saatnya. Kenapa aku malah ketakutan seperti ini?! "Ehem! Maaf Pak, tadi saya benar-benar nggak tahu kalau ada tamu di ruangan ini. Lain kali saya bakal lebih hati-hati lagi," sahutku sambil mengangkat wajahku perlahan. "Jadi, apa yang harus saya tanggung jawab?" tanyanya. Rasanya seperti ada yang tersangkut di tenggorokanku. Aku kira dia lupa dengan kalimat yang telah aku ucapkan tadi. Jawab apa?! Masa tanpa basa-basi langsung bilang tanggung jawab karena sudah buat d**a saya kemerahan?! "Oh...itu...." O...tidak! Aku mulai kehilangan kata-kata lagi! "Apa ada masalah?" Wajahnya terlihat tidak senang. Wajah mengintimidasinya benar-benar membuat lidahku kelu. Bagaimana caranya agar aku bisa balas menantangnya? Sifat otoriternya sangat mendominasi dan membuatku merasa tidak nyaman. "Kalau yang Bapak maksud masalah kerjaan, sebenarnya nggak ada, Pak," sahutku setelah menarik napas panjang. "Terus?" Wajahnya masih terlihat menyebalkan. Hawa dingin dari pendingin ruangan membuat keadaan semakin mencekam. Seperti adegan sinetron dimana si korban sebentar lagi akan dihabisi oleh pembunuh berdarah dingin. Dan akulah korbannya. Terus...mungkin Bapak sedang kena gangguan jiwa ya? "Sebelumnya maaf, Pak. Mungkin perkataan saya ini agak sedikit menyinggung." Aku diam sejenak. Pak Revano juga diam, seperti sedang menungguku berbicara. "Saya...saya merasa ada sesuatu yang terjadi saat tertidur di kamar Bapak kemarin," kataku hati-hati. Gawat kalau aku salah bicara, bisa-bisa dia mengira aku menuduhnya. Padahal memang benar sih. "Maksudnya?" Raut wajahnya mulai berubah. Dia mengernyitkan keningnya. "Apa Bapak tahu siapa yang memindahkan saya ke kamar Bapak?" "Itu saya. Memangnya kenapa? Sebagai tuan rumah, enggak mungkin saya membiarkan kamu tertidur di ruang tamu," jawabnya. Terjawab sudah siapa lelaki beraroma mint itu. Mungkin waktu itu dia habis makan pasta gigi. "Saya...saya merasa ada yang terjadi setelah itu." Aku mulai kebingungan merangkai kalimat. Wajah sangarnya seperti tidak memberikan kesempatan bagiku untuk membela diri. "Kalimatmu bertele-tele. Saya nggak ngerti," cibirnya. Perlahan demi perlahan aku mulai kehilangan rasa percaya diriku. Rasanya seperti menciut di hadapan Bos yang berubah jadi raksasa jahat. "Begini Pak..., saya nggak tahu apa yang terjadi. Tapi setelah bangun, saya merasa ada...ada seseorang yang telah me...membuat tanda di tubuh saya." Bicaraku semakin kacau tanda aku semakin merasa nggak percaya diri. Di sisi lain aku merasa sangat malu saat menjelaskan apa yang terjadi padaku. Apa Bos bego itu bisa menangkap maksud perkataanku? Raut wajahnya terlihat berubah-ubah. Dia tampak sedang berpikir dan kemudian tersenyum aneh. "Saya nggak bakal membiarkan orang lain mengganggu tamu saya, termasuk kamu," sahutnya. "Kalau maksudmu ada seseorang yang menganggu tidurmu, saya pastikan nggak ada," lanjutnya. Sesaat setelah dia mengakhiri kalimatnya, entah kenapa aku merasa sangat menyesal karena telah berbicara padanya. "Maaf kalau mengganggu waktu Bapak. Kalau begitu, saya permisi dulu," kataku setelah yakin dia enggak akan melanjutkan pembicaraanya lagi. Di sisi lain, rasa malu telah mendominasi pikiranku sehingga aku sudah kehilangan hasrat untuk melabraknya lagi. "Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu sampai mabuk seperti itu?" Wajahku terasa menegang. Tidak mungkin aku jujur dan mengatakan jika Alex-lah penyebab semua ini. "Mabuk?! Saya nggak mabuk kok, mungkin gara-gara habis minum obat flu," sahutku asal. Duh, mati! "Saya ada janji sama nasabah, Pak. Permisi," kataku buru-buru. "Seluruh rumah saya dipasang kamera CCTV." Langkahku terhenti. Maksudnya apa dia bicara seperti itu. "Mungkin ada yang mau kamu lihat." Entah kenapa walaupun diucapkan dengan datar, aku menangkap ada nada mengejek dari bicaranya. "Kapan-kapan aja, Pak," sahutku buru-buru. Entah itu benar atau nggak, adanya kamera CCTV di rumahnya malah seperti bencana buatku. Artinya semua tingkah lakuku waktu berada di rumahnya terekam dengan baik. "Atau mungkin kamu mau lihat bagaimana agresifnya kamu waktu memeluk dan mencium saya malam itu." Mataku menggelap. Rasanya seperti baru dihantam palu besar. Kursi yang sedang aku duduki juga terasa tak stabil. Aku memicingkan mata menatap sosok yang berada di hadapanku. Wajahnya masih sama sejak dia mengucapkan kalimat terakhirnya. "Maksud, Bapak?" tanyaku setelah beberapa saat mengumpulkan keberanian untuk menatap matanya. "As you hear, saya nggak akan terpancing kalau tidak ada yang memulai," sahutnya. Oh Tuhan! Jadi maksudnya ini semua gara-gara aku?! Aku benar-benar kehilangan kata-kata setelah mendengar kalimat yang diucapkannya. Tidak mungkin! Aku tidak mungkin berbuat hal yang memalukan seperti itu! "Jadi, kamu mau saya temani menonton rekaman malam itu?" Aku tahu dia sedang mengejekku tapi tetap saja pertanyaannya sontak membuat bulu kudukku meremang. Semuanya campur aduk, aku marah, kesal, dan malu. Rasanya pengen menghilang saja ke dasar bumi. Apa yang harus aku katakan sekarang? Meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya? Oh tidak! Harga diriku benar-benar sudah diinjak-injaknya. "Kalau tidak ada yang mau kamu bicarakan, silahkan keluar. Saya ada jadwal conference call beberapa menit lagi." Ijinkan aku menggorok lehernya sekali saja. *** Bagaimana kalau ternyata malam itu Pak Revano telah berbuat di luar batas padaku? Apakah aku harus meminta tanggung jawabnya? Tapi..., tanggung jawab seperti apa yang aku inginkan? Amit-amit deh kalau dia malah menawarkan diri untuk menikahiku! Oke Rea, ini semua nggak benar. Nggak ada apapun yang terjadi malam itu. Hanya sebuah kekhilafan kecil. Nggak ada yang perlu bertanggung jawab. Sial! Wajah Bos m***m itu malah terbayang terus di otakku setiap aku menyakinkan diri kalau enggak ada apapun yang terjadi. Aku mau pura-pura mati aja rasanya! Atau...mungkin lebih baik aku resign aja jadi nggak perlu bertatap mata dengan dia lagi. Andai papaku orang terkaya di Indonesia, aku nggak perlu sefrustrasi ini memikirkan pekerjaan baru setelah resign nanti. "Tumben Mbak masih di kantor." Sebuah suara cempreng membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan mendapatkan Marsha sedang berdiri di belakangku. "Suka-suka gue," sahutku ketus. "Pak Revano masih di ruangannya, kan, ya." Dia seperti tidak peduli padahal baru kuketusin. "Sudah mati kali," jawabku asal. Marsha terkikik, padahal aku sedang tidak mengajaknya bercanda. "Ke ruangannya Pak Revano dulu ya, Mbak. Siapa tahu dia butuh bantuan," katanya sambil berlalu. Bantu apaan?! Bantu cabutin bulu kakinya? Ihh!!! Hanya ada dua hal yang bisa kulakukan setelah kejadian buruk yang menimpaku. Pertama, bersikap masa bodoh dan menganggap nggak ada hal buruk yang terjadi. Kedua, mencari pekerjaan baru secepat mungkin. Opsi pertama, terlihat mudah tapi aku yakin bakal sulit untuk dilakukan. Opsi kedua, terlihat sulit dan memang sulit dilakukan. Terkutuklah Alex karena telah membuatku mabuk malam itu! "Mbak, disuruh Pak Revano ke ruangannya." Lagi-lagi suara cempreng itu mengganggu disaat tanganku sedang sibuk membuka situs lowongan kerja dari ponselku. "Hmmm." Aku berguman dan tidak berniat menanggapinya. "Sekarang loh, Mbak." Suaranya masih terdengar. "Iya," sahutku. Apa?! Bos bego itu mencariku?! Aku membereskan isi tas yang berserakan di meja kerjaku dan mematikan komputer dengan terburu-buru. Sebentar lagi dia pasti akan menyusul jika aku tidak juga ke ruangannya. Mau apalagi sih dia mencariku? Aku menuruni tangga dengan tergesa sampai sebelah sepatu heels-ku terlepas dari kaki. "Rea!" Aku mendongak dan mendapatkan wajah si Bos seperti sedang menahan marah. Mungkin dia kesal denganku yang bukannya ke ruangannya tapi malah berniat kabur. Bagaimana ini?! Sebelah sepatuku yang terlepas berada empat tangga dari tempat dia berdiri. Masa sih aku main kabur aja dan meninggalkan sepatuku? "Mau kemana?" tanyanya sambil menuruni tangga dan mengambil sebelah sepatuku seperti meniru adegan pangeran di dunia dongeng yang mengambil sepatu kaca Cinderella yang terjatuh. Oh pupus sudah harapanku untuk kabur. "Mau ngesol sepatu sebentar Pak," sahutku asal sambil berharap dia mengembalikan sepatuku yang kini berada di tangannya. "Oh...bukannya ini sepatu baru?" tanyanya sok tahu. "Iya, Pak. Nanti sekalian mau ke tempat nasabah juga." Jawabanku mulai ngawur. Dari matanya yang terlihat meremehkan, dia seperti tahu kalau aku sedang berbohong. "Nasabah siapa? Saya belum baca laporan rencana kunjungan nasabah kamu hari ini." Dia menuruni tangga dan mendekatiku. Sebelum dia menawarkan sepatu yang ada di tangannya, aku lebih dulu menyambarnya. Nggak sopan banget ngebiarin aku berdiri dengan satu kaki lebih rendah selama beberapa menit. "Don't be a liar," ucapnya dengan senyum sinis. "Saya tahu kamu mulai merasa nggak nyaman dengan keberadaan saya disini," katanya lagi. Kalau sudah tahu kenapa nggak buru-buru pergi aja sana. "Apalagi setiap menatap saya, kamu mirip anak kucing yang ketakutan." Sekarang malah disamain dengan anak kucing. Nggak ada perumpaan yang lebih bagus? "Bersikaplah profesional, Rea. Pisahkan antara urusan perkerjaan dan pribadi," katanya. Lama-lama aku mirip anak sekolah yang sedang disetrap oleh guru BP. "Saya mengerti, Pak," sahutku jengah. "Sekarang saya boleh pergi kan, Pak," pintaku dan lagi-lagi tidak berani menatap matanya. "Bagaimana kalau saya memberikan kamu penawaran?" Dia masih saja berbicara dan tidak memperhatikan aku yang sudah tidak betah. Penawaran?! Penawaran pensiun dini dengan pesangon besar? Kalau iya, bakal kupertimbangkan. "Agar suasana hatimu kembali nyaman saat melihat saya, bagaimana kalau saya menawarkan hubungan yang lebih dari sekedar atasan dan bawahan?"(*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD