6. What The Hell

1645 Words
Panas merayapi seluruh tubuhku. Aku membuka mataku dengan susah payah. Embusan hangat menerpa wajahku. Sesosok wajah samar tertangkap indra penglihatanku. Rambutku terasa disibak perlahan. Tangan asing mulai menyentuh rambut dan wajahku. Tangannya bergantian mengelus rambut dan wajahku. Aku memejamkan mata, melawan rasa pusing dan kantuk yang begitu kuat. Siapa orang yang sedang mengelus wajahku dengan sangat pelan ini? Dan kenapa dia melakukannya? Hanya embusan napasnya saja yang bisa kurasa. Makin lama wajahnya mulai terlihat jelas. Matanya begitu tajam, rahangnya kokoh, dan bekas cukuran di wajahnya membuat aku membeku. Apa aku sedang bermimpi bermesraan dengan lelaki ganteng? Iya pasti aku sedang bermimpi. Pasti! Mana ada sih lelaki seganteng ini yang mau mengelus-ngelus wajahku. Please, biarkan aku bermimpi lebih lama lagi. Jarang-jarang aku bisa bermimpi senyata ini. Wajahku terasa geli. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku dan bekas cukurannya menempel dan bergesekan dengan kulit saat dia mengendus wajahku. Napasku terasa semakin berat, perpaduan antara menahan hasrat yang begitu menyiksa dan juga rasa malu mengingat entah dengan siapa aku bermesraan seperti ini. Apalagi ini adalah pengalaman pertamaku, tidak pernah satu satu orang lelaki pun yang pernah melakukan hal ini padaku. Sepertinya hanya di dalam mimpi hal ini bisa terjadi. Nggak mungkin ini kenyataan, kan? Aku membiarkan mataku terpejam lagi. Meresapi elusan demi elusannya. Bibirku terasa hangat. Aku memicingkan mata dengan susah payah. Bibirku makin terasa hangat. Sesuatu yang basah mendesak masuk. Aku mendesah. Oh My God! Lelaki ganteng itu mencium bibirku!Lidahnya membelit lidahku dengan gerakan kasar, tapi entah kenapa aku menyukainya. Rasa manisnya membuatku ketagihan. Astaga Rea! Sejak kapan aku seliar ini! Aku membalas ciumannya dengan berdebar. Jiwa ragaku seperti runtuh karena ciumannya. Seluruh sendiku bergetar. Aku menarik napas dengan susah payah. Sebelah tangannya yang lain mulai membuka kancing bajuku. Aku mendesah dan mulai merasakan tangannya merambat masuk ke sela bajuku. Rasanya begitu aneh, aku ingin dia menyentuhku lebih banyak lagi. Semoga aku nggak cepat tersadar dari mimpi aneh ini. *** Aku menggeliat dengan malas dan berkali-kali menguap lebar. Nyenyak sekali rasanya tidurku. Aku menggulingkan tubuh dan mencari ponselku yang biasanya disimpan di samping tempat tidur. Aneh. Sejak kapan tempat tidurku jadi selebar ini? Aku berguling sekali lagi agar dapat mencapai ujung tempat tidur. Perlahan mataku terbuka dengan pelan. Mataku membelalak. Ini dimana?! Tempat ini begitu asing. Tempat tidur, lemari, dan benda-benda lainnya terasa berbeda. Aku yakin ini bukan kamarku. Aku nggak pernah menata kamarku semaskulin ini. Tapi...ini dimana? Dan apa yang kulakukan disini?! Aku mengedarkan pandanganku sekali lagi. Hanya ada aku di kamar ini dengan masih mengenakan pakaian kantor. Sebentar.... Satu demi satu ingatanku mulai terkumpul. Apa?! Tidak!!! Jangan bilang kalau saat ini aku sedang tidur di kamar Pak Revano! Sial! Sial! Sial! Kenapa sih aku bisa seteledor ini. Mabuk dan tidur di rumah lelaki yang enggak begitu kukenal. Dua kali bego! Aku berjingkat dari tempat tidur. Seluruh kesadaranku sudah pulih. Aku harus segera keluar dari rumah ini. Ohhh Mama...maafin anakmu ini. Pintu kamar kudorong dengan perlahan. Napasku tertahan. Tepat di hadapanku, Pak Revano sedang tertidur di sofa. Napasnya teratur tanda dia sedang lelap. Langkahku semakin pelan. Aku hampir nggak bernapas saat melewatinya. Mau di simpan ke mana mukaku ini saat bertatapan wajah dengannya di kantor nanti. Pura-pura amnesia aja kali mungkin lebih baik. Entah sudah berapa lama acara barbeque selesai. Aku bahkan tidak ingat acara itu ada. Rasanya aku hanya datang, kemudian tertidur. Hal-hal lain yang terjadi sama sekali tidak terekam di otakku. Tidak ada yang bisa kulakukan di rumah ini lagi. Acara telah usai dan perutpun mendadak keroncongan. Sepertinya belum ada sepotong makanan pun yang masuk ke perutku sejak makan siang terakhirku. Aku harus segera pulang sebelum kedua orang tuaku sakit kepala memikirkan keberadaan putrinya. Aku meninggalkan rumah Pak Revano dengan tergesa. Matahari sudah mulai menampakkan sinar. Apa-apaan ini. Dari malam kemudian bertemu pagi, artinya semalaman aku tertidur di kasurnya. Ohhh tidak! Kemana teman-temanku yang lain. Kenapa mereka tega meninggalkanku sendiri? Tapi...sebenarnya siapa yang memindahkan aku ke kamar Pak Revano? Rasanya semalam aku berbaring di sofa, kenapa mendadak bisa pindah ke kasurnya? Atau jangan-jangan aku yang nggak sadar dan dengan nggak tahu malunya berbaring di kasur si Bos. Aku terus mengutuki kebodohanku saat sampai di rumah. Kenapa harus di rumahnya Pak Revano? Kenapa nggak di rumah Alex atau yang lainnya aja. Tertidur di rumah Bos. Benar-benar nggak banget. Apalagi bosnya seperti Pak Revano, si playboy cap teri. Aku nggak bisa membayangkan apa yang ada di pikiran Pak Revano saat melihatku tebaring di kasurnya. Kenapa dia enggak mengusirku dengan sapu saja? Karena jika aku berada di posisinya, itu yang akan kulakukan. Oke, sudah cukup semalam kepalaku pusing gara-gara minuman Alex. Hari ini aku nggak mau pusing memikirkan Pak Revano. Mungkin dengan mandi bisa sedikit membersihkan kepalaku dan juga tubuhku yang sudah dua puluh empat jam nggak menyentuh sabun. Pakaianku kubuka dengan perlahan. Tanganku bergetar saat dua kancing blouse-ku terbuka. Ada satu, dua, tiga... ada empat bercak kemerahan di area dadaku. Oh no! Ini bukan bercak karena digigit nyamuk ataupun bercak karena dicubit. Tidak...tidak...tidak! Bercak kemerahan ini begitu sempurna tercetak di kulit tubuhku. Sial! Siapa yang telah kurang ajar menggigit area dadaku?! *** Why I hate monday so much? Pertama, harus berjuang keras menghadapi macetnya jalan. Ke dua, libur singkat di akhir pekan membuat susah move on. Ketiga, kembali bekerja dan bertemu dengan Bos paling menyebalkan sejagat raya. Ke empat, setelah kejadian kemarin aku jadi malas ke kantor karena memikirkan orang yang telah kurang ajar padaku. Masih ada alasan ke lima, ke enam dan seterusnya lagi. Tapi sudahlah, aku sedang malas membahasnya. Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah rasa kekesalan yang teramat besar setiap kali melihat bekas kemerahan yang telah memudar di area dadaku. Hanya ada satu nama yang berpeluang besar melakukan hal itu padaku. Siapa lagi kalau bukan Bos cap teri busuk itu! Mau dipikir sampai jungkir balik pun, hanya dialah tersangka utamanya. Tidak mungkin Alex yang walaupun kadang suka menyebalkan tapi aku yakin seratus persen nggak mungkin dia berbuat sehina itu, atau Mas Radit yang super alim, apalagi Sapri yang kadang menatap mataku saja suka ketakutan. Semua bukti mengarah padanya. Dialah pemilik rumah yang memiliki akses paling bebas di rumahnya, yang lain belum tentu berani berkeliaran di kamarnya. Bos sialan! Rasanya ingin kuremukan badannya kayak kerupuk. Astaga! Bos m***m itu telah menodaiku. Ups...maksudnya hampir menodaiku. Eh...tapi apa benar dia cuma gigit aja, enggak yang lain? Lagipula aku sedang dalam kondisi nggak sadar saat itu. Tuh kan aku benar-benar hampir gila memikirkannya. Sebenarnya hari ini aku sudah berniat pura-pura sakit dan nggak masuk kerja. Tapi bengong di rumah malah membuat kepalaku bertambah panas karena terlalu banyak berpikir. Akhirnya walaupun telat lima belas menit, aku memantapkan hati untuk ke kantor dan melabrak si Bos m***m. "Gue kira lo nggak masuk gara-gara teler kemarin." Alex mencegatku di pintu masuk. Dia terkikik sambil pura-pura menutup mulutnya. "Dasar biang kerok!" Aku mencubit perut Alex sekeras-kerasanya sampai dia mengaduh kesakitan. "Ampun Re! Ampun...," pintanya dengan nada kesakitan. "Gue masih ada urusan sama lo. Awas aja kabur," ancamku dengan wajah garang. Tanpa menanggapi perkataanku, dia segera berlari meninggalkanku. Apa meeting telah selesai sampai Alex bebas berkeliaran di banking hall? Entah kenapa, semakin dekat langkahku dengan ruang Pak Revano, debar jantungku semakin kencang. Tarik napas, lepaskan. Oke, begitu lebih baik. "Re, kok baru datang?" Sapa Mbak Lana saat aku melewati meja kerjanya. Mungkin karena tegang, aku tidak membalas sapaannya. God! Aku harus berani menumpas Bos m***m itu! "Re...!" Masih terdengar suara Mbak Lana yang memanggilku. Langkahku semakin pasti menuju ruangan si Bos. Tunggu...kira-kira apa yang seharusnya aku lakukan jika bertatap muka dengannya nanti? Langsung menamparnya atau ngamuk-ngamuk dulu? "Rea...!" Suara Mbak Lana semakin keras saat tanganku sudah menyentuh ganggang pintu ruangan Pak Revano. Aku menarik napas panjang dan dengan yakin mendorong pintu. "Bapak harus tanggung jawab atas semua...." Hening. Aku kehilangan kata-kata saat menatap sekelilingku. Rasanya seperti ditimpuk berton-ton rasa malu. Biarkan dunia kiamat hari ini. Di hadapanku duduk dua orang pejabat maha penting dalam karirku yang bisa saja menjentikku semudah dia menjentik nyamuk. Pak Renaldi, Area Manager dan Pak Bagus, Regional Head! Oh my God! Dan aku malah berteriak seperti orang gila di hadapan mereka. "Maaf." Aku menundukkan wajah dalam-dalam sambil menutup kembali pintu. Sepertinya ini akhir riwayat karirku! "Gila lo, Re! Kan dah gue panggil-panggil dari tadi!" Mbak Lana menghampiriku dan menyeretku pergi. "Mampus gue, Mbak!" Umpatku berkali-kali. "Sejak kapan bos-bos itu ngumpul disitu?" tanyaku dengan suara gemetar karena menahan malu. "Sudah dari pagi. Makanya tadi nggak ada briefing." "Mbak, gue mau ngumpet di toilet aja." Aku meninggalkan Mbak Lana yang tampak kebingungan melihatku. Ya Tuhan, kenapa aku bisa sebego ini sih! Maunya melabrak si Bos, eh yang ada malah jadi malu sendiri. Bagaimana kalau aku mengajukan resign aja? Duh nggak bisa! Hutang kartu kreditku masih banyak dan nggak semudah itu nyari kerjaan baru dalam waktu singkat. Tapi rasa maluku sudah mengakar ke tulang sumsum. "Re...dicariin Pak Revano tuh." Pintu toilet diketuk perlahan. "Duuh Mbak, masih lama. Bilang ke Pak Revano ntar aja," sahutku. "Nggak usah drama! Cepatan keluar, keburu si Bos marah besar nanti." Mbak Lana masih mengetuk-ngetuk pintu toilet. "Siapa juga yang drama. Ini belum beres. Mbak ganggu konsentrasi aja," kataku sambil pura-pura menekan tombol flush. "Buruan ya, Re! Gue nggak mau tanggung jawab." Suara Mbak Lana terdengar menjauh. Aku menarik napas panjang sambil memainkan tisu toilet. Aku yakin si Bos pasti marah besar atas kelakuanku yang tidak sopan tadi. Tapi...bukannya seharusnya aku yang marah padanya? Oke, aku nggak boleh mundur cuma gara-gara hal sekecil ini. Aku membuka pintu toilet dengan perlahan. Astaga! Rasanya seperti mau mati. Tenang Rea...tenang! Si Bos itu nggak ada apa-apanya. Anggap aja dia kutil yang nggak bermanfaat. Tarik napas, lepaskan. "Kamu mau minta tanggung jawab apa sama saya?" Suara itu meluluh lantakkan pertahananku. Oh God!!!(*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD