50 peserta sudah duduk manis di tempat masing-masing. Barang bawaan sudah ditata. Tepat saat jam kumpul tiba, Pak Tri dan dua OB tergesa mendekati bis menemui Amy dan TL.
“Again?” tanya TL.
Pak Tri meringis meminta maaf. Para OB yang mengawalnya manggut-manggut membenarkan keterangan Pak Tri bahwa Bu Tri tidak ditemukan di sudut manapun di dalam toko. Amy dan TL segera bertindak. TL menghubungi informasi untuk mengumumkan peringatan. Amy melangkah, sebelum langkahnya terhenti karena mengingat sesuatu.
Amy melangkah ke bagian samping toko, lokasi musholla. Amy memeriksa deretan kamar mandi, lalu ke toilet perempuan. Benar saja. Bu Tri di sana. Sedang berada di dalam toilet untuk berganti pakaian. Alasannya, pakaiannya basah dan kotor karena ketumpahan makanan. Amy menemani teman Bu Tri yang dengan setia menunggu. Amy mengirim pesan kepada TL bahwa Bu Tri sudah ditemukan.
Amy menatap bayangan wajahnya di cermin toilet. Jelas wajah itu terlihat lelah. Amy bersyukur Ryan telah sangat meringankan janjinya mencari donator. Amy menunduk meraba gelang tali pemberian Ryan. Apakah ini berarti sesuatu? Tanya hati Amy.
“Eh, Mbak Amy, tas Ibu ada di bis. Bagaimana ini baju kotor? Malu dong dalaman kelihatan orang-orang,” keluh Bu Tri. Amy tertawa pelan.
“Tunggu sebentar, ya, Bu,” ucap Amy.
Amy melangkah ke toko, menemui kasir untuk meminta tas plastik hitam.
“Aihh, Mbak Amy benar-benar bisa diandalkan. Eh, gelang ini, rasanya Ibu sering lihat. Ryan?” tanya Bu Tri.
Pipi Amy mendadak panas.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan gembira. Di luar insiden terlambat ngumpul, peserta menikmati perjalanan mereka hari itu. Perut kenyang, lidah puas, mata lega, dan hati gembira. Apalagi yang dicari dari sebuah gathering?
TL punya jawabannya. Setelah beberapa menit meninggalkan toko oleh-oleh, TL memberikan kuis kepada peserta seputar Tanah Kebar. Bagi yang berhasil menjawab dengan benar, hadiah hiburan diberikan secara cuma-cuma, sebagai bagian dari layanan istimewa travel. Kalau pertanyaannya mudah, hadiahnya juga sederhana seperti pulpen atau notebook kecil berlogo travel. Saat pertanyaan sangat menantang, sebuah jam tangan siap diserahkan.
“Ini pertanyaan terakhir ya. Paling menantang, jadi hadiahnya juga istimewa, sebuah jam tangan. Saya saja jam tangannya tidak bermerek seperti ini lho, Happyland Fam. Tantangannya begini, ucapkan kalimat ‘satu sate tujuh tusuk’ dengan cepat sebanyak lima kali. Tuh, asyik kan. Ayo, siapa mau mencoba?”
Beberapa peserta mencoba menjawab tantangan itu. Buat seru-seruan sih, jadi tidak ada yang serius sehingga tidak ada yang berhasil.
“Ayo, Happyland Fam. Masa tidak ada yang berhasil. Nanti jam tangannya jadi jatah saya, lho,” pancing TL.
“Kalau hadiahnya buat Mbak Amy, tidak apa-apa deh, Mas. Kami relakan,” seru ibu yang sedari pagi melamar Amy untuk anaknya.
Bis kembali terisi gerrr.
TL pura-pura merengut.
“Aduh, si Ibu mah. Kalau Amy aja dikasih-kasih semuanya. Giliran saya dianak tirikan,” gurau TL pura-pura merajuk.
Semua kembali tertawa.
“Sedari tadi yang menjawab dari bangku depan dan tengah. Sekarang kasih bangku belakang dong, Mas,” usul Bu Tri.
“Aha. Ide bagus, Ibu. Ayo, Mas-Mas ganteng di belakang. Silahkan maju menjawab tantangan saya,” panggil TL.
Cowok-cowok di belakang langsung berebut menolak.
Pak Tri segera berdiri, lalu melangkah ke bagian belakang bis.
“Haduh, kalian ini jangan mempermalukan saya. Ayo, salah satu maju.”
Mereka bergeming. Pak Tri menghela nafas, lalu menarik tangan Ryan.
“Pak. Pak. Jangan saya.”
Tanpa kata Pak Tri mendorong punggung Ryan. Teman-teman OB yang lain tertawa.
Seisi bis menyimak tampilnya Ryan di depan. Sebagian nampak baru sadar kalau OB mereka ada yang ganteng begini. Tidak salah ya? Atau ini artis yang nyasar, begitu?
Pak Tri kembali duduk di tempatnya. Ia mengaktifkan kamera HP.
“Ayo, Mas. Namanya siapa?” tanya TL.
“Ryan.”
“Aduh, Masnya. Irit banget ngomongnya. Ya sudah deh. Mas Ryan, ucapkan lima kali ‘satu sate tujuh tusuk’ ya. Dengan cepat, tanpa jeda, dalam tempo sesingkat-singkatnya,” perintah TL sambil menyerahkan mik.
Amy tertawa di belakang Ryan sambil masih memegang kotak jam tangan hadiah.
Ryan menerima mik, mendekatkan ke mulutnya. Lalu menarik nafas.
“Satu sate tujuh tusuk. Satu sate tujuh tusuk. Satu sate tujuh tusuk. Satu sate tujuh tusuk. Satu sate tujuh tusuk,” ucap Ryan tanpa jeda.
Bis dipenuhi tepuk tangan meriah. Ryan tersenyum samar seraya menyerahkan mik kepada TL.
“Ah, akhirnya saya gagal mendapatkan jam tangan ini. Ya sudah, kalau yang tadi saya terus yang menyerahkan, maka di bagian istimewa ini biar Amy yang menyerahkan. Yuk. Yuk. Ada yang mau mengabadikan momen istimewa ini?” goda TL.
Amy mengernyitkan hidung kepada TL, pura-pura marah.
Amy menyerahkan kotak jam tangan itu kepada Ryan. Berderet HP mengambil momen tersebut.
“Cium. Cium. Cium,” goda OB di bagian belakang bis.
Bis kembali diisi tawa.
“Bapak-Ibu, Mas, Mbak, dan Adik-adik Happyland Fam, dengan demikian selesai tugas saya sebagai guide family gathering ini. TL akan tetap menemani Happyland Fam hingga tempat tujuan. Semoga perjalanan lancar, selamat, dan menyenangkan. Semoga liburan hari ini menjadi pengalaman berkesan dan kelak kita bisa bertemu kembali di Tanah Kebar. Mohon maaf bila selama Amy menemani, ada kesalahan kata dan sikap. Selamat sore,” pamit Amy seraya mengatupkan kedua tangannya di depan d**a.
Peserta tur bertepuk tangan sambil mengucap balasan terima kasih.
Bis berhenti. Amy melambaikan tangan kepada peserta tur, lalu turun dari bis.
Mata Amy menatap ke arah bis, tangannya melambai sambil tersenyum cerah. Bis kembali melaju pelan, meninggalkan Amy yang kemudian memanggil ojek untuk ke panti.
Sementara di dalam bis, Ryan terus menatap Amy hingga bayangan gadis itu tidak nampak lagi. Ryan kembali ke tempat duduknya. Ia letakkan kotak hadiah itu di dalam tas, lalu menata duduknya agar nyaman. Perjalanan pulang tidak akan sama lagi. Ada hati yang tertinggal di kota ini.
Lamunan Ryan terhenti, dikagetkan oleh getar HP di saku d**a jaketnya.
Pak Tri menjapri, mengirimkan foto Ryan bersama Amy. Tidak hanya saat penyerahan hadiah, tetapi juga saat mengobrol di kafe Tanah Kebar dan kafe Surga Belanja. Bahkan ada foto saat Ryan sedang memakaikan gelang ke tangan Amy.