Chapter 9 MOVE ON

963 Words
“Am, nanti masuk ya. Bos ingin bicara denganmu,” ucap Andri, rekan kerja Amy yang juga kakak kelas waktu SMK. Meski berbeda jurusan karena Andri adalah anak TKJ, persahabatan mereka tetap langgeng. “Iya, Amy masuk. Walau kaki rasanya masih pegal habis ngantar turis ke gunung.” “Biasanya kamu selalu bersemangat dan tidak pernah mengeluh. Lagi PMS, Bu?” Amy tertawa. Begitu akrabnya mereka, Andri bahkan hafal perubahan mood dan sikap Amy kala tamu istimewa menyapa. “Kamu ngintip aku beli pembalut, ya?” “Haish, tidak perlu. Lagian aku tahu kamu tidak pakai pembalut yang dijual di toko-toko itu. He he he.” “Apaan?” “Wkwkwk. Pejuang lingkungan sepertimu, aku yakin akan langsung berpindah ke lain merek ketika tahu ada produsen pembalut yang bisa dicuci. Am I right?” “Ahha, kamu stalking statusku,” simpul Amy. “You got me. So, sampai ketemu nanti. Atau mau kujemput?” “Nggak usah. Aku nggak mau Tsabita cemburu. Cukup kita berteman saja di tempat kerja, tidak perlu runtang-runtung menyakiti hatinya.” “Tsabita mana pernah cemburuin kamu. Nggak level, katanya.” Mereka tertawa. Tsabita itu tunangan Andri. Tsabita tahu Andri akrab dengan Amy. Ia tahu pasti Amy sama sekali tidak ada hati kepada Andri, demikian sebaliknya. Persahabatan mereka sudah seperti kakak dengan adiknya. Tsabita percaya penuh. Amy meletakkan HP, lalu berganti pakaian dengan kaos merah, seragam hari itu. Saat merapikan lengan kaos, matanya kembali menatap gelang tali di tangannya. Lima hari berlalu sejak perjalanan tur Happyland Fam. Ryan belum menghubunginya kembali. Amy tidak ambil pusing. Anggap saja Ryan sudah kembali sibuk dengan sapu dan pel-nya. Mungkin selama sehari ia pergi, debu akan menumpuk tebal, sehingga butuh enam hari membersihkannya. Amy sudah hendak melepas gelang itu, tetapi ia mengangkat bahu. Motif gelang itu bagus, jadi dipakainya saja. Amy berangkat ke kantor travel berjalan kaki, karena memang ia kos tidak jauh dari kantor travel. “Hai, Amy. Bagaimana? Gempor kaki?” tanya Bosnya. Amy meringis sambil menunjuk sepatunya. “Sepertinya, saya perlu beli sandal gunung baru, Pak. Kemarin putus ketika terpeleset. Medan sedang licin,” gurau Amy. Bos yang sudah seperti bapaknya sendiri itu menepuk punggung Amy. “Yah, saya akan mulai memikirkan untuk memberikan fasilitas seperti itu kepada petugas lapangan. Ide bagus, Am.” Bos mengajak Amy dan Andri ke ruangannya. Mereka disambut sebuah print out proposal. “Saya sudah melakukan virtual meeting dengan Pak Tri. Saya lihat, Happyland I menarik sekali, potensial menjadi partner kerja kita. Menurut informan saya, mereka juga punya hubungan baik dengan pemerintah setempat. Jadi, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan kerjasama ini. Kalau ini berhasil, kita mungkin akan bekerja sama dengan Happyland Group.” Andri dan Amy berpandangan, lalu sama-sama mengangguk ke arah Bos. “Lalu, mengapa kami dipanggil, Pak?” tanya Amy. “Pertanyaan bagus. Saya sepakat untuk membuka kantor cabang di Happyland I. Kantor akan melayani tur di seputar kota itu untuk memperkenalkan destinasi wisata setempat, merekrut armada dan sopir lokal, meluaskan jaringan travel, dan memberikan pelatihan guiding kepada pegawai Happyland I. Sebagai awal, Pak Tri sudah menyediakan lima armada mobil beserta sopir sebagai sarana wisata terintegrasi Happyland I dengan tempat wisata lain. Bila peserta rombongan memerlukan bis, kita bisa kirim armada dari sini atau dari penyedia terdekat yang bisa kalian percaya.” “Kami?” tanya Andri. “Iya. Saya pikir, Amy sudah mengenal Pak Tri, sudah berpengalaman menjadi guide, sehingga bisa melatih guiding. Andri punya kemampuan bagus dalam IT, sehingga kamu bisa mengelola komputerisasi travel di sana. Salah satu goal besarmu, Ndri, menyiapkan sarana pemesanan tiket online perjalanan wisata terintegrasi ini.” Amy dan Andri berpandangan lagi. “Jadi, Bapak ingin kami meninggalkan kota ini?” tanya Amy. “Untuk satu atau dua tahun pertama. Setelah sistem settled, berjalan dengan baik atau justru dari hasil evaluasi malah tidak menguntungkan, kalian boleh kembali. Andri, jika dalam dua tahun itu kamu berkeinginan menikah, saya tidak akan menghalangi. Saya akan fasilitasi tempat tinggalmu dengan istri di sekitar Happyland I selagi masa dua tahunmu belum selesai.” “Kalau Amy?” tanya Andri. Menuntut hak yang sama untuk rekan seperjuangannya. “Kata Pak Tri, di Happyland I ada mes karyawan. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, saat ini mes hanya untuk karyawan pria. Jadi, sejak hari pertama kalian di kota itu, Pak Tri memfasilitasi Amy dengan tempat kos. Lokasinya tidak jauh dari Happyland I, tempatnya bersih, dan tenang. Harganya tidak mahal.” “Pasti tempat itu berhantu,” kilah Andri sambil tertawa. Amy memukul lengan temannya. Bos tertawa. “Saya harap, kalian tidak menolak tawaran ini. Sebut saja ini promosi kalian menuju jabatan yang lebih tinggi, karena dengan begini kan Andri pindah ke tempat baru sebagai branch manajer, Amy sebagai kadiv perjalanan dan keuangan.” Amy dan Andri berpandangan lagi. Dua tahun, tidak akan lama. Toh, mereka masih muda. **   “Jaga baik-baik dirimu, Nak. Hormati dirimu, sehingga pria juga hormat padamu. Doa kami selalu menyertaimu, semoga sukses,” pesan Bu Ana, lalu mencium kening Amy. Amy menganggukkan kepala sambil mengusap air mata di pipinya. Amy berbalik dan masuk mobil travel yang akan mengantar mereka ke Happyland I. Adik-adik melambaikan tangan sambil menyebut nama Amy. Amy membuka kaca jendela, lalu melambaikan tangan sambil memasang senyumnya. Dua lesung pipinya menjauh, kemudian hilang ditelan belokan jalan. Bu Ana memeluk pundak anak-anak penghuni panti, mengajak mereka masuk. Sebelum makan malam itu, Bu Ana mengajak mereka berdoa untuk kebahagiaan dan kelancaran Amy.     ** Hari sudah menjelang sore saat mobil tiba di kompleks Happyland I. Tempat wisata itu masih ramai. Suara musik yang rancak masih mengisi udara. Suara teriakan menggema, seiring gerakan roller coaster yang terlihat jelas dari tempat parkir. Pengunjung keluar dan masuk, membuat parkiran tetap penuh. “Kamu nunggu di sini apa ikut masuk, Mas Han?” tanya Andri kepada Han, sopir yang mengantar mereka. Han melihat sekeliling. “Aku akan menunggu di situ saja,” jawabnya sambil menunjuk sebuah warung kopi dekat pos satpam. Banyak sopir berseragam juga tengah duduk di sana. Andri dan Amy mengangguk. Barang-barang mereka biarkan tetap di dalam MPV. Mereka melangkah menuju loket tiket. “Berapa orang, Mas? Berdua saja?” tanya petugas loket. Andri menggeleng. “Kami menerima undangan pertemuan dari Pak Tri, Mbak,” ucap Andri seraya menyerahkan surat dari Pak Tri untuk travel mereka. Sang Petugas membaca surat itu, lalu menoleh ke samping. “Ryan, antarkan kedua tamu ini menemui Pak Tri.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD