Awal Perjodohan
Pada siang yang terik, suara deru mesin kendaraan berat masih terdengar di seluruh sudut perusahaan angkutan tempat Dorman bekerja sebagai operator mesin. Keringat membasahi pelipisnya, tetapi ia tetap fokus pada pekerjaannya hingga waktu istirahat tiba.
Saat sedang menikmati makan siangnya, ponselnya tiba-tiba bergetar. Dorman melirik layar dan melihat nomor dari kampungnya. Dengan sedikit cemas, ia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Man, pulanglah secepatnya! Ada hal penting yang harus dibicarakan!" suara kakaknya, Pak Ujang, terdengar tegas namun sedikit mendesak.
Dorman mengernyit. Ia jarang mendapat telepon mendadak seperti ini, apalagi dari keluarganya di kampung. Ada sesuatu yang terasa janggal.
"Ada apa, bu?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Pokoknya pulang dulu, ini soal masa depanmu!"
Dorman menghela napas. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi firasatnya mengatakan bahwa ini bukan hal sepele.
"Pak, saya ...mau ajukan cuti, ada keperluan mendesak di kampung,"ucap Dorman, sambil menunduk.
"Tapi lagi banyak kerjaan Man,"jawab sang Supervisor.
"Iya pak, saya tahu, tapi mau bagaimana lagi, keadaan sangat mendesak."
"Ya sudah, kalau begitu, 3 hari aja ya Man, ingat, balik lagi setelah 3 hari."
"Baik pak."
Setelah meminta izin pada mandornya, ia segera meninggalkan tempat kerja dan bergegas menuju kampung halamannya.
Perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi berbagai dugaan. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa kepulangannya kali ini akan mengubah seluruh hidupnya...
Dorman merasa gelisah setelah menerima telepon dari kakaknya. Kata-kata "soal masa depanmu" terus terngiang di kepalanya, membuatnya semakin cemas. Ia tidak tahu apa yang sedang menunggunya di kampung, tetapi firasatnya mengatakan bahwa ini bukan hal biasa.
Tanpa berpikir panjang, ia segera menemui sang supervisor di kantor.
"Pak, saya ingin mengajukan cuti beberapa hari. Ada urusan keluarga mendesak di kampung," katanya dengan nada serius.
Supervisor itu menatapnya dengan alis terangkat. "Mendadak sekali, Man. Bisa kasih penjelasan lebih lanjut?"
Dorman menggeleng. "Maaf, Pak. Saya juga baru dapat kabar barusan. Ini sangat penting."
Supervisor menghela napas, lalu mengangguk. "Baiklah, saya izinkan. Tapi jangan lama-lama, pekerjaan sedang banyak."
"Terima kasih, Pak. Saya akan kembali secepatnya."
Tanpa menunggu lebih lama, Dorman segera berkemas dan meninggalkan perusahaan. Dengan hati yang masih dipenuhi tanda tanya, ia naik bus menuju kampung halamannya, berharap bisa segera menemukan jawaban atas kegelisahannya.
Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa kepulangannya kali ini akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya…
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Dorman tiba di kampung halamannya menjelang sore. Langit mulai meredup, dan angin sepoi-sepoi menyambut kedatangannya. Saat turun dari angkutan, ia melihat rumah sederhana yang selalu memberinya kehangatan.
Begitu melangkah ke pekarangan, pintu rumah terbuka, dan sosok ibunya muncul dengan wajah penuh haru.
"Dorman… anakku!" suara lembut itu membuat d**a Dorman terasa hangat.
Tanpa ragu, ia segera mendekat dan memeluk ibunya erat. Aroma khas tubuh wanita yang telah melahirkannya itu selalu memberikan ketenangan yang sulit dijelaskan.
"Ibu kangen sekali, Nak. Akhirnya kamu pulang," ujar ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Dorman tersenyum dan mengecup tangan ibunya. "Maaf, Bu, aku pulang mendadak. Tadi Kang Ujang telepon, katanya ada hal penting?"
Wajah ibunya seketika berubah menjadi lebih serius, tetapi ada sedikit ragu di matanya. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, "Masuk dulu, Nak. Ada hal yang harus kita bicarakan."
Dorman mengangguk dan mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah. Perasaan gelisah kembali menyelimuti hatinya. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar. Kakaknya, Ujang, masuk ke ruang tamu dengan raut wajah penuh keseriusan. Dorman semakin penasaran.
"Dorman, ada sesuatu yang harus kau ketahui... tentang perjodohanmu," kata Ujang dengan nada tegas.
Dorman terdiam. Perjodohan? Ini benar-benar di luar dugaannya...
Dorman terdiam mendengar ucapan kakaknya. Perjodohan? Ia menatap ibunya dengan kening berkerut, berharap ada penjelasan lebih lanjut.
Ibunya menggenggam tangannya lembut. "Nak, kami sudah memikirkan ini baik-baik. Kau sudah menduda cukup lama, saatnya kau punya pendamping lagi," katanya penuh harap.
Dorman menelan ludah, mencoba memahami situasi. "Tapi, Bu… kenapa tanpa memberi tahu aku dulu?"
Pak Ujang menepuk bahunya. "Kami tahu kau sibuk bekerja di kota, Man. Lagipula, calon istrimu adalah wanita baik-baik. Dia juga tidak meminta mahar mahal atau pesta besar, hanya ingin segera membangun rumah tangga dengan lelaki yang bertanggung jawab."
Dorman masih belum bisa meresapi semuanya. Ia menatap ibunya yang tersenyum penuh kasih. "Siapa wanita itu?"
Ibunya tersenyum lebih lebar. "Namanya Nariah. Dia baru pulang dari Taiwan setelah bekerja di sana beberapa tahun. Orang tuanya sudah menyiapkan pesta sederhana untuk pernikahan kalian. Tinggal menunggu jawabanmu."
Dorman menarik napas panjang. Ini terlalu mendadak. Ia tidak pernah mengenal Nariah sebelumnya, dan sekarang tiba-tiba dijodohkan dengannya. Namun, melihat wajah ibunya yang penuh harap, ia tidak tega untuk langsung menolak.
"Ibu… beri aku waktu berpikir," ucapnya pelan.
Ibunya mengangguk. "Tentu, Nak. Tapi ingat, ini bukan hanya tentang dirimu. Ini juga tentang kebahagiaan keluarga kita."
Dorman menatap langit senja di luar jendela. Apa benar ini takdirnya? Ia tidak tahu. Namun, sesuatu dalam hatinya mengatakan bahwa hidupnya akan berubah sepenuhnya setelah keputusan ini...
Dorman tertegun saat melihat ibunya tiba-tiba menangis. Wanita yang selalu tegar itu kini menggenggam tangannya erat, air matanya mengalir di pipi yang mulai keriput.
"Nak, ibu mohon… menikahlah. Ibu sudah tua. Ibu tidak tahu sampai kapan bisa melihatmu bahagia. Ibu hanya ingin melihatmu memiliki keluarga sebelum ibu pergi…" suaranya bergetar, penuh harapan dan ketulusan.
Dorman merasakan hatinya mencelos. Ia sangat menyayangi ibunya. Selama ini, ia selalu berusaha menjadi anak yang berbakti, tetapi perjodohan mendadak ini membuatnya bingung.
Pak Ujang menepuk bahunya pelan. "Dorman, pikirkan baik-baik. Nariah adalah wanita baik. Tidak ada mahar yang berat, tidak ada pesta besar, hanya akad sederhana. Orang tuanya sudah menyiapkan semuanya. Ini bukan hanya untuk ibu, tapi juga untuk kebaikanmu sendiri."
Dorman mengalihkan pandangannya ke ibunya yang masih terisak. Perasaan bersalah menyelimutinya. Bagaimana mungkin ia tega menolak permintaan terakhir ibunya?
Ia menarik napas panjang, menenangkan pikirannya, lalu menggenggam tangan ibunya dengan lembut.
"Baiklah, Bu… kalau ini yang Ibu inginkan, aku akan menikah."
Seulas senyum terukir di wajah ibunya meski air mata masih mengalir. "Terima kasih, Nak… ibu sangat bahagia."
Dorman menatap langit senja di luar jendela. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tetapi satu hal yang pasti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah keputusan ini…
Pertemuan keluarga pun digelar di rumah orang tua Nariah. Suasana hangat menyelimuti ruangan sederhana itu, dengan beberapa kerabat yang hadir untuk menyaksikan perkenalan Dorman dan Nariah.
Dorman duduk dengan tenang, meski dalam hatinya masih ada sedikit kegugupan. Namun, begitu sosok Nariah muncul dari balik tirai kamar, hatinya tiba-tiba bergetar.
Nariah berjalan perlahan, mengenakan gamis longgar berwarna lembut yang membingkai tubuhnya yang kecil dan langsing. Hijabnya tertata rapi, menutupi rambutnya dengan anggun. Wajahnya manis, dengan kulit kuning langsat yang bersih dan sorot mata yang teduh.
Saat mata mereka bertemu, Dorman merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ada ketenangan dalam cara Nariah menundukkan pandangan, ada kelembutan dalam senyum tipisnya.
Ibunya, yang duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dengan penuh harap. "Itulah Nariah, Nak. Bagaimana menurutmu?"
Dorman menelan ludah, lalu mengangguk pelan. "Dia… wanita yang baik," ucapnya jujur.
Pak Ujang tersenyum lebar. "Kalau kau setuju, pernikahan bisa kita langsungkan dalam waktu dekat."
Dorman menatap Nariah sekali lagi, dan kali ini, ia tidak lagi ragu.
"Aku setuju."
Nariah menunduk malu, sementara keluarganya tampak lega dan bahagia.
Di dalam hati Dorman, keyakinannya semakin kuat, mungkin inilah takdir yang memang telah digariskan untuknya.